Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Monday, 3 May 2010

Sebuah Kisah Tentang Cinta

Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta, cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menabur keemasan, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,

..............................."Wahai umatku,kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

................................Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang, teduh,dan penuh kasih sayang menatap sahabatnya satu persatu.

................................Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar menatap mata itu dengan dada turun naik menahan nafas dan pecahnya tangis. Usman seakan meredam himpitan gunung dan berusaha melepaskan dgn helaan nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam menahan kepiluan yang dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. "RASULULLAH AKAN MENINGGALKAN KITA SEMUA," keluh hati semua sahabat.

...............................Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cerdas menangkap Rasulullah yang teramat lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, jika saja mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana seakan ingin menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi tanpa kompromi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

................................Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
................................Fatimah kembali menemani ayahnya, pelahan manusia termulia itu membuka mata dan bertanya pada Fatimah,
"Siapakah itu wahai anakku,..?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut, "kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini

.............................................. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril

........................................... Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas.Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." Perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

....................................... Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

............................................. "UUSHIIKUM BIS SHOLATI, WA MAA MALAKAT AIMANUKU"
........................................ "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

......................................... Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan
.................................... "UMMATI,..UMMATII,..UMMATIII,.." - "Umatku, umatku, umatku"

.....................................Dan, berakhirlah hidup manusia paling mulia yang memberi sinaran itu.
.....................................Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi... Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. ......................................... ...

..."UUSHIIKUM BIS SHOLATI, WA MAA MALAKAT AIMANUKU"... ........................................ "Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

Sumber: http://www.facebook.com/notes/aira-deemaz/sebuah-kisah-tentang-cinta/384342547827

No comments:

Post a Comment