Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Tuesday, 11 May 2010

** TENTANG AKAL **

Nabi mengatakan dalam haditsnya bahwa akal adalah cahaya dalam hati yang membedakan antara haq dan bathil.

Maka senapas
dengannya, Imam Mawardi berujar:

“Tahukah Anda, dengan akal hakikat segala perkara terungkap dan perbedaan antara baik dan buruk tersibak.”

Sementara seorang penyair mengatakan:

“Teman setia seseorang adalah akalnya dan musuhnya adalah kebodohannya.” Itulah sebabnya, mengapa kecerdasan—sebagai buah dari akal yang cemerlang, menjadi pesona dan daya pikat tersendiri bagi seseorang.

Magnet inilah yang dimiliki oleh Ibnu Abbas, sebagaimana tersimbul dalam narasi berikut:

Seseorang bertanya kepadanya: “Ke mana perginya ruh setelah pisah dari badan?”

Dengan tangkas dan cerdas, Ibnu Abbas menjawab, “Sama dengan perginya api saat minyak habis.”

Akal yang cerdas dan brilian memang sebuah anugerah. Namun ia bukan merupakan piranti satu-satunya dalam membimbing manusia untuk meraih kesejatian.

Bahkan tidak sedikit orang yang kebablasan, sehingga menuhankan akal.

Dalam kaitan ini, maka agama dan akhlak mesti terus mengawali kemampuan akal ini, sebagaimana
yang diujarkan oleh Umar bin Khaththab:

“Modal seorang laki-laki adalah akalnya, kemuliaannya terletak pada agamanya,
dan harga dirinya ada pada akhlaknya.”

Bila akhlak menjadi parameter dari harga diri seseorang, maka lebih-lebih terhadap ulama.

Maka akhlak menjadi bagian yang inheren dan instrinsik dengan dirinya.

Dari perenungan Imam Mawardi, setidaknya ada empat akhlak yang harus melekat dalam diri orang yang berilmu.

(1)Pertama , tawadhu dan tidak ujub. Karena Nabi mengatakan:

“Sesungguhnya ujub itu akan memakan hasanah (kebaikan) sebagaimana api melalap kayu bakar.”

Seorang ulama juga berujar:

“Barangsiapa yang takabur dan merasa tinggi dengan ilmunya, Allah akan merendahkannya, dan barangsiapa yang tawadhu'' (rendah hati) dengan ilmunya, Allah akan mengangkatnya.”

(2)Kedua , mengamalkan ilmu.

Dalam hal ini, Ali bin Abu Thalib mengingatkan:

“Orang-orang tidak mau mencari ilmu tidak lain karena mereka melihat sedikitnya orang yang berilmu mengambil manfaat dari ilmunya.”

Seorang ulama juga berucap:

“Buah dari ilmu adalah pengamalan, sedang buah amal ialah balasan/pahala.”

(3) Ketiga , Tidak pelit dengan ilmu.

Orang yang berilmu harus mengajarkan ilmunya kepada yang lain, karena pelit dengan ilmu adalah tercela dan suatu kezaliman. Sebuah ujaran hikmah menyebutkan: “Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu, maka ia seolah-olah bodoh tentangnya.”

(4) Keempat , bersifat mendidik dan lemah lembut.

Seorang yang berilmu harus selalu memberi nasihat dan bimbingan dengan lemah lembut,

memberikan kemudahan-kemudahan kepada semua orang dan memotivasinya untuk giat belajar.

Perbuatan ini mendatangkan pahala besar baginya..


Sumber: http://www.facebook.com/notes/al-ukhuwah-wal-ishlah/-tentang-akal-/118002294900666

No comments:

Post a Comment