Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Thursday, 13 May 2010

Sebaiknya Bagaimana ya Kita Berteman?

CINTA KARENA ALLAH

Persahabatan yang paling agung adalah persahabatan yang dijalin di jalan Allah dan karena Allah, bukan untuk mendapatkan manfaat dunia, materi, jabatan atau sejenisnya. Persahabatan yang dijalin untuk saling mendapatkan keuntungan duniawi sifatnya sangat sementara. Bila keuntungan tersebut telah sirna, maka persahabatan pun putus.

Berbeda dengan persahabatan yang dijalin karena Allah, tidak ada tujuan apa pun dalam persahabatan mereka, selain untuk mendapatkan ridha Allah. Orang yang semacam inilah yang kelak pada Hari Kiamat akan mendapat janji Allah. Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda,
“Sesungguhnya Allah pada Hari Kiamat berseru, ‘Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini akan Aku lindungi mereka dalam lindungan-Ku, pada hari yang tidak ada perlindungan, kecuali per-lindungan-Ku.” (HR. Muslim)
Dari Mu’adz bin Jabalzia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda, Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, “Wajib untuk mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku dan yang saling berkunjung karena Aku dan yang saling berkorban karena Aku.” (HR. Ahmad).

UNGKAPKAN CINTA KARENA ALLAH

Anas Radhiallaahu anhu meriwayatkan, “Ada seorang laki-laki di sisi Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Tiba-tiba ada sahabat lain yang berlalu. Laki-laki tersebut lalu berkata, “Ya Rasulullah, sungguh saya mencintai orang itu (karena Allah)”. Maka Nabi Shalallaahu alaihi wasalam bertanya “Apakah engkau telah memberitahukan kepadanya?” “Belum”, jawab laki-laki itu. Nabi bersabda, “Maka bangkit dan beritahukanlah padanya, niscaya akan mengokohkan kasih sayang di antara kalian.” Lalu ia bangkit dan memberitahukan, “Sungguh saya mencintai anda karena Allah.” Maka orang ini berkata, “Semoga Allah mencintaimu, yang engkau mencintaiku karena-Nya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani).
Hal yang harus diperhatikan oleh orang yang saling mencintai karena Allah adalah untuk terus melakukan evaluasi diri dari waktu ke waktu. Adakah sesuatu yang mengotori kecintaan tersebut dari berbagai kepentingan duniawi?


SELARAS PERKATAAN DAN PERBUATAN

Sufyan Al-Tsauri berkata, “Allah tidak akan menaburkan rahmat-Nya kepada seseorang yang hatinya di penuhi kotoran, walaupun sikapnya baik dan penampilannya memikat banyak orang. Membersihkan hati harus lebih sering dilakukan daripada membersihkan badan dan wajahmu. Janganlah amaliah lahirmu tampak cemerlang, sementara amaliah batinmu tampak gelap. Janganlah penampilan lahirmu merepotkan dirimu, sementara engkau tidak pernah bersolek untuk penampilan batinmu.”

Seorang alim berkata, “Lahir dan batinmu harus sejalan, jika tidak sejalan, engkau akan terus tertekan. Engkau akan kepayahan untuk menutupi kekurangan dirimu. Hiduplah engkau secara apa adanya. Jujurlah engkau kepada dirimu, engkau akan bebas dan ringan melangkah. Engkau tidak akan dihadapi rasa was-was dan khawatir terhadap kekurangan dirimu. Ketahuilah, engkau tidak akan meraih kehormatan dengan kedustaan. Kehormatan dpat diraih dengan kejujuran. Serasikan penampilan lahirmu dengan penampilan batinmu.”

“ketakselarasan amal lahir dan amal bathin bagaikan jamban yang indah dan mewah tetapi di dalamnya penuh dengan kotoran”. (Maimun Bin Mahran). Rasulullah saw bersabda, setiap perbuatan umatku telah diperlihatkan kepdaku, yang baik maupun yang buruk. Di antara berbagai perbuatan yang baik, adalah menyingkirkan hal-hal kecil di jalanan yang membahayakan orang. Di antara berbagai perbuatan yang buruk adalah berdahak di dalam masjid kemudian dahak itu tidak ditutup dengan tangannya. Rasulullah saw bersabda, setiap sendi manusia wajib dikeluarkan sedekah setiap hari, dimulai saat matahari terbit, mendamaikan dua orang, menolong seseorang yang ingin naik kendaraannya, mengangkatnya ke atas kendaraan atau mengangkat barang bawaannya adalah sedekah. Perkataan yang baik adalah sedekah, langkah kaki yang digunakan untuk mengerjakan salat adalah sedekah, menyingkirkan benda berbahaya di jalan adalah sedekah.

Seorang sahabat bertanya,”Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi Saw menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?” Nabi Saw menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Athabrani dan Abu Na’im)

Mereka mengutamakan (orang lain) daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. (QS. Al-Hasyr:9). Mengutamakan orang lain dicontohkan oleh para sufi , mereka rela melaparkan diri, asalkan orang lain terpenuhi kebutuhannya. Bahkan, ada diantara mereka yang rela mengorbankan harta dan jiwanya demi keselamatan orang banyak. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda ketundukan kepada Allah yang memerintahkan mereka untuk membantu orang lain.

Pada umunya, mengutamakan orang lain berkait dengan harta. Harta yang paling baik untuk membantu orang lain adalah harta yang sedang dibutuhkan oleh pemiliknya tetapi sangat dibutuhkan orang lain, sehingga pemiliknya sangat berat untuk mengeluarkannya. Sebagai teladan manusia, Nabi Muhammad saw selalu mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadinya. Rasulullah saw bersabda, pertemukan aku dengan seseorang yang lemah, karena kalian akan ditolong dan diberi rezeki melalui orang-orang yang lemah di antara kalian. Dari Abu Hurairah, berkata Rasulullah saw: “Barangsiapa mengajak kepada kebaikan, maka dia mendapat pahala yang sama seperti pengikutnya tanpa mengurangi pahala pelakunya. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kejahatan, maka dia mendapat dosa yang sama seperti pelakunya tanpa mengurangi dosa pelakunya”. (HR Muslim). Dari Anas, sesungguhnya seseorang berkata kepada Nabi saw: “Nasehatilah saya”. Berkata Rasulullah saw: “Kerjakanlah perintah dengan perencanaan, sehingga kamu melihat kebaikan di dalamnya, dan jika kamu tersesat maka peganglah perintah tersebut”. (HR. Penjelasan Sunnah).

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dzar ra, berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, perbuatan apa yang paling ujtama ?” Beliau bersabda, “Iman kepada Allah swt dan berjihad dijalan-Nya.” Aku bertanya lagi, “Budaj apa yang paling utama (untuk dibebaskan)?” Beliau bersabda, “Yang paling berharga dimata pemiliknya dan yang paling mahalharganya.” Aku berkata, “jika aku tidak bekerja? “Beliau bersabda, “Engkau bias membantu orang yang bekerja atau bekerja untuk orang yang tidak mampu bekerja.” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika atau tidak mampu melakukan perbuatan yang bermanfaat?” Rasulullah saw bersabda, “Hendaklah engkau menahan kejahatanmu terhadap orang lain, karena hal itu merupakan sededkah darimu kepada dirimu.”

Al-Maqrizi berkata, “Sebagian orang berpendapat bahwa ibadah yang paling utama adalah ibadah yang manfaatnya bias dirasakan oleh orang lain. Ia lebih utama daripada ibadah yang manfaatnya terbatas untuk pelakunya. Mereka berpendapat bahwa membantu orang fakir atau sibuk dalam membantu orang lain adalah perbuatan utama, berdasarkan sabda Rasulullah saw “Semua makhluk itu keluarga Allah, dan yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi keluarganya. Mereka berkata: Perbuatan ahli ibadah hanya untuk diri mereka sendiri, dan perbuatan orang yang bermanfaat bias membantu orang lain, maka ia lebih utama daripada yang manfaatnya terbatas.

Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dari Abu Darda ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian aku beritahu akan amalan yang lebih utama daripada derajat puasa, shalat, dan sedekah?” Mereka berkata, “Tentu.” Beliau bersabda, “Memperbaiki hubungan antara manusia, dan bahwasanya rusaknya hubungan anatara manusia adalah kebinasaan.” Maksud dari kebinasaan disini ialah dengan putusnya hubungan anatara manusia akan putus silahturahim, akan menzalimi orang-orang yang mulia, berbuat bodoh, saling mengklaim, saling menipu, dan perbuatan-perbuatan dosa yang lainnya.

Jabir bin Abdillah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan yang paling jauh majelisnya dari aku pada hari kiamat adalah tsartsarun (orang yang banyak omong), mutasyaddiqun (yang membual dan bicara seenaknya), dan mutafayhiqun!” Para sahabat menukas, “Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui siapa itu tsartsarin dan mutasyaddiqin, tetapi tentang mutafayhiqun, kami tidak mengetahuinya. Siapakah mereka?” Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang yang sombong (angkuh).” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, dan Abu Nu’aim). Seseorang yang banyak berbicara dengan di buat-buat dan keluar dari kebenaran sangatlah dibenci oleh semua orang dan tidak disenangi oleh setiap jiwa, karena ucapan mereka biasanya berupa pembicaraan atau ucapan yang sia-sia dan yang mereka tambah-tambah atau dibuat-buat. Kita harus mengingat ayat yang berbunyi ini “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf:18) “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada malaikat-malaikat yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu).” (Al-Infithar:10-11).

Lidah adalah tiang penopang badan, jika ia lurus maka akan luruslah seluruh anggota badan dan sebaliknya bilamana ia bengkok atau miring maka bengkok pula anggota badannya. Lidah merupakan pengendali dan penguasa badan, jika ia selingguh dan berbuat jahat kepada anggota badan dengan suatu kejahatan atau keselingkuhan, maka anggota badanpun ikut melakukannya. Manakala ia berhati-hati dan menjauhkan diri dari ucapan kotor, menyakitkan, dan kata-kata tajam, anggota badan pun akan berhati-hati.



MENJALIN PERSAHABATAN

“Jika bersahabat dengan seseorang, janganlah engkau melihat kadar kecintaannya kepadamu. Tetapi, lihatlah kadar kecintaanmu kepadanya”. (Ibn Mas’ud). Imam Al-Ghazali berkata, “Jika engkau hendak mencari teman dalam menuntut ilmu, baik ilmu akhirat maupun ilmu dunia, pertimbangkan lima hal, pertama kepandaiannya. Tidak beruntung pencari ilmu yang berteman dengan orang bodoh, sebab orang bodoh hanya akan menyusahkannya dan membuat dirinya terbelakang. Kedua, akhlaknya. Bersahabat dengan orang yang berakhlak tercela penuh resiko. Orang yang buruk akhlaknya tidak bias mengendalikan diri ketika tersinggung atau merasa senang sehingga mencelakai temannya. Selain itu, orang yang tercela dapat menulari perbuatan tercelanya itu kepada temannya. Ketiga, ketakwaannya. Tidak beruntung bersahabat dengan orang fasik yang suka berbuat maksiat dan dosa, sebab perbuatan fasik dapat menjurumuskan seseorang ke jurang kehinaan dan lembah maksiatan. Akibat berteman dengan orang fasik adalah durhaka kepada Allah. Keempat, kezuhudannya. Tidak baik bersahabat dengan orang yang rakus pada harta. Bersahabat dengan orang yang rakus membahayakan keselamatan jiwa. Dan, kecenderungan manusia adalah meniru apa yang dilakukan oleh teman dekatnya. Kelima, kejujurannya. Orang yang tidak jujur suka berbohong kepada orang lain dan menipu dirinya sendiri. Jika engkau berteman dengan pembohong, orang lain akan menganggapnya sebagai pembohong atau penipu sehingga orang lain menjauhimu. Berteman dengan pembohong membuat dirimu terjerat dalam pembenaran sikap bohong. Padahal, bohong adalah dosa besar.”

Apabila berkumpul tiga orang janganlah yang dua orang berbisik-bisik (bicara rahasia) dan meninggal orang yang ketiga. (HR Al Bukhari). Tiga perbuatan yang termasuk sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam segala situasi dan kondisi, saling menyadarkan satu sama lain, dan menyantuni saudara-saudaranya (yang memerlukan). (HR. Adailami). Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak menzaliminya dan tidak mengecewakannya (membiarkannya menderita) dan tidak merusaknya (kehormatan dan nama baik). (HR Muslim).

“Sahabat sejati adalah orang yang jika engkau susah, ia ikut merasa susah. Jika engkau senang, ia pun ikut merasa senang.” (Syaikh Ibrahim Al Bajuri).

Kita mencontoh diantara akhlak salafus saleh yaitu selalu bertanya tentang keadaan sahabat ketika bersua satu sama lain, dan juga menanyakan langsung prihal keadaan temannya, keluarganya dan semua itu bukanlah basa-basi. Sahabat Ibn Al-Mubarak berkata, “Sungguh, aku selalu merasa diperhatikan olehmu setiap saat, sehingga aku merasa bahwa gerak langkahku selalu terawasi olehmu.”

“Tujuanku selalu memerhatikanmu ada dua, pertama, keharusan persahabatan adalah saling mengawasi. Kedua, aku menginginkan engkau sadar atas pengawasan Allah, sebab makhluk saja mengawasimu, apalagi Sang Pencipta. Dia tidak pernah tidur dan mengantuk, Dia selalu terjaga untuk mengawasi makhluk-Nya. Tidak ada satu bendapun yang jatuh dimuka bumi, walaupun seekor semut hitam diatas batu hitam di tengah malam yang gelap, kecuali Allah mengetahuinya. Lebih-lebih gerak langkah badanmu dan badanku,” kata Ibn Al-Mubarak.

