Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Friday, 9 July 2010

Membenci Pujian

Seorang penyair arab kenamaan di masanya, Syaikh Dr. Muhammad Taqiyuddin Al Hilali pernah menulis untaian bait-bait syair panjang berisi pujian untuk Syaikh Ibnu Baz secara khusus dan kabilah Baaz secara umum. Ketika Syaikh bin Baaz mengetahui hal ini beliau menulis bantahan untuk untaian syair tersebut.

Beliau mengatakan,

“Aku telah mentelaah untaian syair yang disebarluaskan oleh jurnal Jamiah Islamiah di India pada edisi yang ke-9 yang ditulis oleh yang terhormat Dr. Taqiyuddin Al-Hilali. Keberadaan untaian bait-bait syair tersebut sungguh sangat menggelisahkanku. Sunguh sangat kusayangkan bait-bait syair semacam itu ditulis oleh orang semisal beliau karena dalam bait-bait syair tersebut terkandung pujian yang berlebihan terhadapku dan kabilahku….
Kunasehatkan kepada beliau yang terhormat agar tidak mengulangi perbuatan semacam itu lagi dan memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah terjadi”.

Renungkanlah akhlak seorang ulama sejati di atas, bagaimana beliau menyalahkan orang yang memuji dirinya. Perhatikan pula tutur kata beliau yang lembut tatkala menyalahkan orang lain. Dua sikap di atas adalah sikap yang sangat sulit kita dapatkan di zaman ini.

Alih-alih membenci pujian, banyak orang sekarang malah memburu pujian dari orang lain.
Ketika mengkritik dan menyalahkan orang lain banyak orang yang tidak bisa mengontrol lisan dan emosinya. Hanya manusia pilihan Allah yang bisa tetap bertutur kata lembut ketika mengungkapan kejengkelannya dengan sikap orang lain yang tidak dia sukai.

Ada seorang penuntut ilmu agama yang menulis bait-bait syair pujian untuk Syaikh Ibnu Baz. Bait-bait syair tersebut dibacakan oleh Fahd Bakrani dari majalah Ad Dakwah di hadapan beliau.

Komentar beliau,

“Apakah engkau ingin memuatnya di majalah Ad Dakwah?”. “Jika engkau mengizinkannya wahai Syaikh”, kata Fahd. Syaikh Ibnu Baz mengatakan, ‘Jangan, jangan, jangan. Robek saja kertas itu. Robek saja!”.

Kemudian Syaikh Ibnu Baz memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak lagi menghadap Fahd. Setelah itu beliau beristighfar dan berulang kali mengucapkan laa haula wa laa quwwata illa billah sambil roman wajah beliau berubah.

Pada tahun 1415H koran Al Madinah mengisi suplemen hari Rabu tentang Syaikh Ibnu Baz. Setelah materi suplemen sudah lengkap dan tinggal naik cetak Syaikh Ibnu Baz baru mengetahu hal tersebut. Begitu tahu beliau melarang munculnya suplemen tersebut. Permintaan beliau ini disampaikan berulang kali ke pihak surat kabar. Beliau sampaikan kepada pihak surat kabar bahwa seorang hamba itu membutuhkan keikhlasan dan menyembunyikan amal. Sehingga semoga Allah menerimanya. Pada akhirnya pihak surat kabar merespon positif permintaan beliau sehingga suplemen tersebut tidak jadi dicetak.

Beliau adalah seorang yang suka menyembunyikan berbagai amal shalih yang beliau lakukan namun Allah berketetapan untuk memunculkannya karena Dia mengetahui niat tulis yang beliau miliki dan kesungguhan beliau untuk berjihad di jalanNya. Hal ini bukanlah suatu hal yang aneh. Dalam hadits disebutkan,

Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Jika Allah mencintai seseorang maka Allah memanggil Jibril dan berfirman, ‘Sungguh Allah mencintai fulan maka cintailah dirinya’. Jibril pun lantas mencintainya. Jibril kemudian berseru kepada para malaikat penghuni langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka hendaknya kalian semua mencintainya’. Seluruh penduduk bumi pun lantas mencintainya. Setelah itu penduduk bumi juga mencintainya” (HR Bukhari no 5693 dan Muslim no 6873).

Oleh: Aini (Inilah Jalanku Al Islam)

No comments:

Post a Comment