Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Friday, 18 June 2010

IBUKU SEHARUSNYA MENDAPAT BANYAK GELAR. DOUBLE, DOUBLE DEGREE !!! PROFESSOR !!

Setujukah kau jika aQ berkata bahwa seorang ibu seharusnya mendapat banyak gelar. Double, double degree!! Akan kutunjukkan padamu bagaimana hebatnya seorang Ibu. MUMTAZ!!

Tentu kau telah tahu bagaimana perjuangan ibu dari mulai menjagamu dalam rahimnya selama sembilan bulan?! Sungguh semua itu bukan perkara mudah. Bayangkanlah jika kau membawa beban berat lima kilo saja selama sembilan bulan? Sanggupkah?! Tapi ibu, ia sanggup!. Bahkan kau lebih berat dari sebuah benda berbobot lima kilogram. Karena kau memiliki nyawa yang akan ia jaga dengan sangat hati-hati. Belum lagi drama persalinan yang menjadi bagian paling mengagumkan. Ibu bertaruh nyawa. Ia bertaruh nyawa saat mengeluarkanmu dari rahimnya. Semua itu tentu tak asing lagi bagimu…

Sekarang lihatlah bagaimana Ibu seharusnya mendapat gelar SARJANA SASTRA

Ingatlah saat ia menceritakan sebuah dongeng. Ibu begitu pandai bercerita. Kadang ia ceritakan kisah yang sudah turun temurun ia dengar hingga kita tak pernah tahu siapa pengarangnya. Kadang ia mengarang cerita sendiri. Kadang ia menceritakan cerita yang kau inginkan kemudian ia mengarangnya saat itu juga. Ah, ia tak sempat menceritakan kisah para Rasul, Sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. tapi lihatlah bagaimana ia pandai bercerita dan merangkai kata. Bukankah kau pun kalah? Berapa menit waktu kau butuhkan untuk merangkai kata ketika pelajaran mengarang di sekolah?…

Qu pikir ibu pun berhak menyandang gelar SARJANA EKONOMI

Bukankah Ibu begitu Qona’ah dengan nafkah yang diberikan Ayah?. Lihatlah dengan gaji yang segitu ia memastikan bayaran sekolahmu tak pernah nunggak. Kau tetap bisa menyantap makanan tiga kai sehari meski dengan lauk seadanya. Tapi kau kadang merengek meminta sesuatu yang diluar kebutuhan hingga membuat Ibu pusing. Tahukah kau jauh di lubuk hatinya ia ingin kau bisa mendapatkan setiap benda yang kau inginkan. Tapi keuangan memang tidak memungkinkan…

Bagaimana dengan SARJANA TEKNIK?

Ah, aQ tidak berlebihan! Yah…Jika kau tak setuju memberinya gelar S1, paling tidak ia bisa mendapat Ahli madya kan ?

Bukankah ketika setrikaannya tidak panas ia telah mencoba mereka-reka penyebabnya?. Meskipun ia tak tahu pasti komponen di dalam setrikaan itu?. Atau ketika ia tersetrum kabel setrikaan yang terkelupas. Ia pun mengambil solasi dan menutupinya. Pun ketika rice cooker berfungsi tak semestinya. Ia menganalisa, mencari penyebab, kemudian mengatasinya. Pernah kulihat Ibu mengganjelnya dengan batu. Jika kau sarjana tehnik, ahli madya, atau masih calon. Jangan kau tertawakan tehnik penyelesaiannya!. Bukankah ia tidak berkutat dengan rumus sepertimu?. Bukankah ia tidak pernah mengerjakan serangkaian tugas praktikum?. Tentu wajar jika ia menyelesaikan semua itu dengan cara yang paling tradisional sesuai dengan kemampuan akalnya. Toh semua itu berhasil. Dan aQ tetap akan memberinya gelar ST !.

Meskipun Ibu tak pernah masuk jurusan IKK (Ilmu Kesejahteraan Keluarga: Tata Boga, Tata Busana, Tata Rias). Tapi ia sangat ahli dalam urusan ini. aQ yakin kali ini kau tak akan membantahnya!. Karena kau telah merasakan lezatnya masakan yang Ibu buat. Masih ingatkah ketika seragam sekolahmu terlalu besar?. Ia yang mengecilkannya. Hanya dengan bermodal jarum dan benang tanpa mesin jahit. Ah, meski Ibu tak terlalu pandai berdandan Qu rasa kau setuju bahwa ia punya kecantikan yang terpancar dari dalam. Inner beauty yang dengannya Ibu berhasil menarik hati Ayah. Ingatkah kau saat ia menata rambutmu. Menyisrnya sebelum kau berangkat sekolah ketika kecil dulu. Kadang kuncir dua lengkap dengan poni. Kadang ia sematkan jepitan berbentuk topi di rambutmu. Jepitan yang masih di ingat oleh teman TK mu dulu. Hingga seolah-olah jepitan topi menjadi ciri khasmu. Lihatlah kau menjadi gadis kecil yang lucu dan manis. Atau mungkin sempat terlupa dari ingatanmu bahwa ia mengusulkan baju adat Padang pada karnaval 17-an dulu. Padahal jelas kau bukan orang Padang. Karena baju adat Padang yang memakai bawahan celana akan lebih memudahkanmu berjalan. Lihatlah kau menjadi pemuda cilik yang gagah.

Ibu pun berhak menyandang gelar SARJANA PSIKOLOGI

Meskipun Ibu tak pernah mempelajari teori perkembangan Piage dan Erickson tapi Ibu mampu memahami saat kau tengah menjalani setiap tahap perkembangan. Ia begitu penuh perhatian saat kau bercerita tentang seorang pujaan hati. Dengan wajah sumringah kau menuturkan setiap momen indah tentang pujaan hatimu. Pun ketika kau tak lagi bercerita tentang sang pujaan hati, kau lebih banyak diam. Ibu tahu sesuatu yang tidak menyenangkan telah terjadi. Dan ibu pun tahu menanyakan kenapa hanyalah akan membuatmu bingung dan sedih…Ketika kau berhasil lulus dari sekolah menengah pertama dan mengekspresikannya dengan mencoret-coret baju, ia tak melarangmu pun Karena kau tidak berlebihan melampiaskan kegembiraanmu. Ibu pun ikut menulis namamu di seragam kebangganmu dengan spidol warna-warni. Namamu yang di akhiri dengan akhiran –ku. Menunjukkan betapa kau miliknya begitu berharga.

aQ tahu gelar DOKTER begitu membanggakan dan sulit diraih. Tapi Qu rasa ibu berhak menyandangnya.

Ingatlah saat kau demam, masuk angin. Ia membalurkan parutan jahe dan bawang merah ke tubuhmu. Ibu tidak mengerokmu karena ia tahu kerokan itu terlalu sakit bagimu. Pun ketika kau diare ia membuatkan larutan gula dan garam untuk menghentikan diaremu. Dan Biidznillah semua itu berhasil menyembuhkan sakitmu…

Kenapa aQ lupa?

Bukankah Ibu berhak meraih gelar SARJANA PENDIDIKAN?

Tentu. Sejak awal Ibulah gurumu. Ia mengajarimu dari mulai doa mau tidur, doa mau makan, dan doa-doa sehari-hari lainnya. Saat kau kesulitan menyelesaikan soal perkalian ia membantumu meski terkadang kau lihat ia begitu gemas karena kau sudah mulai bosan. Bukankah ia pula yang pertama kali mengajarimu membaca waktu. Ketika di dapur ia menyuruhmu melihat jam. Dan Ibu hanya bertanya. “Jarum Panjang di angka berapa?. Jarum Pendek di angka berapa?”. Setelah kau memberitahunya. Ia akan menjawab “Oh, jam sekian”. Hingga perlahan-lahan kau mengerti cara membacanya.

Dan Ibu berhak menyandang gelar AHLI GIZI

Bukankah ia telah berusaha dengan uang belanja seadanya, ibu memasak hidangan bermutu agar kau tumbuh menjadi anak yang sehat?

Belum lagi SARJANA PERTANIAN

Meski tak memiliki tanah berhektar-hektar. Tapi Ibu berusaha agar halamannya hijau. Ia begitu memperhatikan tanaman-tanaman di sekitar rumah.

Kini, setujukah kau jika Ibu berhak mendapat semua gelar itu?


Kadang ia melakukan semua keahliannya secara bersamaan. Saat ia menggoreng bakwan sambil menggendongmu dan bercerita agar kau tidak rewel ia tengah menjadi ahli kuliner sekaligus ahli dongeng. Saat ia tengah mengajarimu mengerjakan PR sambil menjahit baju seragammu yang kebesaran agar bisa kau kenakan esok ke sekolah, ia tengah menjadi guru sekaligus seorang tailor!

Semua itu ia lakukan dengan penuh kesabaran, ketekunan, dan cinta. Ibu tak mengharap cintanya akan terbalas dengan seluruh gajimu ketika kau telah bekerja. Karena Ibu tahu sebagian besar gajimu akan kau berikan untuk anak dan istrimu. Ibu tahu itu, dan Ibu tak mempermasalahkannya. Karena ia tak ingin kau menjadi kepala keluarga yang tak bertanggung jawab.

Masih ingatkah saat Ibu menyuruhmu untuk tidak terlalu lama keluar rumah. bahkan ia melarangmu untuk kos. Karena Ibu tahu sebentar lagi waktumu akan lebih banyak kau habiskan bersama suamimu. Ya, kini ibu tengah menikmati saat-saat kau menjadi miliknya. Menikmati setiap kebersamaan denganmu. Pun ketika seorang lelaki sholeh melamarmu, menikahimu, ia akan berdoa dengan penuh kekhusyuan agar kau selamat mengarungi bahtera rumah tanggamu.

Untukmu yang tengah berselisih paham dengan Ibu. Berlarilah segela ke pangkuannya. Sungguh aQ rasa ia akan memaafkanmu. Siapakah orang yang lebih tulus memaafkan dan lebih cepat melupakan kesalahanmu daripada Ibu?. Segeralah…sebelum kau tak pernah lagi bisa bersandar di pangkuannya. Untukmu yang tak pernah berlemah lembut pada Ibu. Cobalah sepulang kuliah untuk mencium tangannya dan mencium keningnya sambil mengatakan “aQ sayang Ibu”. Kenapa kau harus malu? Bukankah kau tak malu mengucapkan kalimat itu pada gadis/pemuda yang kau sayangi?. Walaupun sudah sebesar ini, aQ masih sering mencium IbuQ dan Qu pikir itu tidak aneh…

Tulisan ini Qu persembahkan untuk Ibu di seluruh dunia sebagai apresiasi atas jasa-jasanya. Qu persembahkan juga untuk seluruh anak sebagai pelajaran untuk berbakti kepada kedua orang tua khususnya Ibu (seperti sabda Rasulullah). Qu persembahkan untuk seluruh calon Ibu sebagai masukan, dorongan, dan tantangan, bisakah Qt menjadi Ibu yang MUMTAZ?!

Inspired by : My Lovely Ibu dan Ibu-Ibu luar biasa lainnya (by daksinapati)

http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1140717736049

No comments:

Post a Comment