Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Tuesday, 13 July 2010

VAKHA BOLSOV

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh...

Kisah Yang Menggetarkan Hati dan Semangat Juang Tuk Membela Islam

Yuk... Kita Simak...

Sesuatu yang biasa bagiku mendaki tebing-tebing tinggi di sekitar pegunungan Kaukasus. Di wilayah pergunungan Kaukasus Raya yang tingginya sekitar 5500 meter itu, para pejuang Chechnya, di antaranya dipimpin ayahku, Zakarria Bolsov, mendirikan kem-kem latihan rahasia.

"Cepat, Vakha! Nanti 'Srigala Hitam' kelaparan!" teriak ibuku. Ibu biasa menyebut ayah dan dua puluh anak buahnya sebagai Srigala Hitam, julukan yang diberikan Jendral Jauhar Dudayev kepada mereka. Aku mengangguk. Kuraba pinggangku. Tambang untuk mendaki erat berada di sana. Ups, beban yang kubawa berat juga. Gandum masak, air minum.., dan beberapa pakaian dalam ransel. Kubuka jilbab yang kupakai. Entah mengapa aku merasa kurang leluasa dengan jilbab ini.

Uh, susah payah aku mendaki. Beberapa kali hampir terpeleset!! Sempat kusaksikan pula pesawat pembom SU-24 Rusia melayang-layang di atas desa-desa, membombardir, memusnahkan semua! Sejenak kupejamkan mata! Bajingan! Gigi-gigi beradu keras! Baru saja kepalaku mundul dari bawah tebing... "Vakha!"

Assalamu'alaikum.., ayah!" Ayah menjawab salamku dengan keras. "Mengapa kau lagi yang mengantar perbekalan kemari?! Aku sudah melarangmu!! Mengapa bukan orang yang kukirim untuk turun gunung? Mana Abbas??!!" berondongnya. "Kita sudah sepakat Vakha Bolsov, tidak ada naik gunung lagi! Jaga ibumu dirumah!! Hei, mana jilbabmu?" Ayah membiarkanku naik ke atas sendiri. "Yakin tak ada yang mengikutimu?!" Aku menggeleng. "Abbas syahid, ayah! Bom jarum Rusia mengenainya. Aku mengenali mayatnya tergeletak tak jauh dari rumah kita."

Ayah tersentak sejenak. "Innalillahi," lirihnya. Tapi..."Tidak ada naik gunung lagi, Vakha! Ini yang terakhir! Apa kau tak malu.., tak ada wanita di sini,"kata ayah dengan nada gemas. "Pakai jilbabmu!" bentak beliau. Beberapa anggota pasukan melihat ke arah kami. Aku menunduk sambil memasang jilbab kusamku.

"Ada apa, Zakaria?" Suara yang penuh kesejukan menyapa ayah. "Bapak Presiden, maafkan saya! Ini makanannya sudah datang!" Presiden? Jendral Dudayev! Ah..., sudah lama aku ingin berbincang-bincang dengannya! Pak presiden yang tegar dan gagah! Aku sangat mengaguminya! Dan..ya ampun, ia juga cuma makan gandum?? "Istirahat sebentar di ujung sana, setelah itu pulang!" tegas ayah. "Tapi..ayah", "Masya Allah.., anakmu seorang muslimah! Jendral Dudayev tertawa. Setelah menjaga jarak, ia menegurku dengan santun. "Siapa namamu?"

"Vakha Bolsov, Jendral!"

"Kau pandai mendaki tebing! Kau sangat berani!"

"Ayahku yang mengajari sejak aku kecil. Aku adalah anak satu-satunya! Aku suka bila ikut bertempur dan tidak hanya memasak.."

"Vakha!"

"Biarkan, Zakaria!" Jendral Dudayev membetulkan papakha (topi tradisional Kaukasus) yang saat itu dipakainya. "Berapa umurmu?"

"18 tahun."

"Insya Allah kita akan bentuk Pasukan Khusus Wanita. Mau bergabung?" Aku mengangguk cepat dengan mata berbinar.

