Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Thursday, 22 April 2010

Wujud Cinta Allah

By: agussyafii

Di rumah Amalia saya senantiasa banyak teman dan terkadang ada tamu yang hadir tanpa saya mengenal sebelumnya. Setiap kali kehadiran para tamu saya selalu mendapatkan mutiara-mutiara kearifan yang berbentuk pengalaman kehidupan yang dialaminya.

Salah satunya Pak Syaiful, seorang pengusaha muslim yang taat dalam menjalankan ibadahnya. Beliau suka hadir di tengah kami bersama anak-anak Amalia. Penampilannya begitu sederhana, terkadang main ke rumah Amalia dengan mengendarai motor atau vespanya. Beliau pernah bertutur berbagi pengalaman yang merubah orientasi hidupnya ketika dirinya ujung maut.

"Mas Agus Syafii, saya banyak mengalami hal yang pahit dalam hidu ini,"katanya. Pak Syaiful mengidap radang kantung empedu. Penyakitnya sangat parah, bahkan dokter mengatakan hidupnya hanya tinggal 25%. Awalnya Pak Syaiful merasakan rasa dingin di kakinya naik ke paha, perut hingga ke ubun-ubun. Rasa dingin itu seolah berjalan begitu perlahan. "Saya membayangkan nyawa saya sudah berada di ujung kematian," katanya dengan berlinang air mata. "Semua perbuatan kotor saya seperti terlihatkan, hanya satu yang saya inginkan. Mati dalam keadaan bersyahadat," kata Pak Syaiful dengan wajah ekspesi penuh ketawadlu'an.

Sejak kecil Pak Syaiful dididik di lingkungan pesantren. Setelah selesai SMA dirinya mengadu nasib di Ibukota namun perjalanan hidupnya tidak seperti yang ia bayangkan. Awalnya berdagang pakaian di Pasar Cipulir Usahanya sukses namun semakin sukses dirinya semakin jauh dari agama. Kehidupan malam dan minuman keras terasa nikmat. Pak Syaiful menjadi tersadar justru setelah sakitnya parah. Yang paling ditakutkan oleh dirinya kehilangan momen membaca kalimah syahadat di penghujung hayatnya. Dirinya mengalami di ujung lorong batas antara kematian dan kehidupan.

Dalam keadaan tidak sadarkan diri, dirinya melihat bayangannya sendiri. Pak Syaful bergerak melakukan apa yang pernah dia perbuat di masa lalu. "Saya seperti melihat film yang aktornya adalah diri saya sendiri,"katanya. "Semua saya melihatnya dengan jelas, saya pernah menyia-nyiakan anak dan istri saya hanya karena menuruti kesenangan, sampai saya menangis meraung-raung menyesali semua kebodohan yang saya pernah saya lakukan," lanjut Pak Syaiful.

Kala Pak Syaiful melihat semua dosa-dosanya yang menakutkan di saat itu juga dirinya memohon ampun kepada Allah. Tuturnya,"begitu saya memohon ampun kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, saya berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Di saat itu semua yang menyeramkan hilang semua." Dirinya menuju tempat yang begitu indah dan nyaman. Tempat itu seperti di kampung halamannya waktu Pak Syaiful di masa kecil.

Dari yang dialami Pak Syaiful itu pandangan hidupnya telah berubah. Kehidupan yang bergelimang maksiat dirinya menjadi lebih mencintai Allah dan menjalankan semua perintahNya serta menjauhi laranganNya. "Dan itu tidak mudah Mas Agus Syafii,"katanya. 'Saya harus lewati hidup dengan berbagai ujian. Itulah wujud cinta Allah kepada saya,' tutur Pak Syaiful di penghujung malam perjumpaan kami. Airmatanya benar-benar telah mengalir untuk Sang Khaliq, Allah yang Maha Besar.

---
'Ya Allah segala puji bagiMu. kepadaMulah pengaduanku dan Engkaulah tempat memohon pertolongan...' (HR Thabrany dari Abdullah ibnu Mas'ud).

Wassalam,
agussyafii
--
Tulisan ini dibuat dalam rangka kampanye program Kegiatan 'Salam Amalia' (SALMA) Hari Ahad, Tanggal 9 Mei 2010 Di Rumah Amalia. Silahkan kirimkan dukungan dan partisipasi anda di http://www.facebook.com/agussyafii2, atau http://agussyafii.blogspot.com/, http://www.twitter.com/agussyafii atau sms di 087 8777 12 431.

No comments:

Post a Comment