Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Saturday, 10 July 2010

Penyesalan Umar Bin Khatab

Pada suatu malam yang hening dan sangat dingin, tatkala amirul Mukminin, Umar bin Khatthab r.a sedang jaga malam hari keliling ke pelosok-pelosok. Dia melihat seperti ada sebuah api unggun di tengah padang pasir. Beliau segera pergi dengan ditemani Abdurrahman bin Auf untuk melihat dari dekat. Ternyata set...iba di sana bukan api unggun, tetapi seorang ibu yang seolah-olah sedang memasak makanan untuk anak-anaknya yang terus merengek karena lapar. Anak-anak ibu itu terus menangis tidak mau tidur karena tidak kuat menahan rasa lapar.

Umar lalu mendekati dan mengucapkan salam, kemudian berkata kepada ibu yang miskin itu, "Mengapa engkau melakukan ini (pura-pura memasak) kepada anak-anakmu?" Tetapi Ibu itu hanya menjawab, "Semoga Allah menyadarkan Umar. Pantaskah seorang menjadi Amirul Mukminin tetapi ia tidak tahu keadaan rakyatnya?!"

Mendengar perkataan itu Umar amat tersentak. Ia menunduk amat sedih. Dengan kedukaan yang amat mendalam ia menangis beristigfhar karena ternyata ia belum bisa memenuhi amanah yang dipikulnya sebagai Amirul Mukminin (pimpinan kaum mukmin). Sepanjang perjalanan dia berdoa dan memohon ampun kepada Allah Swt atas kelalaiannya sampai tidak mengetahui semua keadaan rakyatnya.

Sesampai di Baitul mal (Perbendaharaan Negara), Umar segera membuka pintu dan mengambil sekarung gandum, sewadah minyak goreng dan madu. Ia panggul sendiri bahan-bahan makanan itu.
Penjaga Baitul mal tertegun dan bingung melihat Umar seperti sedang sedih sekali. Maka dia bertanya, "Ada apakah, wahai Amirul Mukminin?" Tetapi Umar hanya berkata, "Tolong naikkan barang-barang ini ke pundakku."

Penjaga Baitul mal semakin tertegun, dia berkata, "Biarlah aku saja yang akan membawanya, wahai Amirul Mukminin." Namun Umar menjawab perkataan itu dengan nada agak keras, "Apakah engkau mau aku menanggung dosa lebih banyak lagi?!"
Dibawanyalah sendiri barang-barang itu oleh Umar r.a dengan langkah cepat. Sesampai di tempat ibu yang miskin itu, Umar meletakkan bahan-bahan makanan tersebut, bahkan ia yang mengolah dan memasak makanannya sendiri.

Setelah matang, Umar menyuapi anak-anak yatim itu hingga mereka kenyang dan tidak menangis lagi. Umar amat lega menyaksikan anak-anak itu akhirnya terbebas dari kelaparan. Setelah itu barulah dia bangkit hendak pergi meninggalkan tempat tersebut.
ibu dari ketiga anak-anak yatim itu berkata kepada Umar, "Demi Allah, engkau lebih pantas menjadi Khalifah daripada Umar."
Sebelum pergi meninggalkan mereka, Umar berpesan kepada ibu itu, "Wahai ibu, datanglah besok ke tempat kekhalifahan Umar, dan adukanlah hal-ihwalmu kepadanya..."

Tatkala Umar yang ditemani Abdurrahaman bin Auf hendak pergi, Umar diam sejenak dan bersembunyi di balik sebuah batu besar. Dia mengamati ketiga anak itu makan dengan lahapnya. Karena udara yang begitu dingin hingga menusuk tulang, Abdurrahman mengajaknya untuk lekas pulang. Tetapi Umar tidak bergeming dari tempatnya. Ia berkata, "Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku lihat anak-anak itu tertawa dan bergembira!"

Keesokan harinya, ibu anak-anak itu datang ke kekhalifahan. Tatkala memasuki ruang kekhalifahan ia amat terkejut melihat lelaki yang memanggul karung bahan makanan semalam duduk di tengah-tengah Ali bin Abi Thalib dan Ibnu Mas'ud r.a. Keduanya menyapanya dengan panggilan, "Ya, Amirul Mukminin!"
Ketika tahu bahwa ternyata orang yang semalam itu adalah Amirul Mukminin Umar bin Khatthab sendiri, si ibu tertegun dan amat ketakutan karena khawatir keluh kesah dan serangannya akan dipersalahkan. Tetapi Umar segera menghiburnya, dia berkata dengan ramah, "Wahai ibu, jangan bersedih hati dan khawatir. Berapa ibu ingin menjual keluh kesah kepadaku?"

Namun Ibu itu tidak menjawab pertanyaan Umar, ia berkata dengan nada ketakutan, "Aku mohon ma'af, ya Amirul Mukminin."
Umar berkata lagi, "Engkau tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum menjual keluh kesahmu kepadaku..."

Akhirnya transaksi jual beli keluh kesah itu terjadi dengan harga 600 dirham. Umar membayarnya dari uang pribadinya, dan memerintahkan kepada Ali bin Abi Thalib r.a untuk membawa kertas dan pena untuk menuliskan: "Kami Ali dan Ibnu Mas'ud menjadi saksi bahwa Fulanah telah menjual keluh kesahnya kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab."
Sesudah transaksi usai, Umar berkata, "Kalau aku meninggal dunia, masukkanlah kertas itu dalam kafanku sehingga aku menemui Allah Ta'ala dengan kalbu yang sehat dari kezaliman."

Syarh Penulis :

Anakku ketahuilah, seorang pemimpin bukan seseorang yang harus dilayani. Pemimpin adalah seorang pelayan. Ketika seseorang diangkat menjadi pimpinan, maka orang yang mengangkatnya akan menyerahkan (memindahkan) seluruh urusannya kepada pemimpin tersebut untuk diurus. Semakin besar kepemimpinan seseorang, semakin banyak urusan yang diserahkan bawahan kepadanya (termasuk urusan kesejahteraan). Sekarang, mengertikah engkau kenapa seorang pemimpin itu adalah seorang pelayan bagi yang dipimpinnya ?

Sekarang, dapatkan kau mengerti bahwa seorang Amirul Mukminin menganggap jabatan yang diamanatkan kepadanya adalah suatu musibah, bukan rahmat. Suatu hal yang wajar mengingat ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap kepemimpinannya. Bahkan jika seekor unta terperosok, maka ia harus bertanggung jawab karena tak menyediakan jalan yang aman. Sekarang bayangkan olehmu bagaimana pertanggung jawaban seorang pemimpin yang membiarkan orang yang berada di bawah pimpinannya kelaparan , tidak terurus, di hapadan Allah ?

Sekarang, engkau akan mengerti mengapa Umar tidak mau dibantu dalam memanggul makanan untuk si ibu miskin. Umar bahkan menganggapnya suatu dosa. Ia dan hanya ia yang memikul jabatan pimpinan tersebut, maka ia dan hanya ia yang diharuskan mempertanggungjawabkan kelalaiannya berkenaan dengan yang dipimpinnya kepada Allah. Pemeriksaan manusia dapat meluputkan kelalaian ini, tetapi pemeriksaan Allah tidak pernah lepas mengawasinya.

Sekarang, engkau akan mengerti kenapa Umar mau membeli (menebus) keluh kesah si ibu miskin seharga 600 dirham. Harga penebusan itu masih dirasa ringan dibandingkan dengan siksa neraka yang diakibatkan kelalaiannya. Dan karena kelalaian ini bersifat pribadi, maka umar menebus dengan menggunakan uang pribadinya, bukan dari baitul mal.

Anakku, semoga kau di jadikan orang yang masih memiliki nurani untuk menebus kelalaian, berkenaan dengan apa-apa yang engkau pimpin, sebelum nafas terakhir berhembus. Dan yakinlah bahwa hari pembalasan untukmu akan datang dengan pasti.

Anakku, semoga Allah membantumu dalam hal kepemimpinanmu. Amin.Lihat Selengkapnya

leh: Abi Kasman Al Farisi

No comments:

Post a Comment