Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Loading...

Monday, 14 February 2011

Saat - Saat Resah Menanti Kedatangannya

Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya.

Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah.

Di saat kesendiriaan tak sanggup kita tanggungkan,
sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga,

ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih :

"Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir??”

Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggamanNya.

Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam,
dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih.

Kita mencoba merenung sejenak secara jujur,
apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepadaNya,
sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan dan bahkan mungkin kesombongan kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.

Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?

Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk semua orang?

Cobalah bertanya sejenak pada hati nurani, tanpa perlu menitikkan airmata duka.

Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai suami atau istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?

Cobalah untuk bertanya.
Cobalah! Cobalah! Cobalah! Dan tahan dulu kerisauan itu…….

Sudahkah kita bertanya pada hati nurani…….penantian itu, apakah sebabnya tak kunjung berakir??

KADANG IA ADALAH UJIAN

Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNya agar dengan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimanannya dan orang-orang yang benar-benar mencintaiNya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika ingin naik kelas. Sesungguhnya Allah tidak akan member ujian yang melebihi batas kesanggupan hambaNya.

“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)

Pertanyaannya, apakah yang kita hadapi sekarang merupakan ujian dari Allah??
Wallahu ‘Alam bisshowab. Yang bisa mengetahui adalah diri kita sendiri. Nurani kita yang dapat meraba. Karena itu, bertanyalah pada hati nuranimu.

Selebihnya, ada beberapa hal yang dapat kita catat. Jika sudah bersungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu tetapi belum datang-datang juga. Jika sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Kalau sudha berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh tetapi tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau sudah didesak oleh kerinduan sembari disaat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh merupakan ujian…..

Obat menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdoa dan sabar dalam memegangi kebenaran. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mendapat pertolongan Allah.

BARANGKALI KITALAH PENYEBABNYA

Betapa banyak orang yang menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Untuk seorang laki-laki, kadang-kadang karir menjadi alasan. Karir yang belum seberapa menjadikan niat dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang banyak agar bisa menyenangkan istrinya kelak. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan melurukan niat. Bagaimana mungkin mendapatkan pendamping yang bisa mencintai dengan sederhana jika menjadikan gemerlap kemapanan sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang menerima dengan sepenuh hati dan tidak ada cinta untuk wanita lain kecuali untuk istrinya sementara meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat pernikahan? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang terjaga jika mendekatinya dengan cara menggodanya?? Jika ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, pasti tak bisa didapatkan dengan : “Hai cowok……godain kita, dong”

Diluar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhoi tak jarang karena kita sendiri penyebabnya. Begitu banyak wanita yang menunda pernikahannya karena alasan kuliah atau alasan masih muda atau bahkan karena ingin mengejar karir. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya tapi…dengan alasan karir, masih muda, ingin mengejar cita, tidak mau terkekang, masih ingin kuliah ia menolak semua ajakan serius. Sampai semua keinginan telah tercapai, saat karir sudah mapan, kuliah sampai S3, cita sudah tergenggam; sampai ia tersadar bahwa usianya sudah tak terlalu muda lagi, sampai ia merasakan betapa sepinya hidup. Sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangatlah sulit, sesulit menaklukkan hatinya ketika ia masih muda dulu.

Ketika mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Menunda-nuda pernikahan tanpa alasan syar’i dan akhirnya benar-benar takut melangkah si saat hati sudah benar-benar gelisah tetapi tak kunjung ada yang mau serius.

Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjut. Bila di usia-usia dua puhan tahun menunda pernikahan karena takut dengan ekonomi yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan. Mereka menginginkan pendamping dengan criteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak criteria semakin sedikit pula yang masuk criteria. Ketika menetapkan criteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan. Sementara wanita memiliki ambang batas usia, masalah yang dihadapi bukan soal criteria tapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua.

Ya….ya….ya….kadang kita sendirilah penyebabnya. Kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu sendiri penyebabnya, beristigfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aminnnnn….

ADA YANG TAK BISA KITA INGKARI

Kadang, ada perasaan kepada sesorang. Seperti Mughits…(salah seorang sahabat Rasulullah) yang selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata mengawasi, hati mencari-cari dan telinga merasa indah ketika mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayam di dada. Bukan karena terlalu menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dari sebuah Bukunya, “Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta”

Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti- kadang sampai membuat badan kurus kering—sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Merasa yakin dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tidak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.

Kita bisa menengok sejarah betapa para salafush-shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Marilah kita membedakan antara menjaga pandangan dengan mengendalikan perasaan dan mengingkari perasaan.

Di atas semua itu, Allah akan senantiasa membuka pintuNya untuk kita. Ketuklah pertolonganNya dengan do’a. di saat merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,

“Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits” (Qs. Al Anbiya : 89)

Panjatkanlah doa saat merasa gelisah oleh rasa sepi mencekam. Panjatkan doa saat merasa membutuhkan hadirnya seorang pendamping, saat hati dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula doa saat hati merasa dekat denganNya, saat dalam perjalanan ketika Allah jadikan doa mustajabah dan saat mustajab lainnya.

Wallahu A’lam

Disadur dari Buku Saatnya Untuk Menikah Karya : Mohammad Fauzil Adhim

Sumber: Lembaga Sakinah FB

No comments:

Post a Comment