Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Saturday, 3 April 2010

Tuhan Itu Adil Nggak Sih ?

Dalam suatu kesempatan, Saya pernah ditanya oleh seseorang, Tuhan Itu Adil nggak sih? Saya kaget dengan pertanyaan tersebut, dan mencoba menunggu akankah ada alasan yang mendasari pertanyaan ini? Ternyata benar, Dia melontarkan pertanyaan ‘ekstrem’ tersebut karena melihat kondisi Indonesia yang boleh dibilang semua orang beragama, namun kehidupannya jauh tertinggal dibanding dengan negara-negara yang yang di-identikan dengan negara tidak beragama (tidak percaya dengan Tuhan). Misal negara Jepang, mereka adalah mayoritas penyembah Matahari dan tidak beragama namun kehidupannya begitu maju serta tata kehidupan masyarakatnya boleh dibilang lebih tertata dibanding Indonesia. Berarti Tuhan nggak adil dong? Karena….. Orang Indonesia yang begitu percaya dengan eksistensi-NYA namun ‘ditakdirkan’ kalah dibanding dengan Jepang yang tidak percaya akan keberadaan-NYA. Saya yang dangkal dalam hal ilmu keagamaan tentu akan bingung menjawab pertanyaan ini. Dalam kebingungan, teringatlah Saya akan…

1. Tuhan Itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Dalam Aqidah yang Saya anut, Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Karena sifat Maha Pengasih-NYA, ketentuan Tuhan itu bisa dinalar dengan logika dan sesuai hukum alam (Sunnatulloh). Yang Saya maksud adalah, dengan sifat Maha Pengasih yang dimiliki-NYA, setiap ciptaa-NYA akan mendapatkan apa yang ’semestinya’ menjadi haknya, tidak perduli apakah ciptaan-NYA itu membangkang atau patuh kepada-NYA. Jadi jawaban dari kenapa orang yang tidak Ber-TUHAN bisa saja lebih maju daripada orang yang ber-TUHAN adalah karena sifat Maha Pengasih-NYA. Contoh simplenya orang yang tidak percaya Tuhan dan tidak beragama namun bekerja keras, kemungkinan besar akan memperoleh hasil lebih dibanding orang yang percaya kepada Tuhan dan beragama namun malas untuk case pekerjaan yang sama. Inilah Keadilan Tuhan….Disamping Maha Pengasih, Sifat Tuhan adalah Maha Penyayang, dan untuk sifat yang ini, hanya orang-orang yang Percaya Kepada-NYA yang akan disayang oleh Tuhan, dan untuk yang satu ini adalah janji Tuhan di kehidupan setelah mati dan Saya rasa tidak perlu dibahas, karena ini tergantung dari apa yang kita yakini :)

2. Benarkah kita sudah beragama?

Jawaban yang ke-2 dari pertanyaan teman Saya tadi adalah benarkah kita sudah beragama dengan benar. Yang Saya maksud disini, apakah ibadah yang sudah kita lakukan sebagai implementasi kepercayaan kita kepada Tuhan, berefek ke kehidupan kita atau hanya sebatas menjalankan kewajiban seremonial belaka? Bukankah tidak jarang, kejujuran yang selalu ditanamkan oleh ajaran agama kita abaikan ? Kejujuran orang yang tidak percaya Tuhan (misal orang-orang Jepang) seringkali melebihi kejujuran kita yang nota bene meng-klaim sebagai manusia yang percaya Tuhan. Kalo kita tarik lebih luas ke kehidupan berbangsa, bukankah angka ketidakjujuran (yang tercermin dari penyelewengan amanah kekuasaan) negeri ini menempati urutan 10 besar dibanding negara-negara lain? Padahal, orang yang berlaku tidak jujur itu bisa jadi orang yang percaya kepada Tuhan dan orang yang sangat tekun dalam hal menjalankan kewajiban agama yang dia anut. Berdasarkan kenyataan ini, maka bisa kita simpulkan, perilaku orang (bangsa) yang kita anggap tidak ber-TUHAN dan tidak beragama sering kali lebih ‘religius’ dibanding kita yang percaya dengan Tuhan, contohnya dalam hal kejujuran. Dan seringkali, kewajiban agama sebagai implementasi kepercayaan kita kepada Tuhan hanya menjadi rutinitas seremionial belaka dan tidak terimplementasi dalam perilaku kehidupan kita sehari-hari, baik sebagai makhluk pribadi maupun sebagai makhluk sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jadi wajar dong, karena kita seringkali ‘pura-pura’ dalam hal percaya kepada Tuhan dan hanya sebatas ‘teori’, kehidupan kita pun jauh dari naungan Kasih Sayang Tuhan, dan kehidupan yang jauh dari naungan Kasih Sayang-NYA adalah kehidupan yang identik dengan kesengsaraan dan ketertinggalan…

Semoga ini adalah awal kita menjadi manusia-manusia yang kaffah dalam beragama, sehingga kita bisa menjadi lokomotif perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan masyarakat, amiin.

DARI:RENUNGAN KISAH INSPIRATIF

No comments:

Post a Comment