Kisah ini adalah sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang akhwat. Sengaja diceritakan dengan gaya penulisan orang pertama agar lebih mudah dipahami. mohon maaf jika tampak seperti fiksi, tapi cerita yang saya tuliskan sudah di approved oleh pelaku dalam kisah ini. Saya tunggu saran dan kritik teman-teman. insya Allah semoga bisa lebih baik ke depannya.
-Tiara Alkatiri- 20/01/2010 05:11am
http://www.facebook.com/l/b9103VYuftNfh-kLj26wwjPr_6g;tiara85.blogspot.com/2011/01/kisah-nyata-tentang-polygamy-silahkan.html
♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡
Aku, seorang akhwat periang (setidaknya, begitulah yang tampak dari luar), berusia 22 tahun. Hidupku penuh dengan kesedihan, sejak kecil sampai tumbuh besar jarang ku kecap bahagia. Tapi ku kelabui dunia dengan sosok ku yang ceria dan penuh canda. Seringkali teman-temanku bertanya, "ya ukhty, bagaimana caranya supaya tidak pernah sedih seperti anti?", hanya senyum yg bisa ku beri untuk menjawab pertanyaan yang sesungguhnya pun ingin ku tanyakan pada mereka yang hidupnya bahagia tanpa cela. Tapi sudahlah, tak kan ku ceritakan kisah sedih masa kecilku, ku hanya akan mengisahkan pencarianku akan bahagia.
2 tahun lalu, tepatnya saat usiaku 20 tahun, aku mulai berfikir untuk melepas kesendirian, ku utarakan niatku pada seorang akhwat senior yang memang sudah beberapa kali menawariku untuk "ta'aruf" dengan beberapa ikhwan yang semuanya ku tolak karena berbagai alasan. Sampai ku mengenalnya, lewat sebuah situs pertemanan. Dia, Ubaid (bukan nama sebenarnya), seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di timur tengah. Sosoknya yang begitu dewasa, santun, lagi berilmu. Segala yang ku cari ada padanya. Sayangnya, dia sudah beristri dan memiliki seorang anak. Ku tepis hasratku untuk mengenalnya lebih jauh.
Hari demi hari, entah kenapa aku semakin kagum padanya. Walau belum pernah bertatap muka, tapi diskusi kami lewat "chat", kedalaman ilmunya, keindahan susunan kata2nya, sungguh meninggalkan kesan yang begitu dalam di hatiku. Aku mulai jatuh hati padanya. Ubaid, pria beristri itu!
Ternyata rasa-ku tak bertepuk sebelah tangan. Hari selanjutnya ia menelponku, dan Ia menanyakan pandanganku tentang polygamy. Tentu aku menjawab bahwa polygamy adalah sunnah. Sunnah yang di benci kebanyakan orang. Oleh sebab itu, aku kagum pada mereka yang bisa menjalankannya. Pada akhwat2 tangguh yang mampu mengalahkan egoisme dan "hati"nya untuk berbagi orang yang paling di cintainya. Bukankah tak akan sempurna iman seseorang sampai Ia mampu memberikan pada saudaranya apa yang dia inginkan untuk dirinya sendiri? Blah blah blah, panjang lebar penjelasanku saat itu. Ubaid mendengarkan, lalu berkata : "ما شاء الله, seandainya semua istri berfikiran seperti anti". "Maukah anti menjadi permaisuri ke-2 di istana ku?"
Semburat jingga langit sore itu menjadi saksi bahagiaku mendengar permintaannya. Tapi syukurlah logika-ku masih berjalan. Ku katakan padanya "bagaimana mungkin antum meminta ana menjadi istri antum sedangkan bagaimana rupa ana-pun antum belum tau? Juga bagaimana nanti respon keluarga ana dan keluarga antum, mungkinkah mereka akan menerima?" Dia hanya diam. Lalu ku tanya "Apakah istri antum mengetahui, antum ingin berta'addud?" Dia menjawab "Tidak, tapi pemahamannya sudah baik, insya Allah istri ana akan menerima". Tersenyum aku mendengarnya. Lalu kami sudahi percakapan sore itu.
♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡
"Lebih baik kamu ga usah nikah selamanya daripada jadi istri ke-2! "Teriak ibuku, saat ku tanyakan pendapatnya tentang polygamy. Padahal aku belum menanyakan bagaimana pendapatnya jika akulah perempuan yang dipolygamy itu.
Ku utarakan keberatan ibuku kepada Ubaid. Ibuku memang sering melihat contoh polygamy orang-orang tidak berilmu yang hanya mengedepankan nafsu. Itu sebabnya beliau begitu menentangnya. Walau berpuluh kali ku katakan pada ibuku bahwa polygamy yang di dasari ilmu dan ketakwaan pada Allah tentu akan berbeda cerita.
Ubaid memintaku untuk terus mendakwahi ibuku sampai beliau mau menerima syariat ta'addud. Diapun melakukan hal yang sama pada istrinya. Meyakinkannya untuk rela berbagi denganku.
Pelan namun pasti, ibuku akhirnya luluh. Beliau tidak lagi mencaci pelaku polygamy, apalagi setelah ku terangkan tentang hukum menolak syari'at atau mengingkari ayat Al Quran. Begitulah ibuku, menentang di awal, kamudian luluh setelah hujjah di tegakan. الحمد لله . Semoga beliau selalu dalam lindungan dan rahmat-NYA.
Kusampaikan kabar gembira itu pada ubaid lewat sebuah pesan singkat. Dibalasnya dengan "alhamdulillaah, insya Allah liburan musim panas ini, ana akan menikahi anti". Senang hatiku tak terkira.
4 bulan masa penantian terasa begitu lamaaaa.. Tertatih menjaga hati.. Karena memang cara ta'aruf kami tidak sepenuhnya benar.. Kami sering berkomunikasi lewat chat, telpon, dan sms.. Astaghfirullaah..
♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡
Hari yang dinanti pun tiba. Ubaid pulang ke Indonesia. Sendiri. Tidak dengan anak istrinya. Pertemuan pertama, semua masih terasa sempurna. Begitupun saat dia meminangku pada kedua orangtuaku. Sosoknya yang "charming" membuat orangtuaku seolah lupa dengan statusnya yang sudah menikah dan memiliki seorang anak. Hingga diakhir pertemuan itu seorang kerabat mengingatkan. Karena ubaid meyakinkan bahwa pernikahan kami atas izin dan restu istri pertamanya, orang tuaku akhirnya menyerahkan segala keputusan kepadaku. Tentu saja aku menerimanya. Dengan hati berbunga!
Ikhwan nan lucu, cerdas, berilmu dan tampan itu, akan menjadi suamiku! Gadis mana yang tak bahagia dipinang pria sepertinya?
setelah tanggal disepakati, Ubaid pamit untuk pulang ke kampung halaman dan menjemput orangtuanya. Dia akan kembali lagi bulan depan karena banyak jadwal mengisi kajian di kampung halamannya selama liburan musim panas.
Pada tanggal yang disepakati, ubaid datang ke rumah. Tapi tidak dengan orang tuanya. Karena ternyata orang tuanya tidak merestui rencana pernikahan kami. Orangtua ku pun tidak akan merestui jika pernikahan ini tidak mendapat restu dari keluarga ubaid. Buyar sudah rencana kami untuk menikah. Karena ubaid tidak juga mendapat restu orang tuanya sampai masa liburannya berakhir. Dia kembali ke timur tengah untuk melanjutkan study, dan tentu saja untuk kembali pada istri dan anaknya. Cemburu kah aku? Ah.. Aku bahkan tak berhak sedikitpun untuk cemburu!
Aku hanya bisa menangis dan menangis. Ingin melupakannya saja, tapi rasa untuknya sudah terhujam sedemikian dalam. Astaghfirullaah. Ampuni aku ya Allaah.
♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡
Ubaid memintaku untuk menunggu. Dia berjanji akan menikahiku musim panas tahun depan. Aku yang dungu pun menunggu!! Setahun berlalu, beberapa proposal taaruf sudah ku tolak dengan alasan "sudah ada calon". Intensitas komunikasiku dengan ubaid sudah jauh berkurang. Selain karena kesibukannya menghadapi ujian, juga demi menjaga hubungan kami agar tidak melewati batas.
Hingga tiba masa yang ku nantikan. Liburan musim panas tahun berikutnya! Ubaid pulang ke indonesia dengan istri dan 2 anaknya! Ya, DUA anaknya. ternyata istrinya baru saja melahirkan anak kedua mereka.
Ku nantikan janjinya. Pekan pertama, kedua, dan ketiga. Saatnya Ubaid datang dan menikahiku! Tapi tak ada kabar darinya! Ku telpon seorang akhwat temanku yang juga adalah tetangganya. temanku mengabarkan, ubaid sedang menjaga istrinya di Rumah Sakit! Ternyata pekan lalu, istrinya mencoba bunuh diri dan mengancam akan membunuh bayinya setelah mengetahui rencana pernikahan kami! Allahul musta'an
Saat itu juga ku mantapkan niatku untuk mengakhiri semuanya. Walau sedikit terlambat! Ternyata Ubaid tidak pernah menyatakan niatnya menikahiku kepada istrinya, dia berencana melakukannya diam-diam. Dan dia juga tidak pernah memberitahuku bahwa istrinya mengidap depresi berat.
Singkat kata, aku menyiakan 1,5 tahun usiaku untuk menunggu seseorang yang tak layak kutunggu!
♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡ ♥ ♡
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah fulanah diatas?
Poligamy memang adalah sunnah yang sangat mulia. Apalagi sunnah yang 1 ini seringkali di anak tirikan bahkan oleh umat muslim sendiri. Jadi tak perlu lagi di ragukan atau di perdebatkan tentang hukum dan keutamaannya.
Justru yang patut kita soroti adalah adab "calon" pelaku poligamy.
Betapa sering kita jumpai kisah seperti diatas walau mungkin tidak sedramatis itu? Betapa banyak wanita-wanita yang harus "patah hati" karena merasa di permainkan oleh "calon pelaku poligamy"? Setelah menabung harap, ternyata si ikhwan hanya "coba-coba". Ternyata ia belum benar-benar siap dan belum "menyiapkan" keluarganya.
So, bapak-bapak, kl mau nikah lagi yang wise ya. Jangan grusa grusu cari akhwat dulu kalau belum benar2 siap dan sanggup bersikap "jantan" menghadapi semua rintangan :D.
Walaupun izin dan restu istri/keluarga tidak wajib ada, tapi setidaknya akan mengurangi banyak hal tidak menyenangkan di kemudian hari. Kalaupun mau lanjut tanpa izin dan restu keluarga, silahkan saja, asal mampu menanggung segala resiko dan akibatnya. Jangan malah lari ditengah jalan, sementara ada akhwat yang menangis karena terlalu awal menabung harap.
Untuk saudari-saudari ku tercinta diluar sana, jangan gampang "main hati".. Buang jauh2 rasa cinta dan sejenisnya sampai akad sudah terucap.. selain menghindarkan diri dari dosa juga menghindarkan diri dari sakit hati insya Allah.. :D
Sumber: Ummu Khanza (FB)
Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Showing posts with label Wanita. Show all posts
Showing posts with label Wanita. Show all posts
Friday, 18 February 2011
Monday, 8 November 2010
Ukhti..,Siapa Bilang Kamu Gak Cantik..?
CANTIK....
Bagi sebagian wanita, Beberapa orang mungkin mempunyai persepsi beda-beda tentang cantik.
Bahkan ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Itu benar.
Tapi saya tambahkan sebait puisi beriku sebagai Motivasi:
Menjadi wanita itu kehendak Tuhan
Menjadi Cantik itu relatif
Menjadi muslimah itu anugrah
Tetapi menjadi muslimah yg sholehah itu PILIHAN !
---------------------------------------------------------
Namun, seiring dengan maraknya produk-produk kecantikan di TV. Kita jadi berpikir kalau yang di sebut wanita cantik itu adalah yang seperti model di produk kecantikan tersebut. Berkulit putih, berhidung mancung, berbibir tipis, dan semua yang tampak pada si model.
Sehingga terciptalah image, bahwa wanita yang berkulit gelap, hidungnya mancung ke dalam dan berbibir tebal itu adalah wanita yang jelek.
Ukhti, jika sekarang kamu merasa kalau wajahmu gak cantik. Cobalah pandang kembali wajahmu ke cermin. Lihatlah betapa Allah telah menyempurnakan bentuk wajahmu. Bayangkanlah jika seandainya Allah menciptakan lubang hidungmu bukan menghadap ke bawah, tapi ke depan. Bisa ukhti bayangkan apa yang terjadi jika ada lalat dan nyamuk yang terbang nyasar ke dalam hidung mu. Atau jika Allah menciptakan lubang hidung mu menghadap ke atas, bisa dibayangkan jika musim hujan tiba, Ukh. Hidung kita akan menampung air hujan yang turun dari langit.
Atau bisa kamu bayangkan jika Allah menciptakan sepasang matamu ditaruh dijidat atau telingamu hanya sebelah. Wah, bentuknya pasti gak karuan rupa. Jangankan manusia yg melihatnya, hantupun juga akan takut melihatnya...hihi..
Sungguh Maha Suci Allah atas semua ciptaan-Nya. Karena Allah sendiri yang bersumpah dalam firman-Nya :
“ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ” (QS. At-Tin: 4)
Sungguh, mudah bagi Allah menciptakan seluruh wanita di dunia ini dengan wajah yang cantik semua. Tapi dengan begitu, kita jadi sama. Tidak ada yang menjadi pembedanya. Kita jadi sulit mengenal jika wajah kita sama semua, Ukh....
Allah ingin menciptakan keindahan di dunia ini, dengan banyak perbedaan di dalamnya....
Maka biarlah kita menjadi salah satu yang indah itu, Ukh. Dengan segala perbedaan di antara kita....
Aku jadi teringat dialog salah seorang sahabatku dengan mamanya beberapa tahun yang lalu.
“ Ma, hidung Aya kok pesek sih? Gak kayak temen-temen Aya yang lain. Aya jadi keliatan jelek. ”
Waktu itu mamanya ketawa, dan bilang :
“ Aya harus bersyukur karena di beri hidung sama Allah. Coba bayangin kalo Aya gak di kasih hidung sama Allah? Trus siapa yang bilang kalau hidung pesek itu jelek? Buktinya banyak kok yang hidungnya mancung tapi kelihatan jelek. Sedangkan Aya, walaupun pesek tapi cantik. Aya anak mama yang paling cantik.. ”
Ya jelas aja mama bilang kalo aku adalah anaknya yang paling cantik, karena adek-adeknya 'kan cowok semua.
Tapi waktu itu Aya serasa melambung ke langit, karena di puji oleh mama. Dan ketika Aya beranjak dewasa, Aya tau mamanya hanya ingin membuat Aya merasa selalu bersyukur atas pemberian-Nya.
Yaa Ukhti, Syukur. Itulah perasaan yang harus kita miliki. Bukan perasaan minder dan sedih.
Bersyukurlah, karena Allah menciptakan mu dengan sempurna. Bersyukurlah, karena banyak yang telah Dia beri pada mu, pada kita. Bahkan jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, tidak akan cukup waktu kita untuk menghitungnya.
Bersyukurlah Ukhti....Seperti yang Dia katakan padamu :
“ Jika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku kepadamu. Namun jika engkau mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amat pedih. ” (QS. Ibrahim : 7)
Aku pun jadi teringat dengan ucapan salah seorang temanku beberapa waktu lalu,
“aku ini jelek, pasti nggak ada ikhwan yang mau jadi suami ku.”
Tapi ternyata, 4 bulan sesudahnya dia menikah. Subhanallah..
Masyaallah Ukh....jika ada pikiran suudzon kepada Allah terlintas di dada dan otakmu tentang bentuk wajahmu ,maka Ingatlah kembali janji-Nya pada kita,
“ ....perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik..... ” (QS. An-Nur : 26)
Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, Ukh....
Di ayat itu, Allah tidak berfirman kalau perempuan-perempuan yang cantik untuk laki-laki yang baik.
Bukan, Ukh...bukan cantik....tapi baik !
Maka perbaikilah diri kita dengan akhlak Qur’ani, bukan malah mempercantik diri dengan make-up tebal seperti wanita-wanita jahiliyah di zaman Rasulullah dulu.
Percayalah, Ukh..! Laki-laki itu datang bukan karena kecantikan, kekayaan dan kepandaianmu.
Bukan, Ukhti...!! tapi karena Allah lah yang menggerakkan hatinya untuk mengkhitbahmu, untuk menyempurnakan setengah agama bersama-sama denganmu.
maka tunggulah janji Allah itu, karena janji Allah akan pasti datangnya.
Kalaupun tidak di dunia ini, insyaallah... Allah mempertemukanmu dengannya di alam yang abadi....alam yang tidak ada keburukan di dalamnya....hanya ada keindahan....
insyaallah....
Jadi, jangan merasa minder atau sedih jika ada yang mengatakan kalau wajahmu gak cantik, Ukhti
Karena Allah yang menjamin, bahwa Dia telah menciptakanmu dengan sebaik-baiknya bentuk.
Dan bila rasa sedih itu masih ada karena seisi dunia menganggapmu bukanlah wanita yang cantik, dengarkanlah kembali firman-Nya yang dapat menenangkan hatimu....
“ Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati. Sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman. ” (QS. Ali ‘Imran : 139)
Percayalah, Ukhti.. Beratnya timbangan amalanmu di Hari Akhir nanti tidak lah di tentukan dengan seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu cantik. Tapi seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu baik. Insyaallah, mereka akan menjadi saksi di hadapan Allah atas semua amal kebaikanmu....
Insyaallah....
Untuk yang terakhir, izinkan aku mengutip salah satu kalimat dari sebuah buku yang pernah ku baca:
“ Semua bunga itu cantik. Tidak ada bunga yang tidak cantik, walaupun mekar dengan cara yang berbeda-beda. ”
Subhanallah, kita semua cantik Ukhti !
Dan semoga, kita bukan hanya cantik, tapi juga baik.....
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....
Sumber: WSTMTD
Bagi sebagian wanita, Beberapa orang mungkin mempunyai persepsi beda-beda tentang cantik.
Bahkan ada yang bilang kalau cantik itu relatif. Itu benar.
Tapi saya tambahkan sebait puisi beriku sebagai Motivasi:
Menjadi wanita itu kehendak Tuhan
Menjadi Cantik itu relatif
Menjadi muslimah itu anugrah
Tetapi menjadi muslimah yg sholehah itu PILIHAN !
---------------------------------------------------------
Namun, seiring dengan maraknya produk-produk kecantikan di TV. Kita jadi berpikir kalau yang di sebut wanita cantik itu adalah yang seperti model di produk kecantikan tersebut. Berkulit putih, berhidung mancung, berbibir tipis, dan semua yang tampak pada si model.
Sehingga terciptalah image, bahwa wanita yang berkulit gelap, hidungnya mancung ke dalam dan berbibir tebal itu adalah wanita yang jelek.
Ukhti, jika sekarang kamu merasa kalau wajahmu gak cantik. Cobalah pandang kembali wajahmu ke cermin. Lihatlah betapa Allah telah menyempurnakan bentuk wajahmu. Bayangkanlah jika seandainya Allah menciptakan lubang hidungmu bukan menghadap ke bawah, tapi ke depan. Bisa ukhti bayangkan apa yang terjadi jika ada lalat dan nyamuk yang terbang nyasar ke dalam hidung mu. Atau jika Allah menciptakan lubang hidung mu menghadap ke atas, bisa dibayangkan jika musim hujan tiba, Ukh. Hidung kita akan menampung air hujan yang turun dari langit.
Atau bisa kamu bayangkan jika Allah menciptakan sepasang matamu ditaruh dijidat atau telingamu hanya sebelah. Wah, bentuknya pasti gak karuan rupa. Jangankan manusia yg melihatnya, hantupun juga akan takut melihatnya...hihi..
Sungguh Maha Suci Allah atas semua ciptaan-Nya. Karena Allah sendiri yang bersumpah dalam firman-Nya :
“ Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ” (QS. At-Tin: 4)
Sungguh, mudah bagi Allah menciptakan seluruh wanita di dunia ini dengan wajah yang cantik semua. Tapi dengan begitu, kita jadi sama. Tidak ada yang menjadi pembedanya. Kita jadi sulit mengenal jika wajah kita sama semua, Ukh....
Allah ingin menciptakan keindahan di dunia ini, dengan banyak perbedaan di dalamnya....
Maka biarlah kita menjadi salah satu yang indah itu, Ukh. Dengan segala perbedaan di antara kita....
Aku jadi teringat dialog salah seorang sahabatku dengan mamanya beberapa tahun yang lalu.
“ Ma, hidung Aya kok pesek sih? Gak kayak temen-temen Aya yang lain. Aya jadi keliatan jelek. ”
Waktu itu mamanya ketawa, dan bilang :
“ Aya harus bersyukur karena di beri hidung sama Allah. Coba bayangin kalo Aya gak di kasih hidung sama Allah? Trus siapa yang bilang kalau hidung pesek itu jelek? Buktinya banyak kok yang hidungnya mancung tapi kelihatan jelek. Sedangkan Aya, walaupun pesek tapi cantik. Aya anak mama yang paling cantik.. ”
Ya jelas aja mama bilang kalo aku adalah anaknya yang paling cantik, karena adek-adeknya 'kan cowok semua.
Tapi waktu itu Aya serasa melambung ke langit, karena di puji oleh mama. Dan ketika Aya beranjak dewasa, Aya tau mamanya hanya ingin membuat Aya merasa selalu bersyukur atas pemberian-Nya.
Yaa Ukhti, Syukur. Itulah perasaan yang harus kita miliki. Bukan perasaan minder dan sedih.
Bersyukurlah, karena Allah menciptakan mu dengan sempurna. Bersyukurlah, karena banyak yang telah Dia beri pada mu, pada kita. Bahkan jika kita mencoba menghitung nikmat-Nya, tidak akan cukup waktu kita untuk menghitungnya.
Bersyukurlah Ukhti....Seperti yang Dia katakan padamu :
“ Jika engkau bersyukur kepada-Ku, niscaya akan Ku tambah nikmat-Ku kepadamu. Namun jika engkau mengingkari nikmat-Ku, sesungguhnya azab-Ku amat pedih. ” (QS. Ibrahim : 7)
Aku pun jadi teringat dengan ucapan salah seorang temanku beberapa waktu lalu,
“aku ini jelek, pasti nggak ada ikhwan yang mau jadi suami ku.”
Tapi ternyata, 4 bulan sesudahnya dia menikah. Subhanallah..
Masyaallah Ukh....jika ada pikiran suudzon kepada Allah terlintas di dada dan otakmu tentang bentuk wajahmu ,maka Ingatlah kembali janji-Nya pada kita,
“ ....perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik..... ” (QS. An-Nur : 26)
Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya, Ukh....
Di ayat itu, Allah tidak berfirman kalau perempuan-perempuan yang cantik untuk laki-laki yang baik.
Bukan, Ukh...bukan cantik....tapi baik !
Maka perbaikilah diri kita dengan akhlak Qur’ani, bukan malah mempercantik diri dengan make-up tebal seperti wanita-wanita jahiliyah di zaman Rasulullah dulu.
Percayalah, Ukh..! Laki-laki itu datang bukan karena kecantikan, kekayaan dan kepandaianmu.
Bukan, Ukhti...!! tapi karena Allah lah yang menggerakkan hatinya untuk mengkhitbahmu, untuk menyempurnakan setengah agama bersama-sama denganmu.
maka tunggulah janji Allah itu, karena janji Allah akan pasti datangnya.
Kalaupun tidak di dunia ini, insyaallah... Allah mempertemukanmu dengannya di alam yang abadi....alam yang tidak ada keburukan di dalamnya....hanya ada keindahan....
insyaallah....
Jadi, jangan merasa minder atau sedih jika ada yang mengatakan kalau wajahmu gak cantik, Ukhti
Karena Allah yang menjamin, bahwa Dia telah menciptakanmu dengan sebaik-baiknya bentuk.
Dan bila rasa sedih itu masih ada karena seisi dunia menganggapmu bukanlah wanita yang cantik, dengarkanlah kembali firman-Nya yang dapat menenangkan hatimu....
“ Dan janganlah kamu merasa lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati. Sebab kamu paling tinggi derajatnya, jika kamu orang yang beriman. ” (QS. Ali ‘Imran : 139)
Percayalah, Ukhti.. Beratnya timbangan amalanmu di Hari Akhir nanti tidak lah di tentukan dengan seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu cantik. Tapi seberapa banyak orang di dunia ini yang menganggap kamu baik. Insyaallah, mereka akan menjadi saksi di hadapan Allah atas semua amal kebaikanmu....
Insyaallah....
Untuk yang terakhir, izinkan aku mengutip salah satu kalimat dari sebuah buku yang pernah ku baca:
“ Semua bunga itu cantik. Tidak ada bunga yang tidak cantik, walaupun mekar dengan cara yang berbeda-beda. ”
Subhanallah, kita semua cantik Ukhti !
Dan semoga, kita bukan hanya cantik, tapi juga baik.....
Sebuah renungan untukku, untukmu, untuk kita semua.
Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati yang terkunci....
Sumber: WSTMTD
Friday, 22 October 2010
Catatan seorang Suami
Istriku tercinta, aku tdk mnulis surat ini kecuali karena aku mencintaimu.Engkau telah rela menjadikanku sebagai suami dan aku telah menghibahkan hidupku utk mu.Aku mengatakan kepada diriku,inilah seorang ibu dan istri,inilah kasih sayang dan ketenangan,inilah hembusan angin Surga yg da d rumahku,maka aq mengajakmu dan kita sama2 menaiki perahu yg menuju ke pelabuhan bahagia di sisi Rabb Yang Maha Pengasih.
Tetapi, tiba2 aku mendapatkan badai di jalan yg kita lalui dan angin yg berhembus.Jika kita tidak berhati2,maka kita akan kehilangan kendali perahu dan kehilangan arah. Aku mengatakan kpda diriku sendiri tidak! Aq tdk akan meninggalkan perahu tenggelam,maka aq ambil pena N kertas, dan aq tulis surat teguran. Teguran dr seorang kekasih kpda kekasihnya..
Apakah engkau ingat wahai istriku tercinta??? betapa engkau d awal pernikahan kita merupakan simbol feminim seorang perempuan. kemudian aku tdk tahu,mengapa engkau berubah menjadi tidak enak di lihat?? engkau lupa bahwa salah 1 sifat perempuan yg shalihah adalah jika ia di lihat suaminya,maka suaminya akan merasakan senang.
apakah engkau ingat wahai kekasihku?? engkau sering menyebut2 kpdaku mengenai apa yg engkau lakukan dlm mengerjakan pekerjaan rumah,perlakuanmu dalam menjamu tamu2ku dan mlaksanakan kebutuhanku, sehingga engkau lupa akan firmanNya : Hai org2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dgn menyebut2nya N menyakiti perasaan si penerima ( QS.2/164)
Apakah engkau ingat kekasihku?? betapa qta berjanji ktika qta menikah utk saling membantu 1 sm lain dlm hal ketaatan N dakwah kepada Allah. qta sdh berkomitmen bahwa yg menjadi keinginan qta adalah umat islam dan mendidik anak2 qta berarti membangun agama islam. ttp saat ini keinginan yg menyibukan kita adalah berlomba2 untuk mengejar model terbaru,gaya rambut, mengecet rambut N mendapatkan uang dr mana saja.
Apakah engkau ingat,wahai kekasih??? betapa engkau sering marah dan mengeluh terhadap rejeki yg d berikan Allah kpada kita. Apakah aku mencari rejeki untuk memenuhi keinginanmu dari jalan yang di haramkan?? Engkau lupa pada seorang perempuan berkata kepada suaminya .Bertakwalah kepada Allah dalam menjalani hubungan kita,sesungguhnya kita bisa sabar atas lapar dan kita tidak bisa sabar atas api neraka.
Apakah engkau ingat ?? berapa kali aku terjaga dari tidur tengah mlm N melihatmu melihat tayangan film N musik d televisi?? tidakkah lbh baik engkau berdzikir kepada Allah N shalat malam 2 rakaat di saat manusia sdg tidur di gelapnya malam?? atau tidakkah sebaiknya engkau tidur sore hari sehingga tidak kehilangan shalat subuh???
Apakah engkau ingat??? ktika engkau keluar dari rumahku untuk mengunjungi keluarga mu tanpa seizinku N ketika engkau mengizinkan teman perempuanmu masuk ke rumahku, pdahal aku melarangmu untuk memasukkan temanmu ke rumah kita,apakah engkau lupa bahwa adalah hakku??? Apakah engkau ingat bahwa ktika keluarga ku mengunjungiku,begitu jg dgn temen2ku yg bertamu ke rumah, engkau memalingkan wajah N kakimu terasa berat serta muka masam. memang engkau tlh menyediakan makanan bwt mereka,tetapi smua cita rasa itu hilang ktika engkau menunjukkan muka masam.apakah engkau mengetahui pepatah mengatakan temuilah aku,, N jangan engkau berikan aq makan...
Kekasihku,,,,,,,,,,,,,, aku tetap mengatakan dari lubuk hatiku bahwa aku sungguh mencintaimu. aku berharap kita dapat meraih ridha Dzat Yang Maha Penyayang bersama2. mungkin aku pernah berbuat kesalahan dalam memberikan hak mu N mungkin aku tidak menyadari keteledoranku dalam menjalankan sebagian kewajiban N menjagamu,, apa yg aq tulis ini merupakan ajakan agar engkau menulis kepadaku apa yangg ada d benakmu. tujuan kita berdua satu.kita telah menaiki perahu yg sama N tujuan perahu tersebut satu. Tujuannya adalah mendampingi di dunia N akhirat dalam Surga Adn (InsyaAllah). jangan biarkan gelombang badai membawa kita k jalan yg qta tdk ketahui.
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/catatan-seorang-suami/483341711041
Tetapi, tiba2 aku mendapatkan badai di jalan yg kita lalui dan angin yg berhembus.Jika kita tidak berhati2,maka kita akan kehilangan kendali perahu dan kehilangan arah. Aku mengatakan kpda diriku sendiri tidak! Aq tdk akan meninggalkan perahu tenggelam,maka aq ambil pena N kertas, dan aq tulis surat teguran. Teguran dr seorang kekasih kpda kekasihnya..
Apakah engkau ingat wahai istriku tercinta??? betapa engkau d awal pernikahan kita merupakan simbol feminim seorang perempuan. kemudian aku tdk tahu,mengapa engkau berubah menjadi tidak enak di lihat?? engkau lupa bahwa salah 1 sifat perempuan yg shalihah adalah jika ia di lihat suaminya,maka suaminya akan merasakan senang.
apakah engkau ingat wahai kekasihku?? engkau sering menyebut2 kpdaku mengenai apa yg engkau lakukan dlm mengerjakan pekerjaan rumah,perlakuanmu dalam menjamu tamu2ku dan mlaksanakan kebutuhanku, sehingga engkau lupa akan firmanNya : Hai org2 yg beriman, janganlah kamu menghilangkan pahala sedekahmu dgn menyebut2nya N menyakiti perasaan si penerima ( QS.2/164)
Apakah engkau ingat kekasihku?? betapa qta berjanji ktika qta menikah utk saling membantu 1 sm lain dlm hal ketaatan N dakwah kepada Allah. qta sdh berkomitmen bahwa yg menjadi keinginan qta adalah umat islam dan mendidik anak2 qta berarti membangun agama islam. ttp saat ini keinginan yg menyibukan kita adalah berlomba2 untuk mengejar model terbaru,gaya rambut, mengecet rambut N mendapatkan uang dr mana saja.
Apakah engkau ingat,wahai kekasih??? betapa engkau sering marah dan mengeluh terhadap rejeki yg d berikan Allah kpada kita. Apakah aku mencari rejeki untuk memenuhi keinginanmu dari jalan yang di haramkan?? Engkau lupa pada seorang perempuan berkata kepada suaminya .Bertakwalah kepada Allah dalam menjalani hubungan kita,sesungguhnya kita bisa sabar atas lapar dan kita tidak bisa sabar atas api neraka.
Apakah engkau ingat ?? berapa kali aku terjaga dari tidur tengah mlm N melihatmu melihat tayangan film N musik d televisi?? tidakkah lbh baik engkau berdzikir kepada Allah N shalat malam 2 rakaat di saat manusia sdg tidur di gelapnya malam?? atau tidakkah sebaiknya engkau tidur sore hari sehingga tidak kehilangan shalat subuh???
Apakah engkau ingat??? ktika engkau keluar dari rumahku untuk mengunjungi keluarga mu tanpa seizinku N ketika engkau mengizinkan teman perempuanmu masuk ke rumahku, pdahal aku melarangmu untuk memasukkan temanmu ke rumah kita,apakah engkau lupa bahwa adalah hakku??? Apakah engkau ingat bahwa ktika keluarga ku mengunjungiku,begitu jg dgn temen2ku yg bertamu ke rumah, engkau memalingkan wajah N kakimu terasa berat serta muka masam. memang engkau tlh menyediakan makanan bwt mereka,tetapi smua cita rasa itu hilang ktika engkau menunjukkan muka masam.apakah engkau mengetahui pepatah mengatakan temuilah aku,, N jangan engkau berikan aq makan...
Kekasihku,,,,,,,,,,,,,, aku tetap mengatakan dari lubuk hatiku bahwa aku sungguh mencintaimu. aku berharap kita dapat meraih ridha Dzat Yang Maha Penyayang bersama2. mungkin aku pernah berbuat kesalahan dalam memberikan hak mu N mungkin aku tidak menyadari keteledoranku dalam menjalankan sebagian kewajiban N menjagamu,, apa yg aq tulis ini merupakan ajakan agar engkau menulis kepadaku apa yangg ada d benakmu. tujuan kita berdua satu.kita telah menaiki perahu yg sama N tujuan perahu tersebut satu. Tujuannya adalah mendampingi di dunia N akhirat dalam Surga Adn (InsyaAllah). jangan biarkan gelombang badai membawa kita k jalan yg qta tdk ketahui.
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/catatan-seorang-suami/483341711041
Monday, 18 October 2010
Hapuslah Air Matamu Wahai Wanita
“Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita dengan asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada dunia – si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya pada suami.”
Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika aku bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan tekad di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.
