Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Wednesday, 21 April 2010

Golongan Ahli Tasawwuf Yang Tertipu

Di dalam ringkasan “Ihya Ullumuddin” (Bimbingan untuk mencapai tingkat mu’min), Al-Imam Al-Ghazali menjelaskan, “Orang-orang yang sedang melakukan ketasawwufan itu tidak terlepas dari berbagai tipuan. Menilik macam tipuannya itu, dapatlah di golongakan sebagai berikut:
• Golongan pertama (1)
Diantara ada yang tertipu dengan cara berpakaian, caranya bertingkah laku, bertindak serta dalam berbicara. Umpamanya saja mereka tidak pernah meninggalkan duduk diatas sajadah, tampat sholat, sambil menundukkan kepala senantiasa, memasukkan kepalanya kedalam karung bajunya seolah-olah sebagai orang yang sedang berfikir berat dan keras. Juga ditampakkan dalam cara naik turunnya nafas yang diperpanjang dan dibuat-buat sedemikian rupa, bahkan dalam berbicara melemahkan suara, seolah-olah sudah parau sehingga kurang terdengar oleh orang terdekat sekalipun. Bicaranya satu-satu dan lembek sekali, tidak ada semangatnya untuk bercakap-cakap. Apa lagi bekerja tetapi yang mengherankan sekali ialah mereka itu tidak sedikitpun mencoba-coba jiwanya untuk giat bersungguh-sungguh untuk melatih keluhuran hati, memeriksa serta mensucikan lahir dan batinnya dari dosa-dosa yang samar ataupun yang terang. Padahal mensucikan jiwa inilah yang mula-mula dilakukan untuk dapat menginjak tangga pertama dari tingkat ketasawwufan. Tetapi orang-orang tersebut tidak pernah sama sekali berkecimpung di sekitar tingkat yang terendah tadi dan tidak pula merasakan penderitaan latihan itu sedikitpun pada tubuhnya. Bukankah orang-orang ini tertipu oleh ketasawwufan yang belum dikenal sedikitpun ujung pangkalnya itu ?.
• Golongan Kedua ( 2 )
Adapula suatu golongan yang mengaku sudah memiliki ilmu ma’rifat, menyaksikan apa yang sebenar-benarnya, sudah juga melampaui berbagai tingkat dan keadaan, sudah menginjak pula dalam keyakinan persaksian pada Tuhan serta merasa telah sampai ketaraf pendekatan diri kepada Dzat yang Maha Esa. Tapi apa yang dilakukannya itu hanyalah omong kosong belaka. Hal-hal yang berhubungan dengan itu tidak dimakluminya sama sekali. Yang dikatahui hanyalah nama-nama dan kata-katanya saja, sebab ia dapat memperoleh dari kata-kata istilahnya itu beberapa kata yang selanjutnya diingat-ingatnya dan terus diulang-ulang berkali-kali. Baru dalam tarap yang seperti ini ia sudah menyangka bahwa tingkatannya sudah lebih dari ilmu pengetahuan golongan “awwalin” dan “akhirin”. Akibatnya orang-orang tersebut memandang kepada kaum ahli fiqih, ahli tafsir dan ahli hadits, juga sekalian alim ulama dalam berbagai bidangnya itu dengan sebelah mata. Bahkan ia mengatakan bahwa ulama-ulama yang lain-lain itu sebenarnya masih tertutup mata hatinya dari berma’rifat yang sesungguhnya kepada Allah Ta’ala. Sebalinya ia mengaku bahwa dirinya sendiri sudah sampai kepada kebenaran sejati dan ia termasuk golongan orang yang paling dekat dengan Tuhan. Padahalnya yang sebenarnya orang yang semacam ini termasuk goongan kaum munafik yang murni di mata Allah Swt, sedang dimata orang-orang yang berakal dimasukkan dalam golongan orang-orang yang ahmak, kurang akal, bodoh atau tertipu dengan sangkaannya. Orang dalam golongan ini tidak pernah memiliki suatu ilmupun dengan pasti. Tidak pernah pula melatih diri untuk memiliki budi pekerti yang luhur, tidak juga mengekalkan amalan yang shaleh, malahan tidak pula meneliti hati sanubarinya sendiri dari penyakit-penyakit batin. Yang dilakukan setiap kali hanyalah mengikuti hawa nafsu. Golongan orang-orang semacam ini adalah orang-orang yang tertipu oleh sangkaan-sangkaannya dan bertuhankan kepada hawa nafsunya.