Rasulullah saw bersabda, Setiap muslim adalah bersaudara, hendaklah dia tidak menzalimi dan meyakiti saudaranya. Siapa yang membantu saudaranya, Allah akan membantunya. Siapa yang meringankan beban saudaranya, Allah akan meringankan bebannya pada hari Kiamat. Siapa yang menutupi aib saudaranya, kelak Allah menutupi aib saudaranya, kelak Allah menutupi aibnya di hari Kiamat nanti.

TIDAK BERSIKAP ZALIM

“Pada hari kiamat, Allah akan berfirman, ‘Aku adalah Maharaja. Orang yang pernah berbuat zalim akan diadili. Ia tidak masuk surge, hingga Aku mengadilinya secara benar.” (Andullah bin Anis).

Rasulullah pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah kalian tahu siapa orang yang pailit dianatara umatku pada Hari Kiamat?” para sahabat menjawab, “Orang pailit dari kalangan kita adalah orang yang tidak punya dirham, dinar, dan barang-barang berharga.” Rasulullah saw bersabda, “Orang pailit adalah orang yang membawa amal puasa, shalat, dan haji di Hari Kiamat. Namun, datanglah bukit bahwa ia pernah mencaci, mengambil harta tanpa hak, menumpahkan darah, dan memukul orang lain. Maka, kebaikannya dibagikan kepada orang yang dizalimi tersebut. Jika kebaikannya telah habis, sementara hak orang yang dizalimi belum terpenuhi, dosa orang yang dizalimi dibebankan kepada yang menzalimi. Akhirnya, ia dilemparkan ked lam neraka.”

Rasulullah saw bersabda, Siapa yang menzalimi orang lain meskipun hanya mengambil sejengkal tananya, akan dikalungkan sejengkal tanah itu dilehernya seberat tujuh lapis bumi. Rasulullah saw bersabda, Siapa yang pernah berbuat zalim kepada saudaranya, baik terhadap kehormatan ataupun sesuatu yang lainnya, hendaknya dia menghentikan perbuatan itu sekarang juga sebelum dinar dan dirham tidak berarti lagi. Jika dia memiliki perbuatan saleh, pahala perbuatan saleh itu akan diambil sesuai dengan besar kezaliman yang telah dilakukannya. Jika dia tidak memiliki kebaikan sedikitpun, dosa-dosa orang yang telah dilakukannya itu akan dibebankan kepadanya.

Dan dari Aisyah ra, berkata Rasulullah saw: “Barangsiapa berbuat zalim sepanjang satu hasta di bumi, maka akan dikalungkan tujuh bumu”. (HR Bukhari dan Muslim). Dari Aus bin Syarhabil, bahwa dia mendengar Rasulullah saw berkata, “Siapa yang berjalan dengan kedzaliman untuk berbuat semena-mena, sedang ia tahu bahwa itu dzalim, maka ia telah keluar dari Islam”. (HR Baihaqi).

Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw bukanlah orang yang keji, Beliau tidak membiarkan kekejian, tiada mengeluarkan suara keras di pasar-pasar dan tidak membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan. Beliau suka memaafkan dan berjabat tangan”. (HR Tirmidzi). Rasulullah saw bersabda, Takutlah kalian kepada kezaliman, karena hal itu menyebabkan kegelapan pada hari kiamat nanti. Takutlah kalian kepada kekikiran, karena sifat kikir itu telah merusak orang-orang sebelum kalian. Sifat kikir telah mendorong mereka untuk saling menumpahkan darah dan menghalalkan apa yang telah diharamkan kepada mereka.

Rasulullah saw bersabda, “Allah akan menangguhkan kematian orang yang zalim, lalu dia mengambil nyawanya dan tidak akan dilepas dari siksa-Nya.” Setelah itu, Rasulullah saw membaca firman Allah swt, “Demikianlah azab Tuhanmu, jika Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu sangat pedih dan berat.”

Allah Azza Wajalla berfirman (hadits Qudsi): “Dengan keperkasaan dan keagunganKu, Aku akan membalas orang zalim dengan segera atau dalam waktu yang akan dating. Aku akan membalas terhadap orang yang melihat seorang yang dizalimi sedang dia mampu menolongnya tetapi tidak menolongnya.” (HR Ahmad)

Bila orang-orang melihat seseorang yang zalim tapi mereka tidak mencegahnya dikhawatirkan Allah akan menimpakan hukuman terhadap mereka semua. (HR Abu Dawud). Rasulullah saw bersabda, jika engkau mencari-cari kesalahan kaum Muslimin berarti engkau telah menjelek-jelekkan mereka, atau hamper merusak nama baik mereka. Rasulullah saw bersabda, hindarilah prasangka, sungguh prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang lain, saling berdebat, saling mendengki, saling membenci, dan saling berpaling. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang diperintahkan kepadamu. Seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain, dia tidak boleh menganiaya, menghina, dan mengejeknya. Ketakwaan itu ada di sini – Beliau sambil menunjuk kearah dada kirinya -. Seseorang cukup dikatakan jahat manakala dia mengejek saudaranya sesame muslim. Setiap muslim untuk muslim yang lain, itu haram darahnya, kehormatan dirinya, dan juga harta bendanya. Sungguh Allah tidak memandang bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah memandang hati dan amal perbuatan kalian.

SALING HORMAT MENGHORMATI

Abu Bakar Al-Shiddiq berkata, “Hendaklah engkau tidak menghina siapapun dari umat Islam. Sebab, seorang Muslim yang dianggap remeh oleh manusia adalah terhormat dalam pandangan Allah swt.”

Abdullah bin Abbas berkata, “Termasuk diantara kebaikan yang paling utama adalah menghargai teman dekat.” Kemudian, dia melihat kea rah Ka’bah dan berkata, “Sesungguhnya Allah swt telah menghormati dan memuliakanmu. Namun, kemulian seorang Mukmin di sisi Allah swt lebih besar dibandingkan kemulianmu. Syaikh Abd Al-Salam berkata, “Kepentingan mu dengan teman dekatmu lebih besar daripada terhadap saudaramu sendiri. Terkadang engkau malu meminta suatu kebutuhan kepada keluarga dekatmu, tetapi engkau berani meminjam sesuatu kepada temanmu. Seseorang akan lebih dekat dengan temannya daripada saudaranya. Oleh sebab itu, peliharalah persahabatan dengan temanmu dengan penuh toleran dan saling tenggang rasa.”

“Suatu saat engkau akan merasakan nilai menghargai orang lain. Harga dirimu bukan bergantung pada penghargaan orang lain kepadamu. Namun, ia bergantung pada seberapa besar engkau menghargai orang lain. Suatu saat engkau akan merasakan nilai dari membantu orang lain. Andaikan engkau tidak merasakan buah membantu orang lain secara langsung, keturunanmulah yang akan merasakannya.”

Rasulullah saw bersabda, seorang muslim adalah orang yang mampu membuat kaum muslimin lainnya selamat dari bahaya lisan dan tangannya. Sedangkan orang yang berhijrah adalah orang yang menjauhkan diri dari yang dilarang Allah.

Rasulullah saw bersabda, janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, saling membelakangi, dan jangan pula saling memutuskan tali silaturahim, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak boleh seorang muslim tidak menyapa (bermusuhan) saudaranya lebih dari tiga hari.

Dari Anas, berkata Rasulullah saw: “Demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya, tidak beriman selamanya sampai dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri”. (HR Bukhari dan Muslim).

SELALU MENJAGA LISAN

Rasulullah saw bersabda, Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah menyambung hubugan kekerabatan. Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.

Rasulullah saw bersabda, “Diam adalah kebijaksanaan, dan sedikit orang yang mampu melakukannya.” (HR. Abu Manshur ad-Dailami), Diriwayatkan dari Sufyan ibn Salim bahwa Rasulullah saw berkata, “Maukah kalian aku kabarkan tentang ibadah yang paling mudah dan paling ringan bagi anggota tubuh? Yaitu diam dan berbudi pekerti mulia!” (HR Ibnu Dunya. Hadis ini berstatus mursal dan perawinya bisa dipercaya).

Manusia yang waspada pasti akan menyadari bahwa didalam banyak bicara terdapat bahaya. Sedangkan di dalam diam terdapat keselamatan. Di dalam diam terkandung keutuhan cita-cita serta keabadian wibawa dan juga ada kemurnian waktu untuk beribadah dan berzikir, selamat di dunia dari perkataan dan selamat di hari Perhitungan. Dalam Al-Qur’an dikatakan “Setiap ucapan yang keluar, pasti ada malaikat pengawas yang selalu hadir (mencatatnya).” (QS. Qaf:18).

Rasulullah saw bersabda, Seseorang yang berkata tanpa dipikirkan terlebih dahulu, dapat membuatnya tergelincir ke dalam api neraka yang luasnya seluas jarak antara belahan dunia bagian timur dan barat. Ya’la ibn Ubaid berkata, “Kami menghadap Ibnu Sauqah. Dia berkata, “Wahai anak saudaraku, aku ingin bercerita kepadamu, semoga cerita ini bermanfaat bagimu. Dan cerita ini memang bermanfaat bagiku: Atha ibn Abi Rabah berkata kepada kami, “Sesungguhnya orang-orang dahulu menganggap berlebihan pembicaraan selain tentang Kitab Allah, perintah kepada yang baik, pencegahan dari yang mungkar, atau pembicaraan tentang kebutuhan hidup yang mendesak. Apakah kalian mengingkari bahwa di kanan-kirimu ada Raqib dan Atid yang mengawasi dan menulis setiap gerak-gerik dan ucapan kalian? Tidaklah kalian merasa malu jika di dalam lembaran amal kalian ternyata tidak ada catatan kebaikan?” (Siyar A’lam an-Nubala:5/86).

Rasulullah saw bersabda, Kekanglah lisanmu, tetaplah berada dirumahmu, dan menangislah atas segala kesalahan yang telah engkau lakukan. Rasulullah saw bersabda, janganlah banyak berbicara keculai zikir kepada Allah. Sungguh membicarakan sesuatu yang bukan zikir kepada Allah dapat membuat hati menjadi kesat. Manusia yang paling jauh dari Allah adalah manusia yang hatinya kesat.

Al-Ghazali berkata, “Di antara dosa yang biasa dilakukan oleh lisan adalah berdusta. Peliharalah lisanmu dari berdusta, baik dusta yang sengaja maupun sekadar bercanda. Janganlah membiasakan berbohong walaupun dengan niat bercanda! Sebab, hal itu bias meringankan lisanmu untuk berbohong yang sebenarnya.”

Rasulullahsaw bersabda, Seseorang yang berkata yang diridhai Allah, akan dinaikkan derajatnya oleh Allah beberapa derajat. Namun, seseorang yang berkata yang dibenci Allah, dapat membuatnya terjurumus ke dalam neraka jahanam. Ibrahim berkata, “Dua hal yang sering membuat manusia binasa, yaitu harta berlebihan dan ucapan berlebihan!”

Bilal ibn Harits berkata, “Rasulullah saw berkata, “Ada orang yang berkata tentang sesuatu yang diridhai Allah, namun tidak menyangka akan mendapatkan keridhaan itu, kemudian Allah mencatat keridhaan-Nya untuk orang itu sampai hari Kiamat lantaran kata-kata yang ia ucapkan. Ada juga orang yang berkata tentang sesuatu yang dimurkai Allah, namun tidak menyangka akan mendapatkan kemurkaan itu, kemudian Allah mencatat kemurkaan-Nya untuk orang itu sampai hari Kiamat lantaran kata-kata yang ia ucapkan. (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi. Hadis ini dianggap sahih.

Termasuk perbuatan yang dilarang agama adalah saling berbantah. Perbuatan ini dapat memicu terjadinya pertengkaran, saling menghujat, dendam dan kejahatan-kejahatan lainnya. Larangan berbantahan ini telah dijelaskan oleh Rasulullah saw dalam sabdanya, “Jangan membantah saudaramu, jangan mengejeknya dan jangan berjanji kepadanya, lalu engkau tidak menepati.” ((HR Tirmidzi).

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meninggalkan sikap berbantahan, padahal ia dalam posisi yang benar, niscaya dibagunkan untuknya rumah di surge yang paling tinggi. Barangsiapa meninggalkan sikap berbantahan, sedangkan ia dalam posisi yang salah, niscaya dibangunkan rumah untuknya ditengah-tengah surge.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Rasulullah saw bersabda, jika datang waktu pagi, seluruh anggota tubuh mengingatkan lisan, sembari mereka berkata, “Bertakwalah kepada Allah, itulah cara memelihara keselamatan kami. Karena nasib kami sangat tergantung padamu. Bila kau berada di jalan yang lurus, kami pun akan berada di jalan yang lurus. Jika kau menyimpang, kami pun akan menyeleweng.”

Adab dan tata karma dalam berbicara :

1.Hendaknya ucapan itu lembut dan murni (tidak dibuat-buat)

2.Hendaknya kata-kata yang diucapkan bukan kata-kata yang buruk dan kotor.

3.Tidak banyak humor atau bercanda, atau mengucapkan kata-kata yang sia-sia dan tidak bermanfaat.

4.Harus memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara (tidak didominasi sendiri)

5.Tidak memotong atau memutuskan pembicaraan orang lain

6.Tidak berbisik atau berbicara pelan kepada teman kita yang satu padahal teman kita yang lain bersama kita.

7.Berbicara yang jujur, jauhi oleh kita dusta karena dusta itu adalah sifat yang terjela dan dibenci.

