Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Loading...

Senin, 24 Mei 2010

Hakekat dan Syariat

Kadang kita memaknai agama hanya sekedar formalitas saja. Bahkan parameter untuk melihat seseorang baik atau tidak diukur dari apakah dia shalat, apakah dia berjilbab. Dan bukan dari apakah dia korupsi atau tidak, dia menolong sesamanya atau tidak, lihatlah bapak-bapak pejabat kita itu. Semua bergelar haji, di TV luar biasa religiusnya. Seakan-akan Agama menjadi dogma yang sangat usang. Mereka sungguh tidak mengerti tentang arti kebahagiaan yang sesungguhnya. Padahal kebahagiaan itu tidak dapat diukur dengan apapun. Kebahagian itu lahir dari keikhlasan menerima, kerelaan menjalani, dan kebahagiaan juga lahir dari rahim ketentraman. Ketika seseorang merasakan damai dan tenteram dengan cara memasrahkan diri pada yang kuasa, dengan cara shalat tengah malam, menundukkan wajah, memohon ampun, maka saat itulah seseorang merasakan kebahagiaan. Mengapa Allah memerintahkan manusia untuk shalat? Itu semua dilakukan agar kita merasakan kedekatan antar Tuhan dan hambanya, merasakan shalat ditengah malam buta, ketika air mata runtuh, dan merasakan jiwa seperti melayang. Ketika disiang bolong kehauasan, perut kosong, dada berdegup kencang karena lapar dan merasakan betapa tak berdayanya manusia ketika Tuhan mencabut rezeki dan membiarkan kita kelaparan dibawah jembatan. Puasa pulalah yang mengajarakan hakikat kehidupan, hakikat saling berbagi, hakikat empati, merasakan penderitaan orang lain. Jadi, shalat juga tidak akan menjamin seseorang ketika seseoarng tersebut tidak peka pada lingkungan sekitarnya.
Karena, Pada dasarnya
Hakikat dan syariat itu adalah dua sisi yang harusnya saling melengkapi. Syariat tak akan lengkap tanpa penguasan hakekat. Syarat sangat penting, karena itulah tata cara hidup yang sudah digariskan. Semacam undang-undang yang akan menuntun manusia menjalani kehidupan
Ingat..!!!
Kesalehan transidental ( sesuatu (contohnya, kategori) pasti benar karena jika itu tidak benar, maka pengalaman itu sendiri menjadi mustahil.) harus dilakukan bersamaan dengan kesalehan sosial.

Sumber: http://www.facebook.com/notes/ratih-dyan-a/hakekat-dan-syariat/394415176999

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar