Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Loading...

Kamis, 22 Juli 2010

Berjiwa Besar

By : Ukhti Aan Avdelina

Sangatlah beruntung bagi seseorang muslim yang sudah bangun sebelum terlambat untuk bersiap-siap untuk mencari/mengumpulkan bekal yang akan dibawa ke tempat kembalinya yang kekal dan abadi. Yaitu tempat untuk selama-lamanya. Ialah tempat bersenang-senang, tempat mengasuh dan istirahat, setelah sekian lama mengarungi kehidupan dunia dengan bermacam-macam pengalaman suka dan duka dan dengan merasakan pahit dan getirnya penghidupan dunia.
Dan sesudah habis masa hidupnya di dunia, mau tak mau umat manusia seluruhnya harus meninggalkan dunia yang bersejarah dengan membawa hasil usahanya. Hasil usaha yang berupa perbuatan-perbuatan baik yang dalam Islam terkenal dengan istilah amal-amal shaleh atas dasar keimanan dan ketaqwaannya orang muslim. Atau membawa hasil usahanya yang tanpa disertai iman, tentunya usaha buruk yang tidak dapat dipertanggungjawabkannya di hadapan Pengadilan Maha Agung di kemudian hari.
Banyak diantara umat manusia yang tidak/belum memahami bagaimana seharusnya menghadapi tempat terakhir itu. Mereka hidup di dunia ini dengan kesenangan dan kegembiraan di luar batas. Untuk memenuhi semua itu, mereka mencari dan mengumpulkan harta di dunia sebanyak-banyaknya yang menjadi kebanggaan mereka dengan kekayaan materiil yang cukup terkenal dengan predikat kaya raya.
Padahal sesungguhnya dan pada hakekatnya, bukanlah "kekayaan harta" itu yang menjadi kebanggaan bagi seorang muslim. Akan tetapi yang sebetulnya, bahwa kekayaan jiwa yang menurut Islam, itulah yang diutamakan dalam kehidupan di dunia ini. Kekayaan jiwa yang merupakan "jiwa besar" itulah sebenarnya yang harus dipunyai oleh setiap orang muslim. Yaitu yang sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya ; "Bukanlah yang dinamakan kaya, karena banyak harta kekayaan, tetapi yang disebut/dinamakan kaya, adalah 'kaya jiwa'". (Bukhari dan Muslim).

Kaya Jiwa
Harta benda yang banyak yang dianggap sebagai kekayaan, sesungguhnya bukan kekayaan hakiki. Karena kekayaan harta benda itu tidak kekal, tidak selamanya tetapi sewaktu-waktu bisa habis dengan berbagai sebabnya. Seperti terbakar, musnah terlalap api, dicuri penjahat atau digarong perampok, dan juga bisa habis dengan dibelanjakan.
Adapun kaya jiwa bagi seseorang muslim itu tidak akan habis dan tidak akan luntur dan tidak akan menjadikan miskin. Sebab "kaya jiwa" bagi seseorang adalah menempatkannya dan mendudukkannya sebagai orang yang "berjiwa besar". Dan untuk mendapatkan jiwa besar bagi seorang muslim, tidaklah semudah seperti yang disangka oleh sementara orang. Tetapi lebih dahulu harus tabah dan ulet untuk memperolehnya. Yakni dengan melalui, menjalani atau mengalami beberapa macam ujian. Ujian-ujian mana harus ditempuh dengan kesungguhan dan ketekunan, agar berhasil dengan predikat "berjiwa besar".
Ujian-ujian itu antara lain, adalah seperti : akhlak, hawa nafsu, sabar dan menahan marah.

Akhlak
Bagi setiap orang muslim sangat perlu memiliki "akhlak" yakni budi pekerti dengan watak dan tabiat yang baik dengan melalui pendidikan yang benar, untuk terciptanya, "pendidikan budi pekerti yang tinggi". Sehingga seorang yang telah mendapat pendidikan budi pekerti itu akan selalu dan selamanya tahu dan mengerti berapalah harga dirinya, dan apa perlunya dia diciptakan hidup di dunia yang penuh dengan kekejaman dan penipuan yang dikendalikan oleh musuh besar umat manusia, musuh sejak bapa dan ibu umat manusia, Adam dan Hawa masih turun temurun hingga sekarang dan sampai nanti selama umat manusia masih bernyawa, hidup di muka bumi ini, musuh yang nyata atau tidak nyata (tersembunyi).
Maka dengan pendidikan budi pekerti yang mengarah pada tingkat kemuliaan, yakni ketaqwaan kepada Allah SWT, musuh-musuh besar itu tidak akan berbuat apa-apa, bahkan mereka takluk dan tunduk, tidak sanggup menjalankan tipu dayanya terhadap manusia yang berpendidikan akhlak, budi pekerti yang luhur, yang sudah terlatih selalu berada di bawah pengawasan, bimbingan dan petunjuk dari Allah SWT dengan berdasarkan "jiwa besarnya" seseorang itu.
Jiwa besar yang tumbuh subur di dalam hati setiap orang mukmin, yaitu mencontoh akhlaknya Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana pernyataan dari Allah SWT dalam firmanNya (dalam surat 68, ayat 4); "Dan engkau Muhammad sesungguhnya mempunyai budi pekerti yang agung".
Dan menurut hadits, riwayat Hakim dan Baihaqi (pengakuan Nabi Muhammad SAW sendiri) sabda beliau ; "Aku diutus hanya untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia!"
Makanya dengan adanya jiwa seseorang muslim yang sudah dididik dengan pendidikan akhlak, budi pekerti yang agung, yang mulia dan yang tinggi jadilah jiwanya kaya atau "berjiwa besar" sehingga dapat menghadapi segala macam halangan, rintangan atau pun hambatan yang menghadangnya untuk melanjutkan dan menunaikan kewajiban-kewajiban untuk taat kepada Allah dan RasulNya, seperti adanya.

