Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Monday, 14 June 2010

Meluruskan Niat yang Benar dalam Menuntut Ilmu Syar’i

Ikhlash dan Urgensinya

Yang pertama kali yang harus dimiliki oleh seorang penuntut ilmu supaya dia bersenjatakan diri dengannya dan menjadikannya di depan kedua matanya adalah ikhlash karena Allah semata dalam ucapan dan perbuatannya, karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan apapun kecuali amalan yang ikhlash untuk-Nya semata (yang tentunya amalan tersebut berdasarkan Al-Qur`an ataupun As-Sunnah). Allah berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus." [Al-Bayyinah:5]

Apabila seorang penuntut ilmu mengikhlashkan amalannya untuk Allah semata, maka dia akan mendapatkan pahala yang besar, akan diberkahi dalam usahanya dan akan menjadi orang yang berhak untuk mendapatkan kemuliaan yang telah Allah berikan kepada ilmu dan para ulama serta orang-orang yang menempuh jalan mereka.

Adapun apabila hilang keikhlashan pada seorang penuntut ilmu dan amalannya telah tercampuri dengan kotoran-kotoran riya` serta tujuannya dalam menuntut ilmu adalah untuk berbangga-bangga dengan yang lain, sum’ah (supaya amalannya didengar orang lain), mencari kedudukan dan kepemimpinan di tengah-tengah manusia, maka sesungguhnya ilmu ini akan menghujjat pemiliknya pada hari kiamat, dan di akhirat dia tidak akan mendapatkan bagian dan pahala sedikitpun. Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

"Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia akan Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat." [Asy-Syuuraa:20]

Maka orang yang memaksudkan dengan amalannya untuk mendapatkan keuntungan duniawi, keridhaan manusia dan kedudukan yang tinggi di sisi mereka, hendaklah mereka ambil pahala atas amalannya tersebut kepada orang yang dia maksudkan dan yang dia tuju.

Hadits-hadits tentang Urgensinya Ikhlash

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa diterimanya amal-amal yang shalih itu tergantung niat dan keikhlashannya dalam tujuan.

Al-Imam Al-Bukhariy dan Al-Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari ‘Umar Ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu, di mana dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amalan itu tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (yaitu ikhlash karena Allah dan dalam rangka mengikuti sunnah Rasul-Nya) maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya (yakni akan mendapatkan pahala di sisi Allah), dan barangsiapa hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang dia tuju."

Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن أول الناس يقضى يوم القيامة عليه رجل استشهد فأتي به فعرّفه نعمته فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: قاتلت فيك حتى استشهدت. قال: كذبت ولكنك قاتلت لأن يقال جريء فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار، ورجل تعلم العلم وعلمه وقرأ القرآن، فأتي به فعرفه نعمه فعرفها، قال: فما عملت فيها؟ قال: تعلمت العلم وعلّمته وقرأت فيك القرآن. قال: كذبت ولكنك تعلمت ليقال عالم وقرأت القرآن ليقال هو قارئ فقد قيل، ثم أمر به فسحب على وجهه حتى ألقي في النار

"Sesungguhnya manusia yang pertama kali akan diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang dipersaksikan mati syahid, maka orang itupun didatangkan lalu dikenalkan nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya maka diapun mengenal dan mengakuinya. Allah berkata: "Untuk apa kamu berperang?" Dia menjawab: "Aku berperang karena Engkau sampai aku mati syahid." Allah membantahnya: "Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan sebagai seorang yang pemberani." Maka dikatakan kepadanya dan diperintahkan kemudian ditelungkupkan di atas wajahnya lalu dimasukkan ke dalam neraka.
Dan seseorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya kepada yang lain serta membaca Al-Qur`an, maka orang inipun didatangkan lalu diperkenalkan nikmat-nikmat kepadanya maka diapun mengenal dan mengakuinya. Allah berkata kepadanya: "Untuk apa kamu melakukan semuanya ini?" Diapun menjawab: "Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur`an karena Engkau, Ya Allah." Allahpun membantahnya: "Kamu dusta, akan tetapi sebenarnya kamu mempelajari ilmu agar dikatakan sebagai orang yang berilmu dan kamu membaca Al-Qur`an agar dikatakan sebagai orang yang ahli membaca." Maka dikatakan kepadanya dan diperintahkan lalu dia ditelungkupkan di atas wajahnya sampai dilemparkan ke dalam neraka." (Riwayat Muslim)

Al-Imam Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَتَعَلَّمُهُ إِلاَّ لِيُصِيْبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Barangsiapa mempelajari ilmu yang seharusnya dia mengharapkan Wajah Allah, akan tetapi dia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan satu bagian dari dunia, maka dia tidak akan mendapatkan baunya surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud no.3664, Ibnu Majah 1/93, Al-Hakim 1/85 dan beliau menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabiy serta dishahihkan oleh An-Nawawiy di dalam Al-Majmuu’ 1/23)

Sedangkan ilmu yang seharusnya dicari dalam rangka mengharap Wajah Allah adalah ilmu syar’i.

Diambil faidah dari hadits ini bahwasanya mempelajari ilmu syar’i tidak akan diterima oleh Allah kecuali disertai dengan keikhlashan.

Adapun ilmu duniawi yang bermacam-macam yang tidak bertentangan dengan syari’at, maka pada asalnya mempelajarinya itu merupakan jalan untuk mendapatkan pekerjaan dan rizki. Bersamaan dengan itu, apabila seorang muslim mempelajarinya dengan niat yang baik dan untuk melaksanakan fardhu kifaayah di tengah-tengah ummat dalam rangka menguatkan ummat Islam melawan musuh-musuhnya dan menjadikan ummat bangkit dengannya, maka dia akan mendapatkan pahala di sisi Allah.
Ikhlash dan Urgensinya

Atsar-Atsar tentang Hakikat Ikhlash

Ikhlash adalah sesuatu yang begitu mudah diucapkan akan tetapi betapa sulitnya direalisasikan. Sampai-sampai sebagian ulama salaf menyatakan:

"Sesungguhnya barangsiapa yang mempersaksikan bahwasanya dirinya telah ikhlash maka sungguh dia butuh untuk ikhlash lagi", sebagaimana diucapkan oleh As-Susiy.

Hal ini dikarenakan apabila seseorang merasa telah ikhlash dalam ucapan dan perbuatannya berarti dia telah berbuat ‘ujub (kagum dan bangga dengan amalnya) yang akan menghapuskan amalannya tersebut. Sedangkan orang yang ikhlash adalah orang yang amalnya bersih dari seluruh hal yang akan menghapuskannya seperti riya`, sum’ah, ‘ujub dan yang lainnya.

Berkata Ya’qub: "Orang yang ikhlash adalah orang yang menyembunyikan kebaikan-kebaikannya sebagaimana dia menyembunyikan kejelekan-kejelekannya."

Kecuali kalau dalam rangka agar orang lain mengikuti perbuatan baiknya maka boleh menampakkan perbuatannya tersebut karena ada maslahat bagi orang lain.

Berkata Ayyub: "Memurnikan niat bagi orang-orang yang beramal itu lebih berat atas mereka daripada (mengerjakan) seluruh amalan-amalan."

Berkata sebagian ulama salaf: "Ikhlash sesaat adalah keselamatan selama-lamanya, akan tetapi ikhlash itu adalah sesuatu yang sangat sulit."

Ketika Suhail ditanya: "Apakah yang paling berat bagi jiwa?" Maka beliau menjawab: "Ikhlash, karena padanya tidak ada bagian yang lainnya."

Berkata Al-Fudhail: "Meninggalkan amalan karena manusia adalah riya` sedangkan beramal karena manusia adalah kesyirikan, adapun yang namanya ikhlash adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Maksud beliau adalah apabila ada seseorang meninggalkan amal kebaikan karena takut riya` seperti dia tidak mau shalat sunnah karena takut riya’, berarti dia sudah terjatuh pada riya` itu sendiri. Yang seharusnya dia lakukan adalah tetap melaksanakan shalat sunnah walaupun di sekitarnya ada orang dengan tetap berusaha untuk ikhlash dalam amalnya tersebut.

[Lihat: Tazkiyyatun Nufuus, karya Ibnu Rajab, Ibnul Qayyim dan Abu Hamid, hal.17, dengan beberapa perubahan.]

Pentingnya Ikhlash bagi Penuntut Ilmu Syar’i

Berkata Al-Imam An-Nawawiy setelah membicarakan tentang keutamaan ilmu dan kedudukan ulama: "Ketahuilah bahwasanya apa-apa yang telah kami sebutkan dari keutamaan menuntut ilmu, hanyalah akan diperoleh bagi orang yang mencarinya dalam rangka mengharapkan Wajah Allah Ta’ala, bukan dalam rangka mencari dunia. Dan barangsiapa dalam menuntut ilmu dia mencari tujuan duniawi seperti harta, kepemimpinan, kedudukan, kemegahan, ketenaran, menarik perhatian manusia kepadanya atau ingin mendebat orang lain, atau yang sejenisnya maka ini semuanya tercela." (Al-Majmuu’ 1/23)

Apabila seorang penuntut ilmu mendapatkan dalam dirinya kecenderungan kepada riya` dan senang untuk berbangga-bangga dengan ilmunya, maka wajib baginya untuk menyibukkan diri dengan memperbaiki niat, bersungguh-sungguh melatih jiwanya agar tetap di atas keikhlashan, menghilangkan was-was syaithan, berlindung diri dari kejahatan dan kejelekannya sampai niatnya kembali menjadi bersih dari berbagai kotoran riya dan yang lainnya, dan tertutuplah pintu-pintu masuk syaithan yang biasa menyusup dari sela-sela jiwa manusia.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnus Simak bahwasanya dia berkata: Aku mendengar Sufyan Ats-Tsauriy berkata:
"Tidaklah aku mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada (memperbaiki) niatku, karena niat itu senantiasa berubah-ubah pada diriku." (Al-Jaami’ li Akhlaaqir Raawiy wa Aadaabis Saami’ 1/317)

Al-Khathib juga meriwayatkan dari Bisyr Ibnul Harits bahwasanya beliau ketika berbicara lalu menyebutkan sanad hadits, maka beliau berkata: "Astaghfirullaah, sesungguhnya ketika menyebutkan sanad muncul perasaan bangga dan sombong dalam hatiku." (Ibid. 1/338)

Dia takut masuknya perasaan sombong dan bangga ke dalam hatinya, ketika dia menyebutkan sanad dari para perawi dan guru-gurunya yang meriwayatkan dari mereka, lalu hal ini menjadi sebab munculnya riya`, maka diapun mengawasi bisikan-bisikan jiwanya lalu meminta ampun kepada Rabbnya.

Al-Khathib Al-Baghdadiy meriwayatkan juga dari ‘Ubaidullah bin Abi Ja’far bahwasanya beliau berkata: "Apabila seseorang ketika sedang berbicara di suatu majelis lalu pembicaraannya tersebut menjadikan dia ta’ajjub (kagum) maka hendaklah dia diam, dan sebaliknya apabila dia diam lalu diamnya tersebut menjadikan dia ta’ajjub maka hendaklah berbicara."
Beramal Terus Sambil Memperbaiki Niat

Sangatlah pantas bagi kita untuk memperhatikan permasalahan ini yaitu terhadap pintu-pintu masuknya syaithan yang selalu berusaha menggoda manusia, yang wajib bagi para penuntut ilmu mewaspadainya.

Yang dimaksud pintu syaithan di sini adalah godaan dan tipuannya syaithan yang menjadikan permasalahan riya` dan rasa takut darinya sebagai senjata untuk menghalangi seorang penuntut ilmu dari tujuannya (sehingga tidak lagi menuntut ilmu karena takut riya`), dan menghalangi seorang yang alim dari majelis ilmu (sehingga tidak lagi mengajarkan ilmunya karena takut riya`), menghalangi seorang da’i dan pemberi nasehat dari pelajaran-pelajarannya, dengan alasan bahwasanya manusia akan kagum dengan pembicaraannya dan hal ini mengantarkan kepada riya` atau karena semata-mata didapati dalam dirinya ada kecenderungan kepada bisikan-bisikan riya` dan senang dengan kagumnya manusia dan pujian mereka kepadanya.

Sungguh para ulama telah membedakan antara riya` yang merupakan tujuan dan pendorong atas suatu amalan dengan keadaan seorang muslim yang telah menyempurnakan amalannya dengan ikhlash kemudian dia mendapati sebagian kesenangan pada dirinya dari pujian manusia atasnya setelah dia menyelesaikan amalannya tersebut, maka hal ini tidaklah mengurangi hakikat keikhlashannya insya Allah. (Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin hal.221)

Al-Imam Muslim telah meriwayatkan dalam Shahihnya dari Abu Dzarr, dia berkata: Dikatakan kepada Rasulullah: "Apakah pendapat engkau terhadap seseorang yang melakukan suatu amalan kebaikan dan manusia memujinya?" Maka beliau menjawab: "Itulah balasan kebaikan yang disegerakan sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang beriman."

Sebagaimana para ulama juga telah memberitahukan bahwasanya selayaknya bagi seorang penuntut ilmu agar jangan meninggalkan jalan menuju ilmu apabila dia mendapatkan dalam dirinya ada sesuatu dari riya`, akan tetapi yang harus dia lakukan adalah menyibukkan diri dengan memperbaiki niatnya dengan tetap meneruskan menuntut ilmu dan menyebarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang lain.

Berkata Al-Imam An-Nawawiy: "Tidak Selayaknya bagi seorang yang berilmu untuk tidak mengajarkan ilmunya kepada seseorang dengan alasan karena niat orang yang belajar tersebut belum benar, karena sesungguhnya dia masih diharapkan agar baik niatnya. Dan terkadang dirasakan berat oleh kebanyakan para pemula dari kalangan para penuntut ilmu masalah perbaikan niat karena lemahnya jiwa-jiwa mereka dan sedikitnya kesenangan mereka terhadap kewajiban memperbaiki niat.

Karena menghalangi atau mencegah dari mengajari mereka akan mengantarkan kepada terluputnya ilmu yang banyak, bersamaan dengan itu masih diharapkan perbaikannya dengan adanya barakah ilmu apabila dia senang ilmu. Dan sungguh para ulama salaf mengatakan: "Kami dulunya menuntut ilmu bukan karena Allah, maka ilmu itupun enggan kecuali agar dicari dalam rangka karena Allah semata." Artinya akibat terakhirnya adalah jadilah menuntut ilmunya itu karena Allah semata." (Al-Majmuu’ 1/30)

Hal itu juga sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam Ibnul Jauziy, di mana beliau mengatakan: "Sungguh Iblis telah memberikan tipu dayanya kepada seorang pemberi nasehat yang ikhlash, maka Iblispun berkata kepadanya: "Orang sepertimu tidaklah memberi nasehat dan akan tetapi kamu hanya pura-pura memberi nasehat." Akhirnya diapun diam dan berhenti dari memberi nasehat. Itulah di antara makar Iblis, karena dia menginginkan menghalangi perbuatan yang baik…. Iblispun juga berkata: "Sesungguhnya kamu ingin bernikmat-nikmat dengan apa yang kamu sampaikan dan kamu akan mendapatkan kesenangan karena hal itu, dan kadang-kadang akan muncul perasaan riya` pada ucapanmu, dan menyendiri itu lebih selamat." Maksud dari perkataan ini adalah menghalangi dari berbagai kebaikan". (Talbiisu Ibliis hal.125)

Luruskan Niat dalam Menuntut Ilmu!

Kita akhiri pembicaraan ini dengan wasiat Abu Hamid (beliau di akhir hidupnya bertaubat dan kembali ke manhaj salaf, yang sebelumnya bermanhaj shufi) di mana beliau mengingatkan para penuntut ilmu akan wajibnya mengawasi dan memperhatikan jiwanya dan agar selalu bertanya kepadanya apa pendorong dalam mencari ilmu dan kesabarannya dalam menghadapi kesulitan-kesulitan menuntut ilmu:

"Berapa malam kamu bangun untuk mengulang ilmu dan mentelaah kitab-kitab dan kamu mengharamkan dirimu untuk tidur, aku tidak tahu apa yang mendorongmu melakukan semuanya itu? Apabila niatmu mencari bagian dari dunia, perhiasannya dan kedudukan-kedudukan di dunia, serta ingin berbangga-bangga dengan teman-teman setingkatmu, maka kecelakaanlah bagimu kemudian kecelakaanlah bagimu. Dan apabila tujuanmu dalam mencari ilmu adalah dalam rangka menghidupkan syari’atnya Nabi dan mendidik akhlakmu serta mengikis habis nafsu yang cenderung kepada kejelekan, maka kebahagiaanlah bagimu kemudian kebahagiaanlah bagimu." (Ayyuhal Walad hal.105-106)

Wallaahu A’lam,

No comments:

Post a Comment