8.Berbicaralah tentang sesuatu yang kita ketahui, jangan berbicara tentang sesuatu yang tidak kita ketahui dan yang bukan urusanmu). Dan apabila kita diam, hendaklah diam itu karena santun (bukan karena marah).

JANGAN BERGHIBAH & MENGADU DOMBA

Rasulullah saw bersabda, “Tahukah kalian tentang ghibah itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Beliau bersabda, “Menceritakan sesuatu hal yang dibenci oleh saudaramu sendiri.” Lalu ada seseorang yang bertanya lagi, “Bagaimana jika dalam diri saudaraku itu benar seperti yang aku ceritakan tadi?” Beliau menjawab, “Jika dalam dirinya benar seperti apa yang kau katakana, maka engkau telah melakukan ghibah. Jika dirinya tidak sesuai dengan apa yang engkau katakana berarti engkau berdusta.”

Rasulullah saw bersabda, “Jangan kalian saling dengki, saling benci, saling menjerumuskan, saling membelakangi dan jangan sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” ((HR Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda, saat dimikrajkan aku bertemu sekelompok manusia yang memiliki kuku yang terbuat dari tembaga. Mereka mencakar wajah dan dada mereka. Aku berkata, “Siapakah mereka wahai Jibril?” Jibril menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang senang memakan dading manusia (Ghibah). Dan yang menjatuhkan harga diri atau kehormatan orang lain.”

Jabir dan Abi Said berkata bahwa Rasulullah saw berkata, “Jauhilah menggunjing! Sesungguhnya menggunjing itu lebih berat daripada zina. Orang yang berzina bias jadi kemudian bertobat, lalu Allah yang Maha Suci menerima tobatnya, sedangkan penggunjing tidak akan diampuni dosanya, hingga ia dimaafkan oleh temaqnnya (yang digunjing). (HR Ibnu Abi Dunya, Ibnu Hibban dan Ibnu Mardawiyah).

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian saling mendengki, jangan saling melakukan najasy (pura-pura menawar barang, agar ditawar orang lain dengan harga lebih tinggi), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, jangan kalian membeli barang yang sudah di tawar saudaranya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang Muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lainnya. Dia tidak boleh menzaliminya, tidak boleh menelantarkannya dan tidak boleh menghinakannya. Takwa itu ada disini, Beliau mengucapkannya sembari berisyarat ke dada tiga kali. “Cukuplah seseorang itu dianggap berbuat buruk bila dia meremehkan saudaranya sesame muslim. Seorang muslim terhadap muslim lainnya itu haram : darahnya, hartanya dan kehormatannya.”

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka! Sesunguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang diantara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Al-Hujurat:12)

“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (Al-Isra:36).

Rasulullah saw bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang orang yang paling jahat?” Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah berkata,”Orang yang berjalan dengan mengadu domba, orang yang merusak hubungan kasih saying, dan orang yang mencari-cari aib orang yang tidak bersalah.” (HR. Ahmad).

Rasulullah saw bersabda tentang dua penghuni kubur yang beliau lewati, keduanya disiksa bukan karena dosa besar yang mereka lakukan, keduanya merasa berat meninggalkannya. Salah seorang dari mereka ketika masih hidup suka mengadu domba orang lain, sementara yang lainnya tidak menjaga diri dari air kencingnya sendiri.

Membicarakan seseorang muslim tentang sesuatu yang tidak ada padanya dan mengadu domba orang beriman, dalam hadits riwayat Ibnu Umar r.a., Rasulullah bersabda, “barangsiapa yang membicarakan seseorang mukmin dengan sesuatu yang tidak ada pada dirinya maka Allah akan menempatkannya dalam thinatul-khabal (kotoran cair yang mengalir dari penghuni neraka). “(HR Ahmad, Abu Daud, dan Hakim).



TIDAK SALING MEMBENCI DAN MENGHINA

Allah swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokan) lebih dari wanita (yang mengolok-olok) dan jangan kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Eburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (Al-Hujarat:11)

Rasulullah saw bersabda, orang mukmin bukanlah orang yang suka menghina, mengutuk, berbuat keji dan berbuat hina. Rasulullah saw bersabda, apabila seseorang menuduh orang lain fasik dan kafir, tanpa dasar kebenaran, maka tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri.

Rasulullah saw bersabda, siapa yang ingin selamat dari api neraka dan dimasukkan ke dalam surge, hendaknya terus menerus beriman kepada Allah dan hari akhir hingga kematian menjemputnya. Selain itu, hendaknya dia melakukan sesuatu yang disukai orang lain sebagaimana dia menyukai bila orang lain melakukan hal itu kepadanya.

Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mengolok-olok orang lain, akan dibukakan pintu surge bagi mereka, lalu mereka dipanggil, “Kemarilah, kemarilah!” orang itu menuju pintu surga dengan segala kesulitannya dan kesedihannya. Ketika hampir sampai di pintu surga, maka pintu itu ditutup. Kemudian dibukakan pintu yang lain, lalu ia dipanggil, “Kemarilah, kemarilah!” ia menuju ke pintu itu dengan segala kesulitan dan kesedihannya. Ketika ia hampir sampai ke pintu, maka pintu tertutup untuknya. Kejadian ini terus berlanjut, hingga ketika dibukakan pintu untuknya, lalu ia dipanggil, “Kemarilah, kemarilah!” orang itu tidak mau datang lagi.”

Muadz ibn Jabal berkata bahwa Rasulullah saw berkata, “Barangsiapa menjelek-jelekan saudaranya karena dosa yang telah disesali (sudah bertobat), ia tidak akan mati sampai ia melakukan dosa itu.

JANGAN SALING BERPRASANGKA

Rasulullah saw bersabda, hindarilah prasangka, sungguh prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan orang lain, saling berdebat, saling mendengki, saling membenci, dan saling berpaling. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara bagi muslim yang lain, dia tidak boleh menganiaya, menghina, dan bmengejeknya. Ketakwaan itu ada disini- Beliau sambil menunjuk kearah dada dirinya. Seseorang cukup dikatakan jahat manakala dia mengejek saudaranya sesame muslim. Setiap muslim untuk muslim yang lain, itu haram darahnya, kehormatan dirinya, dan juga harta bendanya. Sungguh Allah tidak memandang bentuk tubuh kalian, akan tetapi Allah memandang hati dan amal perbuatan kalian.

Rasulullah saw bersabda, jika engkau mencari-cari kesalahan kaum Muslimin berarti engkau telah menjelek-jelekkan mereka, atau hampir merusak nama baik mereka.

JANGAN MEMBUKA RAHASIA ORANG LAIN

Diriwayatkan bahwa Muawiyah menyampaikan rahasia kepada Walid ibn Utbah, lalu Walid berkata kepada ayahnya, “Wahai ayah, sesungguhnya Amirul Mukminin menyampaikan satu rahasia kepadaku. Belum pernah aku melihat dia merahasiakan sesuatu darimu. Ayanhnya berkata, “Kalau begitu, jangan kau katakana kepadaku. Karena, barangsiapa menyembunyikan rahasia, maka baginya kebaikan, barangsiapa menyebarkan rahasia, maka kebaikan akan hilang darinya.” Walid berkata, “Wahai ayah, tetapi ini hanya antara seseorang dengan ayahnya?” Ayahnya berkata, “Tidak, demi Allah, wahai anakku! Aku lebih suka engkau tidak merendahkan lisanmu dengan mengumbar rahasia.” Walid lantas dating kepada Muawiyah dan memberitahukan segala apa yang dikatakan oleh ayahnya. MUawiyah lantasberkata, “Hai Walid, ayahmu telah membebaskanmu dari kesalahan.”

Membuka rahasia merupakan penghianatan. Haram dilakukan, jika mengakibatkan bahaya. Dan tercela menyebarkan rahasia, jika tidak menimbulkan bahaya

Rasulullah saw bersabda, seseorang yang menutupi aib orang lain akan ditutupi aibnya oleh Allah pada hari Kiamat.

SELALU MENYENANGKAN HATI ORANG LAIN

Seorang alim berkata: “Seseorang akan disenangi oleh orang lain bukan karena dirinya banyak member harta, melainkan karena ia lebih pengertian dan sabar dalam bergaul. Ingatlah, manusia tidak akan dapat dirayu oleh harta! Rayuan harta hanya akan menimbulkan sikap semu. Seseorang yang menampakkan rasa senang karena banyak diberi harta oleh kita akan menampakkan sikap sebaliknya saat tidak diberi.”

“Engkau akan disenangi orang lain seukuran engkau menyenangkan mereka. Engkau akan dibenci orang lain seukuran engkau membenci mereka. Engkau akan dicintai orang lain seukuran engkau mencintai mereka. Engkau tidak harus bertanya seberapa besar kecintaan sahabatmu kepadamu. Namun, ukurlah seberapa besar cintamu kepadanya. Sebab, kecintaanmu adalah ukuran kecintaannya.."

wallahu a'lam

Sumber: http://www.facebook.com/notes/siti-jamilah-hamdi/sebaiknya-bagaimana-ya-kita-berteman/425892526139

No comments:

Post a Comment