Itulah awal pertemuanku dengan Presiden Dudayev, Juni 1994. Tak lama setelah itu situasi kian genting, hinga ayah ditarik menjadi komandan tempur di Grozny. Hampir bersama dengan itu ibu meninggal terkena bom jarum. Bom jenis ini meledak di udara dan menebarkan besi-besi semacam paku dengan radiasi beberapa ratus meter. Paku-paku bersuhu panas itu turun dengan kecepatan tinggi. Bahkan atap rumah kami dapat ditembusnya! Saat itu aku menangis melihat tubuh beliau yang tampak mengenaskan karena tersayat-sayat dan tercerai berai.

Beberapa hari dalam duka, sebuah helikopter menjemputku untuk menemui ayah."Presiden memintamu menghadap di istana kepresidenan," ujar ayah sambil memelukku. Aku terkejut.
"Pasukan Khusus Wanita akan dibentuk. Beliau membutuhkan bantuanmu. Ayah sudah menceritakan semua. Bahwa kau mahir memanjat, bela diri, bergerilya 'hit and run' dan berpisau. Beliau sangat menghargainya..." "Ayah sudah tahu tentang ibu?" tanyaku hati-hati. Ayah mengangguk sambil menarik napas panjang. "Syahidah..," gumamnya pelan.

Tiada kusangka aku bisa masuk ke istana kepresidenan. Dan ketika aku ditemani ayah masuk ke ruangan Presiden, yang pertama kali tertangkap oleh mataku adalah suasana keislaman yang kental. Di mana-mana terdapat kaligrafi, bahkan di atas foto Dudayev terdapat ayat Al Quran. Ternyata langkah awal yang diintstruksikan Presiden Dudayev adalah agar aku melatih para muslimah sekitar Grozny untuk menghadapi kemungkinan serangan besar-besaran Rusia.

"Bentuk pasukan khusus wanita setelah kau melihat kemampuan mereka. Tidak usah terlalu banyak orang, yang penting handal."

Aku mengangguk.

"Ingatkan juga mereka, di atas segalanya, iman adalah senjata sekaligus kekuatan utama kita!" kata beliau tegas. "Selamat berjuang, Vakha!!"

Novembar, 1994 pasukan pemberontak dukungan Moskwa menyerbu Grozny dan beberapa wilayah lain. Rupanya Rusia berupaya memecah belah. Tetapi skenario yang disusun untuk menggulingkan Dudayev ini gagal. Rusia lupa, rakyat Chechya hanya sekitar 1,2 juta jiwa dan 700,000 diantaranya mengangkat senjata bersama Dudayev, termasuk aku!

Desember 1994 Rusia kian menggila. Tank-tank, pesawat dan jet tempur serta bom-bom pembunuh Rusia kian mendekati Grozny... Ayah dan aku terlibat pertempuran panas di perbatasan Grozny. Kini kulihat tubuh ayah penuh darah..tetapi..ya Robbi, bahkan beliau tak limbung sama sekali!!

"Vakha, habisi mereka!!" Seru beliau.
"Ayah bertahanlah! Aku aka melindungimu!" teriakku. "Allahu Akbar!"
Ayah tertawa. "Orang-orang Kaukasus telah muslim sejak masa Umar bin Khotob! Vakha..., sekali lagi!! Takbir!!"

"Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Teriakku sekuat tenaga.

Ayah tertawa-tawa. "Vakha, hit and run!"

Aku melemparkan dua granat tangan ke arah tank Rusia, ayah juga, kemudian kami berusaha berlari sekencang-kencangnya! Tetapi..ayah tampak mulai lemah... "Ayah..!"

DOR! DOR! DOR! BUM!! Sebuah bom menuju kami. "Vak...kha.." Ayah melepaskan tanganku. "Lari!!! lariii, nak!"

Airmataku berderai. Ayah tersenyum sebelum bom itu meledak di dekat kami! Aku melompat beberapa kali di udara! Tanah di sekitar amblas! Bom penetrasi! Allah, jasad ayahku kini amblas ke bawah tanah!!

"To..long..,"

Masih berlinang airmata aku menuju datangnya suara. "Aku..Ovald.., sampaikan pada ...ayah..ku.., aku pergi ke...la..ngit.." Seorang pemuda penuh luka tembakan memohon padaku. "Aku Ovald.., waktu...ku te..lah sam..pai..," katanya lagi terpatah-patah.

"Siapa ayahmu? Siapa?"

"Du..da..yev...,"

Semakin mengenalnya aku makin salut pada Presiden Dudayev. "Hal yang paling saya sedihkan adalah meninggalnya ribuan penduduk sipil, meski saya terpukul dengan kematian Ovald. Maka perjuangan fisabilillah tak akan berhenti, samada kita merdeka atau syahid," katanya suatu ketika di depan beberapa anggota pasukan.

"Kenyataan sejarah menunjukkan bahwa kemerdekaan tak pernah dihadiahkan oleh penjajah tetapi harus direbut!" tegasnya lagi. Jendral Dudayev membaca sebuah ayat Qur'an tentang jihad. Fasih dan langsung diartikannya. Aku ingat ayah pernah mengatakan bahwa Presiden Jauhar Dudayev memang pandai berbahasa Arab dan pernah ke Al Azhar sebelum masuk dinas militer Uni Soviet. Aku juga melihat kebanyakan yang dekat
dengannya adalah ulama-ulama besar Chechnya!
15 Februari 1996, pagi itu pecah pertempuran besar! Pasukam muslimin yang langsung di bawah komando Jendral Dudayev terdesak mundur. "Vakha, bawa keluar segera wanita dan anak-anak dari Grozny!!"

"Siap Jendral!" sahutku.

Aku berusaha memobilisir wanita dan anan-anak bergerak melalui jalan lain yang lebih aman! Tetapi seluruh Grozny tampaknya telah terkepung! Maka terjadi pertempuran di jalan-jalan! Penduduk sipil akhirnya menjadi
bulan-bulanan mortir dan bom Rusia! Tetapi banyak juga di antara mereka yang bangkit melawan dengan gagah. Bahkan aku melihat anak-anak dan wanita lanjut usia berusaha melawan mereka!

Sasaran utama Rusia di antara sumur-sumur, kilang minyak dan pabrik-pabrik kimia, juga rumah sakit, dan tentunya...Ya Robbi.., istana kepresidenan! Suara bom, mortir, tembakan dan roket berbalur jerit tangis dan pekik ribuan manusia!

Aku sangat mengkhawatirkan keselamtan Jendral Dudayev! Sementara kulihat Grozny mulai rata dengan tanah! Mayat di mana-mana! Jilbab pendekku penuh cipratan darah! Istana kepresidenan di tangan Rusia!

Aku selalu memikirkan keadaan Jendral. Komandan tempur Shamil Basayev mengatakan beliau baik-baik saja. Aku tetap cemas. Begitulah, sampai tiba tanggal 5 Maret. Menurut rencana esok kami akan memasuki Grozny. Semua yang terlibat pasukan pria kecuali aku dan pasukan khusus wanita yang juga bertanggung jawab untuk masalah perbekalan makanan dan minumam.

"Komandan Vakha!"

Aku menoleh. Dua orang pria masuk dan meninggalkan sepucuk surat di atas meja. Kubuka surat itu. Dan seperti tak percaya aku mulai membacanya...

Kepada Saudaraku fillah Vakha Bolsov, di Sabilillah,
Segala puji hanya pada Allah dan shalawat bagi Rasulullah.
Pupuk terus semangat jihad. Dengan iman di dada segala senjata Rusia tak kan berarti apa-apa. Dan masa depan hanya lah bagi kaum beriman. Istiqamah!
Wassalam, Dudayev

Keesokan harinya kami menyerang Grozny. Ternyata pasukan Rusia tampak siap. Tetapi tanpa kenal henti berhari-hari kami bertempur di jalan-jalan di Grozny! Ratusan orang tewas! Rusia mengalami kerugian besar walau pada akhirnya Grozny belum berhasil kami rampas kembali! Tak lama setelah itu Shamil Basayev memerintahkan untuk pindah ke Daerah Ita Kam, meneruskan latihan dan membantuk menegarkan kaum wanita di sana.

23 April 1996..
"Bersiap-siaplah, Vakha! Kau dan wakilmu Sayyida akan dikawal menuju Gekhi-Chu. Kita akan merundingkan starategi nasional disana," Suara Basayev tegas terdengar.

Aku segera bersiap-siapa. Daerah Gekhi Chu berada sekitar 30 km sebelah Barat Daya Grozny. Jalan ke sana amat berat, selain itu bisa jadi senja ini pasukan Rusia berada di sekitar daerah itu. Tetapi dugaanku keliru. Tak ada rintangan di jalan. Bahkan jalan-jalan yang kami lewati begitu lengang bagai mati. Hanya terdengar suara hembusan angin yang kencang dan lolongan anjing liar.

"Assalamu'alaikum," sebuah suara sejuk menyapa rombongan kami. Semua menjawab salam dan...

"Jendral!" Aku terkejut sekaligus gembira.

"Vakha! Dan..Sayyida bukan? Anak komandan Vladimir? Mari masuk, tempat wanita di sebelah sana," ujar beliau ramah pada kami semua. Subhanalloh, inilah presiden kami. Begitu shalih, merakyat juga sangat bersahaja!

Usai Maghrib, sekitar dua jam beliau memberi pengarahan untuk strategi nasional Chechnya. Memang kuakui, mantan panglima divisi pembom strategi AU Uni Soviet dan bekas Direktur intelijen di Estonia ini sangat cermat dan cerdas dalam mengambil langkah perjuangan.

"Jadi semua jelas. Berangkatlah. Oh ya, Vakha..bagaimana dengan laporan adanya pembataian dan perkosaan di desa-desa?"

"Memprihatinkan, jendral! Rusia biadab itu tak ada bezanya dengan anjing-anjing Serbia! Laporan tertulis telah saya sampaikan pada komandan Basayev!"

Dudayev mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya keruh sesaat. "Pavel Grachev.., apa yang kau arahkan pada pasukanmu..? Ya Allah beri kami semangat jihad dan kesabaran. Ya Allah.., jangan tinggalkan kami.., ya Allah..."

Untuk pertama kalinya kulihat Jendral Dudayev menangis. Tetapi pemimpin pantang menyerah ini kemudian dengan tetap semangat memberi pengarahan kembali...

Agar tak menarik perhatian Rusia atau siapa pun, selesai pengarahan kami semua harus pergi segera dari Gekhi-Chu kembali ke pos masing-masing, begitu perintah Jendral Dudayev.

Sebenarnya berat bagi kami semua berpisah dengan Jendral. Biar bagaimana pun ia adalah orang nomor satu yang dicari Rusia! Bahkan akupun ingin melindunginya semampuku! Namun..kami harus pergi! Dan ini perintah!
Rombongan kami sudah cukup jauh.., ketika tiba-tiba...terdengar ledakan sangat keras!!!

Jantungku nyaris berhenti!

Kulihat roket-roket beterbangan, percikan api dan kepulan asap yang menebal dari arah persembunyian Jendral Dudayev! Kami semua keluar dari kendaraan, masuk ke semak-semak dan tiarap!

"Gekhi-Chu! Presiden!" teriakku sambil berusaha menahan airmata. "Kita harus kembali Jendral di sana!" kataku histeris!

Tak ada yang berusaha menenangkanku! Tak ada yang melakukan apa-apa! Semua terperangah! Sekuat tenaga aku berusaha berlari kembali ke arah Gekhi-Chu! Kakiku lemas! Aku terjerembab! "Pre...si..den.. pe...mimpin... ka..mi..."

Innalillahi, beliau telah pergi bersama syuhada lainnya. Tetapi ruh jihad Jendral akan selalu bersama kita," ujar Yandarbiyev, wapres Chechnya yang kini ditunjuk sebagai pengganti Dudayev.

"Dan kita takkan berhenti berjuang, karena dengan iman segala senjata Rusia tak berarti apa-apa. Masa depan hanyalah milik orang beriman..." ujarku tegas.

"Siapa anda? Anda benar! Itu adalah kata-kata almarhum! seru Yandarbiyev. "Anda...Vakha?"

Aku menangis. Diam-diam. Perjuangan harus terus berlanjut, walau orang keras itu telah pergi selamanya.

"Tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa mengalahkan aspek ritual kaum muslimin," suaranya seperti kudengar lagi, di antara deru angin dan senjata di pegunungan Kaukasus.

"Islam akan menjadi ideologi negri ini!' Seakan kutangkap bayangannya di hutan-hutan Chechnya...

Dan aku masih menangis diam-diam..., saat mengenangnya.

No comments:

Post a Comment