Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Saturday, 12 June 2010

Prioritas Ilmu Atas Amal

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya…..” (Q.S. Al-Israa’; 17:36)

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakatuh

Diantara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama adalah prioritas ilmu atas amal. Ilmu didahulukan atas amal karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Ilmu mendahului perkataan dan perbuatan, kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu didahulukan atas keduanga. Ilmulah yang membenarkan niat dan perbuatan.

Ilmu yang pertama kali mesti dikuasai adalah ilmu tauhid, sebagaimana firman Allah :
”Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu ……..” (Q.S. Muhammad; 47:19)

Oleh karena itu Rasulullah saw pertama-tama memerintahkan umatnya untuk menguasai ilmu tahuid baru kemudian memohonkan ampunan yang merupakan amal perbuatan. Jadi, umat muslim mesti memiliki ilmu pengetahuan tentang tauhid sebelum memohon ampun. Memiliki pengetahuan tentang kebesaran Allah sebelum beribadah kepada-Nya. Sesungguhnya ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada Allah dan kemudian mendorong manusia kepada amal perbuatan. Apabila seorang muslim sudah mengenal dan paham tentang agamanya, maka dia akan beramal dan tidak hanya sekedar beramal…. tetapi amalan yang dilakukan dengan baik..!!

Dalil lainnya adalah dalil tentang perintah berjihad
”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Q.S. At-Taubah; 9:41)

Berjihad , baik itu dengan harta maupun jiwa, adalah hal yang baik jika mengetahuinya. Jika kita memiliki ilmunya.

Dalil yang menunjukkan kebenaran tindakan kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang diturunkan pertama kali adalah : ”Bacalah”, baru kemudian diturunkan ayat yang berhubungan dengan kerja yaitu surat al-Muddatstsir

1. Hai orang yang berkemul (berselimut),
2. Bangunlah, lalu berilah peringatan!
3. Dan Tuhanmu agungkanlah!
4. Dan pakaianmu bersihkanlah,
5. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah, (Q.S. Al-Muddatstsir; 74:1-5)

Kita pun mengetahui kunci ilmu pengetahuan adalah membaca, dan dari sejarah diturunkannya surat Al-Alaq baru kemudian Al-Muddatstsir tersebut maka sesungguhnya ilmu pengetahuan mesti didahulukan atas amal perbuatan. Ilmu pengetahuan mampu membedakan mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang halal dan haram, mana yang wajib dan sunah, mana akhlak terpuji dan yang bukan. Oleh karena itu, tanpa ilmu pengetahuan maka kita akan kehilangan arah dan melakukan tindakan yang tidak karuan.
Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz: ”Barangsiapa melakukan suatu pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu, maka apa yang dia rusak lebih banyak daripada apa yang dia perbaiki.”

Hal sehari-hari yang mungkin ada adalah berpuasa siang hingga malam, atau sholat Subuh agar terlihat lebih baik maka dilakukan 4 rakaat ??
Keadaan seperti ini tampak jelas pada sebagian kaum muslimin yang tidak kurang semangat beragamanya, keikhlasannya dan juga ketakwaannya, tetapi mereka tidak membekali diri dengan ilmu pengetahuan, dan pemahaman yang benar.
Seperti itulah keadaan kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a. Kaum Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mereka, kaum Khawarij, merupakan kelanjutan dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta rampasan perang yang dilakukan Rasulullah saw. Mereka menentang karena pembagian harta lebih banyak kepada orang-orang yang baru masuk Islam daripada yang telah lama masuk Islam. Mereka berkata dengan kasar : ”Berbuat adillah engkau ini!” Maka Rasul bersabda, ”Celaka engkau! Siapa lagi yang adil apabila aku tidak bertindak adil.Kalau aku tidak adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi.”
Orang yang mengucapkan perkataan itu sama sekali tidak memahami siasat Rasulullah untuk melunakkan hati orang-orang yang baru masuk Islam dengan memberikan bagian harta yang lebih banyak. Allah SWT memberikan hak kepada Rasulullah untuk mengatur shodaqoh yang diberikan oleh kaum muslimin, begitu juga dengan harta rampasan perang.
Sesungguhnya kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka bukanlah terletak pada perasaan dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran dan pemahaman mereka.

Oleh karena itu niat yang benar dan semangat yang tinggi tidaklah cukup untuk memperbaiki, tetapi diperlukan juga ilmunya, agar apa-apa yang kita lakukan sesuai dengan tujuan awalnya yaitu memperbaik. Tidak lupa juga hal yang sebaliknya yaitu janganlah merasa cukup hanya dengan memiliki ilmu, tetapi juga dibutuhkan tindakan-tindakan dan amalan-amalan nyata setelah berilmu.

Amal tanpa ilmu, buta….
Ilmu tanpa amal, pincang…

Wallahu’alam bishshawab. Yang benar datangnya dari Allah sedangkan hal-hal yang salah datangnya dari saya pribadi. Mohon maaf atas segala kesalahan. Diakhir kesempatan ini marilah kita berdoa agar kita menjadi orang yang dapat berkontribusi terhadap perbaikan, menjadi orang yang berilmu dengan amalan-amalan nyata.
Kita memohon kepada Allah kita bersatu padu dalam beramal dan tidak tercerai berai.

Doa Rabithah..

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sumber: http://bentengcatur.blogsome.com/2007/09/30/prioritas-ilmu-atas-amal/

No comments:

Post a Comment