Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Tuesday, 22 June 2010

Beda Pendapat

Adalah Andi dan Marsudi, dua orang sahabat yang kebetulan bekerja di satu
lembaga dan dipercaya menjadi pimpinan di situ.

Dalam keseharian mereka adalah sosok yang layak untuk dijadikan panutan anak
buah. Mereka juga bekerja sama untuk memajukan lembaga tempat mereka bekerja.

Yang namanya manusia, tak luput dari cobaan atau ujian. Dalam satu kegiatan,
mereka berbeda pendapat. Terjadi adu argumen sengit yang ternyata mereka tidak
berhasil menyatukan pendapat.

Tidak seperti biasanya, Andi kali ini begitu bersikeras mempertahankan
pendapatnya dan sangat keras pula menyerang pendapat Marsudi. Hari-hari
berikut Andi terlihat menjauhi Marsudi. Beda pendapat sudah mulai meningkat
menjadi perasaan "salah dan benar", artinya Andi yang benar dan Marsudi yang
salah.

Saat berikutnya hampir semua anggota lembaga tersebut menyokong pendapat
Marsudi, Andi tetap tidak mau mengubah sikapnya, bahkan menjadi memusuhi
Marsudi. Marsudi sendiri tetap bersikap tenang dan tidak menunjukkan sikap
yang serupa kepada Andi. Dia menganggap bahwa Andi sedang emosi saja. Nanti
kalau semua reda, menurut Marsudi, Andi akan baik seperti sedia kala.

Ternyata harapan Marsudi tidak menjadi kenyataan, Andi makin memusuhi Marsudi,
tatkala pelaksanaan gagasan Marsudi dirasa makin menjauhkan Andi dari
"kenyamanan" yang diperolehnya selama ini. Pendapat-pendapat Andi hampir selalu
tidak disepakati oleh para anggota lembaga. Kebencian Andi kepada Marsudi makin
memuncak.

Waktu berlalu, dan akhirnya Andi harus mengakui bahwa pendapat Marsudi memang
benar dan terbukti mampu mengangkat lembaga ke tempat yang lebih baik. Tetapi
kebenciannya sudah menutup mata hatinya, sehingga dia tetap enggan untuk
mengakui. Akhirnya sungguh tragis, karena dia memutuskan keluar dari lembaga
dan bekerja di tempat lain.

Sungguh satu gambaran buram tentang pemahaman beda pendapat. Terkadang (sering
malah), bahwa kita dengan pengetahuan yang terbatas sudah meng"claim" beda
pendapat sebagai kasus benar dan salah, yang artinya kita yang selalu benar
dan orang lain yang salah. Ketidakmampuan mengemas beda pendapat ternyata
mampu mendorong kita terjerumus dalam perangkap "kebencian yang membuta". Dalam
posisi seperti itu, kita menjadi sulit menerima fakta yang mendukung kebenaran
orang lain. Pokoknya....., demikian isi kepala kita
penuh dengan dogma "membenarkan diri sendiri".

Itulah yang saat ini menguasai sebagian besar kita di Indonesia. Hal itu
nampak dari riuh rendahnya masalah yang muncul dari hari ke hari semakin
banyak dan semakin kisruh. Demokrasi ternyata malah mengangkat perselisihan
yang tidak perlu karena kita belum berhasil mengemas beda pendapat secara
positif, syarat mendasar berlangsungnya kehidupan berdemokrasi.

Semoga wacana ini bisa menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua untuk dapat
meningkatkan kemampuan memahami beda pendapat. amin

Sumber: http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1405982792015

No comments:

Post a Comment