Bismillahirrahmaanirahiim
Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya.
Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan kita
Tidak lain adalah untuk beribadah kepada Nya.
Nasehat ini untuk semuanya ..........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
Dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
Nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.
Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci...........
Ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena kecantikan,
Bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan.....
Karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan.....
Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.
Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun......
Jika cinta engkau jadikan sebagai landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan......
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan......
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.
Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu".....
Disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..
Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan
sorban, karena sang istri tercinta tidak mendengar kedatangannya.
Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........
Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu".....
Disayang, dimanja dan dilayani suami......
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu.
Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.
Tegaslah terhadap istrimu.....
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya......
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth.....
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu....
Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagai Khadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....
Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam....
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...
Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.
Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan.....
Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka......
Jangan..........
Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.
Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.
Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....
Amin....
Sumber : http://www.dudung.net/artikel-islami/pesan-pesan-al-quran-tentang-tujuan-hidup.html
Assalamu'alaikum.
Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat
Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)
Showing posts with label Pesan Renungan. Show all posts
Showing posts with label Pesan Renungan. Show all posts
Tuesday, 25 September 2012
Friday, 18 February 2011
Hiduplah Seperti Air yang Mengalir
Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan
hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya
kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin
mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan
kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan,
"Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya,
kamu alergi terhadap kehidupan." Banyak sekali di antara kita
yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi
kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak
ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang
penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir
bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti
ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan
kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu
langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan
menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan
bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya
tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore
jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama
ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang
satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia
memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang ke rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan
sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks,
begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan
terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di
restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama
beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin
meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau.
Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir
istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu."
Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke
luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk
melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia
menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia
masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu
lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia
ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh
sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin
aku salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap
orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan
sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.
Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah.
Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap
pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta
menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf,
kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak
ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi
selalu stres karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup
menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore
sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya
sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja
botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau
hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa
maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap
detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa
hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah
jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu
pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam
kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang,
selalu HIDUP!
Sumber: Abu Hudzaifah
hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya
kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin
mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan
kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan,
"Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya,
kamu alergi terhadap kehidupan." Banyak sekali di antara kita
yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita
melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.
Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi
kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak
ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang
penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir
bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti
ada pasang-surutnya. Dalam hal berumah-tangga,bentrokan-bentrokan
kecil itu memang wajar, lumrah. Persahabatan pun tidak selalu
langgeng, tidak abadi. Apa sih yang langgeng, yang abadi dalam
hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin
mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan
menderita.
"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu ingin sembuh dan
bersedia mengikuti petunjukku." demikian sang Master.
"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya
tidak ingin hidup." pria itu menolak tawaran sang guru.
"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"
"Ya, memang saya sudah bosan hidup."
"Baik, besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.
Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi besok sore
jam enam, dan jam delapan malam kau akan mati dengan tenang."
Giliran dia menjadi bingung. Setiap Master yang ia datangi selama
ini selalu berupaya untuk memberikannya semangat untuk hidup. Yang
satu ini aneh. Ia bahkan menawarkan racun. Tetapi, karena ia
memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.
Pulang ke rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang
disebut "obat" oleh Master edan itu. Dan, ia merasakan ketenangan
sebagaimana tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks,
begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan
terbebaskan dari segala macam masalah.
Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di
restoran Jepang. Sesuatu yang sudah tidak pernah ia lakukan selama
beberapa tahun terakhir. Pikir-pikir malam terakhir, ia ingin
meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau.
Suasananya santai banget! Sebelum tidur, ia mencium bibir
istrinya dan membisiki di kupingnya, "Sayang, aku mencintaimu."
Karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis!
Esoknya bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke
luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk
melakukan jalan pagi. Pulang kerumah setengah jam kemudian, ia
menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia
masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu
lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir,ia
ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh
sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin
aku salah. Maafkan aku, sayang."
Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap
orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Boss kita kok aneh ya?" Dan
sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut.
Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan
kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah.
Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan apresiatif terhadap
pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia
mulai menikmatinya.
Pulang kerumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta
menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang
memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf,
kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak
ingin ketinggalan, "Pi, maafkan kami semua. Selama ini, Papi
selalu stres karena perilaku kami."
Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup
menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.
Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore
sebelumnya?
Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya
sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja
botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apa bila kau
hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa
maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap
detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu.
Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai
kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa
hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah
jalan menuju ketenangan."
Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu
pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya.
Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam
kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang,
selalu HIDUP!
Sumber: Abu Hudzaifah
Monday, 14 February 2011
Saat - Saat Resah Menanti Kedatangannya
Ada saat-saat ketika resah tak menemukan jawabnya.
Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah.
Di saat kesendiriaan tak sanggup kita tanggungkan,
sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga,
ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih :
"Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir??”
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggamanNya.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam,
dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih.
Kita mencoba merenung sejenak secara jujur,
apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepadaNya,
sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan dan bahkan mungkin kesombongan kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.
Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?
Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk semua orang?
Cobalah bertanya sejenak pada hati nurani, tanpa perlu menitikkan airmata duka.
Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai suami atau istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya.
Cobalah! Cobalah! Cobalah! Dan tahan dulu kerisauan itu…….
Sudahkah kita bertanya pada hati nurani…….penantian itu, apakah sebabnya tak kunjung berakir??
KADANG IA ADALAH UJIAN
Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNya agar dengan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimanannya dan orang-orang yang benar-benar mencintaiNya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika ingin naik kelas. Sesungguhnya Allah tidak akan member ujian yang melebihi batas kesanggupan hambaNya.
“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)
Pertanyaannya, apakah yang kita hadapi sekarang merupakan ujian dari Allah??
Wallahu ‘Alam bisshowab. Yang bisa mengetahui adalah diri kita sendiri. Nurani kita yang dapat meraba. Karena itu, bertanyalah pada hati nuranimu.
Selebihnya, ada beberapa hal yang dapat kita catat. Jika sudah bersungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu tetapi belum datang-datang juga. Jika sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Kalau sudha berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh tetapi tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau sudah didesak oleh kerinduan sembari disaat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh merupakan ujian…..
Obat menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdoa dan sabar dalam memegangi kebenaran. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mendapat pertolongan Allah.
BARANGKALI KITALAH PENYEBABNYA
Betapa banyak orang yang menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Untuk seorang laki-laki, kadang-kadang karir menjadi alasan. Karir yang belum seberapa menjadikan niat dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang banyak agar bisa menyenangkan istrinya kelak. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan melurukan niat. Bagaimana mungkin mendapatkan pendamping yang bisa mencintai dengan sederhana jika menjadikan gemerlap kemapanan sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang menerima dengan sepenuh hati dan tidak ada cinta untuk wanita lain kecuali untuk istrinya sementara meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat pernikahan? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang terjaga jika mendekatinya dengan cara menggodanya?? Jika ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, pasti tak bisa didapatkan dengan : “Hai cowok……godain kita, dong”
Diluar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhoi tak jarang karena kita sendiri penyebabnya. Begitu banyak wanita yang menunda pernikahannya karena alasan kuliah atau alasan masih muda atau bahkan karena ingin mengejar karir. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya tapi…dengan alasan karir, masih muda, ingin mengejar cita, tidak mau terkekang, masih ingin kuliah ia menolak semua ajakan serius. Sampai semua keinginan telah tercapai, saat karir sudah mapan, kuliah sampai S3, cita sudah tergenggam; sampai ia tersadar bahwa usianya sudah tak terlalu muda lagi, sampai ia merasakan betapa sepinya hidup. Sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangatlah sulit, sesulit menaklukkan hatinya ketika ia masih muda dulu.
Ketika mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Menunda-nuda pernikahan tanpa alasan syar’i dan akhirnya benar-benar takut melangkah si saat hati sudah benar-benar gelisah tetapi tak kunjung ada yang mau serius.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjut. Bila di usia-usia dua puhan tahun menunda pernikahan karena takut dengan ekonomi yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan. Mereka menginginkan pendamping dengan criteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak criteria semakin sedikit pula yang masuk criteria. Ketika menetapkan criteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan. Sementara wanita memiliki ambang batas usia, masalah yang dihadapi bukan soal criteria tapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua.
Ya….ya….ya….kadang kita sendirilah penyebabnya. Kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu sendiri penyebabnya, beristigfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aminnnnn….
ADA YANG TAK BISA KITA INGKARI
Kadang, ada perasaan kepada sesorang. Seperti Mughits…(salah seorang sahabat Rasulullah) yang selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata mengawasi, hati mencari-cari dan telinga merasa indah ketika mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayam di dada. Bukan karena terlalu menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dari sebuah Bukunya, “Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta”
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti- kadang sampai membuat badan kurus kering—sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Merasa yakin dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tidak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.
Kita bisa menengok sejarah betapa para salafush-shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Marilah kita membedakan antara menjaga pandangan dengan mengendalikan perasaan dan mengingkari perasaan.
Di atas semua itu, Allah akan senantiasa membuka pintuNya untuk kita. Ketuklah pertolonganNya dengan do’a. di saat merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,
“Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits” (Qs. Al Anbiya : 89)
Panjatkanlah doa saat merasa gelisah oleh rasa sepi mencekam. Panjatkan doa saat merasa membutuhkan hadirnya seorang pendamping, saat hati dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula doa saat hati merasa dekat denganNya, saat dalam perjalanan ketika Allah jadikan doa mustajabah dan saat mustajab lainnya.
Wallahu A’lam
Disadur dari Buku Saatnya Untuk Menikah Karya : Mohammad Fauzil Adhim
Sumber: Lembaga Sakinah FB
Ada saat-saat ketika gelisah tak menemukan muaranya kecuali dengan menikah.
Di saat kesendiriaan tak sanggup kita tanggungkan,
sementara peristiwa suci itu tak datang-datang juga,
ada yang perlu kita renungkan dengan hati yang jernih :
"Kesendirian yang panjang itu, apakah sebabnya sehingga tak kunjung berakhir??”
Ada yang tak bisa kita jawab, karena semua rahasia ada dalam genggamanNya.
Tetapi ada satu hal yang bisa kita coba telusuri diam-diam,
dengan hati yang tenang dan jiwa yang bersih.
Kita mencoba merenung sejenak secara jujur,
apakah lambatnya jodoh itu merupakan ujian atas ketakwaan kita yang tinggi kepadaNya,
sebagai teguran atas kekhilafan-kekhilafan dan bahkan mungkin kesombongan kita terhadap apa yang diberikan Allah kepada kita, ataukah jodoh sesungguhnya belum saatnya tiba.
Bukankah segala sesuatu ada masanya sendiri?
Bukankah kematian juga tidak datang pada saat yang sama, usia yang sama dan keadaan yang sama untuk semua orang?
Cobalah bertanya sejenak pada hati nurani, tanpa perlu menitikkan airmata duka.
Kalau malam telah lelap, dan suara-suara telah sunyi, renungkanlah dengan jernih apakah jodoh yang tak datang-datang itu sebagai kesempatan dari Allah agar kita menyiapkan bekal yang lebih sempurna untuk memenuhi amanah sebagai suami atau istri dan ibu atas anak-anak yang kita lahirkan kelak?
Cobalah untuk bertanya.
Cobalah! Cobalah! Cobalah! Dan tahan dulu kerisauan itu…….
Sudahkah kita bertanya pada hati nurani…….penantian itu, apakah sebabnya tak kunjung berakir??
KADANG IA ADALAH UJIAN
Allah memberikan ujian kepada hamba-hambaNya agar dengan itu orang-orang yang mengaku beriman, teruji keimanannya dan orang-orang yang benar-benar mencintaiNya dapat memperoleh kedudukan yang lebih tinggi di sisiNya. Ibarat kita sekolah, ada ujian yang harus kita tempuh ketika ingin naik kelas. Sesungguhnya Allah tidak akan member ujian yang melebihi batas kesanggupan hambaNya.
“……..Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekedar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (QS. Ath-Thalaaq : 7)
Pertanyaannya, apakah yang kita hadapi sekarang merupakan ujian dari Allah??
Wallahu ‘Alam bisshowab. Yang bisa mengetahui adalah diri kita sendiri. Nurani kita yang dapat meraba. Karena itu, bertanyalah pada hati nuranimu.
Selebihnya, ada beberapa hal yang dapat kita catat. Jika sudah bersungguh menata diri, mempersiapkan hati dan mencari ilmu tetapi belum datang-datang juga. Jika sudah menyerahkan segalanya kepada Allah tentang siapa yang akan menjadi pendamping hidup. Kalau sudha berusaha dengan sepenuh hati untuk menjemput jodoh tetapi tak kunjung terjawab kegelisahan itu. Kalau sudah didesak oleh kerinduan sembari disaat yang sama senantiasa menjaga diri. Maka, terlambatnya jodoh merupakan ujian…..
Obat menghadapi ujian adalah sabar. Sabar dalam menanti takdir. Sabar dalam berusaha. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berdoa dan sabar dalam memegangi kebenaran. Semoga dengan demikian kita termasuk orang-orang yang mendapat pertolongan Allah.
BARANGKALI KITALAH PENYEBABNYA
Betapa banyak orang yang menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Untuk seorang laki-laki, kadang-kadang karir menjadi alasan. Karir yang belum seberapa menjadikan niat dipendam dalam-dalam karena merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang banyak agar bisa menyenangkan istrinya kelak. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati, memantapkan tujuan dan melurukan niat. Bagaimana mungkin mendapatkan pendamping yang bisa mencintai dengan sederhana jika menjadikan gemerlap kemapanan sebagai pemikatnya? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang menerima dengan sepenuh hati dan tidak ada cinta untuk wanita lain kecuali untuk istrinya sementara meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum terikat pernikahan? Bagaimana mungkin mendapatkan suami yang terjaga jika mendekatinya dengan cara menggodanya?? Jika ingin mendapatkan suami yang bisa menjaga pandangan, pasti tak bisa didapatkan dengan : “Hai cowok……godain kita, dong”
Diluar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih pernikahan yang diridhoi tak jarang karena kita sendiri penyebabnya. Begitu banyak wanita yang menunda pernikahannya karena alasan kuliah atau alasan masih muda atau bahkan karena ingin mengejar karir. Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang mau serius dengannya tapi…dengan alasan karir, masih muda, ingin mengejar cita, tidak mau terkekang, masih ingin kuliah ia menolak semua ajakan serius. Sampai semua keinginan telah tercapai, saat karir sudah mapan, kuliah sampai S3, cita sudah tergenggam; sampai ia tersadar bahwa usianya sudah tak terlalu muda lagi, sampai ia merasakan betapa sepinya hidup. Sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada, mencari orang yang mau serius dengannya sangatlah sulit, sesulit menaklukkan hatinya ketika ia masih muda dulu.
Ketika mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah, akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris tak menemukan jalan keluarnya. Menunda-nuda pernikahan tanpa alasan syar’i dan akhirnya benar-benar takut melangkah si saat hati sudah benar-benar gelisah tetapi tak kunjung ada yang mau serius.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus berlanjut. Bila di usia-usia dua puhan tahun menunda pernikahan karena takut dengan ekonomi yang belum mapan, di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan. Mereka menginginkan pendamping dengan criteria yang sulit dipenuhi. Seperti hukum kategori, semakin banyak criteria semakin sedikit pula yang masuk criteria. Ketika menetapkan criteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada yang sesuai dengan keinginan. Sementara wanita memiliki ambang batas usia, masalah yang dihadapi bukan soal criteria tapi soal apakah ada orang yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua.
