Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Loading...

Senin, 24 Mei 2010

IKHLAS, BERSYUKUR DAN SABAR

Asslmkm. Wr. Wb.
Facebooker’s yang mau belajar ikhlas, bersyukur dan sabar...
Bahwa setiap amal perbuatan didahului dg niat. Tanpa niat yg timbul dari hati, tdk mungkin seseorang melakukan sesuatu. Dari niat inilah yg menjadi tolok ukur setiap amal perbuatan. Niat yg baik akan menghasilkan buah yg baik, begitu sebaliknya. Akan tetapi meski niat yg tanpa disertai dg keikhlasan, ibarat tubuh tanpa jiwa. Jadi antara niat dan ikhlas haruslah seiring dan sejalan, tdk boleh dipisah-pisahkan. Tanpa adanya keikhlasan, amal perbuatan seseorang bisa dikatakan bukannya memperoleh pahala, malah memperoleh dosa. Banyak orang mengatakan bhw ikhlas itu mudah diucapkan tapi susah untuk dilaksanakan. Saya sendiri masih belajar ikhlas dalam beberapa hal. Ikhlas menurut Sayyid Sabiq adalah "Mensengaja manusia dg perkataannya, amalnya dan jihadnya hanya karena Allah SWT semata-mata, dan karena mengharap keridhoanNya. Bukan krn mengharap harta, sanjungankepopuleran, atau maju mundurnya amalnya, terangkat dari kekurangan2 dan terangkat dari akhlak yg tercela, dan dg demikian ia mendapatkan kesenangan Allah SWT". Sabda Rosulullah SAW mengenai ikhlas, bhw "Sesungguhnya Allah SWT tdk akan melihat bentuk badan kita dan tdk pula melihat wajah kalian, akan tetapi Dia melihat kpd hati kalian. Manusia itu seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yg beriman. Mereka yg beriman itu seluruhnya akan binasa, kecuali yg beramal. Dan mereka yg beramal seluruhnya akan binasa, kecuali mereka yg ikhlas". Allah Yang Maha Bijaksana telah memberikan pelajaran bagi kita semua melalui binatang ternak. Betapa Dia telah memisahkan susu dan bercampurnya kotoran serta darah, padahal ketiganya sama2 berada di dlm satu tubuh (perut). Demikian juga dg keikhlasan yg menyertai amal kita, janganlah bercampur dg pamrih-pamrih lain, seperti ingin dipuji, ingin disanjung dsb. Ada suatu resep mengenai ikhlas yg dilakukan oleh ulama besar bernama Imam Ibnul Qayyim mengatakan : "Tidak akan berkumpul dalam hati seseorang, sifat ikhlas, gila pujian(riya'), dan serakah. kecuali seperti berkumpulnya air dengan api atau berkumpulnya biawak dengan ikan.
Apabila anda ingin memiliki sifat ikhlas,yang pertama kali anda lakukan adalah melenyapkan sifat serakah, kemudian menghindari sifat riya’, seperti sifat yg dimiliki pecinta dunia yang tidak mempedulikan kehidupan akherat. Apabila anda sudah melakukannya, mudahlah bagi anda memperoleh sifat ikhlas".
Ikhlas berdasarkan tringkatannya terbagi tiga, yaitu :
1. Keikhlasan golongan ibadah, yaitu mereka yg beramal hanya kpd Allah SWT semata, agar amalan2nya dibalas oleh Allah dg pahala (surga) dan dihindarkan dari siksa api neraka.
2. Keikhlasan golongan muhibbin, dimana mereka yg beramal hanya semata-mata krn kecintaannya kpd Allah SWT dan bukan untuk mendapatkan pahala atau supaya dihindarkan dari siksa api neraka.
3. Keikhlasan golongan ma'rifat, yaitu golongan yg berpendapat bhw jika mereka beramal, maka yg mendorong dan menggerakkan amalannya adalah Allah SWT. Mereka sama sekali tdk mempunyai daya dan kekuatan sedikitpun untuk melakukan sesuatu karena pertolongan Allah SWT.
Contoh ikhlas adalah yg diajarkan oleh Rosulullah SAW pernah bersabda bhw diantara tujuh orang yg mendapatkan naungan di hari yg tiada naungan selain naungan-Nya adalah apabila seorang laki2 bershodaqoh dg tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tidak mengetahuinya. Juaga dlam Surat Al-Baqarah ayat 264, Allah berfirman, bhw "Hai orang2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dg menyebut-nyebutnya dan menyakiti (hati orang yg kau beri sedekah), seperti orang yg menafkahkan hartanya karena riya' kpd manusia dan dia tdk beriman kpd Allah dan hari kemudian. Mereka perumpamaan orang seperti itu adalah seperti batu licin yg diatasnya terdapat tanah, lalu batu tsb ditimpa hujan deras, lalu menjadikan dia (batu itu) bersih (tidak bertanah)".
Dalam sebuah riwayat yg lain dijelaskan bhw riya' itu ibarat api dlm sekam, sedikit demi sedikit ia akan membakar dan menghanguskan amal perbuatan yg telah kita kerjakan.
Dari penjelasan tsb di atas, betapa pentingnya arti ikhlas kpd Allah SWT, hingga Rabiah Al-Adawiyah (seorang yg menyerahkan seluruh hidup dan jiwa raganya kpd Allah SWT) pernah berkata : "Aku lebih suka masuk ke dalam neraka dg ridho-Nya daripada masuk ke dalam surga akan tetapi mendapat laknat dari-Nya". Bahwa suatu amal itu dapat diterima Allah SWT apabila dikerjakan dg tulus dan ikhlas karena-Nya. Dan bila sudah melakukan amal dengan ikhlas, maka hendaknya kita bersyukur, karena keikhlasan itu pada hakekatnya bukan dari diri kita, tetapi merupakan anugerah dari Allah SWT. Coba anda renungkan apa yang dikatakan oleh Abu Abdullah Al-Qurosy ra bahwa "Jika Allah SWT menuntut kepada mereka tentang keikhlasan, maka lenyaplah semua amal perbuatan mereka. Dan apabila telah lenyap semua amal mereka bertambahlah hajat kebutuhan mereka, maka dengan itu mereka lalu membebaskan diri daripada bergantung kepada segala sesuatu, kemblilah mereka kepada Allah dalam keadaan bersih dari segala sesuatu (meskipun amal perbuatan sendiri atau tenaga kekuatan diri sendiri".
Seseorang yg berbuat sesuatu, dimana dg perbuatannya itu ia dpt memberi keuntungan atau dpt menghindarkan seseorang dari kemadhrotan, maka ia diperbolehkan untuk menuntut upah daripadanya. Akan tetapi terhadap amal perbuatan yg ditujukan kpd Allah SWT, ia sama sekali tidak diperbolehkan menutut balasannya. Kenapa? Karena, bagaimanapun besarnya amal yg dilakukan seseorang, tdk akan dpt mendatangkan manfaat sedikitpun kpd Allah SWT melainkan akan kembali kepada dirinya sendiri. Selain itu, seseorang tdk akan dpt melakukan sesuatupun kecuali dg pertolongan Allah SWT. Selanjutnya, apakah masuk akal bila ia kemudian meminta balasan atau upah dari-Nya? Seseorang yg berakal, tentu dg tegas akan menjawab : "Tidak". Allah SWT berfirman dalam Surat Faathir ayat 15, bhw "Hai manusia, kamulah yg berkehendak kpd Allah, dan (Allah) Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi terpuji". Ayat ini menjadikan jelas, bahwa Allah sama sekali tdk membutuhkan amal-amal hamba-Nya, melainkan hamba itu sendiri yg butuh untuk melakukan amal2 sholeh, karena amal2 sholeh itu bagaikan santapan rokhani bagi dirinya yg dpt menenteramkan hati dan fikirannya dari segala macam kerisauan, gundah gulana dan dpt pula menghilangkan kekhawatiran2 terhadap kesengsaraan hidup di akherat.
Jadi menuntut upa atau balasan dari amal yg diperbuat adalah menunjukkan bhw amal yg dikerjakannya itu tdk disertai dg rasa ikhlas. Suatu amal yg tdk disertai rasa ikhlas didalamnya, maka tertolaklah amal itu. Sehubungan dg hal ini, Al-Wasithi pernah mengatakan bahwa "Menuntut ganti atau upah atas amal ketaatan itu merupakan kelalaian akan karunia Allah".
Selanjutnya Abu Abas bin Athoillah juga pernah berkata bhw "Amal yg lebih dekat kpd murka Allah adalah apabila seseorang melihat dirinya sendiri dari amal perbuatannya. Dan yg lebih berat dari itu adalah menuntut upah (balasan) dari amal yg dikerjakannya itu". Adalah sudah menjadi keyakinan orang2 mukmin/mikminat bahwa Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Menentukan segala-galanya di dunia ini. Kehendak dan irodat-Nya sedikitpun tdk ada yg dpt menghalangi atau mengubahnya. Perhatikan firman Allah SWT dalam Surat Ar-Rad ayat 8, bhw "Dan segala sesuatu pada sisi Allah adalah dengan ketentukan takdir".
Karena itu, kita sbg hamba-Nya yg tdk mampu sdikitpun menentukan kehidupan kita sendiri. Hendaknya berusaha atau berikhtiar dg sekuat tenaga dan kemudian dg rela dan lapang dada menerima hasilnya yg memang sudah merupakan ketentuan Allah SWT. Dan sesungguhnya ketentuan Allah tsb adalah juga merupakan nikmat yg harus kita syukuri, sebagaimana Rosulullah SAW juga mensyukuri nikmat yg telah diterimanya : "Ya Allah, ya Tuhan kami, jagalah kami agar supaya selalu ingat kepada-Mu dan tetap bersyukur kepada-Mu, serta jadikanlah kami termasuk orang yang baik di dalam mengabdi kepada-Mu". Demikian doa yang sering diucapkan oleh Rosulullah SAW pada tiap2 selesai melaksanakan shalat fardhu untuk mensyukuri nikmat yang telah diterimanya.