Hawa Nafsu
Mengikuti hawa nafsu, bisa melalaikan hati untuk mengingat Allah lalu melanggar batas-batas yang sudah ditentukan Allah SWT dalam syariatNya.
Maka kalau demikian halnya akan hilanglah tujuan hidup seseorang muslim untuk berbuat sesuatu amal kebaikan dalam mencapai keridhaan dari Allah SWT. Sedang Allah SwT menyuruh melawan hawa nafsu, angkara murka yang membawa seseorang ke lembah neraka.
Oleh karena itu sekuat iman kita sebagai Muslim haruslah berjuang melawan kemauan nafsu itu, karena mentaati perintah-perintah Allah SWT dengan firmanNya (dalam Al-Quran, S-29 ayat 69) ; "Dan orang-orang yang berjuang untuk memperoleh keridhaan kami, pasti tunjukkan kepada mereka jalan kami, dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat kebaikan".
Bagi orang-orang yang "berjiwa besar" tidak akan ragu-ragu untuk berjuang menegakkan kebenaran agama Islam serta mempertahankan kesuciannya. Yaitu tidak lain hanyalah karena mentaati perintah-perintahNya dan disamping itu mengharapkan keridhaan daripadaNya.
Perjuangan yang demikian itu adalah paling baik dalam menuju kemenangan dengan hasil yang menggembirakan. Dan Allah SWT akan menunjukkan jalan yang terbaik, yaitu dengan memberikan perlindungan pimpinan dan bimbingan, sehingga mendapat pahala yang berlipat ganda diberikan kepada mereka yang berjuang untuk kebaikan itu.
Itulah semacam kebahagiaan, yang diberikan kepada mereka yang berjiwa besar yang sanggup menahan hawa nafsu.

Sabar
Kesabaran adalah keteguhan hati untuk menghadapi atau menentang hawa nafsu yang menghalangi berbuat amal-amal shaleh.
Maka barang siapa yang dapat bertahan dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu, merekalah orang-orang tabah, teguh, dan sabar, dan merekalah yang beruntung : "Man shabara zhafira!" (Barang siapa sabar, pasti tercapai maksudnya).
Inilah hasil dari orang yang berjiwa besar yang bisa menghadapi setiap tantangan dan diatasinya dengan kesungguhan dan keteguhan iman yang berada dalam hatinya yang suci, tidak terpengaruh oleh ajakan nafsu yang tidak benar. Mereka ini dapat dikatakan memenuhi apa yang difirmankan Allah dalam S.41, ayat 30 : "Sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang mengatakan : Allah itu Tuhan kami! kemudian mereka teguh dalam pendiriannya..."
Dengan pengakuan, bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang mereka sembah dan tempat mereka menyandarkan kesabaran, sehingga teguh dalam pendiriannya, tidak tergoyahkan oleh ajakan hawa nafsu. Maka oleh karena itu bagi mereka akan diberikan pahala sebagai upah dari kesabaran mereka, sesuai dengan firmanNya dalam S.39, ayat 10 : "...Sesungguhnya orang-orang yang sabar (berhati teguh) itu akan dibayar cukup pahalanya dengan tiada terbatas".

Menahan Amarah
Menurut hadits, riwayat Muslim, sabda Rasulullah SAW: "Bukanlah ukuran kekuatan seorang itu dengan bergulat, tetapi yang disebut kuat, ialah orang yang dapat menahan hawa nafsu ketika marah!"
Demikianlah ukuran kekuatan jiwa seseorang, tidak diukur dengan adu kekuatan tenaga, berkelahi atau bergulat untuk kalah atau menang. Akan tetapi yang disebut kuat dalam istilah agama Islam, ialah mereka yang dapat menahan nafsu ketika timbul amarahnya. Itulah karena didalam diri seseorang yang berjiwa besar dapat menahan marah, padahal dia kuasa untuk melampiaskan kemarahannya. Yaitu sesuai dengan sabda Rasulullah SAW menurut riwayat Abu Dawud dan Abid Dunya : "Siapa-siapa yang dapat menahan amarahnya, padahal dia kuasa untuk melampiaskan marahnya itu, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan iman dan rasa aman ketenangan."
Dan lagi menurut hadits, riwayat Ahmad dan Abu Dawud, sabda Rasulullah SAW : "Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu dijadikan dari api, dan yang dapat memadamkan api itu hanyalah air. Maka apabila seseorang dalam keadaan marah, hendaklah segera berwudhu!"
Dan menurut riwayat Thabrany, Nabi Muhammad SAW, bersabda : "Andaikata seorang yang marah itu suka membaca : "Auudzu billahi minasy-sayitthonirrajiim" (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk), niscaya hilang amarahnya!"
Sungguh hebat orang-orang yang "berjiwa besar" dengan akhlak, budi pekerti yang mulia dan terpuji itu dapat mengatasi kemungkaran-kemungkaran dan mengamalkan kebaikan-kebaikan.

Sumber: Majlis Ta'lim Al Husaini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar