Pertumbuhan beliau
Nama: Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al Mughirah bin Bardizbah.
Kuniyah beliau: Abu Abdullah
Nasab beliau:
1. Al Ju’fi; nisabah Al Ju’fi adalah nisbah arabiyyah. Faktor penyebabnya adalah, bahwasanya al Mughirah kakek Bukhari yang kedua masuk Islam berkat bimbingan dari Al Yaman Al Ju’fi. Maka nisbah beliau kepada Al Ju’fi adalah nisbah perwalian
2. Al Bukhari; yang merupakan nisbah kepada negri Imam Bukhari lahir
Tanggal lahir: Beliau dilahirkan pada hari Jum’at setelah shalat Jum’at 13 Syawwal 194 H
Tempat lahir: Bukhara
Masa kecil beliau: Bukhari dididik dalam keluarga yang berilmu. Bapaknya adalah seorang ahli hadits, akan tetapi dia tidak termasuk ulama yang banyak meriwayatkan hadits, Bukhari menyebutkan di dalam kitab tarikh kabirnya, bahwa bapaknya telah melihat Hammad bin Zaid dan Abdullah bin Al Mubarak, dan dia telah mendengar dari imam Malik, karena itulah dia termasuk ulama bermadzhab Maliki. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil, sehingga dia pun diasuh oleh sang ibu dalam kondisi yatim. Akan tetapi ayahnya meninggalkan Bukhari dalam keadaan yang berkecukupan dari harta yang halal dan berkah. Bapak Imam Bukhari berkata ketika menjelang kematiannya; “Aku tidak mengetahui satu dirham pun dari hartaku dari barang yang haram, dan begitu juga satu dirhampun hartaku bukan dari hal yang syubhat.”
Maka dengan harta tersebut Bukhari menjadikannya sebagai media untuk sibuk dalam hal menuntut ilmu.
Ketika menginjak usia 16 tahun, dia bersama ibu dan kakaknya mengunjungi kota suci, kemudian dia tinggal di Makkah dekat dengan baitulah beberapa saat guna menuntut ilmu.
Kisah hilangnya penglihatan beliau: Ketika masa kecilnya, kedua mata Bukhari buta. Suatu ketika ibunya bermimpi melihat Khalilullah Nabi Ibrahim ‘Alaihi wa sallam berujar kepadanya; “Wahai ibu, sesungguhnya Allah telah memulihkan penglihatan putramu karena banyaknya doa yang kamu panjatkan kepada-Nya.” Menjelang pagi harinya ibu imam Bukhari mendapati penglihatan anaknya telah sembuh. Dan ini merupakan kemuliaan Allah subhanahu wa ta’ala yang di berikan kepada imam Bukhari di kala kecilnya.
Perjalanan beliau dalam menuntut ilmu
Kecerdasan dan kejeniusan beliau
kecerdasan dan kejeniusan Bukhari nampak semenjak masih kecil. Allah menganugerahkan kepadanya hati yang cerdas, pikiran yang tajam dan daya hafalan yang sangat kuat, sedikit sekali orang yang memiliki kelebihan seperti dirinya pada zamannya tersebut. Ada satu riwayat yang menuturkan tentang dirinya, bahwasanya dia menuturkan; “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis.” Maka Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepadanya; “saat itu umurmu berapa?”. Dia menjawab; “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari sekolah akupun bolak-balik menghadiri majelis hadits Ad-Dakhili dan ulama hadits yang lainnya. Ketika sedang membacakan hadits di hadapan murid-muridnya, Ad-Dakhili berkata; ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku menyelanya; ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Tapi dia menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘kembalikanlah kepada sumber aslinya, jika anda punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair. Nama aslinya Ibnu ‘Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar.’ Maka Muhammad bin Abi Hatim bertanya kepada Bukhari; “Ketika kamu membantahnya berapa umurmu?”. Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.”
Hasyid bin Isma’il menuturkan: bahwasanya Bukhari selalu ikut bersama kami mondar-mandir menghadiri para masayikh Bashrah, dan saat itu dia masih anak kecil. Tetapi dia tidak pernah menulis (pelajaran yang dia simak), sehingga hal itu berlalu beberapa hari. Setelah berlalu 6 hari, kamipun mencelanya. Maka dia menjawab semua celaan kami; “Kalian telah banyak mencela saya, maka tunjukkanlah kepadaku hadits-hadits yang telah kalian tulis.” Maka kami pun mengeluarkan catatan-catatan hadits kami. Tetapi dia menambahkan hadits yang lain lagi sebanyak lima belas ribu hadits. Dan dia membaca semua hadits-hadits tersebut dengan hafalannya di luar kepala. Maka akhirnya kami mengklarifikasi catatan-catatan kami dengan berpedoman kepada hafalannya.
Permulaannya dalam menuntut ilmu
Aktifitas beliau dalam menuntut ilmu di mulai semenjak sebelum menginjak masa baligh, dan hal itu di tunjang dengan peninggalan orang tuanya berupa harta, beliau berkata; ‘aku menghabiskan setiap bulan sebanyak lima ratus dirham, yang aku gunakan untuk pembiaan menuntut ilmu, dan apa yang ada di sisi Allah itu lebih baik dan lebih eksis.’
Dia bergegas mendatangi majelis-majelis ilmu, ketika dia sudah menghafal Al qur`an dan menghafal beberapa karya tulis para ulama, dan yang pertama kali karya tulis yang beliau hafal adalah buku Abdullah bin Al Mubarak, buku Waki’ bin al Jarrah dalam masalah Sunan dan zuhud, dan yang lainnya. Sebagaimana beliau juga tidak meninggalkan disiplin ilmu dalam masalah fikih dan pendapat.
Rihlah beliau
Rihlah dalam rangka menuntut ilmu merupakan bagian yang sangat mencolok dan sifat yang paling menonjol dari tabiat para ahlul hadits, karena posisi Bukhari dalam masalah ilmu ini merupakan satu kesatuan pada diri seorang ahlul hadits, maka dia pun mengikuti sunnah para pendahulunya dan dia pun meniti jalan mereka.
Dia tidak puas dengan hanya menyimak hadits dari penduduk negrinya, sehingga tidak terelakkan lagi bagi dirinya untuk mengadakan dalam rangka menuntut ilmu, dia berkeliling ke negri-negri Islam. Dan pertama kali dia mengadakan perjalanannya adalah pada tahun 210 hijriah, yaitu ketika umurnya menginjak 16 tahun, pada tahun kepergiannya dalam rangka menunaikan ibadah haji bersama dengan ibundanya dan saudara tuanya.
Negri-negri yang pernah beliau masuki adalah sebagai berikut;
1. Khurasan dan daerah yang bertetangga dengannya
2. Bashrah
3. Kufah
4. Baghdad
5. Hijaz (Makkah dan Madinah)
6. Syam
7. Al Jazirah (kota-kota yang terletak di sekitar Dajlah dan eufrat)
8. Mesir
Bukhari menuturkan tentang rihlah ilmiah yang dia jalani; ‘Aku memasuki Syam, Mesir dan al Jazirah sebanyak dua kali, ke Bashrah sebanyak empat kali, dan aku tinggal di Hijaz beberapa tahun, dan aku tidak bisa menghitung berapa kali saya memasuki kawasan Kufah dan Baghdad bersama para muhadditsin.
Guru-guru beliau
Imam Bukhari berjumpa dengan sekelompk kalangan atba’ut tabi’in muda, dan beliau meriwayatkan hadits dari mereka, sebagaimana beliau juga meriwayatkan dengan jumlah yang sangat besar dari kalangan selain mereka. Dalam masalah ini beliau bertutur: aku telah menulis dari sekitar seribu delapan puluh jiwa yang semuanya dari kalangan ahlul hadits.
Guru-guru imam Bukhari terkemuka yang telah beliau riwayatkan haditsnya;
1. Abu ‘Ashim An Nabil
2. Makki bin Ibrahim
3. Muhammad bin ‘Isa bin Ath Thabba’
4. Ubaidullah bin Musa
5. Muhammad bin Salam Al Baikandi
6. Ahmad bin Hambal
7. Ishaq bin Manshur
8. Khallad bin Yahya bin Shafwan
9. Ayyub bin Sulaiman bin Bilal
10. Ahmad bin Isykab
11. Dan masih banyak lagi
Murid-murid beliau
Al Hafidz Shalih Jazzarah berkata; ‘ Muhammad bin Isma’il duduk mengajar di Baghdad, dan aku memintanya untuk mendektekan (hadits) kepadaku, maka berkerumunlah orang-orang kepadanya lebih dari dua puluh ribu orang.
Maka tidaklah mengherankan kalau pengaruh dari majelisnya tersebut menciptakan kelompok tokoh-tokoh yang cerdas yang meniti manhaj, dintara mereka itu adalah;
1. Al Imam Abu al Husain Muslim bin al Hajjaj an Naisaburi (204-261), penulis buku shahih Muslim yang terkenal
2. Al Imam Abu ‘Isa At Tirmizi (210-279) penulis buku sunan At Tirmidzi yang terkenal
3. Al Imam Shalih bin Muhammad (205-293)
4. Al Imam Abu Bakr bin Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223-311), penulis buku shahih Ibnu Khuzaimah.
5. Al Imam Abu Al Fadhl Ahmad bin Salamah An Naisaburi (286), teman dekat imam Muslim, dan dia juga memiliki buku shahih seperti buku imam Muslim.
6. Al Imam Muhammad bin Nashr Al Marwazi (202-294)
7. Al Hafizh Abu Bakr bin Abi Dawud Sulaiman bin Al Asy’ats (230-316)
8. Al Hafizh Abu Al Qasim Abdullah bin Muhammad bin Abdul ‘Aziz Al Baghawi (214-317)
9. Al Hafizh Abu Al Qadli Abu Abdillah Al Husain bin Isma’il Al Mahamili (235-330)
10. Al Imam Abu Ishaq Ibrahim bin Ma’qil al Nasafi (290)
11. Al Imam Abu Muhammad Hammad bin Syakir al Nasawi (311)
12. Al Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar al Firabri (231-320)
Karakter imam Bukhari
Meskipun Imam Bukhari sibuk dengan menuntut ilmu dan menyebarkannya, tetapi dia merupakan individu yang mengamalkan ilmu yang dimilikinya, menegakkan keta’atan kepada Rabbnya, terpancar pada dirinya ciri-ciri seorang wali yang terpilih dan orang shalih serta berbakti, yang dapat menciptakan karismatik di dalam hati dan kedudukan yang mempesona di dalam jiwa.
Dia merupakan pribadi yang banyak mengerjakan shalat, khusu’ dan banyak membaca al Qur`an.
Muhammad bin Abi Hatim menuturkan: ‘dia selalu melaksanakan shalat di waktu sahur sebanyak tiga belas raka’at, dan menutupnya dengan melaksanakan shalat witir dengan satu raka’at’
Yang lainnya menuturkan; ‘ Apabila malam pertama di bulan Ramadlan, murid-murid imam Bukhari berkumpul kepadanya, maka dia pun meminpin shalat mereka. Di setiap rak’at dia membaca dua puluh ayat, amalan ini beliau lakukan sampai dapat mengkhatamkan Al qur`an.
Beliau adalah sosok yang gemar menafkahkan hartanya, banyak berbuat baik, sangat dermawan, tawadldlu’ dan wara’.
Persaksian para ulama terhadap beliau
Sangat banyak sekali para ulama yang memberikan kesaksian atas keilmuan imam Bukhari, diantara mereka ada yang dari kalangan guru-gurunya dan teman-teman seperiode dengannya. Adapun periode setelah meninggalnya bukhari sampai saat ini, kedudukan imam Bukhari selalu bersemayam di dalam relung hati kaum muslimin, baik yang berkecimpung dalam masalah hadits, bahkan dari kalangan awwam kaum muslimin sekali pun memberikan persaksian atas keagungan beliau.
Di antara para tokoh ulama yang memberikan persaksian terhadap beliau adalah;
1. Abu Bakar ibnu Khuzaimah telah memberikan kesaksian terhadap Imam Bukhari dengan mengatakan: “Di kolong langit ini tidak ada orang yang lebih mengetahui hadits dari Muhammad bin Isma’il.”
2. ‘Abdan bin ‘Utsman Al Marwazi berkata; ‘aku tidak pernah melihat dengan kedua mataku, seorang pemuda yang lebih mendapat bashirah dari pemuda ini.’ Saat itu telunjuknya diarahkan kepada Bukhari
3. Qutaibah bin Sa’id menuturkan; ‘aku duduk bermajelis dengan para ahli fikih, orang-orang zuhud dan ahli ibadah, tetapi aku tidak pernah melihat semenjak aku dapat mencerna ilmu orng yang seperti Muhammad bin Isma’il. Dia adalah sosok pada zamannya seperti ‘Umar di kalangan para sahabat. Dan dia berkata; ‘ kalau seandainya Muhammad bin Isma’il adalah seorang sahabat maka dia merupakan ayat.
4. Ahmad bin Hambal berkata; Khurasan tidak pernah melahirkan orang yang seperti Muhammad bin Isma’il.
5. Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair menuturkan; kami tidak pernah melihat orang yang seperti Muhammad bin Ism’ail
6. Bundar berkata; belum ada seorang lelaki yang memasuki Bashrah lebih mengetahui terhadap hadits dari saudara kami Abu Abdillah.
7. Abu Hatim ar-Razi berkata: “Khurasan belum pernah melahirkan seorang putra yang hafal hadits melebihi Muhammad bin Isma’il, juga belum pernah ada orang yang pergi dari kota tersebut menuju Irak yang melebihi kealimannya.”
8. Muslim (pengarang kitab Sahih) berkata ketika Bukhari menyingkap satu cacat hadits yang tidak di ketahuinya; “Biarkan saya mencium kedua kaki anda, wahai gurunya para guru dan pemimpin para ahli hadits, dan dokter hadits dalam masalah ilat hadits.”
9. al-Hafiz Ibn Hajar yang menyatakan: “Andaikan pintu pujian dan sanjungan kepada Bukhari masih terbuka bagi generasi sesudahnya, tentu habislah semua kertas dan nafas. Ia bagaikan lautan tak bertepi.”
Hasil karya beliau
Di antara hasil karya Imam Bukhari adalah sebagai berikut :
* Al Jami’ as Sahih (Sahih Bukhari)
* Al Adab al Mufrad.
* At Tarikh ash Shaghir.
* At Tarikh al Awsath.
* At Tarikh al Kabir.
* At Tafsir al Kabir.
* Al Musnad al Kabir.
* Kitab al ‘Ilal.
* Raf’ul Yadain fi ash Shalah.
* Birru al Walidain.
* Kitab al Asyribah.
* Al Qira`ah Khalfa al Imam.
* Kitab ad Dlu’afa.
* Usami ash Shahabah.
* Kitab al Kuna.
* Al Hbbah
* Al Wihdan
* Al Fawa`id
* Qadlaya ash Shahabah wa at Tabi’in
* Masyiikhah
Wafat Beliau
Imam Bukhari keluar menuju Samarkand, Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana beliau jatuh sakit selama beberapa hari. Dan Akhirnya beliau meninggal pada hari sabtu tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Beliau dimakamkan selepas Shalat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri. Semoga Allah selalu merahmatinya dan ridla kepadanya.
Sumber: Indahnya Sunnah (FB)
Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Tuesday, 5 October 2010
Friday, 27 August 2010
Kisah Siti Fatimah Radhiallahu 'Anha
Gembira hatinya, gembiralah Rasulullah s. a. w. Tertitis air matanya, berdukalah baginda. Dialah satu-satunya puteri yang paling dikasihi oleh junjungan Rasul selepas kewafatan isterinya yang paling dicintai, Siti Khadijah. Itulah Siti Fatimah r. a., wanita terkemuka di dunia dan penghuni syurga di akhirat.
Bersuamikan Sayyidina Ali bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan kekayaan harta. Ini adalah kerana Sayyidina Ali yang merupakan salah seorang daripada empat sahabat yang sangat rapat dengan Rasulullah s. a. w., merupakan kalangan sahabat yang sangat miskin berbanding dengan yang lain.
Namun jauh di sanubari Rasulullah s. a. w. tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam terhadapnya. Rasulullah s. a. w. pernah bersabda kepada Sayyidina Ali,"Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia daripada dia."(Riwayat Abu Hurairah)
Wanita pilihan untuk lelaki pilihan. Fatimah mewarisi akhlak ibunya Siti Khadijah. Tidak pernah membebani dan menyakiti suami dengan kata- kata atau sikap. Sentiasa senyum menyambut kepulangan suami hingga hilang separuh masalah suaminya. Dengan mas kahwin hanya 400 dirham hasil jualan baju perang kepada Sayyidina Usman Ibnu Affan itulah dia memulakan penghidupan dengan wanita yang sangat dimuliakan Allah di dunia dan di Akhirat.
Bukan Sayyidina Ali tidak mahu menyediakan seorang pembantu untuk isterinya tetapi sememangnya beliau tidak mampu berbuat demikian. Meskipun beliau cukup tahu isterinya saban hari bertungkus-lumus menguruskan anak-anak, memasak, membasuh dan menggiling tepung, dan yang lebih memenatkan lagi bila terpaksa mengandar air berbatu-batu jauhnya sehingga kelihatan tanda di bahu kiri dan kanannya.
Suami mana yang tidak sayangkan isteri. Ada ketikanya bila Sayyidina Ali berada di rumah, beliau akan turut sama menyinsing lengan membantu Siti Fatimah menggiling tepung di dapur. "Terima kasih suamiku," bisik Fatimah pada suaminya. Usaha sekecil itu, di celah-celah kesibukan sudah cukup berkesan dalam membelai perasaan seorang isteri.
Suatu hari, Rasulullah s. a. w. masuk ke rumah anaknya. Didapati puterinya yang berpakaian kasar itu sedang mengisar biji-biji gandum dalam linangan air mata. Fatimah segera mengesat air matanya tatkala menyedari kehadiran ayahanda kesayangannya itu.
Lalu ditanya oleh baginda, "Wahai buah hatiku, apakah yang engkau tangiskan itu? Semoga Allah menggembirakanmu."
Dalam nada sayu Fatimah berkata, "Wahai ayahanda, sesungguhnya anakmu ini terlalu penat kerana terpaksa mengisar gandum dan menguruskan segala urusan rumah seorang diri. Wahai ayahanda, kiranya tidak keberatan bolehkah ayahanda meminta suamiku menyediakan seorang pembantu untukku?"
Baginda tersenyum seraya bangun mendapatkan kisaran tepung itu. Dengan lafaz Bismillah, Baginda meletakkan segenggam gandum ke dalam kisaran itu. Dengan izin Allah, maka berpusinglah kisaran itu dengan sendirinya. Hati Fatimah sangat terhibur dan merasa sangat gembira dengan hadiah istimewa dari ayahandanya itu. Habis semua gandumnya dikisar dan batu kisar itu tidak akan berhenti selagi tidak ada arahan untuk berhenti, sehinggalah Rasulullah s. a. w. menghentikannya.
Berkata Rasulullah s. a. w. dengan kata-kata yang masyhur, "Wahai Fatimah, Gunung Uhud pernah ditawarkan kepadaku untuk menjadi emas, namun ayahanda memilih untuk keluarga kita kesenangan di akhirat." Jelas, Baginda Rasul mahu mendidik puterinya bahawa kesusahan bukanlah penghalang untuk menjadi solehah.
Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang, "Puteriku, mahukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?"
"Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah s. a. w. bersabda, "Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali selesai sembahyang, hendaklah membaca 'Subhanallah' sepuluh kali, Alhamdulillah' sepuluh kali dan 'Allahu Akbar' sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca 'Subhanallah', 'Alhamdulillah' dan 'Allahu Akbar' ini sebanyak tiga puluh tiga kali."
Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua kerja rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah. Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya sentiasa mengingatiNya..
Sumber: WSTMTD (FB)
Bersuamikan Sayyidina Ali bukanlah satu kebanggaan yang menjanjikan kekayaan harta. Ini adalah kerana Sayyidina Ali yang merupakan salah seorang daripada empat sahabat yang sangat rapat dengan Rasulullah s. a. w., merupakan kalangan sahabat yang sangat miskin berbanding dengan yang lain.
Namun jauh di sanubari Rasulullah s. a. w. tersimpan perasaan kasih dan sayang yang sangat mendalam terhadapnya. Rasulullah s. a. w. pernah bersabda kepada Sayyidina Ali,"Fatimah lebih kucintai daripada engkau, namun dalam pandanganku engkau lebih mulia daripada dia."(Riwayat Abu Hurairah)
Wanita pilihan untuk lelaki pilihan. Fatimah mewarisi akhlak ibunya Siti Khadijah. Tidak pernah membebani dan menyakiti suami dengan kata- kata atau sikap. Sentiasa senyum menyambut kepulangan suami hingga hilang separuh masalah suaminya. Dengan mas kahwin hanya 400 dirham hasil jualan baju perang kepada Sayyidina Usman Ibnu Affan itulah dia memulakan penghidupan dengan wanita yang sangat dimuliakan Allah di dunia dan di Akhirat.
Bukan Sayyidina Ali tidak mahu menyediakan seorang pembantu untuk isterinya tetapi sememangnya beliau tidak mampu berbuat demikian. Meskipun beliau cukup tahu isterinya saban hari bertungkus-lumus menguruskan anak-anak, memasak, membasuh dan menggiling tepung, dan yang lebih memenatkan lagi bila terpaksa mengandar air berbatu-batu jauhnya sehingga kelihatan tanda di bahu kiri dan kanannya.
Suami mana yang tidak sayangkan isteri. Ada ketikanya bila Sayyidina Ali berada di rumah, beliau akan turut sama menyinsing lengan membantu Siti Fatimah menggiling tepung di dapur. "Terima kasih suamiku," bisik Fatimah pada suaminya. Usaha sekecil itu, di celah-celah kesibukan sudah cukup berkesan dalam membelai perasaan seorang isteri.
Suatu hari, Rasulullah s. a. w. masuk ke rumah anaknya. Didapati puterinya yang berpakaian kasar itu sedang mengisar biji-biji gandum dalam linangan air mata. Fatimah segera mengesat air matanya tatkala menyedari kehadiran ayahanda kesayangannya itu.
Lalu ditanya oleh baginda, "Wahai buah hatiku, apakah yang engkau tangiskan itu? Semoga Allah menggembirakanmu."
Dalam nada sayu Fatimah berkata, "Wahai ayahanda, sesungguhnya anakmu ini terlalu penat kerana terpaksa mengisar gandum dan menguruskan segala urusan rumah seorang diri. Wahai ayahanda, kiranya tidak keberatan bolehkah ayahanda meminta suamiku menyediakan seorang pembantu untukku?"
Baginda tersenyum seraya bangun mendapatkan kisaran tepung itu. Dengan lafaz Bismillah, Baginda meletakkan segenggam gandum ke dalam kisaran itu. Dengan izin Allah, maka berpusinglah kisaran itu dengan sendirinya. Hati Fatimah sangat terhibur dan merasa sangat gembira dengan hadiah istimewa dari ayahandanya itu. Habis semua gandumnya dikisar dan batu kisar itu tidak akan berhenti selagi tidak ada arahan untuk berhenti, sehinggalah Rasulullah s. a. w. menghentikannya.
Berkata Rasulullah s. a. w. dengan kata-kata yang masyhur, "Wahai Fatimah, Gunung Uhud pernah ditawarkan kepadaku untuk menjadi emas, namun ayahanda memilih untuk keluarga kita kesenangan di akhirat." Jelas, Baginda Rasul mahu mendidik puterinya bahawa kesusahan bukanlah penghalang untuk menjadi solehah.
Ayahanda yang penyayang terus merenung puterinya dengan pandangan kasih sayang, "Puteriku, mahukah engkau kuajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kau pinta itu?"
"Tentu sekali ya Rasulullah," jawab Siti Fatimah kegirangan.
Rasulullah s. a. w. bersabda, "Jibril telah mengajarku beberapa kalimah. Setiap kali selesai sembahyang, hendaklah membaca 'Subhanallah' sepuluh kali, Alhamdulillah' sepuluh kali dan 'Allahu Akbar' sepuluh kali. Kemudian ketika hendak tidur baca 'Subhanallah', 'Alhamdulillah' dan 'Allahu Akbar' ini sebanyak tiga puluh tiga kali."
Ternyata amalan itu telah memberi kesan kepada Siti Fatimah. Semua kerja rumah dapat dilaksanakan dengan mudah dan sempurna meskipun tanpa pembantu rumah. Itulah hadiah istimewa dari Allah buat hamba-hamba yang hatinya sentiasa mengingatiNya..
Sumber: WSTMTD (FB)
Saturday, 21 August 2010
PINTU TAUBAT SELALU TERBUKA (Malik Bin Dinar)
Sejak dini, aku hidup sebagai pemabuk, tersesat dan ahli maksiat. Menzalimi manusia, merampas harta orang lain, makan riba dan bahkan menggebuki orang adalah pekerjaan harianku. Tak ada hari dalam hidupku tanpa berbuat zalim terhadap manusia.Nyaris semua bentuk maksiat pernah aku lakukan.. Bahkan terkadang orang-orang yang tinggal di sekitarku ngeri mendegar namaku...
Aku ingin menikah
Pada suatu hari, aku sangat ingin menikah karena merindukan punya anak yang akan menghibur kehidupanku yang amat keras itu. Lalu, aku menikahi seorang gadis di kotaku (Baghdad)dan setelah hampir setahun istrikupun melahirkan seorang bayi perempuan yang amat mungil lagi cantik. Bayi itu ku berinama"Fatimah".
Entah bagaimana, aku amat mencintai Fatimah, bahkan melebihi orang lain disekitarku. Semakin Fatimah tumbuh dengan sehat, imanku semakin tumbuh pula dalam hatiku dan maksiat semakin berkurang dalam kehidupanku. Suatu hari, saataku memegang gelas yang isinya khamar (minuman yang memabukkan), Fatimah melihatnya. Ia mencoba mendekatiku dan menghalangi akau meminum khamar tersebut. Aku tidak tahu kenapa Fatimah bisa melakukan hal itu. Pasti, Allahlah yang membuat Fatimah bisa berbuat seperti itu...
Fatimah semakin besar. Imanku pun semakin bertambah dalam hatiku... Setiap aku mendekatkan diri pada Allah satu langkah, maka seperti itu pula aku menjauh dari maksiat. Kondisi seperti itu terus berlanjut sampai Fatimah berusia tiga tahun. Saat memasuki usia tiga tahun, tanpa sebab sakit sedikitpun, Fatimah meninggal dunia....
Kembali mejadi ahli maksiat
Sungguh tak masuk akal... peristiwa "kematian Fatimah" membuatku putus asa danaku berbalik menjadi preman, lebih sadis dan kejam dari sebelum aku menikah...Aku kehilangan kesabaran yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman saat menghadapi ujian. Aku gagal total dalam menghadapi ujian itu...
Kali ini, hidupku kembali sebagai ahli maksiat dan kezaliman. Bahkan lebih dahsyat dari sewaktu aku masih muda. Akhirnya, setan benar-benar berhasil mempermainkan kehidupanku. Sampai pada suatu saat, setan berkata padaku :"Hari ini, hari yang paling bahagia bagi kamu. Kamu silahkan mabuk semabuk-mabukknya yang belum pernah terjadi sepanjang hidupmu..."
Mimpi hari kiamat
Akupun bertekad untuk mabuk dan minum khamar sebanyak-banyaknya. Sepanjang malam itu kerjaku hanya minum dan minum khamar... Saat aku teler dan kemudian ketiduran, tiba-tiba aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku sedang menghadapi sebuah peristiwa besar, yakni kiamat. Matahari tidak lagi memberikan cahayanya ke bumi. Laut berubah menjadi api raksasa.. Di bumi terjadi gempa yang amat dahsyat.. Semua manusia berkumpul di padang mahsyar..Manusia sangat banyak dan hilir mudik bergelombang-gelombang. Aku adalah salah satu di antara mereka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara orang yang memanggil Fulan bin Fulan.. "Ayo segera menghadap yang Maha Perkasa"...Saat itu aku melihat ada orang yang hitam pekat wajahnya karena sangat ketakutan.. Tak lama kemudian, aku mendengar suara memanggil namaku sambil berkata :" Ayo, segera kamu menghadap kepada yang Maha Perkasa"... Tiba-tiba saja semua manusia sangat banyak itu menghilang dari sekelilingku... Tinggal aku sendiri di tengah padang mahsyar yang amat luas itu.
Saat aku melihat ke suatu arah, tiba-tiba aku melihat ULAR yang sangat besar dan garang sedang menuju ke arah tempat aku berdiri sambil membuka mulutnya lebar-lebar..Aku lari dan berlari menjauh dari kejaran ular tersebut karena sangat takut, sampailah aku meihat seorang KAKEK yang sudah sangat lemah.. Lalu aku berkata : "Bapak! Tolonglah aku dan selamatkan aku dari ular itu!" Sang kakek berkata : "Wahai anakku, aku sendiri sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali.. Cobalah anda lari ke suatu tempat di sana semoga ada yang bisa membantumu".. Akupun berlari ke arah yang ditunjukkan kakek tersebut dan ular tersebut di belakangku, sedang di hadapanku ada nyala api yang sangat panas..
Saat itu aku berkata dalam diriku, kamu lari dari kejaran ular atau masuk kedalam api besar itu? Namun aku tetap berlari sedang ular itu semakin menghampiriku.. Aku coba balik lagi ke arah tempat seorang kakek yang menyarankan aku ke suatu tempat itu. Setelah melihatnya, aku berteriak memanggilnya kembali sambil berkata kepadanya: "Demi Allah, tolonglah selamatkan aku! Engkau berkewajiban menyelamatkanku"... Kakek itu pun menangis karena sedih melihat kondisiku sambil berkata : "Aku ini sudah sangat lemah, tidak mampu berbuat apa-apa, seperti yang kamu lihat sendiri.Cobalah lari ke arah bukit sana, semoga kamu selamat.."
Akupun berlari sekencang-kencangnya ke arah bukit yang diisyaratkan kakek tersebut...Sedangkan ular besar itu semakin mendekatiku. Setelah mendekati bukit tersebut, aku mendengar riuh suara anak-anak sedang beteriak memanggil anak-ku Fatimah sambil berkata : "Fatimah! Selamatkan ayahmu! Selamatkan segera ayahmu!"
Tiba-tiba saja Fatimah muncul di hadapanku. Seketika itu pula ketakutanku hilang dan rasa bahagia masuk ke dalam dadaku karena bertemu anakku yang meninggal saat berusia tiga tahun. Aku sangat bahagia karena bertemu anakku dan menyelamatkanku dari kondisi sulit seperti itu.. Lalu Fatimah memelukku dengan tangan kanannya sambil mengusir ular besar itu dengan tangan kirinya. Aku seperti mayat (orang yang sudah mati) tak berdaya karena ketakutan...
Setelah ular itu pergi, Fatimah tiba-tiba duduk di atas pangkuanku persis seperti saat dia masih hidup dulu.. Lalu Fatimah berkata :" Wahai ayahanda tercinta! Sudah saatnya orang-orang beriman itu hati mereka khusyuk mengingatAllah.. (QS. Al-Hadid / 57 : 16)".
Setelah mendengarkan ucapan Fatimah, aku bertanya padanya : "Wahai anakku,apakah gerangan ULAR BESAR itu? Lalu Fatimah menjawabnya: Itulah AMAL KEJAHATANMU. Dengan kejahatan dan kezaliman, berarti ayahanda sendiri yang membesarkannya dan nyaris ia memakan ayah..Tidakkah engkau tahu wahai ayahku bahwa semua amal yang dilakukan di dunia akan muncul dalam bentuk makhluk tertentu pada hari kiamat nanti? LAKI-LAKI yang LEMAH itu, menggambarkan AMALSHOLEH ayah yang tak seberapa.. Engkau sendiri yang melemahkan dan mengerdilkannya sehingga ia menangis melihat kondisimu dan tak mampu berbuatapa-apa padamu."
Kemudian anakku meneruskan ucapannya : "Kalaulah bukan engkau sebagai orang tuaku dan kalaulah bukan aku meninggal saat masih suci (anak-anak), tidakada lagi yang bermanfaat bagimu...."
Tobat dan kembali ke pangkuan Allah
Tiba-tiba aku terbangun sambil berteriak..."Saatnya ya Allah... Sekarangs aatnya aku tobat yaa Robb...Benar, kapan saatnya bagi orang beriman untuk khusyuk hatinya mengingat Allah? Aku berjanji ya Allah...Sekarang juga saatnya..."
Setelah fikiranku agak tenang aku mandi. Saat itu persis waktu subuh. Setelah mandi, aku keluar rumah menuju masjid dekat rumahku dengan semangat bertobat dan kembali kepada pangkuan Allah. Saat aku masuk ke masjid, aku mendengar imam sedang membaca ayat persis seperti yang dibaca anakku dalam mimpi :
"Tidakkah sudah tiba saatnya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hatimereka mengingat Allah dan terhadap apa yang yang turun dari kebenaran(Al-Qur'an). Dan janganlah mereka seperti orang-orang ahlul kitab (Yahudi danNasrani) sebelumnya, maka lama masanya (mereka durhaka pada Allah), lalu hatimereka jadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS.Al-Hadid/57 :16)
Itulah cerita Malik Bin Dinar sebagaimana yang Beliau ceritakan sendiri.Seorang ulama besar zaman tabi'in (generasi setelah sahabat) yang sebelumnya adalah preman besar. Beliau terkenal dengan kebiiasaannya menangis sepanjang malam sambil berdoa :
Ilahi... Engkau saja yang tahu siapa yang akan menjadi penghuni syurga dan siapapula yang akan menjadi penghuni neraka.. Yang manakah aku yaa Robb?
Yaa Allah! Jadikanlah aku penduduk syurga dan jangan jadikan aku penghuninerakamu!
Itulah Malik Bin Dinar. Setelah taubat, beliau belajar Islam dengan sungguh-sungguh sampai menjadi ulama besar di zamannya. Beliau terkenal setiap hari berdiri di pintu masjid sambil berseru :
Wahai hamba yang melakukan maksiat dan dosa, kembalilah kepada Tuhannmu!
Wahai hamba yang masih lalai, kembalilah kepada Tuhanmu!
Wahai hamba yang lari dari Robb (Tuhan Penciptanya), kembalilah kepada-Nya!
Tuhanmu memanggilmu malam dan siang sambil berkata padamu :
Siapa yang datang dan mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka aku akanmendekat padanya satu hasta...
Siapa yang mendekatkan diri pada-Ku satu hasta, maka aku akan mendekatkepadanya satu depa...
Siapa yang datang padaku sambil berjalan, maka Aku akan datang padanya sambilberlari...
Sahabat, betatapun kita telah lari menjauh dari Allah, ketahuilah bahwa Allahsenantiasa sangat rindu menanti kita kembali ke PangkuanNYA,
http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Aku ingin menikah
Pada suatu hari, aku sangat ingin menikah karena merindukan punya anak yang akan menghibur kehidupanku yang amat keras itu. Lalu, aku menikahi seorang gadis di kotaku (Baghdad)dan setelah hampir setahun istrikupun melahirkan seorang bayi perempuan yang amat mungil lagi cantik. Bayi itu ku berinama"Fatimah".
Entah bagaimana, aku amat mencintai Fatimah, bahkan melebihi orang lain disekitarku. Semakin Fatimah tumbuh dengan sehat, imanku semakin tumbuh pula dalam hatiku dan maksiat semakin berkurang dalam kehidupanku. Suatu hari, saataku memegang gelas yang isinya khamar (minuman yang memabukkan), Fatimah melihatnya. Ia mencoba mendekatiku dan menghalangi akau meminum khamar tersebut. Aku tidak tahu kenapa Fatimah bisa melakukan hal itu. Pasti, Allahlah yang membuat Fatimah bisa berbuat seperti itu...
Fatimah semakin besar. Imanku pun semakin bertambah dalam hatiku... Setiap aku mendekatkan diri pada Allah satu langkah, maka seperti itu pula aku menjauh dari maksiat. Kondisi seperti itu terus berlanjut sampai Fatimah berusia tiga tahun. Saat memasuki usia tiga tahun, tanpa sebab sakit sedikitpun, Fatimah meninggal dunia....
Kembali mejadi ahli maksiat
Sungguh tak masuk akal... peristiwa "kematian Fatimah" membuatku putus asa danaku berbalik menjadi preman, lebih sadis dan kejam dari sebelum aku menikah...Aku kehilangan kesabaran yang seharusnya dimiliki oleh orang beriman saat menghadapi ujian. Aku gagal total dalam menghadapi ujian itu...
Kali ini, hidupku kembali sebagai ahli maksiat dan kezaliman. Bahkan lebih dahsyat dari sewaktu aku masih muda. Akhirnya, setan benar-benar berhasil mempermainkan kehidupanku. Sampai pada suatu saat, setan berkata padaku :"Hari ini, hari yang paling bahagia bagi kamu. Kamu silahkan mabuk semabuk-mabukknya yang belum pernah terjadi sepanjang hidupmu..."
Mimpi hari kiamat
Akupun bertekad untuk mabuk dan minum khamar sebanyak-banyaknya. Sepanjang malam itu kerjaku hanya minum dan minum khamar... Saat aku teler dan kemudian ketiduran, tiba-tiba aku bermimpi. Dalam mimpiku, aku sedang menghadapi sebuah peristiwa besar, yakni kiamat. Matahari tidak lagi memberikan cahayanya ke bumi. Laut berubah menjadi api raksasa.. Di bumi terjadi gempa yang amat dahsyat.. Semua manusia berkumpul di padang mahsyar..Manusia sangat banyak dan hilir mudik bergelombang-gelombang. Aku adalah salah satu di antara mereka.
Tiba-tiba, aku mendengar suara orang yang memanggil Fulan bin Fulan.. "Ayo segera menghadap yang Maha Perkasa"...Saat itu aku melihat ada orang yang hitam pekat wajahnya karena sangat ketakutan.. Tak lama kemudian, aku mendengar suara memanggil namaku sambil berkata :" Ayo, segera kamu menghadap kepada yang Maha Perkasa"... Tiba-tiba saja semua manusia sangat banyak itu menghilang dari sekelilingku... Tinggal aku sendiri di tengah padang mahsyar yang amat luas itu.
Saat aku melihat ke suatu arah, tiba-tiba aku melihat ULAR yang sangat besar dan garang sedang menuju ke arah tempat aku berdiri sambil membuka mulutnya lebar-lebar..Aku lari dan berlari menjauh dari kejaran ular tersebut karena sangat takut, sampailah aku meihat seorang KAKEK yang sudah sangat lemah.. Lalu aku berkata : "Bapak! Tolonglah aku dan selamatkan aku dari ular itu!" Sang kakek berkata : "Wahai anakku, aku sendiri sangat lemah dan tidak berdaya sama sekali.. Cobalah anda lari ke suatu tempat di sana semoga ada yang bisa membantumu".. Akupun berlari ke arah yang ditunjukkan kakek tersebut dan ular tersebut di belakangku, sedang di hadapanku ada nyala api yang sangat panas..
Saat itu aku berkata dalam diriku, kamu lari dari kejaran ular atau masuk kedalam api besar itu? Namun aku tetap berlari sedang ular itu semakin menghampiriku.. Aku coba balik lagi ke arah tempat seorang kakek yang menyarankan aku ke suatu tempat itu. Setelah melihatnya, aku berteriak memanggilnya kembali sambil berkata kepadanya: "Demi Allah, tolonglah selamatkan aku! Engkau berkewajiban menyelamatkanku"... Kakek itu pun menangis karena sedih melihat kondisiku sambil berkata : "Aku ini sudah sangat lemah, tidak mampu berbuat apa-apa, seperti yang kamu lihat sendiri.Cobalah lari ke arah bukit sana, semoga kamu selamat.."
Akupun berlari sekencang-kencangnya ke arah bukit yang diisyaratkan kakek tersebut...Sedangkan ular besar itu semakin mendekatiku. Setelah mendekati bukit tersebut, aku mendengar riuh suara anak-anak sedang beteriak memanggil anak-ku Fatimah sambil berkata : "Fatimah! Selamatkan ayahmu! Selamatkan segera ayahmu!"
Tiba-tiba saja Fatimah muncul di hadapanku. Seketika itu pula ketakutanku hilang dan rasa bahagia masuk ke dalam dadaku karena bertemu anakku yang meninggal saat berusia tiga tahun. Aku sangat bahagia karena bertemu anakku dan menyelamatkanku dari kondisi sulit seperti itu.. Lalu Fatimah memelukku dengan tangan kanannya sambil mengusir ular besar itu dengan tangan kirinya. Aku seperti mayat (orang yang sudah mati) tak berdaya karena ketakutan...
Setelah ular itu pergi, Fatimah tiba-tiba duduk di atas pangkuanku persis seperti saat dia masih hidup dulu.. Lalu Fatimah berkata :" Wahai ayahanda tercinta! Sudah saatnya orang-orang beriman itu hati mereka khusyuk mengingatAllah.. (QS. Al-Hadid / 57 : 16)".
Setelah mendengarkan ucapan Fatimah, aku bertanya padanya : "Wahai anakku,apakah gerangan ULAR BESAR itu? Lalu Fatimah menjawabnya: Itulah AMAL KEJAHATANMU. Dengan kejahatan dan kezaliman, berarti ayahanda sendiri yang membesarkannya dan nyaris ia memakan ayah..Tidakkah engkau tahu wahai ayahku bahwa semua amal yang dilakukan di dunia akan muncul dalam bentuk makhluk tertentu pada hari kiamat nanti? LAKI-LAKI yang LEMAH itu, menggambarkan AMALSHOLEH ayah yang tak seberapa.. Engkau sendiri yang melemahkan dan mengerdilkannya sehingga ia menangis melihat kondisimu dan tak mampu berbuatapa-apa padamu."
Kemudian anakku meneruskan ucapannya : "Kalaulah bukan engkau sebagai orang tuaku dan kalaulah bukan aku meninggal saat masih suci (anak-anak), tidakada lagi yang bermanfaat bagimu...."
Tobat dan kembali ke pangkuan Allah
Tiba-tiba aku terbangun sambil berteriak..."Saatnya ya Allah... Sekarangs aatnya aku tobat yaa Robb...Benar, kapan saatnya bagi orang beriman untuk khusyuk hatinya mengingat Allah? Aku berjanji ya Allah...Sekarang juga saatnya..."
Setelah fikiranku agak tenang aku mandi. Saat itu persis waktu subuh. Setelah mandi, aku keluar rumah menuju masjid dekat rumahku dengan semangat bertobat dan kembali kepada pangkuan Allah. Saat aku masuk ke masjid, aku mendengar imam sedang membaca ayat persis seperti yang dibaca anakku dalam mimpi :
"Tidakkah sudah tiba saatnya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hatimereka mengingat Allah dan terhadap apa yang yang turun dari kebenaran(Al-Qur'an). Dan janganlah mereka seperti orang-orang ahlul kitab (Yahudi danNasrani) sebelumnya, maka lama masanya (mereka durhaka pada Allah), lalu hatimereka jadi keras dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. (QS.Al-Hadid/57 :16)
Itulah cerita Malik Bin Dinar sebagaimana yang Beliau ceritakan sendiri.Seorang ulama besar zaman tabi'in (generasi setelah sahabat) yang sebelumnya adalah preman besar. Beliau terkenal dengan kebiiasaannya menangis sepanjang malam sambil berdoa :
Ilahi... Engkau saja yang tahu siapa yang akan menjadi penghuni syurga dan siapapula yang akan menjadi penghuni neraka.. Yang manakah aku yaa Robb?
Yaa Allah! Jadikanlah aku penduduk syurga dan jangan jadikan aku penghuninerakamu!
Itulah Malik Bin Dinar. Setelah taubat, beliau belajar Islam dengan sungguh-sungguh sampai menjadi ulama besar di zamannya. Beliau terkenal setiap hari berdiri di pintu masjid sambil berseru :
Wahai hamba yang melakukan maksiat dan dosa, kembalilah kepada Tuhannmu!
Wahai hamba yang masih lalai, kembalilah kepada Tuhanmu!
Wahai hamba yang lari dari Robb (Tuhan Penciptanya), kembalilah kepada-Nya!
Tuhanmu memanggilmu malam dan siang sambil berkata padamu :
Siapa yang datang dan mendekatkan diri kepada-Ku satu jengkal, maka aku akanmendekat padanya satu hasta...
Siapa yang mendekatkan diri pada-Ku satu hasta, maka aku akan mendekatkepadanya satu depa...
Siapa yang datang padaku sambil berjalan, maka Aku akan datang padanya sambilberlari...
Sahabat, betatapun kita telah lari menjauh dari Allah, ketahuilah bahwa Allahsenantiasa sangat rindu menanti kita kembali ke PangkuanNYA,
http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Thursday, 22 July 2010
Ummu Fadhl – Ibunda Para Ksatria Muslim
Oleh Ustadzah Gustini Ramadhani – Majalah al-Mawaddah
Sebuah pepatah Arab yang masyhur mengatakan:
وَرَاءَكُلِّ رَجُلٍ عَظِيْمٍ امْرَأَةٌ عَظِيْمَةُ
“Di belakang setiap pemuda ksatria ada sang Ibunda bijaksana.”
Wanita Qudwah (teladan) kali ini adalah seorang ibunda dari ksatria-ksatria muslim yang menjadi tonggak-tonggak kebenaran, pahlawan-pahlawan yang menegakkan Islam dengan perjuangan mereka. Dia adalah Lubabah binti al-Harits bin Hazn al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha, istri paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, Abbas bin Abdil Muththolib, yang lebih dikenal dengan Ummul Fadhl karena anak tertuanya bernama al-Fadhl.
Kesuburan Menjadikannya Mulia
Ummul Fadhl ialah seorang wanita yang subur. Kesuburannya itu menjadikan kedudukannya dalan sejarah Islam menjadi tinggi dan mulia. Bayangkan, anak-anaknya yang kebanyakan laki-laki itu semua memiliki kelebihan dan peran penting dalam kemajuan dan perkembangan Islam. Siapakah mereka? Mereka adalah: al-Fadhl, putra tertua, lalu adiknya Abdullah, lalu Ubaidullah, Mu’id, Qots’am, Abdurrohman, dan yang ketujuh seorang putri bernama Ummu Habibah. Mereka semua adalah anak-anaknya dari Abbas radhiyallahu’anhum. Mereka adalah perawi-perawi hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terutama al-Fadhl, Abdullah, dan Ubaidullah. Mereka tidak hanya meriwayatkan (mendengar hadits dari sahabat lain) saja, tetapi juga sima’i (mendengar hadits langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam). Yang paling terkenal memiliki ilmu yang luas dan banyak di antara mereka adalah Abdullah, sehingga ia digelari Habrul Ummah.
Saudara-saudara seibu Ummul Fadhl juga dikenal sebagai orang-orang yang mulia sehingga mereka dikatakan ‘empat bersaudari yang mukminah’. Mereka adalah: Ummul Mukminin Maimunah, Ummul Fadhl, Asma’, dan Salma. Ibu mereka adalah Hindun binti ‘Auf al-Humairiyyah yang dikatakan sebagai wanita yang paling beruntung mendapatkan menantu; Maimunah adalah istri Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, Ummul Fadhl istri dari Abbas bin Abdil Muththolib, Salma adalah istri Hamzah bin Abdil Muththolib, dan Asma’ adalah istri Ja’far bin Abi Tholib yang setelah ia meninggal dinikahi oleh Abu Bakar, lalu setelah Abu Bakat meninggal ia dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib. Bukankah itu sebuah kemuliaan yang tak terhingga?
Ingin Hijrah Namun Belum Sanggup
Ummul Fadhl adalah wanita kedua yang masuk Islam setelah Khodijah radhiyallahu’anha. Putranya menceritakan: “Aku dan ibuku termasuk mustadh’afiin (orang-orang yang lemah dari golongan wanita dan anak-anak yang tidak mampu hijrah)”. Ya, mereka lemah. Sebab, Ummul Fadhl masuk Islam tidak bersama suaminya sehingga ia tidak sanggup hijrah ke Madinah bersama kamu muslimin yang lain. Sementara Abbas bin Abdil Muththolib sekalipun mendampingi Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pada Bai’ah Aqobah, namun ia belum muslim pada saat itu. Pada Perang Badar ia ikut berperang di barisan kaum musyrikin karena terpaksa lalu menjadi tawanan kaum muslimin. Setelah itu, ia masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya. Ia kembali k Makkah dan menjadi mata-mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terhadap kaum musyrikin di Makkah. Abbas dan keluarganya hijrah ke Madinah sebelum penaklukan Kota Makkah. Abbas adalah orang yang sangat dimuliakan Rasulullah shalallahu ‘aoahi wassalam begitu juga para sahabat sangat menghormati dan mengakui keutamaannya. Mereka selalu mengikutsertakannya dalam setiap musyawarah dan mendengar pendapat dan masukan-masukan darinya.
Sang Wanita Pemberani
Ummul Fadhl adalah seorang wanita yang berani dalam kebenaran. Abu Rofi’, maula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bercerita tentang keberanian Ummul Fadhl:
“Suatu waktu, ketika saya masih menjadi budak Abbas bin Abdil Muththolib, dan Abbas telah masuk Islam secara diam-diam. Ummul Fadhl juga telah masuk Islam, dan aku pun juga ikut mereka.
Abu Lahab yang tidak bisa ikut berperang pada Perang Badar mengutus al-Ash bin Hisyam sebagai wakilnya. Begitulah tradisi dan peraturan orang Quraisy, bila seseorang berhalangan untuk ikut berperang maka mereka harus mengutus seorang wakil untuk menggantikannya.”
Abu Rofi’ melanjutkan ceritanya, “Aku adalah laki-laki yang lemah, bekerja sebagai pembuat cawan di semua kamar dekat sumur Zamzam. Ketika mendengar berita banyak orang Quraisy yang terbunuh dan terluka di Badar, makin tertanam dalam jiwa kami kekuatan dan kemuliaan. Dan ketika aku sedang duduk di tempatku bekerja, sementara di dekatku ada Ummul Fadhl, datanglah Abu Lahab ke arah kami dan duduk dekat dengan kami. Lalu terdengar seseorang berkata, ‘Lihatlah itu! Abu Sufyan telah datang.’ Abu Lahab kemudian memanggilnya sambil berkata, ‘Kemarilah, duduk di sini! Aku ingin mendengar berita darimu.’ Maka Abu Sufyan duduk di dekatnya, sementara orang-orang berdiri mengelilinginya.
Maka, mulailah Abu Sufyan bercerita tentang kejadian yang ia hadapi di Badar: ‘Demi Allah, ketika kami menyerang mereka (kaum muslimin), seolah-olah kami hanya menyerahkan diri kami kepada mereka untuk dibunuh semau mereka, dan menawan kami sesuka mereka. Aku tidak percaya mereka yang melakukan itu. Sebab, saat itu kami menghadapi sosok laki-laki putih menunggangi kuda yang menyerang di antara manusia, siapa saja berani mendekatinya pasti akan roboh ke tanah’.”
Abu Rofi’ berkata, “Mendengar itu, maka aku berkata, ‘Demi Allah, itu pasti malaikat!’ Dengan berang Abu Lahab mengangkat tangannya dan menampar wajahku dengan tamparan yang keras, lalu aku menyerangnya. Namun apa daya, aku hanya seorang lelaki yang lemah. Dengan mudah ia dapat menahanku dan membantingku ke tanah, kemudian menduduki dan memukuliku.
Melihat itu, Ummul Fadhl mengambil salah satu tiang kamar lalu memukulkannya ke kepala Abu Lahab yang menyebabkan bengkak dan berdarah, kemudian ia berkata, ‘Engkau berani menyakitinya ketika tuannya tidak ada!’ Dengan perasaan terhina dan malu akhirnya Abu Lahab berpaling dan pergi. Demi Allah, tujuh malam setelah itu, Abu Lahab mati karena penyakit lepra yang ditimpakan Allah kepadanya.”
Itulah sikap seorang mukminah dalam menghadapi musuh Allah yang menyombongkan diri dan berani mengganggu dan menginjak-injak harga diri seorang muslim.
Sosok Wanita yang Cerdas
Selain pemberani, Ummul Fadhl juga seorang wanita yang cantik dan cerdas. Pada Hari Arofah, para sahabat berselisih paham tentang apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam saat itu berpuasa ataukah tidak. Mendengar pengaduan masalah itu, Ummul Fadhl mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meminumnya. Maka tahulah mereka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa. Dengan kecerdasan Ummul Fadhl, hilanglah keraguan dan perselisihan diantara para sahabat. Dan dengan itu mereka mendapatlan hikmah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa ketika wukuf di Arofah.
Suatu hari, Ummul Fadhl mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa ia bermimpi melihat sepotong anggota tubuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di rumahnya. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mena’wilkannya (menafsirkan mimpinya): “Fathimah akan melahirkan seorang bayi laki-laki dan engkau akan menyusuinya bersama putramu Qots’am.” Tak lama setelah itu, lahirlah Husain bin Ali bin Abi Tholib, dan Ummul Fadhl yang menjadi ubu susuannya.
Suatu ketika, Husain kencing ketika berada dalam pangkuan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Melihat kejadian itu, Ummul Fadhl mencubitnya sehingga bayi itu menangis. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berkata: “Engkau telah menyakiti cucuku. Semoga Allah memaafkanmu.” Kemudian beliau meminta air lalu memercikkannya pada tempat yang terkena kencing itu.
Meriwayatkan Hadits Dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam
Demikianlah kehidupan Ummul Fadhl radhiyallahu’anha, wanita yang sering dikunjungi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam semasa hidupnya, dan ibu dari enam pemuda mulia, seorang wanita mukminah yang pemberani dan termasuk orang yang pertama masuk Islam. Ia wafat pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mendahului suaminya, Abbas bin Abdul Muththolib. Ia meninggalkan untuk kaum muslimin tiga puluh hadits yang diriwayatkannya: dua hadits muttafaqun alaihi (diriwayatkan Bukhari dan Muslim), satu hadits diriwayatkan oleh Muslim saja, sisanya dalam kitab-kitab hadits yang lain.
Wahai Muslimah, Jadikanlah Dia Teladanmu!
Semoga kita, para wanita muslimah, dapat menjadikan Ummul Fadhl sebagai qudwah dalam kehidupan kita. Ia dapat mengambil banyak faedah dari kesuburannya, dapat menyumbangkan banyak jasa bagi Islam, baik dengan diri atau melalui anak-anaknya. Wahai ukhtiy (saudariku) muslimah, marilah kita mengintrospeksi diri kita, luruskan dan perbaikilah niat, semoga kita dapat memberikan sumbangsih untuk Islam. Bila kita tidak sanggup menyumbang harta dan tenaga, sumbangkanlah generasi penerus yang akan mengangkat bendera kalimat tauhid agar tetap berkibar di permukaan bumi ini.
Referensi:
* Al-Ishobah fi Ma’rifah ash-Shohabah
* Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ash-hab
* Al-Wafi bil Wafayat
* Asadul Ghobah
* Suwarun min Siyar ash-Shohabiyat
Dikutip dari Majalah al-Mawaddah Edisi 7 Tahun ke-2 Shafar 1430H Februari 2009 • Diketik ulang oleh shalihah.com
Sumber: Ukhtifillah (FB)
Sebuah pepatah Arab yang masyhur mengatakan:
وَرَاءَكُلِّ رَجُلٍ عَظِيْمٍ امْرَأَةٌ عَظِيْمَةُ
“Di belakang setiap pemuda ksatria ada sang Ibunda bijaksana.”
Wanita Qudwah (teladan) kali ini adalah seorang ibunda dari ksatria-ksatria muslim yang menjadi tonggak-tonggak kebenaran, pahlawan-pahlawan yang menegakkan Islam dengan perjuangan mereka. Dia adalah Lubabah binti al-Harits bin Hazn al-Hilaliyyah radhiyallahu’anha, istri paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam, Abbas bin Abdil Muththolib, yang lebih dikenal dengan Ummul Fadhl karena anak tertuanya bernama al-Fadhl.
Kesuburan Menjadikannya Mulia
Ummul Fadhl ialah seorang wanita yang subur. Kesuburannya itu menjadikan kedudukannya dalan sejarah Islam menjadi tinggi dan mulia. Bayangkan, anak-anaknya yang kebanyakan laki-laki itu semua memiliki kelebihan dan peran penting dalam kemajuan dan perkembangan Islam. Siapakah mereka? Mereka adalah: al-Fadhl, putra tertua, lalu adiknya Abdullah, lalu Ubaidullah, Mu’id, Qots’am, Abdurrohman, dan yang ketujuh seorang putri bernama Ummu Habibah. Mereka semua adalah anak-anaknya dari Abbas radhiyallahu’anhum. Mereka adalah perawi-perawi hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terutama al-Fadhl, Abdullah, dan Ubaidullah. Mereka tidak hanya meriwayatkan (mendengar hadits dari sahabat lain) saja, tetapi juga sima’i (mendengar hadits langsung dari Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam). Yang paling terkenal memiliki ilmu yang luas dan banyak di antara mereka adalah Abdullah, sehingga ia digelari Habrul Ummah.
Saudara-saudara seibu Ummul Fadhl juga dikenal sebagai orang-orang yang mulia sehingga mereka dikatakan ‘empat bersaudari yang mukminah’. Mereka adalah: Ummul Mukminin Maimunah, Ummul Fadhl, Asma’, dan Salma. Ibu mereka adalah Hindun binti ‘Auf al-Humairiyyah yang dikatakan sebagai wanita yang paling beruntung mendapatkan menantu; Maimunah adalah istri Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam, Ummul Fadhl istri dari Abbas bin Abdil Muththolib, Salma adalah istri Hamzah bin Abdil Muththolib, dan Asma’ adalah istri Ja’far bin Abi Tholib yang setelah ia meninggal dinikahi oleh Abu Bakar, lalu setelah Abu Bakat meninggal ia dinikahi oleh Ali bin Abi Tholib. Bukankah itu sebuah kemuliaan yang tak terhingga?
Ingin Hijrah Namun Belum Sanggup
Ummul Fadhl adalah wanita kedua yang masuk Islam setelah Khodijah radhiyallahu’anha. Putranya menceritakan: “Aku dan ibuku termasuk mustadh’afiin (orang-orang yang lemah dari golongan wanita dan anak-anak yang tidak mampu hijrah)”. Ya, mereka lemah. Sebab, Ummul Fadhl masuk Islam tidak bersama suaminya sehingga ia tidak sanggup hijrah ke Madinah bersama kamu muslimin yang lain. Sementara Abbas bin Abdil Muththolib sekalipun mendampingi Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam pada Bai’ah Aqobah, namun ia belum muslim pada saat itu. Pada Perang Badar ia ikut berperang di barisan kaum musyrikin karena terpaksa lalu menjadi tawanan kaum muslimin. Setelah itu, ia masuk Islam dan menyembunyikan keislamannya. Ia kembali k Makkah dan menjadi mata-mata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam terhadap kaum musyrikin di Makkah. Abbas dan keluarganya hijrah ke Madinah sebelum penaklukan Kota Makkah. Abbas adalah orang yang sangat dimuliakan Rasulullah shalallahu ‘aoahi wassalam begitu juga para sahabat sangat menghormati dan mengakui keutamaannya. Mereka selalu mengikutsertakannya dalam setiap musyawarah dan mendengar pendapat dan masukan-masukan darinya.
Sang Wanita Pemberani
Ummul Fadhl adalah seorang wanita yang berani dalam kebenaran. Abu Rofi’, maula Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bercerita tentang keberanian Ummul Fadhl:
“Suatu waktu, ketika saya masih menjadi budak Abbas bin Abdil Muththolib, dan Abbas telah masuk Islam secara diam-diam. Ummul Fadhl juga telah masuk Islam, dan aku pun juga ikut mereka.
Abu Lahab yang tidak bisa ikut berperang pada Perang Badar mengutus al-Ash bin Hisyam sebagai wakilnya. Begitulah tradisi dan peraturan orang Quraisy, bila seseorang berhalangan untuk ikut berperang maka mereka harus mengutus seorang wakil untuk menggantikannya.”
Abu Rofi’ melanjutkan ceritanya, “Aku adalah laki-laki yang lemah, bekerja sebagai pembuat cawan di semua kamar dekat sumur Zamzam. Ketika mendengar berita banyak orang Quraisy yang terbunuh dan terluka di Badar, makin tertanam dalam jiwa kami kekuatan dan kemuliaan. Dan ketika aku sedang duduk di tempatku bekerja, sementara di dekatku ada Ummul Fadhl, datanglah Abu Lahab ke arah kami dan duduk dekat dengan kami. Lalu terdengar seseorang berkata, ‘Lihatlah itu! Abu Sufyan telah datang.’ Abu Lahab kemudian memanggilnya sambil berkata, ‘Kemarilah, duduk di sini! Aku ingin mendengar berita darimu.’ Maka Abu Sufyan duduk di dekatnya, sementara orang-orang berdiri mengelilinginya.
Maka, mulailah Abu Sufyan bercerita tentang kejadian yang ia hadapi di Badar: ‘Demi Allah, ketika kami menyerang mereka (kaum muslimin), seolah-olah kami hanya menyerahkan diri kami kepada mereka untuk dibunuh semau mereka, dan menawan kami sesuka mereka. Aku tidak percaya mereka yang melakukan itu. Sebab, saat itu kami menghadapi sosok laki-laki putih menunggangi kuda yang menyerang di antara manusia, siapa saja berani mendekatinya pasti akan roboh ke tanah’.”
Abu Rofi’ berkata, “Mendengar itu, maka aku berkata, ‘Demi Allah, itu pasti malaikat!’ Dengan berang Abu Lahab mengangkat tangannya dan menampar wajahku dengan tamparan yang keras, lalu aku menyerangnya. Namun apa daya, aku hanya seorang lelaki yang lemah. Dengan mudah ia dapat menahanku dan membantingku ke tanah, kemudian menduduki dan memukuliku.
Melihat itu, Ummul Fadhl mengambil salah satu tiang kamar lalu memukulkannya ke kepala Abu Lahab yang menyebabkan bengkak dan berdarah, kemudian ia berkata, ‘Engkau berani menyakitinya ketika tuannya tidak ada!’ Dengan perasaan terhina dan malu akhirnya Abu Lahab berpaling dan pergi. Demi Allah, tujuh malam setelah itu, Abu Lahab mati karena penyakit lepra yang ditimpakan Allah kepadanya.”
Itulah sikap seorang mukminah dalam menghadapi musuh Allah yang menyombongkan diri dan berani mengganggu dan menginjak-injak harga diri seorang muslim.
Sosok Wanita yang Cerdas
Selain pemberani, Ummul Fadhl juga seorang wanita yang cantik dan cerdas. Pada Hari Arofah, para sahabat berselisih paham tentang apakah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam saat itu berpuasa ataukah tidak. Mendengar pengaduan masalah itu, Ummul Fadhl mengirimkan segelas susu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam meminumnya. Maka tahulah mereka bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa. Dengan kecerdasan Ummul Fadhl, hilanglah keraguan dan perselisihan diantara para sahabat. Dan dengan itu mereka mendapatlan hikmah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam tidak berpuasa ketika wukuf di Arofah.
Suatu hari, Ummul Fadhl mengatakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa ia bermimpi melihat sepotong anggota tubuh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam di rumahnya. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam mena’wilkannya (menafsirkan mimpinya): “Fathimah akan melahirkan seorang bayi laki-laki dan engkau akan menyusuinya bersama putramu Qots’am.” Tak lama setelah itu, lahirlah Husain bin Ali bin Abi Tholib, dan Ummul Fadhl yang menjadi ubu susuannya.
Suatu ketika, Husain kencing ketika berada dalam pangkuan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam. Melihat kejadian itu, Ummul Fadhl mencubitnya sehingga bayi itu menangis. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam berkata: “Engkau telah menyakiti cucuku. Semoga Allah memaafkanmu.” Kemudian beliau meminta air lalu memercikkannya pada tempat yang terkena kencing itu.
Meriwayatkan Hadits Dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wassalam
Demikianlah kehidupan Ummul Fadhl radhiyallahu’anha, wanita yang sering dikunjungi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam semasa hidupnya, dan ibu dari enam pemuda mulia, seorang wanita mukminah yang pemberani dan termasuk orang yang pertama masuk Islam. Ia wafat pada masa khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu mendahului suaminya, Abbas bin Abdul Muththolib. Ia meninggalkan untuk kaum muslimin tiga puluh hadits yang diriwayatkannya: dua hadits muttafaqun alaihi (diriwayatkan Bukhari dan Muslim), satu hadits diriwayatkan oleh Muslim saja, sisanya dalam kitab-kitab hadits yang lain.
Wahai Muslimah, Jadikanlah Dia Teladanmu!
Semoga kita, para wanita muslimah, dapat menjadikan Ummul Fadhl sebagai qudwah dalam kehidupan kita. Ia dapat mengambil banyak faedah dari kesuburannya, dapat menyumbangkan banyak jasa bagi Islam, baik dengan diri atau melalui anak-anaknya. Wahai ukhtiy (saudariku) muslimah, marilah kita mengintrospeksi diri kita, luruskan dan perbaikilah niat, semoga kita dapat memberikan sumbangsih untuk Islam. Bila kita tidak sanggup menyumbang harta dan tenaga, sumbangkanlah generasi penerus yang akan mengangkat bendera kalimat tauhid agar tetap berkibar di permukaan bumi ini.
Referensi:
* Al-Ishobah fi Ma’rifah ash-Shohabah
* Al-Isti’ab fi Ma’rifah al-Ash-hab
* Al-Wafi bil Wafayat
* Asadul Ghobah
* Suwarun min Siyar ash-Shohabiyat
Dikutip dari Majalah al-Mawaddah Edisi 7 Tahun ke-2 Shafar 1430H Februari 2009 • Diketik ulang oleh shalihah.com
Sumber: Ukhtifillah (FB)
Tuesday, 20 July 2010
Khaulah Binti Tsa'labah (Wanita Yang AduannyaDidengar Allah Dari Langit Ketujuh)
Khaulah Binti Tsâlabah (Wanita Yang AduannyaDidengar Allah Dari Langit Ketujuh) Beliau adalah Khaulah binti Tsa`labah bin Ashrambin Fahar bin Tsa`labah Ghanam bin ‘Auf. Beliau tumbuh sebagai wanitayang fasih dan pandai. Beliau dinikahi oleh Aus bin Shamit bin Qais,saudara dari Ubadah bin Shamit r.a yang beliau menyertai perang Badardan perang Uhud dan mengikuti seluruh perperangan yang disertaiRasulullah saw. Dengan Aus inilah beliau melahirkan anak laki-lakiyang bernama Rabi`.
Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalammasalah yang membuat Aus marah, dia berkata, Bagiku engkau iniseperti punggung ibuku. Kemudian Aus keluar setelah mengatakankalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu diamasuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dankehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allahterhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam.Khaulah berkata, Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada ditangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telahmengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehinggaAllah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yangmenimpa kita.
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk dihadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengansuaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengannabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, Kami belumpernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut, aku tidakmelihat melainkan engkau sudah haram baginya.
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepadaRasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia haruscerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, Akutidak melihat melainkan engkau telah haram baginya .
Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannyake langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Padakedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan,maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoakepada-Nya. Beliau berdo’a, Ya Allah sesungguhnya aku mengadukepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku .
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliauberdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa,adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk AllahTa`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telahdipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.
Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketikaRasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkalamenerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliaubersabda, Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`antentang ditimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya [artinya],Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukangugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepadaAllah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. SesungguhnyaAllah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: dan bagioranr-orang kafir ada siksaan yang pedih. [Al-Mujadalah:1-4]
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat [tebusan]Zhihar:
Nabi : Perintahkan kepadanya [suami Khansa`] untuk memerdekanseorang budak
Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa diamerdekakan.
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulanberturut-turut
Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukanshaum.
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60orang miskin
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurmaitu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmuitu secara baik.� Maka Khaulah pun melaksanakannya.
Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpinanak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyakhal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanyatinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatianIslam terhadapnya.
Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, Segala puji bagiAllah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telahdatang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw,dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada disamping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudianAllah Azza wa Jalla menurunkan ayat, Sesungguhnya Allah telahmendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentangsuaminya dan mengadukan [halnya] kepada Allah… [Al-Mujadalah: 1]
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikanKhalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikanwejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, Wahai Umar aku telahmengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair [Umar kecil] tatkala engkauberada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu,kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama AmirulMukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilahbarangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadidekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takutkehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takutterhadap Adzab Allah. Beliau katakan hal itu sementara Umar AmirulMukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengarperkataannya.
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidaktahan mengatakan kepada Khaulah, Engkau telah berbicara banyak kepadaAmirul Mukminin wahai wanita.! Umar kemudian menegurnya, Biarkan dia…tahukahkamu siapakah dia Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkanperkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhakuntuk mendengarkan perkataannya.
Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainyabeliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka akutidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang diakehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akanmengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesaikeperluannya.�
[SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdial-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246,penerbit AT-TIBYAN]
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=448677234947
Khaulah binti Tsa`labah mendapati suaminya Aus bin Shamit dalammasalah yang membuat Aus marah, dia berkata, Bagiku engkau iniseperti punggung ibuku. Kemudian Aus keluar setelah mengatakankalimat tersebut dan duduk bersama orang-orang beberapa lama lalu diamasuk dan menginginkan Khaulah. Akan tetapi kesadaran hati dankehalusan perasaan Khaulah membuatnya menolak hingga jelas hukum Allahterhadap kejadian yang baru pertama kali terjadi dalam sejarah Islam.Khaulah berkata, Tidak…jangan! Demi yang jiwa Khaulah berada ditangan-Nya, engkau tidak boleh menjamahku karena engkau telahmengatakan sesuatu yang telah engkau ucapkankan terhadapku sehinggaAllah dan Rasul-Nya lah yang memutuskan hukum tentang peristiwa yangmenimpa kita.
Kemudian Khaulah keluar menemui Rasulullah saw, lalu dia duduk dihadapan beliau dan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dengansuaminya. Keperluannya adalah untuk meminta fatwa dan berdialog dengannabi tentang urusan tersebut. Rasulullah saw bersabda, Kami belumpernah mendapatkan perintah berkenaan urusanmu tersebut, aku tidakmelihat melainkan engkau sudah haram baginya.
Wanita mukminah ini mengulangi perkatannya dan menjelaskan kepadaRasulullah saw apa yang menimpa dirinya dan anaknya jika dia haruscerai dengan suaminya, namun rasulullah saw tetap menjawab, Akutidak melihat melainkan engkau telah haram baginya .
Sesudah itu wanita mukminah ini senantiasa mengangkat kedua tangannyake langit sedangkan di hatinya tersimpan kesedihan dan kesusahan. Padakedua matanya nampak meneteskan air mata dan semacam ada penyesalan,maka beliau menghadap kepada Yang tiada akan rugi siapapun yang berdoakepada-Nya. Beliau berdo’a, Ya Allah sesungguhnya aku mengadukepada-Mu tentang peristiwa yang menimpa diriku .
Alangkah bagusnya seorang wanita mukminah semacam Khaulah, beliauberdiri di hadapan Rasulullah saw dan berdialog untuk meminta fatwa,adapun istighatsah dan mengadu tidak ditujukan melainkan untuk AllahTa`ala. Ini adalah bukti kejernihan iman dan tauhidnya yang telahdipelajari oleh para sahabat kepada Rasulullah saw.
Tiada henti-hentinya wanita ini berdo`a sehingga suatu ketikaRasulullah saw pingsan sebagaimana biasanya beliau pingsan tatkalamenerima wahyu. Kemudian setelah Rasulullah saw sadar kembali, beliaubersabda, Wahai Khaulah, sungguh Allah telah menurunkan al-Qur`antentang ditimu dan suamimu kemudian beliau membaca firman-Nya [artinya],Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan wanita yang mengajukangugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan [halnya] kepadaAllah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. SesungguhnyaAllah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,…sampai firman Allah: dan bagioranr-orang kafir ada siksaan yang pedih. [Al-Mujadalah:1-4]
Kemudian Rasulullah saw menjelaskan kepada Khaulah tentang kafarat [tebusan]Zhihar:
Nabi : Perintahkan kepadanya [suami Khansa`] untuk memerdekanseorang budak
Khaulah : Ya Rasulullah dia tidak memiliki seorang budak yang bisa diamerdekakan.
Nabi : Jika demikian perintahkan kepadanya untuk shaum dua bulanberturut-turut
Khaulah : Demi Allah dia adalah laki-laki yang tidak kuat melakukanshaum.
Nabi : Perintahkan kepadanya memberi makan dari kurma sebanyak 60orang miskin
Khaulah : Demi Allah ya Rasulullah dia tidak memilikinya.
Nabi : Aku bantu dengan separuhnya
Khaulah : Aku bantu separuhnya yang lain wahai Rasulullah.
Nabi : Engkau benar dan baik maka pergilah dan sedekahkanlah kurmaitu sebagai kafarat baginya, kemudian bergaulah dengan anak pamanmuitu secara baik.� Maka Khaulah pun melaksanakannya.
Inilah kisah seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada pemimpinanak Adam a.s yang mengandung banyak pelajaran di dalamnya dan banyakhal yang menjadikan seorang wanita yang mengangkat kepalanyatinggi-tinggi dengan bangga dan perasaan mulia dan besar perhatianIslam terhadapnya.
Ummul mukminin Aisyah ra berkata tentang hal ini, Segala puji bagiAllah yang Maha luas pendengaran-Nya terhadap semua suara, telahdatang seorang wanita yang mengajukan gugatan kepada Rasulullah saw,dia berbincang-bincang dengan Rasulullah saw sementara aku berada disamping rumah dan tidak mendengar apa yang dia katakan, maka kemudianAllah Azza wa Jalla menurunkan ayat, Sesungguhnya Allah telahmendengar perkatan wanita yang memajukan gugatan kepada kamu tentangsuaminya dan mengadukan [halnya] kepada Allah… [Al-Mujadalah: 1]
Inilah wanita mukminah yang dididik oleh Islam yang menghentikanKhalifah Umar bin Khaththab r.a saat berjalan untuk memberikanwejangan dan nasehat kepadanya. Beliau berkata, Wahai Umar aku telahmengenalmu sejak namamu dahulu masih Umair [Umar kecil] tatkala engkauberada di pasar Ukazh engkau mengembala kambing dengan tongkatmu,kemudian berlalulah hari demi hari sehingga memiliki nama AmirulMukminin, maka bertakwalah kepada Allah perihal rakyatmu, ketahuilahbarangsiapa yang takut akan siksa Allah maka yang jauh akan menjadidekat dengannya dan barangsiapa yang takut mati maka dia kan takutkehilangan dan barangsiapa yang yakin akan adanya hisab maka dia takutterhadap Adzab Allah. Beliau katakan hal itu sementara Umar AmirulMukminin berdiri sambil menundukkan kepalanya dan mendengarperkataannya.
Akan tetapi al-Jarud al-Abdi yang menyertai Umar bin Khaththab tidaktahan mengatakan kepada Khaulah, Engkau telah berbicara banyak kepadaAmirul Mukminin wahai wanita.! Umar kemudian menegurnya, Biarkan dia…tahukahkamu siapakah dia Beliau adalah Khaulah yang Allah mendengarkanperkataannya dari langit yang ketujuh, maka Umar lebih berhakuntuk mendengarkan perkataannya.
Dalam riwayat lain Umar bin Khaththab berkata, “Demi Allah seandainyabeliau tidak menyudahi nasehatnya kepadaku hingga malam hari maka akutidak akan menyudahinya sehingga beliau selesaikan apa yang diakehendaki, kecuali jika telah datang waktu shalat maka aku akanmengerjakan shalat kemudian kembali mendengarkannya sehingga selesaikeperluannya.�
[SUMBER: buku Mengenal Shahabiah Nabi SAW., karya Mahmud Mahdial-Istanbuly dan Musthafa Abu an-Nashar asy-Syalaby, h.242-246,penerbit AT-TIBYAN]
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=448677234947
UBAY BIN KA'AB (RASUL MENGAGUMI ILMUNYA)
Nama lengkapnya Ubay bin Ka’ab bin Qis bin ‘Ubaid al-Anshory al-Khazrojy. Beliau adalah Sayyid al-Qurr’o (pemimpin para pembaca al-Qur’an). Biasa dipanggil Abu Thufail.
Rasulullah memberikan panggilan Abu Mundzir (bapak pemberi peringatan). Badannya tidak gemuk dan pendek. Meski demikian beliau sangat disegani di kalangan para sahabat. Dibesarkan di Madinah. Waktunya digunakan untuk bertadabbur dan berkontemplasi dengan alam. Sehingga jarang nampak dalam kerumunan orang. Lebih memilih untuk menyendiri dan menjauhi keramaian sebagaimana biasa orang lakukan. Untuk tujuan itu beliau belajar membaca dan menulis. Kononnya sebelum Rasulullah diutus, beliau bercibaku dengan kepingan-kepingan tulisan kitab Taurat yang didapat dari orang-orang Yahudi yang tinggal bertetangga. Meski demikian beliau tidak terpengaruh dengan pemikiran Yahudi. Bahkan dari apa yang dibaca tidak menemukan jawaban atas apa yang dipikirkan.
‘Siapa yang membuat gunung dengan segala keindahannya dan dalamnya lautan? Siapa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan? Siapa yang menjalankan angin? Inilah diantara renungan dan pertanyaan beliau yang menghantui dirinya siang dan malam. Pada suatu malam Allah berikan kelapangan dadannya untuk menerima ajaran Islam. yaitu setelah mendengar kabar tentang kerasulan Muhammad. Beliau pergi ke Sa’ad bin ar-Robi’ untuk bertanya tentang Islam. Sa’ad pun memberikan penjelasan tentang dakwah kepada Allah dengan cara hikmah, nasehat yang baik dll. Setelah mendengar penjelasannya, akhirnya dengan penuh kesadaran beliau masuk Islam. setelah itu beliau pergi menghadap Rasululah dan ikut memberikan sumpah setia (bai’ah) kepada Rasulullah.
Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam bentuk tulisan, karena Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri , dan ia termasuk diantara para sahabat yang merupakan penghapal Al Qur’an (hafiz).
Ubay juga adalah anggota kelompok penasehat (mushawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakr sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasehat dari kelompok yang sama. Secara spesifik, ia meminta nasehat mengenai fatwa-fatwa kepada Utsman, Ubay and Zaid bin Tsabit.
(lebih lengkapnya di http://abudzakira.wordpress.com/ )
Sumber: Abu Hendrik (FB)
Rasulullah memberikan panggilan Abu Mundzir (bapak pemberi peringatan). Badannya tidak gemuk dan pendek. Meski demikian beliau sangat disegani di kalangan para sahabat. Dibesarkan di Madinah. Waktunya digunakan untuk bertadabbur dan berkontemplasi dengan alam. Sehingga jarang nampak dalam kerumunan orang. Lebih memilih untuk menyendiri dan menjauhi keramaian sebagaimana biasa orang lakukan. Untuk tujuan itu beliau belajar membaca dan menulis. Kononnya sebelum Rasulullah diutus, beliau bercibaku dengan kepingan-kepingan tulisan kitab Taurat yang didapat dari orang-orang Yahudi yang tinggal bertetangga. Meski demikian beliau tidak terpengaruh dengan pemikiran Yahudi. Bahkan dari apa yang dibaca tidak menemukan jawaban atas apa yang dipikirkan.
‘Siapa yang membuat gunung dengan segala keindahannya dan dalamnya lautan? Siapa yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan? Siapa yang menjalankan angin? Inilah diantara renungan dan pertanyaan beliau yang menghantui dirinya siang dan malam. Pada suatu malam Allah berikan kelapangan dadannya untuk menerima ajaran Islam. yaitu setelah mendengar kabar tentang kerasulan Muhammad. Beliau pergi ke Sa’ad bin ar-Robi’ untuk bertanya tentang Islam. Sa’ad pun memberikan penjelasan tentang dakwah kepada Allah dengan cara hikmah, nasehat yang baik dll. Setelah mendengar penjelasannya, akhirnya dengan penuh kesadaran beliau masuk Islam. setelah itu beliau pergi menghadap Rasululah dan ikut memberikan sumpah setia (bai’ah) kepada Rasulullah.
Ubay termasuk salah seorang yang pertama-tama mencatatkan ayat-ayat Al Qur’an ke dalam bentuk tulisan, karena Ubay merupakan salah seorang penulis bagi Nabi Muhammad. Ubay diriwayatkan memiliki suatu mushaf khusus susunannya sendiri , dan ia termasuk diantara para sahabat yang merupakan penghapal Al Qur’an (hafiz).
Ubay juga adalah anggota kelompok penasehat (mushawarah) yang dibentuk oleh khalifah Abu Bakr sebagai tempat bertanya atas berbagai permasalahan. Dewan tersebut terdiri dari Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Kaab sendiri. Setelah menjadi khalifah, Umar bin Khattab kemudian juga meminta nasehat dari kelompok yang sama. Secara spesifik, ia meminta nasehat mengenai fatwa-fatwa kepada Utsman, Ubay and Zaid bin Tsabit.
(lebih lengkapnya di http://abudzakira.wordpress.com/ )
Sumber: Abu Hendrik (FB)
Monday, 19 July 2010
Rasulullah
Sayidina Ibnu Abbas melantunkan syair yang menceritakan perjalanan hidup Nabi sejak sebelum lahir hingga saat kelahirannya:
Sebelum terlahir ke dunia
engkau hidup senang di surga
Ketika aurat tertutup dedaunan
engkau tersimpan di tempat aman
Kemudian engkau turun ke bumi
Bukan sebagai manusia
segumpal darah maupun daging
tapi nutfah di perahu Nuh
Ketika banjir menenggelamkan semuanya
anak-cucu Adam beserta keluarganya
engkau pindah dari sulbi ke rahim
dari satu generasi ke generasi
Hingga kemuliaan dan kehormatanmu
berlabuh di nasab terbaik
yang mengalahkan semua bangsawan
Ketika engkau lahir, bumi bersinar
cakrawala bermandikan cahayamu
Kami pun berjalan di tengah cahaya
sinar dan jalan yang penuh petunjuk
http://www.facebook.com/notes/abi-priyo/rasulullah/424599501104
Sebelum terlahir ke dunia
engkau hidup senang di surga
Ketika aurat tertutup dedaunan
engkau tersimpan di tempat aman
Kemudian engkau turun ke bumi
Bukan sebagai manusia
segumpal darah maupun daging
tapi nutfah di perahu Nuh
Ketika banjir menenggelamkan semuanya
anak-cucu Adam beserta keluarganya
engkau pindah dari sulbi ke rahim
dari satu generasi ke generasi
Hingga kemuliaan dan kehormatanmu
berlabuh di nasab terbaik
yang mengalahkan semua bangsawan
Ketika engkau lahir, bumi bersinar
cakrawala bermandikan cahayamu
Kami pun berjalan di tengah cahaya
sinar dan jalan yang penuh petunjuk
http://www.facebook.com/notes/abi-priyo/rasulullah/424599501104
Fatimah Az-Zahra Bagikan
Riwayat yang masyhur menyebutkan bahwa Fatimah Zahra AS, hanya sempat mengenyam kehidupan yang singkat. Beliau wafat pada usia yang sangat belia, 18 tahun. Meski singkat, kehidupan beliau banyak mengandung pelajaran berharga. Kehidupan putri Rasul ini, laksana permata indah yang memancarkan cahaya. Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak Anda untuk melihat sekelumit dari kepribadian beliau yang agung, untuk dijadikan pedoman, khususnya bagi kaum perempuan.
Tak diragukan lagi, sebagian besar problem dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saat dia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.
Fatimah Zahra AS, adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Zahra AS. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi AS, “Siapakah di antara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin aku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah AS kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah AS mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Maha Benar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah swt melalui firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.” Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah AS diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Zahra AS mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Fatimah AS berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah AS mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Zahra AS menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Hari ini, kami mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah AS dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.“
Kecintaan Rasulullah SAW kepada Fatimah Zahra AS merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah SAW biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi SAW tahu akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita sejagat itu.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Mengapa Anda tidak memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti Fatimah?” Rasul menjawab, “Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keredhaan Allah ada pada keredhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.”
Kesempurnaan manusia tidak mengenal jenis jantina. Kesempurnaan itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada kesempurnaan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki. Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khotbah yang beliau sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat.
Dalam khotbah itu, Fatimah AS menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah dengan memegang teguh agama dan patuh kepada perintah Allah. Beliau yang mengetahui psikologi masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada di tengah mereka. Dalam khotbah itu, Fatimah AS membawakan berbagai ayat suci Al-Qur’an dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan peringatan, diungkapkannya. Dalam khotbah tersebut Fatimah sebagai seorang hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta.
Fatimah Zahra AS, adalah wanita yang mengenal betul kondisi di tengah masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar dan tipu daya musuh-musuh Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan dalam khotbahnya. Singkatnya, Fatimah AS sebagai seorang yang mengetahui seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada semua orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling sempurna. Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan mengikuti jejak Ahlul Bait AS.
Sumber: Catatan Nalde Depooh (FB)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=405555232477
Tak diragukan lagi, sebagian besar problem dan masalah yang dihadapi umat manusia adalah karena kelalaiannya akan hakikat wujud kemanusiaannya, sehingga dia terjebak dalam tipuan dunia. Sebaliknya, manusia bisa mendekatkan diri kepada Tuhan saat dia mengenal dirinya dan mengetahui tugas yang harus ia lakukan dan pertanggungjawabkan kepada Allah, Sang Pencipta alam kehidupan.
Fatimah Zahra AS, adalah seorang figur yang unggul dalam keutamaan ini. Dalam doanya, beliau sering berucap, “Ya Allah, kecilkanlah jiwaku di mataku dan tampakkanlah keagungan-Mu kepadaku. Ya Allah, sibukkanlah aku dengan tugas yang aku pikul saat Engkau menciptakanku, dan jangan Engkau sibukkan aku dengan hal-hal yang lain.”
Keikhlasan dalam beramal adalah jembatan menuju keselamatan dan keberuntungan. Manusia yang memiliki jiwa keikhlasan akan terbebas dari seluruh belenggu hawa nafsu dan akan sampai ke tahap penghambaan murni. Keikhlasan akan memberikan keindahan, kebaikan, dan kejujuran kepada seseorang. Contoh terbaik dalam hal ini dapat ditemukan pada pribadi agung Fatimah Zahra AS. Seseorang pernah bertanya kepada Imam Mahdi AS, “Siapakah di antara putri-putri Nabi yang lebih utama dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi?” Beliau menjawab, “Fatimah.” Dia bertanya lagi, “Bagaimana Anda menyebut Fatimah sebagai yang lebih utama padahal beliau hanya hidup singkat dan tidak lama bersama Nabi?” Beliau menjawab, “Allah memberikan keutamaan dan kemuliaan ini kepada Fatimah karena keikhlasan dan ketulusan hatinya.”
Sayyidah Fatimah dalam munajatnya sering mengungkapkan kata-kata demikian, “Ya Allah, aku bersumpah dengan ilmu ghaib yang Engkau miliki dan kemampuan penciptaan-Mu. Berilah aku keikhlasan. Aku ingin aku tetap tunduk dan menghamba kepada-Mu di kala senang dan susah. Saat kemiskinan mengusikku atau kekayaan datang kepadaku, aku tetap berharap kepada-Mu. Hanya dari-Mu aku memohon kenikmatan tak berujung dan kelapangan pandangan yang tak berakhir dengan kegelapan. Ya Allah, hiasilah aku dengan iman dan masukkanlah aku ke dalam golongan mereka yang mendapatkan petunjuk.”
Kecintaan Fatimah AS kepada Tuhan disebut oleh Rasulullah sebagai buah dari keimanannya yang tulus. Beliau bersabda, “Keimanan kepada Allah telah merasuk ke kalbu Fatimah sedemikian dalam, sehingga membuatnya tenggelam dalam ibadah dan melupakan segalanya.”
Manusia yang mengenal Tuhannya akan menghiasi perilaku dan tutur katanya dengan akhlak yang terpuji. Asma’, salah seorang wanita yang dekat dengan Sayyidah Fatimah AS mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorangpun wanita yang lebih santun dari Fatimah. Fatimah belajar kesantunan dari Dzat yang Maha Benar. Hanya orang yang terdidik dengan tuntunan Ilahi-lah yang bisa memiliki perilaku dan kesantunan yang suci. Ketika Allah swt melalui firman-Nya memerintahkan umat untuk tidak memanggil Rasul dengan namanya, Fatimah lantas memanggil ayahnya dengan sebutan Rasulullah. Kepadanya Nabi bersabda, “Fatimah, ayat suci ini tidak mencakup dirimu.” Dalam kehidupan rumah tangganya, putri Nabi ini selalu menjaga etika dan akhlak. Kehidupan Ali dan Fatimah yang saling menjaga kesantunan ini layak menjadi teladan bagi semua.
Kasih sayang dan kelemah-lembutan Fatimah AS diakui oleh semua orang yang hidup sezaman dengannya. Dalam sejarah disebutkan bahwa kaum fakir miskin dan mereka yang memiliki hajat, akan datang ke rumah Fatimah ketika semua jalan yang bisa diharapkan membantu mengatasi persoalan mereka telah tertutup. Fatimah tidak pernah menolak permintaan mereka, padahal kehidupannya sendiri serba berkekurangan.
Poin penting lain yang dapat dipelajari dari kehidupan dan kepribadian penghulu wanita sejagat ini adalah sikap tanggap dan peduli yang ditunjukkan beliau terhadap masalah rumah tangga, pendidikan dan masalah sosial. Banyak yang berprasangka bahwa keimanan dan penghambaan yang tulus kepada Allah akan menghalangi orang untuk berkecimpung dalam urusan dunia. Kehidupan Sayyidah Fatimah Zahra AS mengajarkan kepada semua orang akan hal yang berbeda dengan anggapan itu. Dunia di mata beliau adalah tempat kehidupan, meski demikian hal itu tidak berarti harus dikesampingkan. Beliau menegaskan bahwa dunia laksana anak tangga untuk menuju ke puncak kesempurnaan, dengan syarat hati tidak tertawan oleh tipuannya. Fatimah AS berkata, “Ya Allah, perbaikilah duniaku bergantungnya kehidupanku. Perbaikilah kondisi akhiratku, karena ke sanalah aku akan kembali. Panjangkanlah umurku selagi aku masih bisa berharap kebaikan dan berkah dari dunia ini…”
Detik-detik akhir kehidupannya telah tiba. Duka dan derita terasa amat berat untuk dipikul oleh putri tercinta Nabi ini. Meski demikian, dengan lemah lembut Fatimah bersimpuh di hadapan Sang Maha Pencipta mengadukan keadaannya. Asma berkata, “Saya menyaksikan saat itu Fatimah AS mengangkat tangannya dan berdoa, “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan perantara kemuliaan Nabi dan kecintaannya kepadaku. Aku memohon kepada-Mu dengan nama Ali dan kesedihannya atas kepergianku. Aku memohon kepada-Mu dengan perantara Hasan dan Husein serta derita mereka yang aku rasakan. Aku memohon kepada-Mu atas nama putri-putriku dan kesedihan mereka. Aku memohon, kasihilah umat ayahku yang berdosa. Ampunilah dosa-dosa mereka. Masukkanlah mereka ke dalam surga-Mu. Sesungguhnya Engkau Dzat Yang Maha Pengasih dari semua pengasih.”
Sebelum ajal datang menjemputnya, Fatimah Zahra AS menghadap kiblat setelah sebelumnya berwudhu. Beliau mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kematian bagai kekasih yang aku nantikan. Ya Allah, curahkanlah rahmat dan inayah-Mu kepadaku. Tempatkanlah ruhku di tengah arwah orang-orang yang suci dan jasadku di sisi jasad-jasad mulia. Ya Allah, masukkanlah amalanku ke dalam amalan-amalan yang Engkau terima.”
Tanggal 3 Jumadi Tsani tahun 11 Hijriyyah, Fatimah Zahra putri kesayangan Nabi menutup mata untuk selamanya. Beliau wafat meninggalkan pelajaran-pelajaran yang berharga bagi kemanusiaan. Hari ini, kami mengucapkan belasungkawa kepada para pecinta keluarga suci Rasul.
Rasul pernah menyifati putrinya, Fatimah AS dengan sabdanya, “Allah telah memenuhi hati dan seluruh anggota tubuh Fatimah dengan keimanan dan keyakinan.” Kepada putrinya itu, beliau pernah bersabda, “Fatimah, Allah telah memilihmu dan menghiasimu dengan makrifat dan pengetahuan. Dia juga telah membersihkanmu dan memuliakanmu di atas wanita seluruh jagat.“
Kecintaan Rasulullah SAW kepada Fatimah Zahra AS merupakan satu hal khusus yang layak untuk dipelajari dari kehidupan beliau. Di saat bangsa Arab menganggap anak perempuan sebagai pembawa sial dan kehinaan, Rasul memuliakan dan menghormati putrinya sedemikian besar. Selain itu, Rasulullah SAW biasa memuji seseorang yang memiliki keutamaan. Dengan kata lain, pujian Rasul kepada Fatimah adalah karena beliau menyaksikan kemuliaan pada diri putrinya itu. Nabi SAW tahu akan apa yang bakal terjadi sepeninggalnya kelak. Karena itu, sejak dini beliau telah mengenalkan kemuliaan dan keagungan Fatimah kepada umatnya, supaya kelak mereka tidak bisa beralasan tidak mengenal keutamaan penghulu wanita sejagat itu.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepada Rasul, “Mengapa Anda tidak memperlakukan anak-anak Anda yang lain seperti Fatimah?” Rasul menjawab, “Engkau tidak mengenal Fatimah. Aku mencium bau surga pada diri Fatimah. Engkau tidak tahu bahwa keredhaan Allah ada pada keredhaan Fatimah dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan Fatimah.”
Kesempurnaan manusia tidak mengenal jenis jantina. Kesempurnaan itu adalah sebuah anugerah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya untuk dapat mengenal dirinya lebih dalam. Fatimah adalah contoh nyata dari sebuah kesempurnaan. Dengan mengikuti dan meneladaninya, kesuksesan dan kebahagiaan hakiki yang menghantarkan kepada kesempurnaan akan bisa digapai. Fatimah adalah wanita yang banyak menimba ilmu, makrifat dan hikmah hakiki. Keluasan ilmunya tampak sekali dalam khotbah yang beliau sampaikan di masjid Nabi, di hadapan para sahabat.
Dalam khotbah itu, Fatimah AS menjelaskan bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah dengan memegang teguh agama dan patuh kepada perintah Allah. Beliau yang mengetahui psikologi masyarakatnya menerangkan berbagai kekurangan yang ada di tengah mereka. Dalam khotbah itu, Fatimah AS membawakan berbagai ayat suci Al-Qur’an dan menjelaskan tafsirannya. Peristiwa yang terjadi di masa lalu, sejarah umat-umat terdahulu yang layak dijadikan pelajaran dan bahan peringatan, diungkapkannya. Dalam khotbah tersebut Fatimah sebagai seorang hamba yang saleh dan arif yang hakiki, menjelaskan kecintaannya kepada Sang Maha Pencipta.
Fatimah Zahra AS, adalah wanita yang mengenal betul kondisi di tengah masyarakat. Beliau sadar akan adanya makar dan tipu daya musuh-musuh Islam. Hal itulah yang kemudian beliau ungkapkan dalam khotbahnya. Singkatnya, Fatimah AS sebagai seorang yang mengetahui seluk beluk politik dan sadar akan kondisi di zamannya, menerangkan kepada semua orang bahwa Islam adalah agama terakhir Tuhan dan syariat yang paling sempurna. Beliau juga menjelaskan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan mengikuti jejak Ahlul Bait AS.
Sumber: Catatan Nalde Depooh (FB)
http://www.facebook.com/note.php?note_id=405555232477
Saturday, 17 July 2010
Abu Bakar
Abu Bakar bernama lengkap Abdullah bin Abi Quhafah At-Taimy. Nama kecilnya adalah Abdul Ka’bah. Gelar “Abu Bakar” diberikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam setelah ia menikahkan Rasul dengan anak gadisnya, ‘Aisya, dan karena cepatnya ia masuk Islam. “Ash- Shiddiq” yang berarti “sangat membenarkan” adalah gelar yang diberikan kepadanya lantaran ia segera membenarkan Rasul dalam berbagai peristiwa, terutama peristiwa Isra’ dan Mi’raj.
Abu Bakar memiliki nama panggilan “Atiq (sang tampan)”, lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. ‘Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pipinya, kecil pinggang (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajah selalu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersahaja dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai maupun katam.” Begitulah karakter phisiknya. Ada pun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (kemauan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala yang syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi ALLAH, serta lembut dan ramah, Quraisy yang supel dalam bergaul, disukai dan diterima, seorang pebisnis, dan berbudi pekerti yang baik, semoga ALLAH meridhainya.
Dakwah Abu Bakar cukup efektif. Sejumlah sahabat masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar, diantaranya: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Thalhah bin Ubaidillah.
Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Banyak manusia bersedih, bahkan Umar murka dan tidak menerima kenyataan yang ada. Saat itu, Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dengan satu khutbah yang terkenal:
“Ketahuilah! Siapa yang menyembah Muhammad, maka ia telah wafat. Dan siapa yang menyembah ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH tidak mati!”
Keberanian Dakwah Abu Bakar.
Abu Bakar adalah seorang lelaki merdeka dan hartawan besar yang pertama sekali beriman (percaya) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seruannya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentangnya, “Aku tidak mengajak seseorang kepada Islam melainkan ada maju mundurnya, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah tidak keberatan padanya dan tidak ada keraguan ketika aku mengajaknya masuk Islam.” (Syirah Ibnu Hisyam).
Ketika jumlah Muslimin Mekkah masih sangat sedikit jumlahnya, Abu Bakar menunjukkan satu keberaniannya berdakwah.
Pada suatu hari, Abu Bakar dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta beberapa sahabat yang lain, bersama pergi ke masjid. Setelah mereka duduk bersama-sama di masjid, Abu Bakar mohon izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berdiri di tengah masjid dan berseru kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka itu insyaf dan mengikuti kepada seruan ALLAH dan Rasul-Nya. Di kala itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Kita masih sedikit, hai sahabatku! Kita masih sedikit, hai Abu Bakar!” Berkali-kali beliau menjawab demikian kepada sahabat Abu Bakar. Tetapi tampak oleh beliau bahwa Abu bakar sangat mendesak untuk mengerjakan keinginannya, berda’wah (berseru). Sebab itu, kehendaknya yang sebaik itu terpaksa diizinkan oleh beliau.
Abu Bakar lalu berdiri teguh ditengah-tengah masjid, lantas berkhutbah dengan suara yang sekeras-kerasnya, berseru kepada kaum musyrikin Quraisy supaya mengikut seruan ALLAH dan Utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu tetap duduk bersama-sama dengan kaum Muslimin.
Setelah seruan Abu Bakar terdengar oleh sebagian kaum musyrikin Quraisy, maka sebentar kemudian mereka datang bersama-sama seraya mengerubuti Abu Bakar. Mereka memukuli Abu Bakar dengan hebatnya. Oleh karena Abu Bakar tidak kuat menolak dan menahan pukulan-pukulan mereka, maka jatuhlah ia. Ketika Abu Bakar hendak melarikan diri, dengan segera ‘Utbah bin Rabi’ah (seorang pemuka pemuda kaum Quraisy) menangkapnya dan membantingnya sehingga jatuh lagi. Lalu dinjak-injaknya Abu Bakar dengan terompahnya yang berpaku hingga hidung Abu bakar tak kelihatan.
Saat itu juga, datang sekelompok orang dari keturunan keluarga Taimy yang masih musyrik juga yang memang untuk menolong Abu Bakar. Mereka segera mencegah musyrikin Qurisy untuk memukul Abu Bakar. Dan terlepaslah Abu Bakar dari penganiayaan kaum musyrikin Quraisy yang sangat kejam. Lalu Abu Bakar dibawa pulang oleh keturunan Taimy ke rumah Abu Quhafah, ayah Abu Bakar. Mereka lalu kembali ke masjid mendapatkan kaum musyrikin Quraisy yang telah memukuli Abu Bakar, dan diantaranya ada yang berkata, “Demi ALLAH! Jika sekiranya Abu Bakar mati terbunuh olehmu, kami harus membunuh ‘Utbah sebagai balasan kepadamu.”
Abu Bakar Khalifatur Rasul
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, beberapa kerabat Rasul berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak menggantikan sebagai khalifah. Namun sebagian kaum Anshar berkumpul di Balai Pertemuan Bani Sa’idah. Mereka hendak mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat. Ketegangan terjadi. Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah datang untuk mengingatkan. Perdebatan terjadi. Mereka membicarakan siapakah yang sepatutnya yang menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah musyawarah dan mengajukan beberapa usulan, tercapailah kesepakatan bulat bahwa khalifah pertama sesudah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang pernah mengimami sholat kaum muslimin pada saat Rasulullah sakit, sahabat yang terbesar dan pendamping di dalam gua Hira. Akhirnya Abu Ubaidah (Muhajirin) dan Basyir bin Sa’ad (Anshar) membai’at Abu Bakar. Umar menyusul membai’at. Demikian pula yang lainnya. Pertikaian pun selesai.
(abudzakira: “nasehati aku")
di http://abudzakira.wordpress.com/
Abu Bakar memiliki nama panggilan “Atiq (sang tampan)”, lantaran wajahnya yang tampan dan cakap orangnya. ‘Aisyah menerangkan karakter bapaknya, “Beliau berkulit putih, kurus, tipis kedua pipinya, kecil pinggang (sehingga kainnya selalu turun dari pinggangnya), wajah selalu berkeringat, hitam matanya, berkening lebar, tidak bisa bersahaja dan selalu mewarnai jenggotnya dengan memakai inai maupun katam.” Begitulah karakter phisiknya. Ada pun akhlaknya, beliau terkenal dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, selalu memiliki ide-ide yang cemerlang dalam keadaan genting, banyak toleransi, penyabar, memiliki azimah (kemauan keras), faqih, paling mengerti dengan garis keturunan Arab dan berita-berita mereka, sangat bertawakal kepada Allah dan yakin dengan segala janji-Nya, bersifat wara’ dan jauh dari segala yang syubhat, zuhud terhadap dunia, selalu mengharapkan apa-apa yang lebih baik di sisi ALLAH, serta lembut dan ramah, Quraisy yang supel dalam bergaul, disukai dan diterima, seorang pebisnis, dan berbudi pekerti yang baik, semoga ALLAH meridhainya.
Dakwah Abu Bakar cukup efektif. Sejumlah sahabat masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar, diantaranya: Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas dan Thalhah bin Ubaidillah.
Kekokohan imannya terlihat ketika Madinah kelabu karena wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Banyak manusia bersedih, bahkan Umar murka dan tidak menerima kenyataan yang ada. Saat itu, Abu Bakar tampil mengingatkan seluruh sahabat dengan satu khutbah yang terkenal:
“Ketahuilah! Siapa yang menyembah Muhammad, maka ia telah wafat. Dan siapa yang menyembah ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH tidak mati!”
Keberanian Dakwah Abu Bakar.
Abu Bakar adalah seorang lelaki merdeka dan hartawan besar yang pertama sekali beriman (percaya) kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan seruannya. Dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda tentangnya, “Aku tidak mengajak seseorang kepada Islam melainkan ada maju mundurnya, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah tidak keberatan padanya dan tidak ada keraguan ketika aku mengajaknya masuk Islam.” (Syirah Ibnu Hisyam).
Ketika jumlah Muslimin Mekkah masih sangat sedikit jumlahnya, Abu Bakar menunjukkan satu keberaniannya berdakwah.
Pada suatu hari, Abu Bakar dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta beberapa sahabat yang lain, bersama pergi ke masjid. Setelah mereka duduk bersama-sama di masjid, Abu Bakar mohon izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk berdiri di tengah masjid dan berseru kepada kaum musyrikin Quraisy agar mereka itu insyaf dan mengikuti kepada seruan ALLAH dan Rasul-Nya. Di kala itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Kita masih sedikit, hai sahabatku! Kita masih sedikit, hai Abu Bakar!” Berkali-kali beliau menjawab demikian kepada sahabat Abu Bakar. Tetapi tampak oleh beliau bahwa Abu bakar sangat mendesak untuk mengerjakan keinginannya, berda’wah (berseru). Sebab itu, kehendaknya yang sebaik itu terpaksa diizinkan oleh beliau.
Abu Bakar lalu berdiri teguh ditengah-tengah masjid, lantas berkhutbah dengan suara yang sekeras-kerasnya, berseru kepada kaum musyrikin Quraisy supaya mengikut seruan ALLAH dan Utusan-Nya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sedangkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam saat itu tetap duduk bersama-sama dengan kaum Muslimin.
Setelah seruan Abu Bakar terdengar oleh sebagian kaum musyrikin Quraisy, maka sebentar kemudian mereka datang bersama-sama seraya mengerubuti Abu Bakar. Mereka memukuli Abu Bakar dengan hebatnya. Oleh karena Abu Bakar tidak kuat menolak dan menahan pukulan-pukulan mereka, maka jatuhlah ia. Ketika Abu Bakar hendak melarikan diri, dengan segera ‘Utbah bin Rabi’ah (seorang pemuka pemuda kaum Quraisy) menangkapnya dan membantingnya sehingga jatuh lagi. Lalu dinjak-injaknya Abu Bakar dengan terompahnya yang berpaku hingga hidung Abu bakar tak kelihatan.
Saat itu juga, datang sekelompok orang dari keturunan keluarga Taimy yang masih musyrik juga yang memang untuk menolong Abu Bakar. Mereka segera mencegah musyrikin Qurisy untuk memukul Abu Bakar. Dan terlepaslah Abu Bakar dari penganiayaan kaum musyrikin Quraisy yang sangat kejam. Lalu Abu Bakar dibawa pulang oleh keturunan Taimy ke rumah Abu Quhafah, ayah Abu Bakar. Mereka lalu kembali ke masjid mendapatkan kaum musyrikin Quraisy yang telah memukuli Abu Bakar, dan diantaranya ada yang berkata, “Demi ALLAH! Jika sekiranya Abu Bakar mati terbunuh olehmu, kami harus membunuh ‘Utbah sebagai balasan kepadamu.”
Abu Bakar Khalifatur Rasul
Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wafat, beberapa kerabat Rasul berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib yang paling berhak menggantikan sebagai khalifah. Namun sebagian kaum Anshar berkumpul di Balai Pertemuan Bani Sa’idah. Mereka hendak mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat. Ketegangan terjadi. Abu Bakar, Umar dan Abu Ubaidah datang untuk mengingatkan. Perdebatan terjadi. Mereka membicarakan siapakah yang sepatutnya yang menggantikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam memimpin kaum Muslimin dan mengurusi persoalan umat. Setelah musyawarah dan mengajukan beberapa usulan, tercapailah kesepakatan bulat bahwa khalifah pertama sesudah kematian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang pernah mengimami sholat kaum muslimin pada saat Rasulullah sakit, sahabat yang terbesar dan pendamping di dalam gua Hira. Akhirnya Abu Ubaidah (Muhajirin) dan Basyir bin Sa’ad (Anshar) membai’at Abu Bakar. Umar menyusul membai’at. Demikian pula yang lainnya. Pertikaian pun selesai.
(abudzakira: “nasehati aku")
di http://abudzakira.wordpress.com/
Thursday, 15 July 2010
IBRAHIM ALAIHISSALAM SANG PAHLAWAN PEMBERANI.
Oleh Al Ustadz Jafar Salih
Minggu, 23 Mei 2010
Ibrahim Alaihissalaam adalah sosok nabi yang agung dan mulia. Berapa banyak lembaran-lembaran kehidupannya yang merupakan teladan bagi setiap insan. Seperti pengorbanannya yang besar ketika Allah mencobanya dengan mimpi untuk menyembelih Ismail anaknya tercinta. Kisah ini sering kali diketengahkan khususnya pada momentum hari raya kurban. Begitu pula kisah beliau ketika meninggalkan istrinya di lembah tak bertuan, kisahnya ketika membangun Ka’bah dan lain sebagainya.
Dan disana ada teladan terbesar yang melebihi kisah-kisah di atas. Tapi hal ini kurang mendapat perhatian dari penulis dan juru-juru khutbah. Yaitu perjuangannya yang besar dalam mendakwahkan Tauhid. Sebagaimana telah diketengahkan pada edisi sebelumnya, bahwa Ibrahim Alaihissalaam melewati fase demi fase dalam dakwahnya ke jalan Allah. Dari mendakwahkan keluarganya sendiri kemudian kaumnya dengan hujjah-hujjah yang kuat kemudian beranjak mendakwahi penguasa dzalim, thagut yang mengaku sebagai tuhan dengan gagah dan penuh keberanian. Akan tetapi semua itu tiada berguna dihadapan massa dan penguasa yang fanatik, mereka membalas hujjah dengan kesombongan dan argumen dengan kebodohan. Dari situlah Ibrahim melakukan reformasi (perubahan) dengan tangan.
Akan tetapi dari manakah beliau memulai dan apakah metode yang tepat dalam merubah realita yang kelam ini?! Apakah Ibrahim akan mengobarkan revolusi kepada pemerintahan ketika itu?!! Bukankan kekuasaan kala itu merupakan sumber kesyirikan dan kesesatan?!! Tidak berhukum dengan hukum Allah, menggunakan syariat buatan?!! Apalagi rajanya sendiri mengaku-ngaku sebagai tuhan?!! Kenapa Ibrahim tidak merencanakan saja sebuah pemberontakan?!! Dengannya beliau bisa memangkas segala macam bentuk kesyirikan dan kerusakan kemudian di atas puing-puingnya beliau bisa mendirikan negara Islam dengan Ibrahim sendiri sebagai pemimpin dan rajanya?!!
Jawaban dari ini semua adalah: sekali-kali tidak! Tidaklah pantas bagi para nabi dan orang-orang suci menempuh jalan-jalan ini atau bahkan berpikir untuk menempuhnya, karena ia adalah jalan-jalan para pelaku kedzaliman dan orang-orang bodoh serta para pencari dunia dan kekuasaan.
Sesungguhnya para nabi adalah da’i-da’i tauhid dan penyampai hidayah kepada manusia dan juru selamat dari kebatilan dan kesyirikan maka apabila mereka beranjak melakukan reformasi dengan tangan (kekuatan) maka mereka adalah orang yang paling tahu caranya dan paling berakal, maka haruslah memulai dengan memberantas kesyirikan dan kesesatan yang hakiki dan seperti itulah yang dilakukan Ibrahim Alaihissalaam sang nabi yang cerdas dan bijak sekaligus pahlawan yang gagah berani. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya.
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main" Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu." Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim." Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan."
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?!
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah sesembahan-sesembahan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak." Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al Anbiya: 51-70)
Demikianlah reformasi Ibrahim sang pahlawan pemberani, nabi yang bijak dan cerdas terhadap kerusakan yang meliputi segenap aspek kehidupan pada masyarakat dan pemerintahan. Bahwasanya Al Qur’an telah menceritakan kepada kita kisah nabi yang mulia ini, imam para nabi bahwa beliau memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah mendakwahkan tauhid dan memerangi kesyirikan. Dan pada kisah selamatnya Ibrahim dari jilatan api yang membakarnya terdapat bukti yang besar akan kenabiannya dan kebenaran dakwahnya dan kebenaran ajaran yang dibawanya dari ajaran tauhid sekaligus juga peristiwa ini sebagai dalil akan batilnya ajaran masyarakat dan pemerintahannya dari ajaran kesyirikan dan kesesatan. Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala menganugrahkan kepada Ibrahim Alaihissalaam atas dakwahnya yang bijak dan jihad dan pengorbanannya yang besar ini dengan balasan yang besar, Allah berfirman,
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al Anbiya: 71-73)
Sumber :
disusun dari "Manhaj Anbiya' fid Dakwah ilallah"
Inilah Jalanku (FB)
Minggu, 23 Mei 2010
Ibrahim Alaihissalaam adalah sosok nabi yang agung dan mulia. Berapa banyak lembaran-lembaran kehidupannya yang merupakan teladan bagi setiap insan. Seperti pengorbanannya yang besar ketika Allah mencobanya dengan mimpi untuk menyembelih Ismail anaknya tercinta. Kisah ini sering kali diketengahkan khususnya pada momentum hari raya kurban. Begitu pula kisah beliau ketika meninggalkan istrinya di lembah tak bertuan, kisahnya ketika membangun Ka’bah dan lain sebagainya.
Dan disana ada teladan terbesar yang melebihi kisah-kisah di atas. Tapi hal ini kurang mendapat perhatian dari penulis dan juru-juru khutbah. Yaitu perjuangannya yang besar dalam mendakwahkan Tauhid. Sebagaimana telah diketengahkan pada edisi sebelumnya, bahwa Ibrahim Alaihissalaam melewati fase demi fase dalam dakwahnya ke jalan Allah. Dari mendakwahkan keluarganya sendiri kemudian kaumnya dengan hujjah-hujjah yang kuat kemudian beranjak mendakwahi penguasa dzalim, thagut yang mengaku sebagai tuhan dengan gagah dan penuh keberanian. Akan tetapi semua itu tiada berguna dihadapan massa dan penguasa yang fanatik, mereka membalas hujjah dengan kesombongan dan argumen dengan kebodohan. Dari situlah Ibrahim melakukan reformasi (perubahan) dengan tangan.
Akan tetapi dari manakah beliau memulai dan apakah metode yang tepat dalam merubah realita yang kelam ini?! Apakah Ibrahim akan mengobarkan revolusi kepada pemerintahan ketika itu?!! Bukankan kekuasaan kala itu merupakan sumber kesyirikan dan kesesatan?!! Tidak berhukum dengan hukum Allah, menggunakan syariat buatan?!! Apalagi rajanya sendiri mengaku-ngaku sebagai tuhan?!! Kenapa Ibrahim tidak merencanakan saja sebuah pemberontakan?!! Dengannya beliau bisa memangkas segala macam bentuk kesyirikan dan kerusakan kemudian di atas puing-puingnya beliau bisa mendirikan negara Islam dengan Ibrahim sendiri sebagai pemimpin dan rajanya?!!
Jawaban dari ini semua adalah: sekali-kali tidak! Tidaklah pantas bagi para nabi dan orang-orang suci menempuh jalan-jalan ini atau bahkan berpikir untuk menempuhnya, karena ia adalah jalan-jalan para pelaku kedzaliman dan orang-orang bodoh serta para pencari dunia dan kekuasaan.
Sesungguhnya para nabi adalah da’i-da’i tauhid dan penyampai hidayah kepada manusia dan juru selamat dari kebatilan dan kesyirikan maka apabila mereka beranjak melakukan reformasi dengan tangan (kekuatan) maka mereka adalah orang yang paling tahu caranya dan paling berakal, maka haruslah memulai dengan memberantas kesyirikan dan kesesatan yang hakiki dan seperti itulah yang dilakukan Ibrahim Alaihissalaam sang nabi yang cerdas dan bijak sekaligus pahlawan yang gagah berani. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan) nya.
(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main" Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya; dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu." Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.
Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim." Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim." Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan."
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap sesembahan-sesembahan kami, hai Ibrahim?" Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara." Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)", kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara." Ibrahim berkata: "Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfa'at sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu" Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?!
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah sesembahan-sesembahan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak." Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", mereka hendak berbuat makar terhadap Ibrahim, maka Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling merugi.” (QS. Al Anbiya: 51-70)
Demikianlah reformasi Ibrahim sang pahlawan pemberani, nabi yang bijak dan cerdas terhadap kerusakan yang meliputi segenap aspek kehidupan pada masyarakat dan pemerintahan. Bahwasanya Al Qur’an telah menceritakan kepada kita kisah nabi yang mulia ini, imam para nabi bahwa beliau memulai dakwahnya dengan memperbaiki akidah mendakwahkan tauhid dan memerangi kesyirikan. Dan pada kisah selamatnya Ibrahim dari jilatan api yang membakarnya terdapat bukti yang besar akan kenabiannya dan kebenaran dakwahnya dan kebenaran ajaran yang dibawanya dari ajaran tauhid sekaligus juga peristiwa ini sebagai dalil akan batilnya ajaran masyarakat dan pemerintahannya dari ajaran kesyirikan dan kesesatan. Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala menganugrahkan kepada Ibrahim Alaihissalaam atas dakwahnya yang bijak dan jihad dan pengorbanannya yang besar ini dengan balasan yang besar, Allah berfirman,
“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia. Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orang-orang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (QS. Al Anbiya: 71-73)
Sumber :
disusun dari "Manhaj Anbiya' fid Dakwah ilallah"
Inilah Jalanku (FB)
Monday, 12 July 2010
Wangi Harum Masyithah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, sayapun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?”
Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”
Saya bertanya, ”Bagaimana bisa demikian?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Allah).”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”
Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.'
Wanita tukang sisir menjawab, 'Silahkan!'
Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir’aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?”
Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Kemudian Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”
Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, “Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?
Ibroh (Pelajaran yang dapat dipetik):
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zumar: 10,
" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas."
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir'aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu.
5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.
Sumver:Jam'iyah Ismul Haq
Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”
Saya bertanya, ”Bagaimana bisa demikian?”
Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut putri Fir’aun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca ”Bismillah (dengan nama Allah).”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”
Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir'aun berkata, 'Akan aku laporkan pada ayahku.'
Wanita tukang sisir menjawab, 'Silahkan!'
Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir’aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?”
Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Kemudian Fir'aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”
Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, “Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?
Ibroh (Pelajaran yang dapat dipetik):
1. Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2. Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3. Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang niscaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah dalam QS: Az-Zumar: 10,
" Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas."
4. Seorang muslim diperbolehkan mengajukan permintaan yang mengandung kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Fir'aun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu.
5. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para waliNya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6. Ketetapan karamah Allah yang diberikan bagi orang shalih dan shalihah.
7. Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa.
Sumver:Jam'iyah Ismul Haq
Friday, 9 July 2010
UMAR BIN ABDUL AZIS DAN LILIN NEGARA.
Siapa yang tak kenal Umar bin Abdul Aziz. Sosok pemimpin adil, arif, lagi berilmu. Banyak kisah teladan yang beliau tinggalkan untuk para peniti kebenaran. Inilah kisah ringkasnya.
Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”
Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan?
Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.
Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.
“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.
Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.
Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”
“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”
Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”
Subhanallah, benar-benar mengagumkan! Segitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin, berbeda dengan mayoritas penguasa yang kita saksikan.
(Sirah Umar bin abdul Aziz, Ibnul Hakam hal. 155-156) Majalah Elfata.
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1509248615037
Suatu hari datanglah seorang utusan dari salah satu daerah kepada beliau. Utusan itu sampai di depan pintu Umar bin Abdul Aziz dalam keadaan malam menjelang. Setelah mengetuk pintu seorang penjaga menyambutnya. Utusan itu pun mengatakan, “Beritahu Amirul Mukminin bahwa yang datang adalah utusan gubernurnya.” Penjaga itu masuk untuk memberitahu Umar yang hampir saja berangkat tidur. Umar pun duduk dan berkata, “Ijinkan dia masuk.”
Utusan itu masuk, dan Umar memerintahkan untuk menyalakan lilin yang besar. Umar bertanya kepada utusan tersebut tentang keadaan penduduk kota, dan kaum muslimin di sana, bagaimana perilaku gubernur, bagaimana harga-harga, bagaimana dengan anak-anak, orang-orang muhajirin dan anshar, para ibnu sabil, orang-orang miskin. Apakah hak mereka sudah ditunaikan?Apakah ada yang mengadukan?
Utusan itu pun menyampaikan segala yang diketahuinya tentang kota kepada Umar bin Abdul aziz. Tak ada sesuatu pun yang disembunyikannya.
Semua pertanyaan Umar dijawab lengkap oleh utusan itu. Ketika Semua pertanyaan Umar telah selesai dijawab semua, utusan itu balik bertanya kepada Umar.
“Ya Amirul Mukminin, bagaimana keadaanmu, dirimu, dan badanmu? Bagaimana keluargamu, seluruh pegawai dan orang-orang yang menjadi tanggung jawabmu? Umar pun kemudian dengan serta merta meniup lilin tersebut dan berkata, “Wahai pelayan, nyalakan lampunya!” Lalu dinyalakannlah sebuah lampu kecil yang hampir-hampir tidak bisa menerangi ruangan karena cahayanya yang teramat kecil.
Umar melanjutkan perkataanya, “Sekarang bertanyalah apa yang kamu inginkan.” Utusan itu bertanya tentang keadaannya. Umar memberitahukan tentang keadaan dirinya, anak-anaknya, istri, dan keluarganya.
Rupanya utusan itu sangat tertarik dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh Umar, mematikan lilin. Dia bertanya, “Ya Amirul Mukminin, aku melihatmu melakukan sesuatu yang belum pernah Anda lakukan.” Umar menimpali, “Apa itu?”
“Engkau mematikan lilin ketika aku menanyakan tentang keadaanmu dan keluargamu.”
Umar berkata, “Wahai hamba Allah, lilin yang kumatikan itu adalah harta Allah, harta kaum muslimin. Ketika aku bertanya kepadamu tentang urusan mereka maka lilin itu dinyalakan demi kemaslahatan mereka. Begitu kamu memmebelokkan pembicaraan tentang keluarga dan keadaanku, maka aku pun mematikan lilin milik kaum muslimin.”
Subhanallah, benar-benar mengagumkan! Segitu besar kesungguhan Umar dalam menjaga harta kaum muslimin, berbeda dengan mayoritas penguasa yang kita saksikan.
(Sirah Umar bin abdul Aziz, Ibnul Hakam hal. 155-156) Majalah Elfata.
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1509248615037
Monday, 5 July 2010
Malam2 Panjang Imam Syafi'i Rahimahumullah
Pada suatu hari al-Imam Asy Syafi'I, . datang berkunjung ke rumah al-Imam bin Hambal. Seusai makan malam bersama, al-Imam Asy Syafi'i masuk ke kamar yang telah disediakan untuknya, dan beliau segera berbaring (tidur) hingga esok fajar.
Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi'i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran¬terheran ia bertanya, "Ayah..., ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi'i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira."
Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. la balik bertanya, "la seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?
Sang putri berkata lagi, "Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru ke luar dari kamarnya sesudah tiba shalat subuh. Ketiga, ia shalat subuh tanpa berwudhu.
Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi'i.
Maka Imam Syafi'i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu dia berkata, "Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bias makan dengan tenang dan lahap. Lagi pula aku tahu engkau adalah seorang pemurah. Makanan orang pemurah itu adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit.... Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad.
....Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan aku melihat dihadapanku kitab Allah dan sunnah Rasulnya. Dengan izin Allah, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fiqih Islam sehingga aku tidak sempat shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat subuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya'.
catatan lain tentang imam syafii rahimahumullah _______________________________________
http://www.facebook.com/note.php?note_id=401812449623
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1458313613325
Puteri Imam Ahmad yang mengamati Imam Syafi'i sejak awal kedatangannya hingga masuk kamar tidur, terkejut melihat teman dekat ayahnya itu. Dengan terheran¬terheran ia bertanya, "Ayah..., ayah selalu memuji dan mengatakan bahwa Imam Syafi'i itu seorang ulama yang amat alim. Tapi setelah kuperhatikan dengan seksama, pada dirinya banyak hal yang tidak berkenan di hatiku, dan tidak sealim yang kukira."
Imam Ahmad agak terkejut mendengar perkataan puterinya. la balik bertanya, "la seorang yang alim, anakku. Mengapa engkau berkata demikian?
Sang putri berkata lagi, "Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya, Ayah. Pertama, pada waktu disuguhi makanan, makannya lahap sekali. Kedua, sejak masuk ke kamarnya, ia tidak shalat malam dan baru ke luar dari kamarnya sesudah tiba shalat subuh. Ketiga, ia shalat subuh tanpa berwudhu.
Imam Ahmad merenungkan perkataan puterinya itu, maka untuk mengetahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya kepada Imam Syafi'i.
Maka Imam Syafi'i tersenyum mendengar pengaduan puteri Imam Ahmad tersebut. Lalu dia berkata, "Ya Ahmad, ketahuilah olehmu. Aku banyak makan di rumahmu karena aku tahu makanan yang ada di rumahmu jelas halal dan thoyib. Maka aku tidak meragukannya sama sekali. Karena itulah aku bias makan dengan tenang dan lahap. Lagi pula aku tahu engkau adalah seorang pemurah. Makanan orang pemurah itu adalah obat, sedangkan makanan orang kikir adalah penyakit.... Aku makan semalam bukan untuk kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makananmu itu, ya Ahmad.
....Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam karena ketika aku meletakkan kepalaku di atas bantal tidur, tiba-tiba seakan aku melihat dihadapanku kitab Allah dan sunnah Rasulnya. Dengan izin Allah, malam itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fiqih Islam sehingga aku tidak sempat shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu lagi ketika shalat subuh karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat fajar dengan wudhu shalat Isya'.
catatan lain tentang imam syafii rahimahumullah _______________________________________
http://www.facebook.com/note.php?note_id=401812449623
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1458313613325
Wednesday, 30 June 2010
Uwais, seorang pemuda langit yg taat pada ibunya
Uwais, seorang pemuda langit yg taat pada ibunya
Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nab, segeralah engkau kembali pulang.”
Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sampbil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.
Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?
Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdulla, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Wajah Uwais Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1147653267591
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1334131159498
Pada zaman Nabi Muhammad saw, ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nab, segeralah engkau kembali pulang.”
Betapa gembiranya hari Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sampbil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.
Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?
Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdulla, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Wajah Uwais Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1147653267591
http://www.facebook.com/?page=1&sk=messages&tid=1334131159498
Tuesday, 29 June 2010
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani
DAPAT HIDAYAH LEWAT MAJALAH.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani pernah menceritakan awal mula beliau mendapat hidayah untuk menekuni sunnah dan mempelajarinya, yang hal ini terjadi pada saat beliau kurang lebih berusia dua puluh tahun.
Beliau berkata, “Suatu hari aku melihat salah satu edisi majalah al Manar di antara sejumlah buku yang terpampang di salah satu toko buku. Akhirnya majalah tersebut aku buka-buka. Di majalah tersebut aku jumpai suatu artikel yang ditulis oleh Sayid Rasyid Ridha yang berisi deskripsi buku Ihya Ulumuddin karya al Ghazali. Dalam artikel tersebut penulis menyebutkan sisi-sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh buku tersebut. Itulah pertama kalinya aku membaca suatu tulisan yang memuat kritikan ilmiah.
Artikel tersebut mendorongku untuk membaca semua artikel yang ada di edisi tersebut. Kemudian aku berusaha untuk mengikuti topik takhrij (telusur hadits) al Hafizh al Iraqi untuk kitab Ihya Ulumuddin. Aku ingat ketika itu aku berusaha untuk menyewa edisi majalah tersebut karena aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku demikian tertarik dengan takhrij hadits yang demikian jeli itu, sehingga aku bertekad bulat untuk menyalinnya”.
Pada akhirnya, Syeikh al Albani menyalin kitab tersebut yaitu takhrij ihya karya al Iraqi yang judul lengkapnya adalah al Mughni ‘an Hamli al Asfar fi al Asfar fi Takhrij maa fi al Ihya min al Akhbar. Beliau salin buku tersebut dengan tulisan beliau yang bagus dan teliti. Beliau susun bagian-bagian buku tersebut dengan sangat bagus. Inilah aktivitas beliau yang pertama terkait dengan hadits. Salinan takhrij Ihya ini masih ada di perpustakaan pribadi beliau hingga saat ini.
Mulai dari sinilah Syeikh al Albani memiliki hubungan yang erat dengan majalah al Manar dan artikel-artikel seputar hadits yang ada di dalamnya. Beliau sangat tertarik dengan artikel-artikel tersebut yang akhirnya mendorong beliau untuk tertarik dengan ilmu hadits, cinta dengan buku-buku hadits dan sangat perhatian untuk mempelajari dan mengkaji buku-buku hadits dengan penuh semangat. Beliaupun berhasil menguasai ilmu hadits dengan sebab anugrah yang Allah berikan berupa pikiran yang tokcer, kecerdasan yang jarang dijumpai dan ketekunan yang luar biasa.
Jika beliau sudah mendapatkan uang yang memadai kebutuhan pokok beliau dari pekerjaan yang beliau tekuni yaitu reparasi jam, beliau berhenti bekerja lalu menyibukkan diri dengan ilmu. Kedai reparasi jam beliau pun berubah menjadi tempat pertemuan para penuntut ilmu.
Subhanallah, bagaimana mungkin ilmu hadits bisa menguasai hati dan pikiran pemuda ini padahal dia tumbuh besar di lingkungan yang semarak dengan ilmu dan ketaatan dalam beragama namun demikian fanatik dengan mazhab fiqh tertentu. Bahkan ayahnya sendiri ketika melihat ketekunan beliau mempelajari ilmu hadits berkomentar, “Hai Muhammad, ilmu hadits adalah kesibukan orang-orang yang bangkrut”.
Ketika ahli sejarah dan pakar hadits dari negeri Halb, Suria yaitu Syeikh Muhammad Raghib al Thabakh melihat betapa menonjolnya pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani dan ketekunannya untuk mempelajari ilmu hadits beliau memberikan kepada pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani ijazah untuk semua kitab hadits yang beliau miliki ijazahnya. Daftar buku-buku hadits yang beliau ijazahkan disebutkan dalam buku tipis yang ditulis oleh beliau sendiri yaitu Muhammad Raghib al Thabakh yang berjudul al Anwar al Jaliyyah fi Mukhtashar al Atsbat al Halabiyyah.
Yang dimaksud ijazah dalam hal ini adalah izin seorang guru kepada muridnya untuk mengajarkan buku yang pernah dipelajari oleh sang guru dari guru dan demikian seterusnya sampai kepada penulis buku tersebut.
Bukanlah rahasia lagi bahwa Syeikh al Albani sering berkata tentang ijazah yang pernah beliau dapatkan ini, “Ijazah tersebut sedikitpun tidaklah menarik perhatianku. Ijazah tersebut hanya aku gunakan untuk membantah orang-orang yang dengki” (Lihat Muhaddits al ‘Ashr karya Sumair bin Amin az Zuhair hal 13-14, terbitan Dar al Mughni).
Sumber: Inilah Jalanku (Al Islam)
Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani pernah menceritakan awal mula beliau mendapat hidayah untuk menekuni sunnah dan mempelajarinya, yang hal ini terjadi pada saat beliau kurang lebih berusia dua puluh tahun.
Beliau berkata, “Suatu hari aku melihat salah satu edisi majalah al Manar di antara sejumlah buku yang terpampang di salah satu toko buku. Akhirnya majalah tersebut aku buka-buka. Di majalah tersebut aku jumpai suatu artikel yang ditulis oleh Sayid Rasyid Ridha yang berisi deskripsi buku Ihya Ulumuddin karya al Ghazali. Dalam artikel tersebut penulis menyebutkan sisi-sisi positif dan negatif yang dimiliki oleh buku tersebut. Itulah pertama kalinya aku membaca suatu tulisan yang memuat kritikan ilmiah.
Artikel tersebut mendorongku untuk membaca semua artikel yang ada di edisi tersebut. Kemudian aku berusaha untuk mengikuti topik takhrij (telusur hadits) al Hafizh al Iraqi untuk kitab Ihya Ulumuddin. Aku ingat ketika itu aku berusaha untuk menyewa edisi majalah tersebut karena aku tidak punya uang untuk membelinya. Aku demikian tertarik dengan takhrij hadits yang demikian jeli itu, sehingga aku bertekad bulat untuk menyalinnya”.
Pada akhirnya, Syeikh al Albani menyalin kitab tersebut yaitu takhrij ihya karya al Iraqi yang judul lengkapnya adalah al Mughni ‘an Hamli al Asfar fi al Asfar fi Takhrij maa fi al Ihya min al Akhbar. Beliau salin buku tersebut dengan tulisan beliau yang bagus dan teliti. Beliau susun bagian-bagian buku tersebut dengan sangat bagus. Inilah aktivitas beliau yang pertama terkait dengan hadits. Salinan takhrij Ihya ini masih ada di perpustakaan pribadi beliau hingga saat ini.
Mulai dari sinilah Syeikh al Albani memiliki hubungan yang erat dengan majalah al Manar dan artikel-artikel seputar hadits yang ada di dalamnya. Beliau sangat tertarik dengan artikel-artikel tersebut yang akhirnya mendorong beliau untuk tertarik dengan ilmu hadits, cinta dengan buku-buku hadits dan sangat perhatian untuk mempelajari dan mengkaji buku-buku hadits dengan penuh semangat. Beliaupun berhasil menguasai ilmu hadits dengan sebab anugrah yang Allah berikan berupa pikiran yang tokcer, kecerdasan yang jarang dijumpai dan ketekunan yang luar biasa.
Jika beliau sudah mendapatkan uang yang memadai kebutuhan pokok beliau dari pekerjaan yang beliau tekuni yaitu reparasi jam, beliau berhenti bekerja lalu menyibukkan diri dengan ilmu. Kedai reparasi jam beliau pun berubah menjadi tempat pertemuan para penuntut ilmu.
Subhanallah, bagaimana mungkin ilmu hadits bisa menguasai hati dan pikiran pemuda ini padahal dia tumbuh besar di lingkungan yang semarak dengan ilmu dan ketaatan dalam beragama namun demikian fanatik dengan mazhab fiqh tertentu. Bahkan ayahnya sendiri ketika melihat ketekunan beliau mempelajari ilmu hadits berkomentar, “Hai Muhammad, ilmu hadits adalah kesibukan orang-orang yang bangkrut”.
Ketika ahli sejarah dan pakar hadits dari negeri Halb, Suria yaitu Syeikh Muhammad Raghib al Thabakh melihat betapa menonjolnya pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani dan ketekunannya untuk mempelajari ilmu hadits beliau memberikan kepada pemuda Muhammad Nashiruddin al Albani ijazah untuk semua kitab hadits yang beliau miliki ijazahnya. Daftar buku-buku hadits yang beliau ijazahkan disebutkan dalam buku tipis yang ditulis oleh beliau sendiri yaitu Muhammad Raghib al Thabakh yang berjudul al Anwar al Jaliyyah fi Mukhtashar al Atsbat al Halabiyyah.
Yang dimaksud ijazah dalam hal ini adalah izin seorang guru kepada muridnya untuk mengajarkan buku yang pernah dipelajari oleh sang guru dari guru dan demikian seterusnya sampai kepada penulis buku tersebut.
Bukanlah rahasia lagi bahwa Syeikh al Albani sering berkata tentang ijazah yang pernah beliau dapatkan ini, “Ijazah tersebut sedikitpun tidaklah menarik perhatianku. Ijazah tersebut hanya aku gunakan untuk membantah orang-orang yang dengki” (Lihat Muhaddits al ‘Ashr karya Sumair bin Amin az Zuhair hal 13-14, terbitan Dar al Mughni).
Sumber: Inilah Jalanku (Al Islam)
Friday, 25 June 2010
Zainab binti Jahsy
Pernikahan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam dengan Zainab binti Jahsy didasarkan pada perintah Allah sebagai jawaban terhadap tradisi jahiliah. Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang berasal dan kalangan kerabat sendiri. Zainab adalah anak perempuan dan bibi Rasulullah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Beliau sangat mencintai Zainab.
Nasab dan Masa Pertumbuhannya
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.
Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.
Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah
Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,
“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)
Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”
Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka :
“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik.
Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.
Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab : 5)
Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat :
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)
Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.
Menjadi Ummul-Mukminin
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.
Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.
Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)
Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.
Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.
Wafatnya
Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.
Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”
Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.
Sumber :
- Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh.
Nasab dan Masa Pertumbuhannya
Nama lengkap Zainab adalah Zainab binti Jahsy bin Ri’ab bin Ya’mar bin Sharah bin Murrah bin Kabir bin Gham bin Dauran bin Asad bin Khuzaimah. Sebelum menikah dengan Rasulullah, namanya adalah Barrah, kemudian diganti oleh Rasulullah menjadi Zainab setelah menikah dengan beliau. Ibu dari Zainab bernama Umaimah binti Abdul-Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushai. Zainab dilahirkan di Mekah dua puluh tahun sebelurn kenabian. Ayahnya adalah Jahsy bin Ri’ab. Dia tergolong pernimpin Quraisy yang dermawan dan berakhlak baik. Zainab yang cantik dibesarkan di tengah keluarga yang terhormat, sehingga tidak heran jika orang-orang Quraisy rnenyebutnya dengan perempuan Quraisy yang cantik.
Zainab termasuk wanita pertarna yang memeluk Islam. Allah pun telah menerangi hati ayah dan keluarganya sehingga memeluk Islam. Dia hijrah ke Madinah bersama keluarganya. Ketika itu dia masih gadis walaupun usianya sudah layak menikah.
Pernikahannya dengan Zaid bin Haritsah
Terdapat beberapa ayat A1-Qur’an yang mernerintahkan Zainab dan Zaid melangsungkan pernikahan. Zainab berasal dan golongan terhormat, sedangkan Zaid bin Haritsah adalah budak Rasulullah yang sangat beliau sayangi, sehingga kaum muslimin menyebutnya sebagai orang kesayangan Rasulullah. Zaid berasal dari keluarga Arab yang kedua orang tuanya beragama Nasrani. Ketika masih kecil, dia berpisah dengan kedua orang tuanya karena diculik, kemudian dia dibeli oleh Hakam bin Hizam untuk bibinya, Khadijah binti Khuwailid r.a., lalu dihadiahkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam.
Ayah Zaid, Haritsah bin Syarahil, senantiasa mencarinya hingga dia mendengar bahwa Zaid berada di rumah Rasulullah. Ketika Rasulullah menyuruh Zaid memilih antara tetap bersama beliau atau kembali pada orang tua dan pamannya, Zaid berkata, “Aku tidak menginginkan mereka berdua, juga tidak menginginkan orang lain yang engkau pilihkan untukku. Engkau bagiku adalah ayah sekaligus paman.” Setelah itu, Rasulullah mengumumkan pembebasan Zaid dan pengangkatannya sebagai anak. Ketika Islam datang, Zaid adalah orang yang pertama kali memeluk Islam dari kalangan budak. Dia senantiasa berada di dekat Nabi, terutama setelah dia rneninggalkan Mekah, sehingga beliau sangat mencintainya, bahkan beliau pernah bersabda tentang Zaid,
“Orang yang aku cintai adalah orang yang telah Allah dan aku beri nikmat. (HR. Ahmad)
Allah telah memberikan nikmat kepada Zaid dengan keislamannya dan Nabi telah memberinya nikmat dengan kebebasannya. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau mempersaudarakan Zaid dengan Hamzah bin Abdul Muththalib. Dalam banyak peperangan, Zaid selalu bersama Rasulullah, dan tidak jarang pula dia ditunjuk untuk menjadi komandan pasukan. Tentang Zaid, Aisyah pernah berkata, “Rasulullah tidak mengirimkan Zaid ke medan perang kecuali selalu menjadikannya sebagai komandan pasukan, Seandainya dia tetap hidup, beliau pasti menjadikannya sebagai pengganti beliau.”
Masih banyak riwayat yang menerangkan kedudukan Zaid di sisi Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.. Sesampainya di Madinah beliau meminang Zainab binti Jahsy untuk Zaid bin Haritsah. Semula Zainab membenci Zaid dan menentang menikah dengannya, begitu juga dengan saudara laki-lakinya. Menurut mereka, bagaimana mungkin seorang gadis cantik dan terhormat menikah dengan seorang budak? Rasulullah menasihati mereka berdua dan menerangkan kedudukan Zaid di hati beliau, sehingga turunlah ayat kepada mereka :
“Dan tidaklah patut bagi laki -laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.“ (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Akhirnya Zainab menikah dengan Zaid sebagai pelaksanaan atas perintah Allah, meskipun sebenarnya Zainab tidak menyukai Zaid. Melalui pernikahan itu Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. ingin menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan di antara manusia kecuali dalam ketakwaan dan amal perbuatan mereka yang baik.
Pernikahan itu pun bertujuan untuk menghilangkan tradisi jahiliah yang senang membanggakan diri dan keturunan. Akan tetapi, Zainab tetap tidak dapat menerima pernikahan tersebut karena ada perbedaan yang jauh di antara mereka berdua. Di depan Zaid, Zainab selalu membangga-banggakan dirinya sehingga menyakiti hati Zaid. Zaid menghadap Rasulullah untuk mengadukan perlakukan Zainab terhadap dirinya. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. menyuruhnya untuk bersabar, dan Zaid pun mengikuti nasihat beliau. Akan tetapi, dia kembali menghadap Rasulullah dan menyatakan bahwa dirinya tidak mampu lagi hidup bersama Zainab.
Mendengar itu, beliau bersabda, “Pertahankan terus istrimu itu dan bertakwalah kepada Allah.” Kemudian beliau mengingatkan bahwa pernikahan itu merupakan perintah Allah. Beberapa saat kemudian turunlah ayat, “Pertahankan terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Zaid berusaha menenangkan din dan bersabar, namun tingkah laku Zainab sudah tidak dapat dikendalikan, akhirnya terjadilah talak. Selanjutnya, Zainab dinikahi Rasulullah.
Prinsip dasar yang melatarbelakangi pernikahan Rasulullah dengan Zainab binti Jahsy adalah untuk menghapuskan tradisi pengangkatan anak yang berlaku pada zaman jahiliah. Artinya, Rasulullah ingin menjelaskan bahwa anak angkat tidak sama dengan anak kandung, seperti halnya Zaid bin Haritsah yang sebelum turun ayat Al-Qur’an telah diangkat sebagai anak oleh beliau. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka,’ itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab : 5)
Karena itu, seseorang tidak berhak mengakui hubungan darah dan meminta hak waris dan orang tua angkat (bukan kandung). Karena itulah Rasulullah menikahi Zainab setelah bercerai dengan Zaid yang sudah dianggap oleh orang banyak sebagai anak Muhammad. Allah telah menurunkan wahyu agar Zaid menceraikan istrinya kemudian dinikahi oleh Rasulullah. Pada mulanya Rasulullab tidak memperhatikan perintah tersebut, bahkan meminta Zaid mempertahankan istrinya. Allah memberikan peringatan sekali lagi dalam ayat :
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya, ‘Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah, ‘sedang kamu menyembunyikan dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah- lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) istri-istri anak- anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluan daripada istrinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.“ (QS. Al-Ahzab:37)
Ayat di atas merupakan perintah Allah agar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam. menikahi Zainab dengan tujuan meluruskan pemahaman keliru tentang kedudukan anak angkat.
Menjadi Ummul-Mukminin
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam. mengutus seseorang untuk mengabari Zainab tentang perintah Allah tersebut. Betapa gembiranya hati Zainab mendengar berita tersebut, dan pesta pernikahan pun segera dilaksanakan serta dihadiri warga Madinah.
Zainab mulai memasuki rurnah tangga Rasulullah dengan dasar wahyu Allah. Dialah satu-satunya istri Nabi yang berasal dan kerabat dekatnya. Rasulullah tidak perlu meminta izin jika memasuki rumah Zainab sedangkan kepada istri-istri lainnya beliau selalu meminta izin. Kebiasaan seperti itu ternyata menimbulkan kecemburuan di hati istri Rasul lainnya.
Orang-orang munafik yang tidak senang dengan perkembangan Islam membesar-besarkan fitnah bahwa Rasulullah telah menikahi istri anaknya sendiri. Karena itu, turunlah ayat yang berbunyi,
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…. “ (Qs. Al-Ahzab: 40)
Zainab berkata kepada Nabi, “Aku adalah istrimu yang terbesar haknya atasmu, aku utusan yang terbaik di antara mereka, dan aku pula kerabat paling dekat di antara mereka. Allah menikahkanku denganmu atas perintah dan langit, dan Jibril yang membawa perintah tersebut. Aku adalah anak bibimu. Engkau tidak memiliki hubungan kerabat dengan mereka seperti halnya denganku.” Zainab sangat mencintai Rasulullah dan merasakan hidupnya sangat bahagia. Akan tetapi, dia sangat pencemburu terhadap istri Rasul lainnya, sehingga Rasulullah pernah tidak tidur bersamanya selama dua atau tiga bulan sebagai hukuman atas perkataannya yang menyakitkan hati Shafiyyah binti Huyay bin Akhtab wanita Yahudiyah itu.
Zainab bertangan terampil, menyamak kulit dan menjualnya, juga mengerjakan kerajinan sulaman, dan hasilnya diinfakkan di jalan Allah.
Wafatnya
Zainab binti Jahsy adalah istri Rasulullah yang pertama kali wafat menyusul beliau, yaitu pada tahun kedua puluh hijrah, pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, dalarn usianya yang ke-53, dan dimakamkan di Baqi. Dalarn sebuah riwayat dikatakan bahwa Zainab berkata menjelang ajalnya, “Aku telah rnenyiapkan kain kafanku, tetapi Umar akan mengirim untukku kain kafan, maka bersedekahlah dengan salah satunya. Jika kalian dapat bersedekah dengan sernua hak-hakku, kerjakanlah dari sisi yang lain.” Sernasa hidupnya, Zainab banyak mengeluarkan sedekah di jalan Allah.
Tentang Zainab, Aisyah berkata, “Semoga Allah mengasihi Zainab. Dia banyak menyamaiku dalarn kedudukannya di hati Rasulullah. Aku belum pernah melihat wanita yang lebih baik agamanya daripada Zainab. Dia sangat bertakwa kepada Allah, perkataannya paling jujur, paling suka menyambung tali silaturahmi, paling banyak bersedekah, banyak mengorbankan diri dalam bekerja untuk dapat bersedekah, dan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Selain Saudah, dia yang memiliki tabiat yang keras.”
Semoga Allah memberikan kemuliaan kepadanya (Sayyidah Zainab Binti Jahsy) di akhirat dan ditempatkan bersama hamba-hamba yang saleh. Amin.
Sumber :
- Buku Dzaujatur-Rasulullah, karya Amru Yusuf, Penerbit Darus-Sa’abu, Riyadh.
Subscribe to:
Posts (Atom)