Menjadi seorang isteri…. Kepada insan yang disayangi….. Idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku.
Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.
“Assalamualaikum,” satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku gugup seketika.
“Waalaikumusalam,” jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan satu senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan dia melangkah menghampiriku.
“Ain buat apa dalam bilik ni? Puas abang cari Ain dekat luar tadi. Rupanya kat sini buah hati abang ni bersembunyi.”
Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali pertama aku mendengar ucapan ‘abang’ dari bibirnya.
Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai ‘buah hati’ nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku dongakkan wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.
Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa indahnya senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam dalam renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.
Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. “Ain baru je masuk. Nak mandi. Lagipun dah masuk Maghrib kan?” ujarku.
“Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat Maghrib sama-sama ye?” Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku.
Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan penuh kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.
Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut. Dengan perlahan aku menatap wajahnya.
“Abang…..” aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu dilepaskan. Erat terasa genggamannya.
“Ya sayang…” Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh perasaanku.
“Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah.” Tutur bicaraku ku susun satu persatu.
“Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi terima abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang lemah, banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya.”
“Insya Allah abang…. Ain sayangkan abang.”
“Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”
Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan suamiku.
Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku, ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku tidak dapat lari daripada rajuk dan tangis.
Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh mesra memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.
Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami? Sedangkan Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat1 di Gua Hira’.
Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!
Ahhh…. dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya. Nampaknya hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami.
“Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian, dia menjaga maruahnya dan hartamu.”
Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku lapis dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku. Ku hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.
Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran aku juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja. Segalanya perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.
Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang menangis kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.
Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.
Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar redha suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.
“Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.” Ungkapan itu tidak lekang dari bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang solehah.
Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan kehadiran 2 orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan kebahagiaanku.
Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan kepada kami.
Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang tidak terduga.
“Ain….. Abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain.”
“Apa dia abang?” tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh kasih. “Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah punya Ain sebagai isteri,” bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum. Namun benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?
“Abang ada masalah ke?” Aku cuba meneka.
“Tidak Ain. Sebenarnya……,” bicaranya terhenti lagi. Menambah kehairanan dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin diucapkannya.
“Ain…… Abang….. Abang nak minta izin Ain…… Untuk berkahwin lagi,” ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak. Seketika aku kehilangan kata.
“A….. Abang….. nak kahwin lagi?” aku seakan tidak percaya mendengar permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku sangka aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya telah dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.
Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang untuk insan selain aku.
Tanpa bicara, dia mengangguk. “Dengan siapa abang?” Aku bertanya. Aku tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata. Tapi…. hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.
“Faizah. Ain kenal dia, kan?”
Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di universiti. Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga aktif berjemaah.
Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur kata dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati pada Faizah.
“A…. Abang…… Apa salah Ain abang?” nada suaraku mula bergetar. Aku cuba menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.
“Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada Ain.”
“Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah…. bermakna….. sayang abang tidak sepenuh hati untuk Ain lagi.”
“Ain….. sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang. Abang rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak berurusan dengan Faizah…. Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.”
“Lagipun…. abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari satu.”
Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku. Aku mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur. Kasih sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan yang terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?
Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun, alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya. Bibir insan yang amat ku kasihi.
Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang wajah Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.
Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata semudah itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.
Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini pengorbananku untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!
Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan aku sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku sebagai seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan segalanya tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.
Oh Tuhan….. ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan permintaannya itu.
Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus dituruti. Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?
Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah Allah yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku berasa amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.
Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku. Kini, aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.
Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata, aku tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.
Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku setelah pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak matanya.
Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru. Adakah Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?
“Oh Tuhan… Berilah aku petunjukMu.” Dalam kegelapan malam, aku bangkit sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi2 kembali matlamat hidupku.
Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku? Untuk mengejar cintanya atau untuk mengejar redha Allah?
Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.
Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?
Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?
Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.
Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk merisik Faizah.
“Ain?…… Ain serius?”
“Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua atas kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau… Ain jujur terhadap abang. Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,” ujarku dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini. Dan inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat sembuhnya.
Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu itu, suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima undanganku.
Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.
“Izah…… akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak cakapkan,” setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.
“Apa dia, Kak Ain. Cakaplah,” lembut nada suaranya.
“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”
“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. Aku hanya mengangguk.
“Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”
"Sukakan Izah? Isyyy…. tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni?”
“Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” Aku terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati, aku tuturkan kalimah itu.
“Kak Ain!” jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. “Apa yang Kak Ain cakap ni? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain,” kata Faizah seakan tidak percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri kepada Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.
“Tidak Izah. Akak tak bergurau…… Izah sudi jadi saudara Kak Ain?” ujarku lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah memandang tepat ke wajahku.
“Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah yang…… Ustaz Harris….. mahu… melamar saya?”
Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah gadis yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan hasrat suamiku.
Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah termenung mendengar penjelasanku.
“Kak Ain….. saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya ini dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak. Saya tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca hati Kak Ain terluka,” ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.
“Izah… Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak dan mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan Kak Ain.”
“Kak… Maafkan Izah.” Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam elukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku terhambur jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya wanita yang memahami hati wanita yang lain.
“Jadi… Izah setuju?” Soalku apabila tangisan kami telah reda.
“Kak Ain…. Ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap. Izah tak mahu lukakan hati Kak Ain.”
“Soal Kak Ain…. Izah jangan risau, hati Kak Ain… Insya Allah tahulah akak mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang akak tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah.
Sepanjang Kak Ain mengenali Abang Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang baik, seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak gembira dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah.”
“Akak….. Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa dan Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu.”
“Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada ibu bapa Izah.”
Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah….. Inilah pengorbananku untuk membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’
Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai dan bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.
Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah, keluarga Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama. Akhirnya, majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.
“Ain….. Abang minta maaf sayang,” ujar suamiku pada suatu hari, beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.
“Kenapa?”
“Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain. Tapi…. Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi untuk abang. Abang terharu. Abang…. malu dengan Ain.”
“Abang…. Syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki suaminya. Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu yang Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap ini semua ujian Allah abang.”
“Ain…. Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini. Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah cinta abang selamanya. Abang cintakan Ain.”
“Tapi… Abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat. Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat laksanakan tanggungjawab abang sebaik mungkin.”
“Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya.” Dengan lembut dia mengucup dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak pernah luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku. Cukuplah aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya bersamaku nanti akan terbatas.
Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya. Aku tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku walau aku telah bersedia untuk menghadapinya.
Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama aku ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat gelora perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua bahagia menjadi pengantin baru.
Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku? Berendam air mata mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak. Merekalah teman bermainku.
Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku memelukknya seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti setahun. Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa dapat ditahan.
Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?” ujarnya lembut.
“Ain rindu abang. Rindu sangat.” Tangisku makin menjadi-jadi. Aku mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.
“Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada abang?” Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.
“Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain?” Aku menduga keikhlasan bicaranya.
“Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata, sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang rindu. Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya itu tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk abang.”
Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku tahu sayangnya masih utuh buatku.
Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya, kami berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.
Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga, sentiasa berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang Harris dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai kakak, juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan menjaga hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong suamiku. Giliran kami dihormatinya.
Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami bersama. Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu bersama, kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah mengabaikan aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah aku merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa bersama sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang, semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana kata suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan mensia-siakan kasih sayangku padanya.
Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila dia pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan menghabiskan masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku alami mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.
Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku mempunyai pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu mula-mula dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang ke rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru. Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan mama. Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi ‘ibu’ mereka. Kata mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang lain. Ahhh… anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka terima. Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya tentang Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.
Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan lain selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu mengingatkan belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana di hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah jua cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia biasa. Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita, tanda sayangkan suami.
Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana. Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya pada orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah cukup bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin nafasku terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai aku. Kerana sabda Rasulullah s.a.w
“Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga.” (Riwayat-Tirmizi, al-Hakim dan Ibnu Majah).
Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan emosi. Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan untuk menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan kasih sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.
Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana ia sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih untuk menerima ujian ini.
Sumber: WSTDTM (fb)
Bait-bait kata itu aku tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika aku bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Ku bulatkan tekad di hatiku. Aku ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan aku jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah.
Menjadi seorang isteri…. Kepada insan yang disayangi….. Idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran aku panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku.
Baru petang tadi, aku sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. Aku berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.
“Assalamualaikum,” satu suara menyapa pendengaranku membuatkan aku gugup seketika.
“Waalaikumusalam,” jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan satu senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan dia melangkah menghampiriku.
“Ain buat apa dalam bilik ni? Puas abang cari Ain dekat luar tadi. Rupanya kat sini buah hati abang ni bersembunyi.”
Aku tersenyum mendengar bicaranya. Terasa panas pipiku ini. Inilah kali pertama aku mendengar ucapan ‘abang’ dari bibirnya.
Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai ‘buah hati’ nya. Aku sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku dongakkan wajahku dan aku memberanikan diri menatap pandangan matanya.
Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa indahnya senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. Aku tenggelam dalam renungannya, seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini.
Seketika aku tersedar kembali ke alam nyata. “Ain baru je masuk. Nak mandi. Lagipun dah masuk Maghrib kan?” ujarku.
“Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat Maghrib sama-sama ye?” Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati kewanitaanku. Alangkah beruntungnya aku memilikimu, suamiku.
Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan penuh kasih, ku salami dan ku cium tangannya, lama.
Aku ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan aku dapat merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut. Dengan perlahan aku menatap wajahnya.
“Abang…..” aku terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu di hadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu dilepaskan. Erat terasa genggamannya.
“Ya sayang…” Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh perasaanku.
“Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah.” Tutur bicaraku ku susun satu persatu.
“Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi terima abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang lemah, banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya.”
“Insya Allah abang…. Ain sayangkan abang.”
“Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.”
Dengan telekung yang masih tersarung, aku tenggelam dalam pelukan suamiku.
Hari-hari yang mendatang aku lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku, ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita aku tidak dapat lari daripada rajuk dan tangis.
Setiap kali aku merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh mesra memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar ku sambut kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan.
Bukankah aku ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami? Sedangkan Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat1 di Gua Hira’.
Lalu, ku cium tangannya, ku pohon ampun dan maaf. Ku hadiahkan senyuman untuknya. Katanya senyumku bila aku lepas menangis, cantik!
Ahhh…. dia pandai mengambil hatiku. Aku semakin sayang padanya. Nampaknya hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah aku masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami.
“Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian, dia menjaga maruahnya dan hartamu.”
Aku teringat akan potongan hadis itu. Aku ingin merebut gelaran isteri solehah. Aku ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku lapis dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku. Ku hiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata-mata.
Makan minumnya ku jaga dengan sempurna. Biarpun aku jua sibuk lantaran aku juga berkerjaya. Pernah sekali, aku mengalirkan air mata lantaran aku terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja. Segalanya perlu aku uruskan. Aku terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki.
Namun, aku teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang menangis kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga.
Aku teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala keperluan suaminya. Hatiku menjadi sejuk sendiri.
Ya Allah, aku lakukan segala ini ikhlas keranaMu. Aku ingin mengejar redha suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah aku kekuatan, Ya Allah.
“Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.” Ungkapan itu tidak lekang dari bibirnya. Membuatkan aku terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang solehah.
Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan kehadiran 2 orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan kebahagiaanku.
Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan kepada kami.
Namun, pada suatu hari, aku telah dikejutkan dengan permintaannya yang tidak terduga.
“Ain….. Abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain.”
“Apa dia abang?” tanyaku kembali. Aku menatap wajahnya dengan penuh kasih. “Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah punya Ain sebagai isteri,” bicaranya terhenti setakat itu. Aku tersenyum. Namun benakku dihinggap persoalan. Takkan hanya itu?
“Abang ada masalah ke?” Aku cuba meneka.
“Tidak Ain. Sebenarnya……,” bicaranya terhenti lagi. Menambah kehairanan dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin diucapkannya.
“Ain…… Abang….. Abang nak minta izin Ain…… Untuk berkahwin lagi,” ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat aku tersentak. Seketika aku kehilangan kata.
“A….. Abang….. nak kahwin lagi?” aku seakan tidak percaya mendengar permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. Aku sangka aku telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. Aku sangka hatinya telah dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang.
Rupanya aku silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang untuk insan selain aku.
Tanpa bicara, dia mengangguk. “Dengan siapa abang?” Aku bertanya. Aku tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata. Tapi…. hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.
“Faizah. Ain kenal dia, kan?”
Ya, aku kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di universiti. Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan aku tahu Faizah juga aktif berjemaah.
Orangnya aku kenali baik budi pekerti, sopan tingkah laku, indah tutur kata dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati pada Faizah.
“A…. Abang…… Apa salah Ain abang?” nada suaraku mula bergetar. Aku cuba menahan air mataku daripada gugur. Aku menatap wajah Abang Harris sedalam-dalamnya. Aku cuba mencari masih adakah cintanya untukku.
“Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada Ain.”
“Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah…. bermakna….. sayang abang tidak sepenuh hati untuk Ain lagi.”
“Ain….. sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang. Abang rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak berurusan dengan Faizah…. Abang tak mahu wujud fitnah antara kami.”
“Lagipun…. abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari satu.”
Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku. Aku mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur. Kasih sayangku padanya tidak pernah pudar. Aku telah cuba memberikan layanan yang terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku?
Sesungguhnya aku tidak menolak hukum Tuhan. Aku tahu dia berhak. Namun, alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya. Bibir insan yang amat ku kasihi.
Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan, aku memandang wajah Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya.
Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata semudah itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu.
Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini pengorbananku untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!
Selama seminggu, aku menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan aku sengaja tetapi aku tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku sebagai seorang isteri aku laksanakan sebaik mungkin, tapi aku merasakan segalanya tawar. Aku melaksanakannya tidak sepenuh hati.
Oh Tuhan….. ampuni daku. Aku sayang suamiku, tapi aku terluka dengan permintaannya itu.
Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus dituruti. Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ?
Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang aku ragukan? Pasti ada hikmah Allah yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. Aku berasa amat serba-salah berada dalam keadaan demikian.
Aku rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku. Kini, aku hanya terhibur dengan keletah anak-anak.
Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata, aku tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. Aku benar-benar terluka.
Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku setelah pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang merenung wajahku walau aku selalu melarikan pandangan dari anak matanya.
Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. Aku keliru. Benar-benar keliru. Adakah Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?
“Oh Tuhan… Berilah aku petunjukMu.” Dalam kegelapan malam, aku bangkit sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. Aku mengkoreksi2 kembali matlamat hidupku.
Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku? Untuk mengejar cintanya atau untuk mengejar redha Allah?
Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atas ku untuk menguji keimananku, aku rela Ya Allah. Aku rela.
Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?
Biarlah… Bukan cinta manusia yang ku kejar. Aku hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah aku telah berazam, aku inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?
Dengan hati yang tercalar seguris luka, aku mengizinkan Abang Harris berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini, aku sendiri yang menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah.
Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila aku menawarkan diri untuk merisik Faizah.
“Ain?…… Ain serius?”
“Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua atas kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau… Ain jujur terhadap abang. Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,” ujarku dengan senyuman tawar. Aku masih perlu masa untuk mengubat luka ini. Dan inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat sembuhnya.
Aku mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu itu, suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima undanganku.
Sememangnya aku bukanlah asing baginya. Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.
“Izah…… akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak cakapkan,” setelah aku merasakan cukup kuat, aku memulakan bicara.
“Apa dia, Kak Ain. Cakaplah,” lembut nada suaranya.
“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”
“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. Aku hanya mengangguk.
“Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”
"Sukakan Izah? Isyyy…. tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni?”
“Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” Aku terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati, aku tuturkan kalimah itu.
“Kak Ain!” jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. “Apa yang Kak Ain cakap ni? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain,” kata Faizah seakan tidak percaya. Mungkin kerana aku sendiri yang menutur ayat itu. Isteri kepada Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.
“Tidak Izah. Akak tak bergurau…… Izah sudi jadi saudara Kak Ain?” ujarku lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap aku tahan. Faizah memandang tepat ke wajahku.
“Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah yang…… Ustaz Harris….. mahu… melamar saya?”
Dari nada suaranya, aku tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah gadis yang baik. Aku yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat permintaan seperti ini. Lantas, aku menceritakan kepada Faizah akan hasrat suamiku.
Demi untuk memudahkan urusan jemaah, untuk mengelakkan fitnah. Faizah termenung mendengar penjelasanku.
“Kak Ain….. saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya ini dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak. Saya tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca hati Kak Ain terluka,” ujarnya sebak. Matanya ku lihat berkaca-kaca.
“Izah… Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak dan mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji keimanan Kak Ain.”
“Kak… Maafkan Izah.” Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam elukannya. Aku juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku terhambur jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya wanita yang memahami hati wanita yang lain.
“Jadi… Izah setuju?” Soalku apabila tangisan kami telah reda.
“Kak Ain…. Ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap. Izah tak mahu lukakan hati Kak Ain.”
“Soal Kak Ain…. Izah jangan risau, hati Kak Ain… Insya Allah tahulah akak mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang akak tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah.
Sepanjang Kak Ain mengenali Abang Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang baik, seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak gembira dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah.”
“Akak….. Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa dan Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu.”
“Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada ibu bapa Izah.”
Pertemuan kami petang itu berakhir. Aku berasa puas kerana telah menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah….. Inilah pengorbananku untuk membahagiakan suamiku. Aku lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’
Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai dan bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang.
Namun, aku yakinkan mereka akan kemampuan suamiku. Alhamdulillah, keluarga Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama. Akhirnya, majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.
“Ain….. Abang minta maaf sayang,” ujar suamiku pada suatu hari, beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.
“Kenapa?”
“Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain. Tapi…. Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi untuk abang. Abang terharu. Abang…. malu dengan Ain.”
“Abang…. Syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki suaminya. Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu yang Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira. Ain anggap ini semua ujian Allah abang.”
“Ain…. Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini. Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah cinta abang selamanya. Abang cintakan Ain.”
“Tapi… Abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat. Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat laksanakan tanggungjawab abang sebaik mungkin.”
“Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya.” Dengan lembut dia mengucup dahiku. Masih hangat seperti dulu. Aku tahu kasihnya padaku tidak pernah luntur. Aku terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku. Cukuplah aku tahu, dia masih sayangkan aku seperti dulu walaupun masanya bersamaku nanti akan terbatas.
Pada hari pertama pernikahan mereka, aku menjadi lemah. Tidak bermaya. Aku tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku walau aku telah bersedia untuk menghadapinya.
Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama aku ditinggalkan sendirian menganyam sepi. Aku sungguh sedih. Maha hebat gelora perasaan yang ku alami. Aku tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua bahagia menjadi pengantin baru.
Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan aku? Berendam air mata mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. Aku punya anak-anak. Merekalah teman bermainku.
Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. Aku memelukknya seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti setahun. Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa dapat ditahan.
Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?” ujarnya lembut.
“Ain rindu abang. Rindu sangat.” Tangisku makin menjadi-jadi. Aku mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.
“Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada abang?” Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.
“Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain?” Aku menduga keikhlasan bicaranya.
“Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata, sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abang rindu. Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya itu tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk abang.”
Aku mengukir senyum penuh ikhlas. Aku yakin dengan kata-katanya. Aku tahu sayangnya masih utuh buatku.
Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. Aku melayannya seperti adik sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya, kami berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati.
Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga, sentiasa berlapang dada menerima teguranku. Katanya, aku lebih mengenali Abang Harris dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. Aku, sebagai kakak, juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan menjaga hati Abang Harris. Aku bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong suamiku. Giliran kami dihormatinya.
Walaupun kini masa untuk aku bersama dengan suamiku terbatas, tetapi aku dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami bersama. Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu bersama, kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah mengabaikan aku dan Faizah. Aku tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah aku merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa bersama sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang, semakin romantik. Aku rasa aku harus berterima kasih pada Faizah kerana kata suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan mensia-siakan kasih sayangku padanya.
Memang aku tidak dapat menafikan, adakalanya aku digigit rindu apabila dia pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu, aku ubati dengan zikrullah. Aku gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan menghabiskan masa bersama Kekasih Yang Agung. Aku habiskan masaku dengan mengalunkan ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku alami mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. Aku tenang beribadat kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.
Soal anak-anak, aku tidak mempunyai masalah kerana sememangnya aku mempunyai pembantu rumah setelah aku melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu mula-mula dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang ke rumah. Aku terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru. Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan mama. Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi ‘ibu’ mereka. Kata mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang lain. Ahhh… anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka terima. Aku tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya tentang Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.
Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan lain selain aku, memang aku rasa cemburu, rasa terluka. Aku cemburu mengingatkan belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain. Aku terluka kerana di hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah jua cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula aku, manusia biasa. Tapi….. ku kikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita, tanda sayangkan suami.
Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana. Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya pada orang lain. Selagi aku tahu, kasihnya masih utuh buatku, aku sudah cukup bahagia. Dan aku yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. Aku ingin nafasku terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai aku. Kerana sabda Rasulullah s.a.w
“Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga.” (Riwayat-Tirmizi, al-Hakim dan Ibnu Majah).
Sungguh bukan mudah aku melalui semuanya itu. Saban hari aku berperang dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan emosi. Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu. KepadaNyalah aku pohon kekuatan untuk menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah aku pinta kerahmatan dan kasih sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.
Namun, jika aku punya pilihan, pastinya aku tidak mahu bermadu. Kerana ia sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau bagaimanapun, aku amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya. Dan aku juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih untuk menerima ujian ini.
Sumber: WSTDTM (fb)
Syarat - Syarat Pakaian Muslimah
1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nuur: 31)
Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang muslimah untuk menutup seluruh badan kecuali yang dikecualikan oleh syari’at. Maka, sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.
Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syari’at penggunaan jilbab sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31,
“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”
Khumur merupakan jamak dari kata khimar yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh muslimah sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas, ia berkata, “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata,
“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” (HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)
Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.
Berikut ini contoh tampilan khimar dan jilbab. Khimar dikenakan menutupi dada. Setelah itu baru dikenakan jilbab di atasnya. (warna, bentuk dan panjang pakaian dalam gambar hanyalah sebagai contoh).
Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan bahwa pakaian wanita yang sesuai syari’at adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyari’atkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian, jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian muslimah. Camkanlah ini wahai saudariku!
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31, “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.
Namun, terdapat kesalahpahaman juga bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai,
“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.” (HR. Ibnu Abi Syaiban)
Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadits yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.
Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.
3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dua kelompok yang termasuk ahli neraka dan beliau belum pernah melihatnya,
“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim, Ahmad dan Imam Malik)
Ambil dan camkanlah hadits ini wahai saudariku, karena ancamannya demikian keras sehingga para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakekatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr, “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan, “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.
4. Harus Longgar, Tidak Ketat
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, beliau bersabda,
“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)
Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan, celana supaya fleksibel. Maka, tidakkah ia ketahui bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel) apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syari’at yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Renungkanlah wahai saudariku!
5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah,
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR. Tirmidzi)
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.” (HR. Muslim)
Syaikh Al Bani berkata, “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan) yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
Terdapat hadits-hadits yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadits yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.
Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.
Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
Tertutupnya kaum wanita.
Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syari’at ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekedar yang membedakan antara pria dan wanita namun tidak tertutup atau sekedar tertutup tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman,
Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syari’at sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)
Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan, “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
Banyak dari poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid [57]: 16)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas
“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar.”
Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. (Jilbab Muslimah)
Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” (HR. Tirmidzi)
Sumber: Harmoni Islam (FB)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya…” (QS. An Nuur: 31)
Dari syarat pertama ini, maka jelaslah bagi seorang muslimah untuk menutup seluruh badan kecuali yang dikecualikan oleh syari’at. Maka, sangat menyedihkan ketika seseorang memaksudkan dirinya memakai jilbab, tapi dapat kita lihat rambut yang keluar baik dari bagian depan ataupun belakang, lengan tangan yang terlihat sampai sehasta, atau leher dan telinganya terlihat jelas sehingga menampakkan perhiasan yang seharusnya ditutupi.
Catatan penting dalam poin ini adalah penggunaan khimar yang merupakan bagian dari syari’at penggunaan jilbab sebagaimana terdapat dalam ayat selanjutnya dalam surat An Nuur ayat 31,
“Dan hendaklah mereka menutupkan khimar ke dadanya.”
Khumur merupakan jamak dari kata khimar yang berarti sesuatu yang dipakai untuk menutupi bagian kepala. Sayangnya, pemakaian khimar ini sering dilalaikan oleh muslimah sehingga seseorang mencukupkan memakai jilbab saja atau hanya khimar saja. Padahal masing-masing wajib dikenakan, sebagaimana terdapat dalam hadits dari Sa’id bin Jubair mengenai ayat dalam surat Al Ahzab di atas, ia berkata, “Yakni agar mereka melabuhkan jilbabnya. Sedangkan yang namanya jilbab adalah qina’ (kudung) di atas khimar. Seorang muslimah tidak halal untuk terlihat oleh laki-laki asing kecuali dia harus mengenakan qina’ di atas khimarnya yang dapat menutupi bagian kepala dan lehernya.” Hal ini juga terdapat dalam atsar dari ‘Aisyah radhiallahu’anha, ia berkata,
“Seorang wanita dalam mengerjakan shalat harus mengenakan tiga pakaian: baju, jilbab dan khimar.” (HR. Ibnu Sa’ad, isnadnya shahih berdasarkan syarat Muslim)
Namun terdapat keringanan bagi wanita yang telah menopause yang tidak ingin kawin sehingga mereka diperbolehkan untuk melepaskan jilbabnya, sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 60:
“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana.”
Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada. Lalu bagaimana bisa seseorang dikatakan memakai jilbab jika hanya sampai sebatas leher? Semoga ini menjadi renungan bagi saudariku sekalian.
Berikut ini contoh tampilan khimar dan jilbab. Khimar dikenakan menutupi dada. Setelah itu baru dikenakan jilbab di atasnya. (warna, bentuk dan panjang pakaian dalam gambar hanyalah sebagai contoh).
Catatan penting lainnya dari poin ini adalah terdapat anggapan bahwa pakaian wanita yang sesuai syari’at adalah yang berupa jubah terusan (longdress), sehingga ada sebagian muslimah yang memaksakan diri untuk menyambung-nyambung baju dan rok agar dikatakan memakai pakaian longdress. Lajnah Daimah pernah ditanya tentang hal ini, yaitu apakah jilbab harus “terusan” atau “potongan” (ada pakaian atasan dan rok bawahan). Maka jawaban Lajnah Daimah, “Hijab baik terusan ataukah potongan, keduanya tidak mengapa asalkan bisa menutupi sebagaimana yang diperintahkan dan disyari’atkan.” Fatwa ini ditandatangani oleh Abdul Aziz bin Baz sebagai ketua dan Abdullah bin Ghadayan sebagai anggota (Fatawa Lajnah Daimah 17/293, no fatwa: 7791, Maktabah Syamilah). Dengan demikian, jelaslah tentang tidak benarnya anggapan sebagian muslimah yang mempersyaratkan jubah terusan (longdress) bagi pakaian muslimah. Camkanlah ini wahai saudariku!
2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31, “…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…” Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang. Banyak kesalahan yang timbul karena poin ini terlewatkan, sehingga seseorang merasa sah-sah saja menggunakan jilbab dan pakaian indah dengan warna-warni yang lembut dengan motif bunga yang cantik, dihiasi dengan benang-benang emas dan perak atau meletakkan berbagai pernak-pernik perhiasan pada jilbab mereka.
Namun, terdapat kesalahpahaman juga bahwa jika seseorang tidak mengenakan jilbab berwarna hitam maka berarti jilbabnya berfungsi sebagai perhiasan. Hal ini berdasarkan beberapa atsar tentang perbuatan para sahabat wanita di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengenakan pakaian yang berwarna selain hitam. Salah satunya adalah atsar dari Ibrahim An Nakhai,
“Bahwa ia bersama Alqomah dan Al Aswad pernah mengunjungi para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia melihat mereka mengenakan mantel-mantel berwarna merah.” (HR. Ibnu Abi Syaiban)
Catatan: Masalah warna ini berlaku bagi wanita. Adapun bagi pria, terdapat hadits yang menerangkan pelarangan penggunaan pakaian berwarna merah.
Dengan demikian, tolak ukur “Pakaian perhiasan ataukah bukan adalah berdasarkan ‘urf (kebiasaan).” (keterangan dari Syaikh Ali Al Halabi). Sehingga suatu warna atau motif menarik perhatian pada suatu masyarakat maka itu terlarang dan hal ini boleh jadi tidak berlaku pada masyarakat lain.
3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dua kelompok yang termasuk ahli neraka dan beliau belum pernah melihatnya,
“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.” (HR. Muslim, Ahmad dan Imam Malik)
Ambil dan camkanlah hadits ini wahai saudariku, karena ancamannya demikian keras sehingga para ulama memasukkannya dalam dosa-dosa besar. Betapa banyak wanita muslimah yang seakan-akan menutupi badannya, namun pada hakekatnya telanjang. Maka dalam pemilihan bahan pakaian yang akan kita kenakan juga harus diperhatikan karena sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr, “Bahan yang tipis dapat menggambarkan bentuk tubuh dan tidak dapat menyembunyikannya.” Syaikh Al Bani juga menegaskan, “Yang tipis (transparan) itu lebih parah dari yang menggambarkan lekuk tubuh (tapi tebal).” Bahkan kita ketahui, bahan yang tipis terkadang lebih mudah dalam mengikuti lekuk tubuh sehingga sekalipun tidak transparan, bentuk tubuh seorang wanita menjadi mudah terlihat.
4. Harus Longgar, Tidak Ketat
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya, beliau bersabda,
“Perintahkanlah ia agar mengenakan baju dalam di balik Qubthiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tubuh.” (HR. Ad Dhiya’ Al Maqdisi, Ahmad dan Baihaqi dengan sanad hasan)
Maka tidak tepat jika seseorang mencukupkan dengan memakai rok, namun ternyata tetap memperlihatkan pinggul, kaki atau betisnya. Maka jika pakaian tersebut telah cukup tebal dan longgar namun tetap memperlihatkan bentuk tubuh, maka dianjurkan bagi seorang muslimah untuk memakai lapisan dalam. Namun janganlah mencukupkan dengan kaos kaki panjang, karena ini tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuh (terutama untuk para saudariku yang sering tersingkap roknya ketika menaiki motor sehingga terlihatlah bentuk betisnya). Poin ini juga menjadi jawaban bagi seseorang yang membolehkan penggunaan celana dengan alasan longgar dan pinggulnya ditutupi oleh baju yang panjang. Celana boleh digunakan untuk menjadi lapisan namun bukan inti dari pakaian yang kita kenakan. Karena bentuk tubuh tetap terlihat dan hal itu menyerupai pakaian kaum laki-laki. (lihat poin 6). Jika ada yang beralasan, celana supaya fleksibel. Maka, tidakkah ia ketahui bahwa rok bahkan lebih fleksibel lagi jika memang sesuai persyaratan (jangan dibayangkan rok yang ketat/span). Kalaupun rok tidak fleksibel (walaupun pada asalnya fleksibel) apakah kita menganggap logika kita (yang mengatakan celana lebih fleksibel) lebih benar daripada syari’at yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Renungkanlah wahai saudariku!
5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah,
“Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.” (HR. Tirmidzi)
“Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.” (HR. Muslim)
Syaikh Al Bani berkata, “Wewangian itu selain ada yang digunakan pada badan, ada pula yang digunakan pada pakaian.” Syaikh juga mengingatkan tentang penggunaan bakhur (wewangian yang dihasilkan dari pengasapan) yang ini lebih banyak digunakan untuk pakaian bahkan lebih khusus untuk pakaian. Maka hendaknya kita lebih berhati-hati lagi dalam menggunakan segala jenis bahan yang dapat menimbulkan wewangian pada pakaian yang kita kenakan keluar, semisal produk-produk pelicin pakaian yang disemprotkan untuk menghaluskan dan mewangikan pakaian (bahkan pada kenyataannya, bau wangi produk-produk tersebut sangat menyengat dan mudah tercium ketika terbawa angin). Lain halnya dengan produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci.
6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki
Terdapat hadits-hadits yang menunjukkan larangan seorang wanita menyerupai laki-laki atau sebaliknya (tidak terbatas pada pakaian saja). Salah satu hadits yang melarang penyerupaan dalam masalah pakaian adalah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, ia berkata
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria.” (HR. Abu Dawud)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.” Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita. Bahkan yang berdampak parah jika sampai membawa kepada maksiat lain, yaitu terbawa sifat kelaki-lakian, sehingga pada akhirnya menyukai sesama wanita. Wal’iyyadzubillah.
Terdapat dua landasan yang dapat digunakan sebagai acuan bagi kita untuk menghindari penggunaan pakaian yang menyerupai laki-laki.
Pakaian tersebut membedakan antara pria dan wanita.
Tertutupnya kaum wanita.
Sehingga dalam penggunaan pakaian yang sesuai syari’at ketika menghadapi yang bukan mahromnya adalah tidak sekedar yang membedakan antara pria dan wanita namun tidak tertutup atau sekedar tertutup tapi tidak membedakan dengan pakaian pria. Keduanya saling berkaitan. Lebih jelas lagi adalah perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitab Al Kawakib yang dikutip oleh syaikh Al Bani, yang penulis ringkas menjadi poin-poin sebagai berikut untuk memudahkan pemahaman,
Prinsipnya bukan semata-mata apa yang dipilih, disukai dan biasa dipakai kaum pria dan kaum wanita.
Juga bukan pakaian tertentu yang dinyatakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau yang dikenakan oleh kaum pria dan wanita di masa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Jenis pakaian yang digunakan sebagai penutup juga tidak ditentukan (sehingga jika seseorang memakai celana panjang dan kaos kemudian menutup pakaian dan jilbab di atasnya yang sesuai perintah syari’at sehingga bentuk tubuhnya tidak tampak, maka yang seperti ini tidak mengapa -pen)
Kesimpulannya, yang membedakan antara jenis pakaian pria dan wanita kembali kepada apa yang sesuai dengan apa yang diperintahkan bagi pria dan apa yang diperintahkan bagi kaum wanita. Namun yang perlu diingat, pelarangan ini adalah dalam hal-hal yang tidak sesuai fitrahnya. Syaikh Muhammad bin Abu Jumrah rahimahullah sebagaimana dikutip oleh Syaikh Al Bani mengatakan, “Yang dilarang adalah masalah pakaian, gerak-gerik dan lainnya, bukan penyerupaan dalam perkara kebaikan.”
7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
Banyak dari poin-poin yang telah disebutkan sebelumnya menjadi terasa berat untuk dilaksanakan oleh seorang wanita karena telah terpengaruh dengan pakaian wanita-wanita kafir. Betapa kita ketahui, mereka (orang kafir) suka menampakkan bentuk dan lekuk tubuh, memakai pakaian yang transparan, tidak peduli dengan penyerupaan pakaian wanita dengan pria. Bahkan terkadang mereka mendesain pakaian untuk wanita maskulin! Hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan dan meminta pertolongan untuk dijauhkan dari kecintaan kepada orang-orang kafir. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadid [57]: 16)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Firman Allah, ‘Janganlah mereka seperti…’ merupakan larangan mutlak dari tindakan menyerupai mereka….” (Al Iqtidha, dikutip oleh Syaikh Al Bani)
8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas
“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar.”
Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya. (Jilbab Muslimah)
Namun bukan berarti di sini seseorang tidak boleh memakai pakaian yang baik, atau bernilai mahal. Karena pengharaman di sini sebagaimana dikatakan oleh Imam Asy Syaukani adalah berkaitan dengan keinginan meraih popularitas. Jadi, yang dipakai sebagai patokan adalah tujuan memakainya. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala suka jika hambanya menampakkan kenikmatan yang telah Allah berikan padanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah menyukai jika melihat bekas kenikmatan yang diberikan oleh-Nya ada pada seorang hamba.” (HR. Tirmidzi)
Sumber: Harmoni Islam (FB)
Wahai istriku, betapa kemuliaan akhlakmu telah memukau diriku.
Sungguh apa yang telah terlintas dalam hatiku, mungkin permintaan maaf tak akan mampu menebus kesalahanku, namun demi melihat senyuman itu mengembang aku terlempar ke dalam lubang rasa bersalah yang terdalam, wahai istriku, betapa kemuliaan akhlakmu telah memukau diriku.
Entah mengapa saat itu aku tidak mampu menguasai amarahku, mungkin ada sebagian kata-kataku yang mampu menyakiti hatimu, kadang aku khilaf mencela dirimu, kadang ada saat aku ingin menyakiti dirimu. Namun diam-mu membuat diriku pun terdiam, tanpa sepatah kata pun engkau duduk di hadapanku dan menunduk, sesekali engkau menatapku dengan pancaran kasih sayang yang tulus. Wahai istriku, apa yang telah menguasai hatiku?
Dengan sabar engkau menerima setiap kata-kata yang aku ucapkan, tidak tersirat sedikitpun kebencian di wajahmu terhadap diriku, betapa gelas-gelas kaca ini begitu mudah rapuh, retak dan pecah jika engkau tak bersabar merawatnya. Mungkin tak pernah aku menyadari engkau telah merawatnya dengan hati yang tabah dan penuh kesabaran, namun aku melihat betapa saat itu aku merasa kecil dan tak berarti dihadapanmu…
Diam-mu telah meredakan amarahku, lidah ini tercekat melihat kesabaranmu untuk duduk, diam dan menerima segala apa yang aku ucapkan, semoga Allah Ta’ala memberkahimu wahai istriku, betapa diam itu telah menjadi sebuah pedang yang tajam menusuk tepat pada keangkuhanku, menghancurkan amarah ini dan membuat dirimu semakin berarti bagiku.
Setelah aku terdiam engkau pegang tanganku dengan kelembutan sifat wanitamu, dengan teduk engkau menatap mataku dan suaramu menenangkan hatiku, “Wahai suamiku, maafkanlah aku atas segala kesalahanku, aku hanyalah wanita lemah yang kadang salah dan selalu memohon ampunan-Nya, maka maafkanlah aku karena Allah Ta’ala, sebagaimana engkau mencintai aku karena Allah Ta’ala.”
“Wahai suamiku, api amarah itu berasal dari syaithan, maka padamkanlah dengan wudhu, engkau lebih mengetahuinya daripada aku, maka duduklah sejenak dan perkenankan aku menyiapkan air wudhu untukmu..!”
A’udzu billahi minasy syaithaanir rajiim, apa yang telah aku lakukan kepadamu wahai istriku, mengapa aku terlena dengan bujukan syaithan? Bukankah engkau telah berusaha sebaik mungkin mentaati aku dengan segala kemampuanmu, air mataku menetes demi melihat kebodohanku, tak mampu lagi aku mengangkat wajahku, betapa malunya diri ini di hadapanmu.
Dan saat kau datang membawa air wudhu itu, senyummu mengembang seindah pertama kali aku melihatmu, tidak tampak sedikitpun kau ingin membalas celaan yang tadi aku lontarkan, mungkin engkau menahannya dengan begitu baik dalam dirimu, lalu kenapa aku tidak mampu melakukannya sebaik dirimu?
Engkau letakkan air wudhu itu dihadapanku, dan kau genggam erat tanganku yang gemetar, dengan kelembutan kasihmu kau usap air mata ini. Wahai istriku, betapa kelembutan dirimu dan kemuliaan akhlakmu membenamkan amarah ini. Wahai istriku maafkanlah kekhilafan yang telah aku lakukan dengan dholim kepadamu.
Adzan telah berkumandang, sirna sudah segala amarah dalam diri, seakan tak pernah terjadi apapun engkau siapkan keperluanku untuk sholat, wahai istriku… betapa aku beruntung telah memilikimu.
Oleh : Andi Abu Najwa
Sumber: Bengkel Akhlak Sunnah
Entah mengapa saat itu aku tidak mampu menguasai amarahku, mungkin ada sebagian kata-kataku yang mampu menyakiti hatimu, kadang aku khilaf mencela dirimu, kadang ada saat aku ingin menyakiti dirimu. Namun diam-mu membuat diriku pun terdiam, tanpa sepatah kata pun engkau duduk di hadapanku dan menunduk, sesekali engkau menatapku dengan pancaran kasih sayang yang tulus. Wahai istriku, apa yang telah menguasai hatiku?
Dengan sabar engkau menerima setiap kata-kata yang aku ucapkan, tidak tersirat sedikitpun kebencian di wajahmu terhadap diriku, betapa gelas-gelas kaca ini begitu mudah rapuh, retak dan pecah jika engkau tak bersabar merawatnya. Mungkin tak pernah aku menyadari engkau telah merawatnya dengan hati yang tabah dan penuh kesabaran, namun aku melihat betapa saat itu aku merasa kecil dan tak berarti dihadapanmu…
Diam-mu telah meredakan amarahku, lidah ini tercekat melihat kesabaranmu untuk duduk, diam dan menerima segala apa yang aku ucapkan, semoga Allah Ta’ala memberkahimu wahai istriku, betapa diam itu telah menjadi sebuah pedang yang tajam menusuk tepat pada keangkuhanku, menghancurkan amarah ini dan membuat dirimu semakin berarti bagiku.
Setelah aku terdiam engkau pegang tanganku dengan kelembutan sifat wanitamu, dengan teduk engkau menatap mataku dan suaramu menenangkan hatiku, “Wahai suamiku, maafkanlah aku atas segala kesalahanku, aku hanyalah wanita lemah yang kadang salah dan selalu memohon ampunan-Nya, maka maafkanlah aku karena Allah Ta’ala, sebagaimana engkau mencintai aku karena Allah Ta’ala.”
“Wahai suamiku, api amarah itu berasal dari syaithan, maka padamkanlah dengan wudhu, engkau lebih mengetahuinya daripada aku, maka duduklah sejenak dan perkenankan aku menyiapkan air wudhu untukmu..!”
A’udzu billahi minasy syaithaanir rajiim, apa yang telah aku lakukan kepadamu wahai istriku, mengapa aku terlena dengan bujukan syaithan? Bukankah engkau telah berusaha sebaik mungkin mentaati aku dengan segala kemampuanmu, air mataku menetes demi melihat kebodohanku, tak mampu lagi aku mengangkat wajahku, betapa malunya diri ini di hadapanmu.
Dan saat kau datang membawa air wudhu itu, senyummu mengembang seindah pertama kali aku melihatmu, tidak tampak sedikitpun kau ingin membalas celaan yang tadi aku lontarkan, mungkin engkau menahannya dengan begitu baik dalam dirimu, lalu kenapa aku tidak mampu melakukannya sebaik dirimu?
Engkau letakkan air wudhu itu dihadapanku, dan kau genggam erat tanganku yang gemetar, dengan kelembutan kasihmu kau usap air mata ini. Wahai istriku, betapa kelembutan dirimu dan kemuliaan akhlakmu membenamkan amarah ini. Wahai istriku maafkanlah kekhilafan yang telah aku lakukan dengan dholim kepadamu.
Adzan telah berkumandang, sirna sudah segala amarah dalam diri, seakan tak pernah terjadi apapun engkau siapkan keperluanku untuk sholat, wahai istriku… betapa aku beruntung telah memilikimu.
Oleh : Andi Abu Najwa
Sumber: Bengkel Akhlak Sunnah
Ciri - Ciri Wanita Sholehah
Tidak banyak syarat yang dikenakan oleh Islam untuk seseorang wanita untuk menerima gelar solehah, dan seterusnya menerima pahala syurga yang penuh kenikmatan dari Allah s.w.t.
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
—————————————
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:
” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya:
” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir.”
3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.
Sumber: Lembaga Sakinah (FB)
Mereka hanya perlu memenuhi 2 syarat saja yaitu:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
2. Taat kepada suami
Perincian dari dua syarat di atas adalah sebagai berikut:
1. Taat kepada Allah dan RasulNya
Bagaimana yang dikatakan taat kepada Allah s.w.t. ?
- Mencintai Allah s.w.t. dan Rasulullah s.a.w. melebihi dari segala-galanya.
- Wajib menutup aurat
- Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliah
- Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada bersamanya
- Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan taqwa
- Berbuat baik kepada ibu & bapa
- Sentiasa bersedekah baik dalam keadaan susah ataupun senang
- Tidak berkhalwat dengan lelaki dewasa
- Bersikap baik terhadap tetangga
2. Taat kepada suami
- Memelihara kewajipan terhadap suami
- Sentiasa menyenangkan suami
- Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah.
- Tidak cemberut di hadapan suami.
- Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
- Tidak keluar tanpa izin suami.
- Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
- Tidak membantah suaminya dalam kebenaran
- Tidak menerima tamu yang dibenci suaminya.
- Sentiasa memelihara diri, kebersihan fisik & kecantikannya serta rumah tangga
FAKTOR YANG MERENDAHKAN MARTABAT WANITA
—————————————
Sebenarnya puncak rendahnya martabat wanita adalah datang dari faktor dalam. Bukanlah faktor luar atau yang berbentuk material sebagaimana yang digembar-gemborkan oleh para pejuang hak-hak palsu wanita.
Faktor-faktor tersebut ialah:
1) Lupa mengingat Allah
Kerana terlalu sibuk dengan tugas dan kegiatan luar atau memelihara anak-anak, maka tidak heran jika banyak wanita yang tidak menyadari bahwa dirinya telah lalai dari mengingat Allah. Dan saat kelalaian ini pada hakikatnya merupakan saat yang paling berbahaya bagi diri mereka, di mana syetan akan mengarahkan hawa nafsu agar memainkan peranannya.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-Jathiah, ayat 23: artinya:
” Maka sudahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.”
Sabda Rasulullah s.a.w.: artinya:
“Tidak sempurna iman seseorang dari kamu, sehingga dia merasa cenderung kepada apa yang telah aku sampaikan.” (Riwayat Tarmizi)
Mengingati Allah s.w.t. bukan saja dengan berzikir, tetapi termasuklah menghadiri majlis-majlis ilmu.
2) Mudah tertipu dengan keindahan dunia
Keindahan dunia dan kemewahannya memang banyak menjebak wanita ke perangkapnya. Bukan itu saja, malahan syetan dengan mudah memperalatkannya untuk menarik kaum lelaki agar sama-sama bergelimang dengan dosa dan noda.
Tidak sedikit yang sanggup durhaka kepada Allah s.w.t. hanya kerana kenikmatan dunia yang terlalu sedikit.
Firman Allah s.w.t. di dalam surah al-An’am: artinya:
” Dan tidaklah penghidupan dunia ini melainkan permainan dan kelalaian dan sesungguhnya negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa, oleh karena itu tidakkah kamu berfikir.”
3) Mudah terpedaya dengan syahwat
4) Lemah iman
5) Bersikap suka menunjuk-nunjuk.
Ad-dunya mata’ , khoirul mata’ al mar’atus sholich
Dunia adalah perhiasan, perhiasan dunia yang baik adalah Wanita sholihah.
Sumber: Lembaga Sakinah (FB)
Apakah Pertimbangan Fisik Dan Mai'syah (pendapatan) Dalam Memilih Pasangan Hidup Diperbolehkan & Sya
Assalamualaikum
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.
Jawaban singkat : Ya, pertimbangan fisik dan ma`isyah sangat boleh dijadikan bahan pertimbangan untuk memilih calon pasangan.
Lengkapnya adalah bahwa ketika Rasulullah SAW menyebutkan tentang bagaimana memilih calon pasangan hidup, beliau menyebutkan 4 kriteria. Dan beliau menekankan kriteria agama. Namun bukan berarti yang boleh dijadikan pertimbangan hanya agamanya saja. Sebab pengertian hadits ini hanya memberikan mana yang lebih diprioritaskan, bukan menggugurkan yang lainnya.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Di sisi lain, ketika ada seorang shahabat ingin menikah dan melapor kepada Rasulullah SAW, beliau SAW bertanya apakah sudah melihat fisiknya. Shahabat tadi menyatakan belum, maka Rasulullah SAW memerintahkannya untuk melihat dulu penampilan fisiknya. Kalau urusan fisik tidak perlu dijadikan bahan pertimbangan, tentu beliau SAW tidak akan memerintahkan untuk melihatnya.
Dari Abu Hurairah ra berkata, `Saya pernah di tempat kediaman Nabi, kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki datang memberitahu bahwa dia akan kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, maka Nabi bertanya: Sudahkah kau lihat dia? Ia mengatakan: Belum! Kemudian Nabi mengatakan: Pergilah dan lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang Anshar itu ada sesuatu.` (Riwayat Muslim)
Dalam hadits lainnya juga ada salah seorang shahabat yang mengalami kasus yang mirip.
Dari Mughirah bin Syu`bah bahwa dia pernah meminang seorang perempuan. Kemudian Nabi s.a.w. mengatakan kepadanya:`Lihatlah dia! Karena melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua.` Kemudian Mughirah pergi kepada dua orang tua perempuan tersebut, dan memberitahukan apa yang diomongkan di atas, tetapi tampaknya kedua orang tuanya itu tidak suka. Si perempuan tersebut mendengar dari dalam biliknya, kemudian ia mengatakan: ”Kalau Rasulullah menyuruh kamu supaya melihat aku, maka lihatlah”. Kata Mughirah: Saya lantas melihatnya dan kemudian mengawininya. (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi dan ad-Darimi).
Dalil dalil di atas telah dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa penampilan fisik boleh menjadi bahan pertimbangan dalam memilih calon pasangan. Tentunya hal yang sama juga berlaku bagi para wanita ketika harus mempertimbangkan apakah menerima lamaran seorang laki-laki atau tidak.
Dan tentunya pertimbangan harta yang dimiliki pun boleh dijadikan bahan juga. Sebagaimana boleh mempertimbangkan segi nasab atau keturunannya. Kesemuanya boleh dijadikan bahan untuk pertimbangan, namun jangan sampai melupakan pertimbangan dari segi agama.
Sebaliknya, jangan juga hanya pertimbangan agamanya saja, sementara fisiknya tidak berbentuk alias hancur, hartanya tidak ada bahkan penuh dengan hutang dan keturunannya mungkin juga bukan dari kelurga baik-baik. Tentu setiap orang berhak memilih dan bebas menentukan pilihannya.
Selain pertimbangan 4 faktor di atas, pada dasrnya agama Islam memberikan hak kepada seseorang untuk memilih pasangan hidup berdasarkan subjektifitas selera setiap individu maupun keluarga dan lingkungannya.
Intinya, meski pun 4 hal dari sisi yang pertama tadi sudah dianggap cukup, bukan berarti dari sisi yang lainnya bisa langsung sesuai. Sebab masalah selera subjektif adalah hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena terkait dengan hak setiap individu dan hubungannya dengan orang lain.
Sebagai contoh adalah kecenderungan dasar yang ada pada tiap masyarakat untuk menikah dengan orang yang sama sukunya atau sama rasnya. Kecenderungan ini tidak ada kaitannya dengan masalah fanatisme darah dan warna kulit, melainkan sudah menjadi bagian dari kecenderungan umum di sepanjang zaman. Dan Islam bisa menerima kecenderungan ini meski tidak juga menghidup-hidupkannya.
Sebab bila sebuah rumah tangga didirikan dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda, meski masih seagama, tetap saja akan timbul hal-hal yang secara watak dan karakter sulit dihilangkan.
Contoh lainnya adalah selera seseorang untuk mendapatkan pasangan yang punya karakter dan sifat tertentu. Ini merupakan keinginan yang wajar dan patut dihargai. Misalnya seorang wanita menginginkan punya suami yang lembut atau yang macho, merupakan bagian dari selera seseorang. Atau sebaliknya, seorang laki-laki menginginkan punya istri yang bertipe wanita pekerja atau yang tipe ibu rumah tangga. Ini juga merupakan selera masing-masing orang yang menjadi haknya dalam memilih.
Islam memberikan hak ini sepenuhnya dan dalam batas yang wajar dan manusiawi memang merupakan sebuah realitas yang tidak terhindarkan.
Wallahu a`lam bish shawab
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.
Sumber:
www.syariahonline.com
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa ba’d.
Jawaban singkat : Ya, pertimbangan fisik dan ma`isyah sangat boleh dijadikan bahan pertimbangan untuk memilih calon pasangan.
Lengkapnya adalah bahwa ketika Rasulullah SAW menyebutkan tentang bagaimana memilih calon pasangan hidup, beliau menyebutkan 4 kriteria. Dan beliau menekankan kriteria agama. Namun bukan berarti yang boleh dijadikan pertimbangan hanya agamanya saja. Sebab pengertian hadits ini hanya memberikan mana yang lebih diprioritaskan, bukan menggugurkan yang lainnya.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Di sisi lain, ketika ada seorang shahabat ingin menikah dan melapor kepada Rasulullah SAW, beliau SAW bertanya apakah sudah melihat fisiknya. Shahabat tadi menyatakan belum, maka Rasulullah SAW memerintahkannya untuk melihat dulu penampilan fisiknya. Kalau urusan fisik tidak perlu dijadikan bahan pertimbangan, tentu beliau SAW tidak akan memerintahkan untuk melihatnya.
Dari Abu Hurairah ra berkata, `Saya pernah di tempat kediaman Nabi, kemudian tiba-tiba ada seorang laki-laki datang memberitahu bahwa dia akan kawin dengan seorang perempuan dari Anshar, maka Nabi bertanya: Sudahkah kau lihat dia? Ia mengatakan: Belum! Kemudian Nabi mengatakan: Pergilah dan lihatlah dia, karena dalam mata orang-orang Anshar itu ada sesuatu.` (Riwayat Muslim)
Dalam hadits lainnya juga ada salah seorang shahabat yang mengalami kasus yang mirip.
Dari Mughirah bin Syu`bah bahwa dia pernah meminang seorang perempuan. Kemudian Nabi s.a.w. mengatakan kepadanya:`Lihatlah dia! Karena melihat itu lebih dapat menjamin untuk mengekalkan kamu berdua.` Kemudian Mughirah pergi kepada dua orang tua perempuan tersebut, dan memberitahukan apa yang diomongkan di atas, tetapi tampaknya kedua orang tuanya itu tidak suka. Si perempuan tersebut mendengar dari dalam biliknya, kemudian ia mengatakan: ”Kalau Rasulullah menyuruh kamu supaya melihat aku, maka lihatlah”. Kata Mughirah: Saya lantas melihatnya dan kemudian mengawininya. (Riwayat Ahmad, Ibnu Majah, Tarmizi dan ad-Darimi).
Dalil dalil di atas telah dengan jelas menunjukkan kepada kita bahwa penampilan fisik boleh menjadi bahan pertimbangan dalam memilih calon pasangan. Tentunya hal yang sama juga berlaku bagi para wanita ketika harus mempertimbangkan apakah menerima lamaran seorang laki-laki atau tidak.
Dan tentunya pertimbangan harta yang dimiliki pun boleh dijadikan bahan juga. Sebagaimana boleh mempertimbangkan segi nasab atau keturunannya. Kesemuanya boleh dijadikan bahan untuk pertimbangan, namun jangan sampai melupakan pertimbangan dari segi agama.
Sebaliknya, jangan juga hanya pertimbangan agamanya saja, sementara fisiknya tidak berbentuk alias hancur, hartanya tidak ada bahkan penuh dengan hutang dan keturunannya mungkin juga bukan dari kelurga baik-baik. Tentu setiap orang berhak memilih dan bebas menentukan pilihannya.
Selain pertimbangan 4 faktor di atas, pada dasrnya agama Islam memberikan hak kepada seseorang untuk memilih pasangan hidup berdasarkan subjektifitas selera setiap individu maupun keluarga dan lingkungannya.
Intinya, meski pun 4 hal dari sisi yang pertama tadi sudah dianggap cukup, bukan berarti dari sisi yang lainnya bisa langsung sesuai. Sebab masalah selera subjektif adalah hal yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Karena terkait dengan hak setiap individu dan hubungannya dengan orang lain.
Sebagai contoh adalah kecenderungan dasar yang ada pada tiap masyarakat untuk menikah dengan orang yang sama sukunya atau sama rasnya. Kecenderungan ini tidak ada kaitannya dengan masalah fanatisme darah dan warna kulit, melainkan sudah menjadi bagian dari kecenderungan umum di sepanjang zaman. Dan Islam bisa menerima kecenderungan ini meski tidak juga menghidup-hidupkannya.
Sebab bila sebuah rumah tangga didirikan dari dua orang yang berangkat dari latar belakang budaya yang berbeda, meski masih seagama, tetap saja akan timbul hal-hal yang secara watak dan karakter sulit dihilangkan.
Contoh lainnya adalah selera seseorang untuk mendapatkan pasangan yang punya karakter dan sifat tertentu. Ini merupakan keinginan yang wajar dan patut dihargai. Misalnya seorang wanita menginginkan punya suami yang lembut atau yang macho, merupakan bagian dari selera seseorang. Atau sebaliknya, seorang laki-laki menginginkan punya istri yang bertipe wanita pekerja atau yang tipe ibu rumah tangga. Ini juga merupakan selera masing-masing orang yang menjadi haknya dalam memilih.
Islam memberikan hak ini sepenuhnya dan dalam batas yang wajar dan manusiawi memang merupakan sebuah realitas yang tidak terhindarkan.
Wallahu a`lam bish shawab
Wassalamu `alaikum Wr. Wb.
Sumber:
www.syariahonline.com
Seindah Cinta Wanita Perindu Surga
Malam baru mulai memasuki sepertiga bagiannya yang terakhir, seorang lelaki termenung di dalam khalwatnya kepada Allah Ta’ala, sebagian hati dan pikirannya berkecamuk, ucapan tahmid tak henti-hentinya terlafadzkan oleh lisannya, tak terasa ada butiran air yang hangat menetes dari matanya, sungguh ini air mata bahagia.
Dipalingkannya wajahnya kesamping dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, sungguh wajah yang damai dan paras terindah yang pernah ia temui di dalam hidupnya, diperhatikannya dengan seksama dan pandangan kagum terhadap istrinya, ada suatu hal yang seakan menyesakkan dadanya, suatu ungkapan haru yang teramat dalam, dan berusaha ia untuk semampu mungkin menahan linangan air mata bahagia itu, namun lelaki itu tak mampu dan ia memutuskan untuk mengambil air wudhu demi menghadap ke hadapan Rabb-nya.
Di penghujung malam dalam dzikirnya terngiang kembali ucapan tulus dari istrinya yang tak pernah ia duga sebelumnya, “Abi,.... kalau abi ingin menikah lagi ana ridho demi mendapatkan ridho Allah Ta’ala!. Subhanallah, tidak pernah terlintas sama sekali dalam hati lelaki itu untuk ingin menikah lagi, juga tak pernah ia meminta istrinya untuk mau dimadu, selama ini pernikahannya yang telah berjalan delapan tahun dipenuhi keindahan dan barokah dari Allah Ta’ala.
Bagaimana tidak, ia telah menikahi wanita yang sholihah, cantik, terpelihara nasabnya dan telah memberikannya keturunan yang sholihah serta menghiasi pandangan matanya setiap hari di rumahnya. Tak pernah ia merasakan ada yang kurang dalam rumah tangganya walaupun mereka tidak memiliki harta yang melimpah, namun keluarganya adalah salah satu harta terbesar yang ia miliki, cintanya selalu bersemi setiap ia memandang istrinya, karena itulah dia tak ingin membagi keindahan itu, karena ia tidak yakin akan mampu berbuat adil. Di dalam hatinya tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang akan mampu menandingi cintanya kepada istrinya...
Hingga datangnya saat itu... kemarin hatinya begitu tersentuh dan terharu demi mendengar ucapan tulus istrinya, “Selama ini engkau telah memberikan kasing sayang yang banyak kepada kami, setiap apa yang aku inginkan, maka engkau berusaha untuk memenuhinya dengan segala kemampuan yang engkau miliki. Betapa aku telah merasakan keindahan yang besar dengan menjadi istrimu, lalu kenapa aku harus berbuat egois untuk menguasai semuanya itu?”
“Allah Ta’ala Maha Pengasih, maka aku ridho karena Allah Ta’ala jika engkau ingin menikah lagi sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam firman-Nya.”
Selama ini pernikahannya memang merupakan keindahan yang berkelanjutan, sehingga ia merasa bahwa rumahnya adalah surganya, ia hanya terdiam demi mendengar perkataan istrinya, lidahnya tercekat dan hatinya bergejolak, ia sangat terharu mengetahui sebuah keikhlasan yang jujur dan tulus tanpa ada paksaan siapapun, didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala, keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dalam rumah tangganya, dan juga didasari kesadaran yang penuh akan kodratnya sebagai wanita yang sholihah.
Terlintas kembali ucapan istrinya, “Walaupun kelak aku hanya menjadi satu-satunya istri dalam hidupmu, namun jika aku tidak menerima hukum Allah Ta’ala bahwa engkau memiliki hak untuk menikahi wanita selain aku, maka aku telah mengingkari Al-Qur’an dan durhaka kepada Allah Ta’ala, wahai suamiku, seorang laki-laki diciptakan memiliki kelebihan dibanding wanita, maka aku merelakan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kami kaum wanita, semoga Allah Ta’ala ridho kepadaku.”
“Maka keputusannya ada di tanganmu, bukannya aku tidak mencintaimu, sungguh engkau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui, engkau selalu memenuhi kebutuhanku semampumu, jika engkau marah, hal itu semata karena kesalahanku, tidaklah engkau pernah berbuat dholim kepada kami sitri dan anakmu, jika engkau telah berbuat adil kepada kami, maka kenapa aku harus menahan apa yang menjadi hak yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadamu? Jika aku menahannya maka aku telah menolak keputusan Allah dan tidak adil kepadamu!”
“Wahai suamiku, wanita mana yang tidak memiliki kecemburuan dalam hatinya, wanita mana yang tidak cemburu kepada lelaki sebaik engkau, namun aku ridho kepada apa yang Allah Ta’ala ridho kepadanya, aku akan mengatur kecemburuanku agar berbuah menjadi kebaikan di hadapan Allah Ta’ala dan kemudian menjadi kebaikan di matamu, wahai suamiku, aku tidak memaksamu untuk menikah lagi, namun ketahuilah bahwa aku telah ridho jika engkau ingin menikah lagi.”
Lelaki itu kembali tercenung... tetesan air mata telah mulai mengering, hatinya berbunga-bunga demi mengetahui istrinya telah memahami semua nasihat yang ia berikan selama ini, buah dari ketekunan dalam menuntut ilmu dan meluangkan waktu untuk mendatangi ta’lim di mana diajarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama sekali tak pernah ia menyinggung hal itu sebelumnya, namun ucapan istrinya telah menyadarkan hatinya, bahwa ia harus semakin rajin untuk belajar ilmu agama sebaik-baiknya, melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin selalu didampingi oleh istrinya hingga ke akhirnya, hingga ke jannah kelak insya Allah.
Terucap pula oleh lisan istrinya ,”Wahai suamiku, sungguh aku sangat merindukan jannah Allah Ta’ala, dan aku ingin meraihnya bersamamu, aku pun ingin selalu bisa mendampingimu selama yang aku mampu, hingga ke jannah kelak insya Allah, aku selalu ingin berada dalam lembutnya labuhan kasih sayangmu. Wahai suamiku, engkau adalah pemimpinku, maka bimbinglah diri ini untuk selalu berada di atas jalan yang benar yang diridhoi Allah Ta’ala dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terpelesetnya dirimu adalah bencana bagiku, maka aku selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala agar memberikan kita jalan yang lurus!”
Lisan lelaki itu tercekat, ia berusaha untuk menahan keharuan air matanya dan agar selalu tampak tegar di hadapan istri tercintanya itu, sungguh Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang demikian besar dengan menjadikan ia suami dari seorang wanita yang bertaqwa, kembali ia memandang wajah anak-anaknya, hatinya berguman, “Wahai anakku! Sungguh kalian beruntung tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang sholihah!”
Malam itu menjelang waktu subuh! Lelaki itu bangkit untuk menunaikan kewajiban sholat subuh, di dalam hatinya ada tekad untuk menjadi suami dan kepala rumah tangga yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya, semoga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya, sungguh mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan ini tidaklah mudah, sebelum berangkat menuju masjid dibelainya kepala istrinya, dalam hati ia berkata,”Wahai istriku, engkau telah memiliki memahami agama ini semakin baik, aku tidak akan mau kalah darimu, aku akan semakin rajin untuk menuntut ilmu agama lebih baik lagi. Engkau telah ridho memberikan aku kesempatan untuk menikah lagi, namun ketahuilah, bahwa aku merasa belum mampu untuk menduakan cintamu, entah kelak! Namun kini satu hal yang aku tahu pasti, bahwa aku telah begitu beruntung memilikimu sebagai istriku. Maafkan aku istriku, aku belum mampu mewujudkan keinginanmu!”
Adzan subuh telah memanggil, saatnya bagi kaum muslimin yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir untuk menunaikan sholat subuh dengan berjamaah, wahai para suami, sibakkanlah selimut tebalmu dan bangunlah dari buaian mimpi menuju perintah Rabb-mu, wahai para istri, sertai dan jagalah suami kalian agar senantiasa selalu berada dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala. Aku berdo’a agar Allah Ta’ala mempertemukan aku, istriku, anak-anakku beserta keluargaku bersama kalian para kaum muslimin kelak di jannah-Nya, Amiin.
Oleh Andi Abu Najwa
Dipalingkannya wajahnya kesamping dan menatap wajah istrinya yang sedang terlelap tidur, sungguh wajah yang damai dan paras terindah yang pernah ia temui di dalam hidupnya, diperhatikannya dengan seksama dan pandangan kagum terhadap istrinya, ada suatu hal yang seakan menyesakkan dadanya, suatu ungkapan haru yang teramat dalam, dan berusaha ia untuk semampu mungkin menahan linangan air mata bahagia itu, namun lelaki itu tak mampu dan ia memutuskan untuk mengambil air wudhu demi menghadap ke hadapan Rabb-nya.
Di penghujung malam dalam dzikirnya terngiang kembali ucapan tulus dari istrinya yang tak pernah ia duga sebelumnya, “Abi,.... kalau abi ingin menikah lagi ana ridho demi mendapatkan ridho Allah Ta’ala!. Subhanallah, tidak pernah terlintas sama sekali dalam hati lelaki itu untuk ingin menikah lagi, juga tak pernah ia meminta istrinya untuk mau dimadu, selama ini pernikahannya yang telah berjalan delapan tahun dipenuhi keindahan dan barokah dari Allah Ta’ala.
Bagaimana tidak, ia telah menikahi wanita yang sholihah, cantik, terpelihara nasabnya dan telah memberikannya keturunan yang sholihah serta menghiasi pandangan matanya setiap hari di rumahnya. Tak pernah ia merasakan ada yang kurang dalam rumah tangganya walaupun mereka tidak memiliki harta yang melimpah, namun keluarganya adalah salah satu harta terbesar yang ia miliki, cintanya selalu bersemi setiap ia memandang istrinya, karena itulah dia tak ingin membagi keindahan itu, karena ia tidak yakin akan mampu berbuat adil. Di dalam hatinya tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang akan mampu menandingi cintanya kepada istrinya...
Hingga datangnya saat itu... kemarin hatinya begitu tersentuh dan terharu demi mendengar ucapan tulus istrinya, “Selama ini engkau telah memberikan kasing sayang yang banyak kepada kami, setiap apa yang aku inginkan, maka engkau berusaha untuk memenuhinya dengan segala kemampuan yang engkau miliki. Betapa aku telah merasakan keindahan yang besar dengan menjadi istrimu, lalu kenapa aku harus berbuat egois untuk menguasai semuanya itu?”
“Allah Ta’ala Maha Pengasih, maka aku ridho karena Allah Ta’ala jika engkau ingin menikah lagi sesuai dengan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan dalam firman-Nya.”
Selama ini pernikahannya memang merupakan keindahan yang berkelanjutan, sehingga ia merasa bahwa rumahnya adalah surganya, ia hanya terdiam demi mendengar perkataan istrinya, lidahnya tercekat dan hatinya bergejolak, ia sangat terharu mengetahui sebuah keikhlasan yang jujur dan tulus tanpa ada paksaan siapapun, didasari kecintaan kepada Allah Ta’ala, keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dalam rumah tangganya, dan juga didasari kesadaran yang penuh akan kodratnya sebagai wanita yang sholihah.
Terlintas kembali ucapan istrinya, “Walaupun kelak aku hanya menjadi satu-satunya istri dalam hidupmu, namun jika aku tidak menerima hukum Allah Ta’ala bahwa engkau memiliki hak untuk menikahi wanita selain aku, maka aku telah mengingkari Al-Qur’an dan durhaka kepada Allah Ta’ala, wahai suamiku, seorang laki-laki diciptakan memiliki kelebihan dibanding wanita, maka aku merelakan apa yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk kami kaum wanita, semoga Allah Ta’ala ridho kepadaku.”
“Maka keputusannya ada di tanganmu, bukannya aku tidak mencintaimu, sungguh engkau adalah lelaki terbaik yang pernah aku temui, engkau selalu memenuhi kebutuhanku semampumu, jika engkau marah, hal itu semata karena kesalahanku, tidaklah engkau pernah berbuat dholim kepada kami sitri dan anakmu, jika engkau telah berbuat adil kepada kami, maka kenapa aku harus menahan apa yang menjadi hak yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadamu? Jika aku menahannya maka aku telah menolak keputusan Allah dan tidak adil kepadamu!”
“Wahai suamiku, wanita mana yang tidak memiliki kecemburuan dalam hatinya, wanita mana yang tidak cemburu kepada lelaki sebaik engkau, namun aku ridho kepada apa yang Allah Ta’ala ridho kepadanya, aku akan mengatur kecemburuanku agar berbuah menjadi kebaikan di hadapan Allah Ta’ala dan kemudian menjadi kebaikan di matamu, wahai suamiku, aku tidak memaksamu untuk menikah lagi, namun ketahuilah bahwa aku telah ridho jika engkau ingin menikah lagi.”
Lelaki itu kembali tercenung... tetesan air mata telah mulai mengering, hatinya berbunga-bunga demi mengetahui istrinya telah memahami semua nasihat yang ia berikan selama ini, buah dari ketekunan dalam menuntut ilmu dan meluangkan waktu untuk mendatangi ta’lim di mana diajarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sama sekali tak pernah ia menyinggung hal itu sebelumnya, namun ucapan istrinya telah menyadarkan hatinya, bahwa ia harus semakin rajin untuk belajar ilmu agama sebaik-baiknya, melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan meneladani sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia ingin selalu didampingi oleh istrinya hingga ke akhirnya, hingga ke jannah kelak insya Allah.
Terucap pula oleh lisan istrinya ,”Wahai suamiku, sungguh aku sangat merindukan jannah Allah Ta’ala, dan aku ingin meraihnya bersamamu, aku pun ingin selalu bisa mendampingimu selama yang aku mampu, hingga ke jannah kelak insya Allah, aku selalu ingin berada dalam lembutnya labuhan kasih sayangmu. Wahai suamiku, engkau adalah pemimpinku, maka bimbinglah diri ini untuk selalu berada di atas jalan yang benar yang diridhoi Allah Ta’ala dan sesuai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terpelesetnya dirimu adalah bencana bagiku, maka aku selalu berdo’a kepada Allah Ta’ala agar memberikan kita jalan yang lurus!”
Lisan lelaki itu tercekat, ia berusaha untuk menahan keharuan air matanya dan agar selalu tampak tegar di hadapan istri tercintanya itu, sungguh Allah Ta’ala telah memberikan karunia yang demikian besar dengan menjadikan ia suami dari seorang wanita yang bertaqwa, kembali ia memandang wajah anak-anaknya, hatinya berguman, “Wahai anakku! Sungguh kalian beruntung tumbuh dalam asuhan seorang ibu yang sholihah!”
Malam itu menjelang waktu subuh! Lelaki itu bangkit untuk menunaikan kewajiban sholat subuh, di dalam hatinya ada tekad untuk menjadi suami dan kepala rumah tangga yang terbaik bagi istri dan anak-anaknya, semoga Allah Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya, sungguh mengarungi kehidupan dunia yang penuh cobaan ini tidaklah mudah, sebelum berangkat menuju masjid dibelainya kepala istrinya, dalam hati ia berkata,”Wahai istriku, engkau telah memiliki memahami agama ini semakin baik, aku tidak akan mau kalah darimu, aku akan semakin rajin untuk menuntut ilmu agama lebih baik lagi. Engkau telah ridho memberikan aku kesempatan untuk menikah lagi, namun ketahuilah, bahwa aku merasa belum mampu untuk menduakan cintamu, entah kelak! Namun kini satu hal yang aku tahu pasti, bahwa aku telah begitu beruntung memilikimu sebagai istriku. Maafkan aku istriku, aku belum mampu mewujudkan keinginanmu!”
Adzan subuh telah memanggil, saatnya bagi kaum muslimin yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir untuk menunaikan sholat subuh dengan berjamaah, wahai para suami, sibakkanlah selimut tebalmu dan bangunlah dari buaian mimpi menuju perintah Rabb-mu, wahai para istri, sertai dan jagalah suami kalian agar senantiasa selalu berada dalam keta’atan kepada Allah Ta’ala. Aku berdo’a agar Allah Ta’ala mempertemukan aku, istriku, anak-anakku beserta keluargaku bersama kalian para kaum muslimin kelak di jannah-Nya, Amiin.
Oleh Andi Abu Najwa
Monday, 11 October 2010
Saudariku, Jangan Sebarkan Fitnahmu!
Semua perasaan condong kepadanya, perbuatan haram pun terjadi karenanya. Mengundang terjadinya pembunuhan permusuhan disebabkan karenanya. Sekurang-kurangnya ia sebagai insan yang disukai di dunia. Kerusakan mana yang lebih besar daripada ini? (Al Imam Al Mubarakfuri rahimahullah fi At Tuhfah Al Ahwadzi 8/53)
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwa fitnah (baca ujian) yang paling besar khususnya bagi kaum laki-laki adalah wanita, bahkan wanita merupakan salah satu sumber syahwat sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita … .” (QS. Ali Imran : 14).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga memberikan peringatan akan bahaya fitnah wanita, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari shahabat Abu Said Al Khudri radliyallahu 'anhu, beliau bersabda : “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita.”
Keterangan ayat dan hadits diatas telah memberikan gambaran akan besarnya ujian yang dihadapi bagi kaum adam kepada persoalan wanita, kalau dilihat secara historis dua keterangan diatas ditujukan khusus kepada para sahabat yang juga tentunya merupakan peringatan bagi mereka akan fitnah ini, padahal mereka adalah manusia-manusia pilihan dan orang yang paling bersih hatinya diantara ummat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Dengan demikian kita dengan kadar keimanan yang jauh berbeda dengan para sahabat dan terlebih lagi diperhadapkan dengan zaman yang begitu banyak ujian termasuk fitnah wanita, tentu lebih perlu mawas diri, sebab sangat jarang yang bisa selamat dari fitnah ini kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Kebenaran akan wahyu ilahi itu telah diperlihatkan kepada kita semua akan bahaya fitnah wanita yaitu kasus yang menimpa ketua KPK Antasari Azhar dengan Nasruddin direktur Rajawali Banjaran yang menimbulkan dampak yang besar, nyawa yang melayang, karir yang hancur, nama baik yang menjadi luntur dan kepercayaan pun hilang.
Wanita dimata syariat memliki kedudukan yang sama dengan pria dan inilah bentuk keadilan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala:
1.
Persamaan dalam hal penciptaan dengan laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 21)
2.
Persamaan dalam mendapatkan pahala atas amal shalih. Allah berfirman : “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain … .” (QS. Ali Imran : 195). Allah juga berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik … .” (QS. An Nahl : 97)
3.
Hak untuk mendapatkan perlakuan dan pergaulan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta'alaApabila kamu mentalak istri-istrimu lalu mereka mendekati akhir iddahnya maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf pula. Janganlah kamu merujuki mereka untuk memberi kemudlaratan karena dengan demikian kamu menganiaya mereka … .” (QS. Al Baqarah : 231). Allah Subhanahu wa Ta'ala … dan bergaullah dengan mereka secara patut … .” (QS. An Nisa’ : 19).
berfirman : “ juga berfirman : “
Sungguh pada setiap diri wanita berpotensi menimbulkan fitnah, Perlu ditegaskan bahawa fitnah wanita tidak mesti datang dari arah wanita itu saja, godaan nafsu lah yang mendorong bagi seorang laki-laki untuk mendekati wanita dan melakukan maksiat. Oleh karena itu, wanita bukanlah musuh yang perlu dijauhi, akan tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita wajib bagi masing-masing untuk membentengi diri agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan dengan jalan menjaga ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dimaksud dengan taqwa disini adalah menjalankan semua perintah Allah yang sifatnya wajib dan menjauhi sekuat kemampuan kita terhadap semua yang diharamkanNya, dengan menjaga kataatan kepada Allah akan memberikan pengaruh yang kuat pada keimanan dan orang yang memiliki keimanan yang kuat, pasti tidak akan melakukan perbuatan yang tercela. Beberapa hal yang telah diajarkan oleh syariat yang mulia ini agar kita terselamatkan dari fitnah ini yaitu:
1.
Adanya kewajiban bagi laki laki dan wanita untuk menahan pandangan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:31) dan “Katakanlah kepada para wanita beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:32). Diantara penyebab utama fitnah itu adalah mata sehinggah Allah menyuruh kita untuk tidak melihat kecuali hal-hal yang memang dibolehkan oleh Syariat.
2.
Adanya larangan untuk berdua-duaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri/berduaan) dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi dari shahabat Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhuma) dalam riwayat lain Nabi bersabda : " Tidak halal laki-laki dan wanita berdua-duan karena pihak ketiganya adalah syaitan.” Perbuatan zina tidaklah dimulai kecuali berdua-duan antara laki-laki dan wanita, dan tidak terjadi perzinahan kecuali ditempat yang sunyi lagi tertutup dari pandangan manusia.
3.
Allah menetapkan beberapa syariat yang dikhususkan bagi wanita sebagai bentuk kemuliaan terhadapnya, yang mana ketika syariat itu dilanggar maka ialah yang merupakan penyebab munculnya fitnah bagi laki-laki diantaranya:
*
Syariat melarang mereka bertabaruj, yaitu berhias di hadapan selain mahramnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “ … dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu … .” (QS. Al Ahzab : 33)
*
Mereka dilarang berbicara dengan suara yang mendayu-dayu yang dapat mengundang fitnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “ … maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)
*
Mereka dilarang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian lewat di suatu kaum supaya mereka mendapatkan bau harumnya maka ia telah berzina.” (HR. Ahmad dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari radliyallahu 'anhu)
*
Syariat memerintahkan wanita untuk tinggal lebih banyak di rumahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian … .” (QS. Al Ahzab : 33).
Sama sekali ini tidak berarti dzolim terhadap wanita, atau penjara, ataupun mengurangi kebebasannya. Allah lebih mengetahui kemaslahatan hamba-Nya. Sesungguhnya dengan tinggalnya para wanita di rumah-rumahnya maka ia dapat mengurusi urusan rumahnya, menunaikan hak-hak suaminya, mendidik anaknya, dan memperbanyak melakukan hal-hal baik lainnya, dan hukum asal keluar rumah bagi wanita adalah perkara yang dibolehkan bagi syariat kecuali jika didalamnya ada maksiat.
Allah telah menentukan bahwa ada perkara tertentu yang menarik perhatian di antara lelaki dan wanita. Dan untuk itu, Allah juga yang mengatur bentuk hubungan yang perlu dilakukan, agar di antara mereka tidak timbul perkara-perkara yang tidak diingini. Walaupun demikian, ramai juga manusia yang melanggar batasan tersebut sehingga mereka tertunduk malu kerana keterlanjuran yang mereka lakukan. Lelaki yang tidak mampu mengawal dirinya daripada daya tarik yang ada pada wanita, pasti mudah untuk melakukan perkara-perkara yang menjadi larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, akhirnya kita berdoa : “Wahai, Rabbku! Walaupun dosaku sangat besar, namun aku yakin bahwa ampunan-Mu lebih besar lagi, engkaulah yang menggenggam hati maka tetapkanlah hati ini diatas agamamu dan ketaatan kepadamu sucikanlah jiwa kami dari penguruh-penguruh akan keburukan fitnah wanita serta berikanlah kekuatan dan keistiqomahan dalam menjaga dan melaksana semua aturanmu." Wallahu waliyuttaufiq
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan bahwa fitnah (baca ujian) yang paling besar khususnya bagi kaum laki-laki adalah wanita, bahkan wanita merupakan salah satu sumber syahwat sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita … .” (QS. Ali Imran : 14).
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam juga memberikan peringatan akan bahaya fitnah wanita, diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari shahabat Abu Said Al Khudri radliyallahu 'anhu, beliau bersabda : “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita.”
Keterangan ayat dan hadits diatas telah memberikan gambaran akan besarnya ujian yang dihadapi bagi kaum adam kepada persoalan wanita, kalau dilihat secara historis dua keterangan diatas ditujukan khusus kepada para sahabat yang juga tentunya merupakan peringatan bagi mereka akan fitnah ini, padahal mereka adalah manusia-manusia pilihan dan orang yang paling bersih hatinya diantara ummat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam. Dengan demikian kita dengan kadar keimanan yang jauh berbeda dengan para sahabat dan terlebih lagi diperhadapkan dengan zaman yang begitu banyak ujian termasuk fitnah wanita, tentu lebih perlu mawas diri, sebab sangat jarang yang bisa selamat dari fitnah ini kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Kebenaran akan wahyu ilahi itu telah diperlihatkan kepada kita semua akan bahaya fitnah wanita yaitu kasus yang menimpa ketua KPK Antasari Azhar dengan Nasruddin direktur Rajawali Banjaran yang menimbulkan dampak yang besar, nyawa yang melayang, karir yang hancur, nama baik yang menjadi luntur dan kepercayaan pun hilang.
Wanita dimata syariat memliki kedudukan yang sama dengan pria dan inilah bentuk keadilan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala:
1.
Persamaan dalam hal penciptaan dengan laki-laki. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum : 21)
2.
Persamaan dalam mendapatkan pahala atas amal shalih. Allah berfirman : “Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman) : “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu baik laki-laki maupun perempuan (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain … .” (QS. Ali Imran : 195). Allah juga berfirman : “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik … .” (QS. An Nahl : 97)
3.
Hak untuk mendapatkan perlakuan dan pergaulan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta'alaApabila kamu mentalak istri-istrimu lalu mereka mendekati akhir iddahnya maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf pula. Janganlah kamu merujuki mereka untuk memberi kemudlaratan karena dengan demikian kamu menganiaya mereka … .” (QS. Al Baqarah : 231). Allah Subhanahu wa Ta'ala … dan bergaullah dengan mereka secara patut … .” (QS. An Nisa’ : 19).
berfirman : “ juga berfirman : “
Sungguh pada setiap diri wanita berpotensi menimbulkan fitnah, Perlu ditegaskan bahawa fitnah wanita tidak mesti datang dari arah wanita itu saja, godaan nafsu lah yang mendorong bagi seorang laki-laki untuk mendekati wanita dan melakukan maksiat. Oleh karena itu, wanita bukanlah musuh yang perlu dijauhi, akan tetapi seorang laki-laki dan seorang wanita wajib bagi masing-masing untuk membentengi diri agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan dengan jalan menjaga ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dimaksud dengan taqwa disini adalah menjalankan semua perintah Allah yang sifatnya wajib dan menjauhi sekuat kemampuan kita terhadap semua yang diharamkanNya, dengan menjaga kataatan kepada Allah akan memberikan pengaruh yang kuat pada keimanan dan orang yang memiliki keimanan yang kuat, pasti tidak akan melakukan perbuatan yang tercela. Beberapa hal yang telah diajarkan oleh syariat yang mulia ini agar kita terselamatkan dari fitnah ini yaitu:
1.
Adanya kewajiban bagi laki laki dan wanita untuk menahan pandangan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:31) dan “Katakanlah kepada para wanita beriman agar mereka menjaga pandangannya” (QS 24:32). Diantara penyebab utama fitnah itu adalah mata sehinggah Allah menyuruh kita untuk tidak melihat kecuali hal-hal yang memang dibolehkan oleh Syariat.
2.
Adanya larangan untuk berdua-duaan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri/berduaan) dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR. Muttafaq ‘alaihi dari shahabat Ibnu Abbas Radliyallahu 'anhuma) dalam riwayat lain Nabi bersabda : " Tidak halal laki-laki dan wanita berdua-duan karena pihak ketiganya adalah syaitan.” Perbuatan zina tidaklah dimulai kecuali berdua-duan antara laki-laki dan wanita, dan tidak terjadi perzinahan kecuali ditempat yang sunyi lagi tertutup dari pandangan manusia.
3.
Allah menetapkan beberapa syariat yang dikhususkan bagi wanita sebagai bentuk kemuliaan terhadapnya, yang mana ketika syariat itu dilanggar maka ialah yang merupakan penyebab munculnya fitnah bagi laki-laki diantaranya:
*
Syariat melarang mereka bertabaruj, yaitu berhias di hadapan selain mahramnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “ … dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu … .” (QS. Al Ahzab : 33)
*
Mereka dilarang berbicara dengan suara yang mendayu-dayu yang dapat mengundang fitnah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “ … maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit di hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS. Al Ahzab : 32)
*
Mereka dilarang keluar rumah dengan memakai wangi-wangian. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda : “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian lewat di suatu kaum supaya mereka mendapatkan bau harumnya maka ia telah berzina.” (HR. Ahmad dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari radliyallahu 'anhu)
*
Syariat memerintahkan wanita untuk tinggal lebih banyak di rumahnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman : “Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian … .” (QS. Al Ahzab : 33).
Sama sekali ini tidak berarti dzolim terhadap wanita, atau penjara, ataupun mengurangi kebebasannya. Allah lebih mengetahui kemaslahatan hamba-Nya. Sesungguhnya dengan tinggalnya para wanita di rumah-rumahnya maka ia dapat mengurusi urusan rumahnya, menunaikan hak-hak suaminya, mendidik anaknya, dan memperbanyak melakukan hal-hal baik lainnya, dan hukum asal keluar rumah bagi wanita adalah perkara yang dibolehkan bagi syariat kecuali jika didalamnya ada maksiat.
Allah telah menentukan bahwa ada perkara tertentu yang menarik perhatian di antara lelaki dan wanita. Dan untuk itu, Allah juga yang mengatur bentuk hubungan yang perlu dilakukan, agar di antara mereka tidak timbul perkara-perkara yang tidak diingini. Walaupun demikian, ramai juga manusia yang melanggar batasan tersebut sehingga mereka tertunduk malu kerana keterlanjuran yang mereka lakukan. Lelaki yang tidak mampu mengawal dirinya daripada daya tarik yang ada pada wanita, pasti mudah untuk melakukan perkara-perkara yang menjadi larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala, akhirnya kita berdoa : “Wahai, Rabbku! Walaupun dosaku sangat besar, namun aku yakin bahwa ampunan-Mu lebih besar lagi, engkaulah yang menggenggam hati maka tetapkanlah hati ini diatas agamamu dan ketaatan kepadamu sucikanlah jiwa kami dari penguruh-penguruh akan keburukan fitnah wanita serta berikanlah kekuatan dan keistiqomahan dalam menjaga dan melaksana semua aturanmu." Wallahu waliyuttaufiq
Monday, 4 October 2010
Nantikanku di batas waktu
Nah, sekarang kita akan ngebahas about: romantika nantikanku di batas waktu yang diperankan oleh mbak-mbak dan mas-mas yang udah kuliah (bukan ngegosip loh ya…). Hmm….Tema yang cucok banget buat anak muda kayak saya (saya muda looh….), buat pengalaman….*nyengir keledai*
Apa yang nyebabin kalimat itu (nantikanku di batas waktu) terlontar dari mbak-mbak dan mas-mas yang pengen menggenapkan separuh dien? Kemunkinannya cuma 1, BELUM SIAP! Nah, soal belum siap ini, macem-macem deh alesannya. Di antaranya,
1. Gak dibolehin ortu. “Mbok ya lulus duluu…” (berlaku buat mbak2 dan mas2)
2. Restu udah dapet, tapi maisyah belum punya. “Mau dikasih makan apa istriku?” (yang mas2nya)
3. Restu dan maisyah udah dapet, tapi susah bagi waktu antara Nikah, Kerja, dan Kuliah. “Ntar malah gak tawazun….” (buat mbak2 dan mas2)
4. Ada yang mo nambahin? (mungkin pengalaman pribadi)
Hemph…Mbak, Mas…saya turut prihatin. Mungkin salah satu alesan di atas bakal saya alamin suatu ketika…. *menerawang*
Dhoorrr!! Nggak boleh ngelamun!
Okeh, take it easy guys! Nggak papa. Jalani hidup ini apa adanya. Percaya deh, Alloh pasti punya rencana yang luar biasa…
Sebagai wujud keprihatinan saya, berikut akan saya sajikan tips memasak capcay (nggak nyambung? Lanjut…) TIPS JITU SAMBIL MENUNGGU DI BATAS WAKTU. Ahay! Siapkan dirimu….
1. Kerenkan dirimu dengan nambah ilmu Buat persiapan menuju ke sana (pelaminan), tentunya kita kudu punya ilmunya dwong. Bisa baca2 buku pernikahan atau dateng ke dauroh munakahat. Kalo ini ternyata semakin membuatmu ngebet nikah (padahal lulusnya masih lama), mending baca2 buku matakuliah atau buku2 motivasi (bukan motivasi nikah loh), novel, artikel ilmiah, koran, majalah, apa aja deh….tapi hindari dulu yang berbau “merah jambu”, ntar malah semakin membuatmu menggebu-gebu. Kenapa? protes? enggak setuju? enggak mau? putus aja deh kalo gitu… (loh?)
2. Tetep jaga hijabmu kalo mas ikhwan sudah mengetek (bahasa apaan nih?), kamsudnya ngincer mbak akhwat dan sudah diketahui oleh mbak akhwat, maka putuskan hubungan apapun dengannya. Ucapkan: “jangan ada –interaksi- di antara kita”. Cut cut cut !!! Tapi, cara ini bisa menimbulkan efek “penyakit hati” karena pikiran selalu tertuju padanya. So, waspadalah..waspadalah…tips berikutnya mungkin bisa lebih membantu Anda.
3. Sok sibuk Banyak kan yang bisa dilakukan di kampus. Apalagi kalo mbak2 dan mas2 ini aktivis dakwah. Wiih, sibuk banget dah! Mulai dari ngurus LDK, ngisi mentoring, dateng ke kajian, jadi panitia acara kegiatan LDK (bukan panitia walimah loh ya, ntar malah tambah ngebet nikah. Hehe), atau… apapun lah! Yang penting sibuk! Bisa nulis buku, ngeMPi, nyari kerja buat biaya walimah, atau riwa-riwi ngukur jalan (siapa tau dapet rekor MURI). Asal, jangan sok sibuk seperti contoh kasus di bawah ini:
Anda: (sibuk) Someone: Eeeeh…ngapain kamu angkat-angkat itu??? Anda: Enggak liat apa kalo saya sibuk? saya ini sibuk..sibuk..S-I-B-U-K! Busy! ngerti ndak sih? Someone: TAPI ITU JEMURAN SAYA! Anda: …… Warga: (Gebugin Anda rame-rame)
Oke. S-I-B-U-K. Agar tak ada waktu untuk mikirin si dia yang belum menjadi siapa-siapa.
4. Shoum…shoum…shoum… Nggak perlu dijelasin deh. Dah pada bisa puasa kok. Kan dah gede…
5. Perbanyak dzikir dan ibadah. Dengan lebih mendekat padaNya, siapa tau Alloh memudahkan jalan kita menuju ke sana. Yang awalnya ortu nggak setuju, tiba-tiba memberi restu. Yang nggak punya maisyah, tiba-tiba dapet lowongan kerja. Yang nggak bisa bagi waktu, ternyata….ya bisa bagi waktulah. Kan udah ada ‘si dia’ yang siap membantu segalanya…(ciye ciyeeh..)
6. FOKUS!! Nah, ini dia nieh. Kalo kendalanya itu lulus kuliah, ya segera diselesaikan atuuh kuliahnya. FOKUS ngerjain skripsi. Biar ndang mari, ndang lulus, ndang wisuda, ndang nikah..dan ndang ndang sing lainnya…(NB: ndang itu bahasa jawa yang artinya cepet atau segera)
Oke. Segitu dulu deh tips dari saya. Kalo kebanyakan tips ntar malah bikin pusing tujuh keliling. Semoga bermanfaat, dan semoga Alloh memudahkan niat baik kita untuk melaksanakan sunnah RosulNya…Kita? Maksudnya, mbak2 dan mas2 yang ingin menggenapkan separuh diennya (saya juga nantinya. Hehe). Agar kalimat “Nantikanku di batas waktu” tak lagi mengusik hati yang kian merindu…(tsaahh)
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=163050150373457&id=103134439723509
Apa yang nyebabin kalimat itu (nantikanku di batas waktu) terlontar dari mbak-mbak dan mas-mas yang pengen menggenapkan separuh dien? Kemunkinannya cuma 1, BELUM SIAP! Nah, soal belum siap ini, macem-macem deh alesannya. Di antaranya,
1. Gak dibolehin ortu. “Mbok ya lulus duluu…” (berlaku buat mbak2 dan mas2)
2. Restu udah dapet, tapi maisyah belum punya. “Mau dikasih makan apa istriku?” (yang mas2nya)
3. Restu dan maisyah udah dapet, tapi susah bagi waktu antara Nikah, Kerja, dan Kuliah. “Ntar malah gak tawazun….” (buat mbak2 dan mas2)
4. Ada yang mo nambahin? (mungkin pengalaman pribadi)
Hemph…Mbak, Mas…saya turut prihatin. Mungkin salah satu alesan di atas bakal saya alamin suatu ketika…. *menerawang*
Dhoorrr!! Nggak boleh ngelamun!
Okeh, take it easy guys! Nggak papa. Jalani hidup ini apa adanya. Percaya deh, Alloh pasti punya rencana yang luar biasa…
Sebagai wujud keprihatinan saya, berikut akan saya sajikan tips memasak capcay (nggak nyambung? Lanjut…) TIPS JITU SAMBIL MENUNGGU DI BATAS WAKTU. Ahay! Siapkan dirimu….
1. Kerenkan dirimu dengan nambah ilmu Buat persiapan menuju ke sana (pelaminan), tentunya kita kudu punya ilmunya dwong. Bisa baca2 buku pernikahan atau dateng ke dauroh munakahat. Kalo ini ternyata semakin membuatmu ngebet nikah (padahal lulusnya masih lama), mending baca2 buku matakuliah atau buku2 motivasi (bukan motivasi nikah loh), novel, artikel ilmiah, koran, majalah, apa aja deh….tapi hindari dulu yang berbau “merah jambu”, ntar malah semakin membuatmu menggebu-gebu. Kenapa? protes? enggak setuju? enggak mau? putus aja deh kalo gitu… (loh?)
2. Tetep jaga hijabmu kalo mas ikhwan sudah mengetek (bahasa apaan nih?), kamsudnya ngincer mbak akhwat dan sudah diketahui oleh mbak akhwat, maka putuskan hubungan apapun dengannya. Ucapkan: “jangan ada –interaksi- di antara kita”. Cut cut cut !!! Tapi, cara ini bisa menimbulkan efek “penyakit hati” karena pikiran selalu tertuju padanya. So, waspadalah..waspadalah…tips berikutnya mungkin bisa lebih membantu Anda.
3. Sok sibuk Banyak kan yang bisa dilakukan di kampus. Apalagi kalo mbak2 dan mas2 ini aktivis dakwah. Wiih, sibuk banget dah! Mulai dari ngurus LDK, ngisi mentoring, dateng ke kajian, jadi panitia acara kegiatan LDK (bukan panitia walimah loh ya, ntar malah tambah ngebet nikah. Hehe), atau… apapun lah! Yang penting sibuk! Bisa nulis buku, ngeMPi, nyari kerja buat biaya walimah, atau riwa-riwi ngukur jalan (siapa tau dapet rekor MURI). Asal, jangan sok sibuk seperti contoh kasus di bawah ini:
Anda: (sibuk) Someone: Eeeeh…ngapain kamu angkat-angkat itu??? Anda: Enggak liat apa kalo saya sibuk? saya ini sibuk..sibuk..S-I-B-U-K! Busy! ngerti ndak sih? Someone: TAPI ITU JEMURAN SAYA! Anda: …… Warga: (Gebugin Anda rame-rame)
Oke. S-I-B-U-K. Agar tak ada waktu untuk mikirin si dia yang belum menjadi siapa-siapa.
4. Shoum…shoum…shoum… Nggak perlu dijelasin deh. Dah pada bisa puasa kok. Kan dah gede…
5. Perbanyak dzikir dan ibadah. Dengan lebih mendekat padaNya, siapa tau Alloh memudahkan jalan kita menuju ke sana. Yang awalnya ortu nggak setuju, tiba-tiba memberi restu. Yang nggak punya maisyah, tiba-tiba dapet lowongan kerja. Yang nggak bisa bagi waktu, ternyata….ya bisa bagi waktulah. Kan udah ada ‘si dia’ yang siap membantu segalanya…(ciye ciyeeh..)
6. FOKUS!! Nah, ini dia nieh. Kalo kendalanya itu lulus kuliah, ya segera diselesaikan atuuh kuliahnya. FOKUS ngerjain skripsi. Biar ndang mari, ndang lulus, ndang wisuda, ndang nikah..dan ndang ndang sing lainnya…(NB: ndang itu bahasa jawa yang artinya cepet atau segera)
Oke. Segitu dulu deh tips dari saya. Kalo kebanyakan tips ntar malah bikin pusing tujuh keliling. Semoga bermanfaat, dan semoga Alloh memudahkan niat baik kita untuk melaksanakan sunnah RosulNya…Kita? Maksudnya, mbak2 dan mas2 yang ingin menggenapkan separuh diennya (saya juga nantinya. Hehe). Agar kalimat “Nantikanku di batas waktu” tak lagi mengusik hati yang kian merindu…(tsaahh)
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=163050150373457&id=103134439723509
Wednesday, 29 September 2010
Muslimah Yang Paling Mulia
Teruntuk Calon Bidadari Syurgaku....
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya
Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga
Terindah dari yang ada
Pernahkah sahabat melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli. —-
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.” Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita” Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” —-
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu . . .
Sumber: http://www.facebook.com/notes/asep-nedyana/muslimah-yang-paling-mulia/441326627434
Ia mutiara terindah dunia
Bunga terharum sepanjang masa
Ada cahaya di wajahnya
Betapa indah pesonanya
Bidadari bermata jeli pun cemburu padanya
Kelak, ia menjadi bidadari surga
Terindah dari yang ada
Pernahkah sahabat melihat seorang bidadari? Bidadari yang bermata jeli. Yang kabarnya sangat indah dan jelita. Saya yakin kita semua belum pernah melihatnya. Kalau begitu mari kita ikuti percakapan antara Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam dan Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha tentang sifat-sifat bidadari yang bermata jeli. —-
Imam Ath-Thabrany mengisahkan dalam sebuah hadist, dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli’.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilai seperti sayap burung nasar.” Saya berkata lagi, “Jelaskan kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana mutiara yang tersimpan baik’.” (Al-waqi’ah : 23)
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.” Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’.” (Ar-Rahman : 70)
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita” Saya berkata lagi, Jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.” (Ash-Shaffat : 49)
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur.”
Saya berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta lagi sebaya umurnya’.” (Al-Waqi’ah : 37) Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?” Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.” Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.”
Saya berkata, “Wahai Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata, ‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat.” —-
Sungguh indah perkataan Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam yang menggambarkan tentang bidadari bermata jeli. Namun betapa lebih indah lagi dikala beliau mengatakan bahwa wanita dunia yang taat kepada Allah lebih utama dibandingkan seorang bidadari. Ya, bidadari saudaraku.
Sungguh betapa mulianya seorang muslimah yang kaffah diin islamnya. Mereka yang senantiasa menjaga ibadah dan akhlaknya, senantiasa menjaga keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah. Sungguh, betapa indah gambaran Allah kepada wanita shalehah, yang menjaga kehormatan diri dan suaminya. Yang tatkala cobaan dan ujian menimpa, hanya kesabaran dan keikhlasan yang ia tunjukkan. Di saat gemerlap dunia kian dahsyat menerpa, ia tetap teguh mempertahankan keimanannya.
Sebaik-baik perhiasan ialah wanita salehah. Dan wanita salehah adalah mereka yang menerapkan islam secara menyeluruh di dalam dirinya, sehingga kelak ia menjadi penyejuk mata bagi orang-orang di sekitarnya. Senantiasa merasakan kebaikan di manapun ia berada. Bahkan seorang “Aidh Al-Qarni menggambarkan wanita sebagai batu-batu indah seperti zamrud, berlian, intan, permata, dan sebagainya di dalam bukunya yang berjudul “Menjadi wanita paling bahagia”.
Subhanallah. Tak ada kemuliaan lain ketika Allah menyebutkan di dalam al-quran surat an-nisa ayat 34, bahwa wanita salehah adalah yang tunduk kepada Allah dan menaati suaminya, yang sangat menjaga di saat ia tak hadir sebagaimana yang diajarkan oleh Allah.
Dan bidadari pun cemburu kepada mereka karena keimanan dan kemuliaannya. Bagaimana caranya agar menjadi wanita salehah? Tentu saja dengan melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala laranganNya. Senantiasa meningkatkan kualitas diri dan menularkannya kepada orang lain. Wanita dunia yang salehah kelak akan menjadi bidadari-bidadari surga yang begitu indah.
Duhai saudariku muslimah, maukah engkau menjadi wanita yang lebih utama dibanding bidadari? Allah meletakkan cahaya di atas wajahmu dan memuliakanmu di surga menjadi bidadari-bidadari surga. Maka, berlajarlah dan tingkatkanlah kualitas dirimu, agar Allah ridha kepadamu . . .
Sumber: http://www.facebook.com/notes/asep-nedyana/muslimah-yang-paling-mulia/441326627434
Subscribe to:
Posts (Atom)