• Golongan Ketiga ( 3 )
Golongan ini amat tersesat sekali, yaitu menganggap “ibahah” (segala apa saja boleh dilakukan). Larangan syari’at disingkirkan sama sekali, hokum-hukum yang berhubungan dengan halal dan haram diabaikan sama sekali dan tidak diperhatikan. Semua dianggap sama saja, tidak perduli larangan atau bukan, semua dianggap enteng dan diterjang.
Sebagian golongan ini yang sudah amat terlanjur kesesatannya mengatakan : “Sebenarnya Allah itu tidak memerlukan amalanku. Oleh karena itu aku tidak ingin menyengsarakan diriku sendiri dengan berbagai amalan lahir”.
Ada juga yang mengatakan : “Amalan lahiriah itu semuanya tidak ada harganya di sisi Allah Ta’ala, tidak akan diperhitungkan dan tidak pula dineracakan (timbang). Yang dianggap atau di pandang ialah keadaan hati belaka. Kita sadar bahwa hati kita ini amat mencintai Tuhan dan sudah sampai kepada ma’rifat yang sesungguh-sungguhnya. Betul menurut lahiriahnya kita selalu berkecimpung dalam kelezatan duniawiah, tubuh kita terus merasakan kenyamanan-kenyamanannya, tetapi ingatlah bahwa hati kita ini tidak sedikitpun terlepas dari berhadir di hadapan Tuhan. Jadi kita ini melakukan kesyahwatan-kesyahwatan dengan anggota lahir, tidak terus sampai kedalam hati”.
Demikianlah diantara ucapan-ucapan sesat yang mereka ketengahkan. Mereka itu mengira dan bahkan meyakinkan bahwa tingkatan yang mereka capai itu sudah sedemikian tingginya, jika di bandingkan dengan tingkat kaum awam. Prihal pendidikan ahlak saja yang amat menjadi perhatian mereka, sedang amalan badaniah ditinggalkan seluruhnya. Menurut kepercayaan mereka, kesyahwatan-kesyahwatan yang mereka lakukan itu tidak akan menghalang-halangi tubuh mereka dari menempuh jalan Tuhan, karena menganggap sudah terlampau kuat untuk membentengi.
Semua ini adalah was-was (godaan) setan yang ditiupkan (dibisikkan) dalam hati mereka dengan rayuan merdu dan menggiurkan.
Cara “Ibahah” yakni membolehkan segala sesuatu tanpa pandang halal dan haram itu jelaslah menjadi prilaku kaum kafir yang durhaka.
• Golongan Ke Empat ( 4 )
Adapula sebagian manusia yang mengaku-ngaku dirinya sebagai orang yang berbudi pekerti mulia, bertawadhu dan berlapang dada serta banyak memberikan toleransi kepada sesamanya, lalu mereka itu memberikan bantuannya danmenghadapkan dirinya untuk memberikan pelayanan kepada kaum ahli sufi. Mereka itu mengumpulkan suatu kaum dan memaksa-maksakan diri untuk berkhidmat kepada orang-orang yang dianggap mulya dan suci itu. Tetapi sebenarnya hal tiu dilakukan sebagai perangkap untuk memperoleh kekayaan dan pemimpin/jabatan. Harta banyak dikumpulkan tanpa memperhatikan halal dan haram, juga tanpa memeriksa mana yang subhat dan mana yang bukan. Semuanya diambil. Harta itulah yang digunakan untuk menyumbang kepada orang-orang yang dijunjung tinggi tadi. Dengan demikian supaya banyak pengikutnya dan tersiarlah nama mereka sebagai orang-orang yang berkhidmad kepada kesucian. Namun dibalik semua itu yang menjadi tujuan utama mereka melakukan itu semua hanya ingin memperoleh kemasyuran, ria’ dan sombong belaka, disamping mencari kedudukan dan jabatan.


Sumber: http://www.facebook.com/home.php?#!/?page=1&sk=messages&tid=1334093805993

No comments:

Post a Comment