Apabila seorang muslim/muslimat mendapatkan kenikmatan, maka kewajiban yg harus dipenuhi adalah (1) meyakini dg sepenuh hati bahwa kenikmatan yg diperolehnya itu benar2 datangnya dari Allah SWT, dan (2) mensyukuri nikmat yg telah diterimanya itu dg jalan mematuhi perintah2-Nya dan menjauhi larangan2-Nya. Nikmat apapun, baik yang banyak maupun yang sedikit, haruslah senantiasa disyukuri. Dan seandainya kenikmatan yg diperolehnya itu melalui perantaraan orang lain, maka selain bersyukur kpd Allah SWT, juga harus berterimakasih kepada orang tersebut.
Hal tsb dilakukan karena ada hadits yg diriwayatkan oleh Nu'man bin Basyir bahwa Rosulullah SAW pernah bersabda : "Barangsiapa yg tidak mensyukuri pemberian yg sedikit, maka ia tidak akan dapat mensyukuri pemberian yg banyak dan barangsiapa yg tidak bersyukur kpd manusia, maka dia tidak akan bersyukur kpd Allah".
Untuk itu benar kata2 bijak yg mengatakan bahwa jika matahari dapat melihat bahwasanya Allah itu Maha Tunggal dalam segala pemberian karunia-Nya, maka tuntunlan agama (syariat) menetapkan agar supaya bersyukur pula kepada sesama makhluk-Nya. Barangsiapa yg tidak menghadap kepada Allah SWT ketika diberi kehalusan2 karunianya, niscaya dia akan dibelenggu dengan berbagai rantai ujian. Barangsiapa yg tidak mensyukuri segala nikmat, maka benar2 dia telah menyodorkan untuk hilangnya nikmat. Dan barangsiapa yg mensyukuri nikmat, benar2 dia telah mengikatnya dengan tali.
Kenikmatan menurut Imam Ghazali merupakan kebahagiaan, kebaikan, kekuatan dan segala macam keinginan yg dapat terpenuhi dan kita rasakan, dimana pada hakekatnya terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Kenikmatan yg bersifat fitri atau azasi, yakni kenikmatan yg diberikan Allah sejak manusia dilahirkan, misalnya telinga untuk mendengar, mata untuk melihat, hati atau akal untuk berfikir dst. Hal ini sesuai dg firman Allah SWT dlm Surat An-Nahl ayat 78, bhw "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dlm keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar kamu bersyukur".
2. Kenikmatan yg dirasakan pd wkt yg akan datang (tidak langsung diberikan ketika lahir), spt diciptakannya berbagai macam tanaman, hewan, bumi dan semua yg terkandung didlmnya untuk manusia.
Dg demikian banyaknya dan terlalu seringnya menerima dan merasakan nimat dari Allah, hingga seringkali kita lupa bhw apa yg telah kita terima dan rasakan itu merupakan nikmat. Contohnya orang sehat, yg berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, berahun-tahun dlm keadaan sehat, dan dia sama sekali tdk merasa bhw kesehatannya itu merupakan nikmat. Ketika ia terserang penyakit, maka ia akan merasakan betapa besar nikmat yg namanya kesehatan itu.
Sudah seharusnya kita bersyukur, sedangkan Nabi SAW sendiri sbg seorang yg ma'sum atau terpelihara dari dosa saja merasa takut tdk termasuk ke dlm golongan orang2 yg bersyukur, apakah kita ini yg berlumuran dosa tidak merasa malu untuk menerima pemberian-Nya tanpa mau bersyukur kpd-Nya?
Sebagai orang mukmin/mukminat tentu tidak ingin mengabaikan perintah Allah SWT sebagaimana yg disebutkan dlm Surt An-Nahl ayat 144, bhw "Bersyukurlah terhadap nikmat Allah, jika kamu sungguh2 menyembah kepada-Nya". Kemudian, bagaimana caranya bersyukur?
Cara-cara bersyukur itu ada tiga macam, yaitu :
1. Bersyukur dengan hati, maksudnya ia merasa yakin bhw segala macam kenikmatan itu datangnya dari Allah SWT. Perhatikan Surat An-Nahl ayat 53, bhw "Dan apa saja nikmat yg ada pada kamu, maka dari Allah lah (datangnya). dan bila kamu ditimpa oleh kemadhorotan maka hanya kpd-Nyalah kamu meminta pertolongan".
2. Bersyukur dengan lisan, maksudnya dengan memperbanyak bacaan hamdalah (al-hamdulillah). Perhatikan Surt Adh-Dhuhaa ayat 11, bhw "Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebutnya (dg bersyukur)".
3. Bersyukur dengan semua anggota badan.
Jadi dengan demikian, bersyukur itu tidak hanya cukup dengan lisan atau ucapan saja, tapi lebih daripada itu harus diwujudkan dengan perbuatan.

Selain kita bersyukur, kita haruslah bersabar karena sabar itulah akan membuahkan beberapa derajat dan kebajikan. Allah SWT akan mengumpulkan petunjuk, rahmat dan keberkahan untuk orang-orang yang sabar. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa "Sabar adalah bagian dari iman", dan dalam Al-Qur'an, keutamaan sabar diterangkan lebih dari sembilan kali. Karena sabar itulah akan membuahkan beberapa derajat dan kebajikan. Allah SWT akan mengumpulkan petunjuk, rahmat dan keberkahan untuk orang-orang yang sabar. Allah SWT berfirman dalam Surat Allah SWT akan mengumpulkan petunjuk, rahmat dan keberkahanAl-Baqarah ayat 157 bhw "Merekalah orang2 yg memperoleh keberkahan sempurna dan memperoleh rahmat dari Tuhannya dan mereka inilah orang2 yang memperoleh petunjuk".
Maksud dari ayat ini, petunjuk, rahmat dan keberkahan akan dikumpulkan untuk orang2 yg sabar.
Sabda Rosulullah SAW, "Diantara sesuatu yg paling sedikit diberikan kepada kalian adalah keyakinan dan kekuatan sabar. Barangsiapa yg dianugerahi dua hal ini, maka dia tidak akan peduli apa yg tdk mampu dilakukan, yakni berdiri (menunaikan) sholat di malam hari dan berpuasa di siang hari. Dan sesungguhnya kalian bisa sabar dg apa yg sedang dihadapi, hal ini lebih aku cintai daripada masing2 orang memenuhi aku dengan semua amalan. Namun aku sangat khawatir jika sepeninggalku kelak kamu dibukakan pintu keindahan dunia, kemudian kamu mengingkari satu sama lain dan mengingkari semua penghuni langit. Maka barangsiapa yg bersabar dan tetap mencari pahala, dia memperoleh kesempurnaan pahalanya". Kemudian beliau membaca firman Allah SWT, "Apa yg ada di sisimu akan lenyap dan apa yg ada di sisi Allah akan kekal. Dan sungguh kami akan memberikan balasan buat orang2 sabar dengan pahala mereka" (Surat An-Nahl ayat 96).
Riwayat Jabir ra, bahwa Nabi SAW ditanya mengenai iman. Beliau kemudian bersabda : "Sabar dan murah hati. Sabar merupakan simpanan kekayaan dari semua kekayaan syurga".
Dalam riwayat Atha', Ibnu Abbas ra berceritera ketika Nabi SAW berkumpul dg para sahabat Anshar. Nabi SAW bersabda : "Apa kamu orang mukmin?". Mereka diam. Umar ra berkata : "Ya". Sabda Nabi SAW : "Apa tanda2 iman kamu?". Mereka menjawab : "Kami bersyukur bila ada keluasaan, sabar menghadapi bencana dan ridho dengan qodlo".
Dari hal-hal tsb di atas, untuk mengingatkan facebooker's semua hendaklah belajar ikhlas, bersyukur dan bersabar karena keutamaan tsb Allah SWT akan mengumpulkan petunjuk, rahmat dan keberkahan-Nya.
Wasslmkm. Wr. Wb.
(MM)

Sumber: http://www.facebook.com/notes/suprih-koesoemo/ikhlas-bersyukur-dan-sabar23-mei-2010/113015318741367

2 komentar:

  1. semoga kita dapat belajar dan menjalankan ikhlas,bersyukur dan bersabar,amien

    nynda.nynda@yahoo.com

    BalasHapus
  2. sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan oleh manusia, adalah ikhlas, syukur dan sabar, jadilah kamu orang2 yang tidak serakah atas nikmat dan karunia Allah SWT.

    BalasHapus