Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Monday, 5 July 2010

ADAB-ADAB PENUNTUT ILMU

Penuntut Ilmu Hendaklah Menghiasi Dirinya Dengan Adab-Adab Sebagai Berikut:

Pertama: Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah Ta?ala.

(( Hendaklah dalam menuntut ilmu niatnya adalah wajah Allah Ta?ala dan kampung akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam :
?Barangsiapa menuntut ilmu ?yang mestinya untuk mencari wajah Allah Ta?ala-, tiadalah ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, pasti ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.?(HR. Ahmad dll). Ini adalah ancaman yang keras.)) ?Kitab al-?Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 25

(( Apabila ilmu telah kehilangan niat yang ikhlas; Berpindahlah ia dari ketaatan yang paling afdhal menjadi penyimpangan yang paling rendah.
Diriwayatkan dari Sufyan ats-Tsauri ?Rahimahullah berkata: ?Tiadalah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku?
Dari Umar bin Dzarr bahwasanya ia berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku ! Mengapa orang-orang menangis apabila ayah menasehati mereka, sedang mereka tidak menangis apabila orang lain yang menasehati mereka? Ayahnya menjawab: ?Wahai puteraku ! Tidak sama ratapan seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dengan ratapan wanita yang dibayar (untuk meratap).)) ?Hilyah Tholibil ?Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 9-10 .

Kedua: Memberantas Kobodohan Dirinya dan Orang Lain.

Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat untuk memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain, karena pada dasarnya manusia itu jahil (bodoh), sebagaimana firman Allah Ta?ala:
?Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalan keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.?
(QS. An-Nahl: 78)

Al-Imam Ahmad -rahimahullah berkata:

?Ilmu itu tiada bandingannya bagi orang yang niatnya benar.? Mereka bertanya: Bagaimakah hal itu?. Beliau menjawab: ?Berniat memberantas kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.?)) ?Kitab al-?Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 26-27.

Ketiga: Membela Syariat.

(( Hendaklah dalam menuntut ilmu berniat membela syariat, karena kitab-kitab tidak mungkin bisa membela syariat. Tiadalah yang membela syariat melainkan para pengemban syariat. Disamping itu, bid?ah juga selalu muncul silih berganti yang ada kalanya belum pernah terjadi pada jaman dahulu dan tidak ada dalam kitab-kitab sehingga tidak mungkin membela syariat kecuali para penuntut ilmu.)) ?Kitab al-?Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 27-28

(( Alangkah banyaknya kitab dan alangkah banyak pula perbedaan didalamnya ! Seorang muslim tidak lagi tahu apa yang harus ia ambil dan apa yang harus ia tinggalkan? Dari mana memulai dan dimana berakhir ! )) ?Wasiyyatu Muwaddi?, Husain al-?Awayisyah hal: 29-30.

Kempat: Berlapang Dada Dalam Masalah Khilafiyah (Perbedaan Pendapat).

(( Hendaklah selalu berlapang dada dalam menyikapi perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad. Yaitu permasalahan yang memungkinkan seseorang berpendapat dan terbuka kemungkinan untuk berbeda. Adapun siapa saja yang menyelisihi jalan salafus sholeh dalam masalah aqidah maka hal ini tidak bisa diterima dan ditolelir.)) ?Kitab al-?Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 28-29. Baca pula untuk masalah ini kitab Perpecahan Umat, karya: Dr Nasir al-?Aql, penerbit Darul Haq Jakarta.

Kelima: Mengamalkan Ilmu atau Zakat Ilmu.

(( Hendaklah para penuntut ilmu mengamalkan ilmunya, baik berupa aqidah, ibadah, akhlak, adab dan muamalah, karena hal ini adalah merupakan hasil dan buah dari ilmu itu. Pengemban ilmu itu seperti pembawa senjata; Bisa berguna dan bisa pula mencelakakan sebagaimana sabda Rasulullah ?Shallallahu ?Alaihi Wa ?Ala Alihi Wa Sallam:
?Al-Qur?an itu membelamu atau mencelakakanmu? (HR. Muslim).
Membelamu apabila kamu amalkan dan mencelakakanmu apabila tidak kamu amalkan.)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 32

(( Karena keutamaan ilmu itulah ia semakin bertambah dengan banyaknya nafkah (diamalkan dan diajarkan) dan berkurang apabila kita sayang (tidak diamalkan dan diajarkan) serta yang merusaknya adalah al-kitman (menyembunyikan ilmu).)) ?Hilyah Tholibil Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 72.

Keenam: Berdakwah Kepada Allah Ta?ala.

Allah Ta?ala berfirman:
?Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.?
(QS. Ali ?Imran: 104)

(( Hendaklah mendakwahkan ilmunya kepada Allah Ta?ala dalam berbagai kesempatan, baik di masjid, di majlis-majlis, di pasar dan diberbagai kesempatan.)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 37-38.

Ketujuh: Hikmah.

(( Hendaklah menghiasi dirinya dengan hikmah. Apabila kita menempuh cara ini pastilah kita mendapatkan kebaikan yang sangat banyak, sebagaimana firman Allah Ta?ala:
?Dan barangsiapa yang dianugrahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak.?
(QS. Al-Baqarah: 269)

Al-Hakim (orang yang bijaksana) adalah orang yang menempatkan sesuatu pada tempatnya. Allah Ta?ala telah menyebutkan tingkatan-tingkatan dakwah dalam firmanNya:
?Serulah (manusia) kejalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.?
(QS. An-Nahl: 125)

Dan Allah Ta?ala menyebutkan pula tingkatan keempat tentang berdebat dengan ahli kitab dalam firmanNya:
?Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dzalim diantara mereka.?
(Al-?Ankabut: 46).)) ?Kitab al-Ilmi, Syaikh Utsaimin hal: 37-38..rsambun

Oleh: Abu Fauzan

No comments:

Post a Comment