Ya….ya….ya….kadang kita sendirilah penyebabnya. Kita mempersulit apa yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita terbelit oleh kerumitan yang tak berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu sendiri penyebabnya, beristigfarlah. Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan segala urusan kita. Aminnnnn….
ADA YANG TAK BISA KITA INGKARI
Kadang, ada perasaan kepada sesorang. Seperti Mughits…(salah seorang sahabat Rasulullah) yang selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata mengawasi, hati mencari-cari dan telinga merasa indah ketika mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayam di dada. Bukan karena terlalu menenggelamkan diri dalam lautan perasaan, tetapi seperti kata Ibnul Qayyim Al Jauziyah dari sebuah Bukunya, “Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu aku tidak akan memilih jatuh cinta”
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti- kadang sampai membuat badan kurus kering—sampai batas waktu yang kita sendiri tak berani menentukan. Merasa yakin dia jodoh kita, atau merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tidak ada langkah-langkah pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.
Kita bisa menengok sejarah betapa para salafush-shaleh terdahulu mengambil sikap yang sangat indah tentang dua orang yang saling mencintai. Mereka tidak memisahkan begitu saja, sebab tak ada yang tampak lebih indah bagi dua orang yang saling mencintai kecuali menikah. Marilah kita membedakan antara menjaga pandangan dengan mengendalikan perasaan dan mengingkari perasaan.
Di atas semua itu, Allah akan senantiasa membuka pintuNya untuk kita. Ketuklah pertolonganNya dengan do’a. di saat merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,
“Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik Warits” (Qs. Al Anbiya : 89)
Panjatkanlah doa saat merasa gelisah oleh rasa sepi mencekam. Panjatkan doa saat merasa membutuhkan hadirnya seorang pendamping, saat hati dicekam oleh kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula doa saat hati merasa dekat denganNya, saat dalam perjalanan ketika Allah jadikan doa mustajabah dan saat mustajab lainnya.
Wallahu A’lam
Disadur dari Buku Saatnya Untuk Menikah Karya : Mohammad Fauzil Adhim
Sumber: Lembaga Sakinah FB
Monday, 1 November 2010
Wanita Berpurdah
Suatu kisah...Kisah ini berlaku sewaktu aku di Madinah. Suatu hari aku berjalan melalui pasar. Sebaik saja muazzin melaungkan azan, aku terlihat seorang wanita. Wanita itu ganjil cantiknya. Dia berpaling kepadaku seolah-olah tahu bahawa aku merenungnya. Malah dia memberikanku anggukan kecil penuh bermakna sebelum wanita itu berpusing di satu sudut menuju ke lorong penjual sutera.
Bagaikan terkena panahan halilintar, aku serta-merta tertarik, hatiku terpukau dengan wanita itu. Dalam kepayahan aku berdebat dengan hatiku, memberikan satu demi satu alasan untuk meneruskan langkahku ke masjid memandangkan masanya telah tiba untuk solat, namun perdebatan ternyata gagal. Aku memutuskan untuk mengikut wanita tersebut.
Aku bergegas mengejar wanita itu, nafasku pantas dan mengah manakala wanita itu tanpa disangka mempercepatkan langkahnya. Dia telah berada jauh beberapa kedai di hadapan. Dia memaling wajahnya seketika padaku, terasa kudapat melihat cahaya senyuman nakal wanita itu dibalik purdah hitamnya. "Adakah ini khayalanku sahaja?" bisik hatiku. Akalku seolah-olah tidak berfungsi pada waktu itu.
"Siapakah wanita itu?"
Aku memantaskan langkahku dan memasuki lorong dimana wanita itu dilihatku masuk. Dan seterusnya wanita itu mengimbau aku, sentiasa dihadapan, masih tidak dapat dikejar, semakin jauh dan jauh dari mana kami mula-mula bersua. Perasaanku tambah membuak.
"Adakah wanita itu orang gila?"
Semakin jauh nampaknya wanita itu berjalan hingga ke penghujung bandar. Mentari turun dan tenggelam, dan wanita tersebut masih berada jauh di hadapanku. Sekarang, kami berada di tempat yang tidak disangka, sebuah perkuburan lama.
Kalaulah aku siuman seperti biasa, pasti aku akan merasa gementar, tapi aku terfikir, tempat yang lebih ganjil dari ini biasa dijadikan tempat pasangan kekasih memadu asmara. Dalam 60 langkah di antara kami aku melihat wanita itu memandang ke arahku, menunjuk arah, kemudian turun ke tangga dan melalui pintu bangunan sebuah kubur tua.
Kalaulah aku tidak diamuk senyuman wanita itu tadi, pasti aku berhenti sebentar dan memegun masa, tapi sekarang tiada guna berpaling arah, aku menuruni tangga tersebut dan mengekori wanita itu ke dalam bangunan kubur itu. Di dalam bilik bangunan kubur itu, kudapati wanita itu duduk di atas ranjang yang mewah, berpakaian serba hitam masih berpurdah, bersandar pada bantal yang diletak pada dinding, diterangi cahaya lilin pada dinding bilik itu. Di sebelah ranjang itu, aku terpandang sebuah lubang perigi. "Kuncikan pintu itu," kata wanita itu, dengan suara yang halus gemersik seumpama berbisik, "dan bawakan kuncinya. " Aku akur.
"Buangkan kunci tersebut ke dalam perigi itu," kata wanita itu. Aku tergamam sebentar, kalaulah ada saksi di situ, pasti saksi itu dapat melihat gamamku. "Buang-lah," ujar wanita itu sambil ketawa, "tadi kau tidak berfikir panjang untuk meninggalkan solatmu untuk mengekoriku kemari?" Tempelak wanita itu lagi. Aku diam.
"Waktu maghrib sudah hampir selesai," kata wanita itu bernada sedikit menyindir . "Apa kau risaukan? Pergilah buangkan kunci itu, kau mahu aku memuaskan nafsumu, bukan?" Aku terus membuang kunci pintu tersebut ke dalam perigi, dan memerhatikan kunci itu jatuh. Perutku terasa bersimpul tatkala tiada bunyi kedengaran ketika kunci itu jatuh ke dalam lantai perigi. Aku berasa kagum, kemudian takut.
"Tiba masanya untuk melihat aku," kata wanita tersebut, dan dia mengangkat purdahnya untuk mendedahkan wajah sebenarnya. Bukan wajah segar seorang gadis remaja, tapi kehodohan wajah yang mengerikan, jijik, hitam dan keji, tanpa satu zarah cahaya kelihatan pada alur kedut ketuaannya. " Pandang aku sungguh-sungguh," kata wanita itu lagi.
"Namaku Dunia. Aku kekasihmu. Kau habiskan masamu mengejarku , sekarang kau telah memiliki diriku . Didalam kuburmu. Mari. Mari." Kemudian wanita itu ketawa dan ketawa, sehingga dia hancur menjadi debu, dan lilin itu padam satu demi satu, dan kegelapan menyelubungi suasana.
Sumber: WSTMTD
Bagaikan terkena panahan halilintar, aku serta-merta tertarik, hatiku terpukau dengan wanita itu. Dalam kepayahan aku berdebat dengan hatiku, memberikan satu demi satu alasan untuk meneruskan langkahku ke masjid memandangkan masanya telah tiba untuk solat, namun perdebatan ternyata gagal. Aku memutuskan untuk mengikut wanita tersebut.
Aku bergegas mengejar wanita itu, nafasku pantas dan mengah manakala wanita itu tanpa disangka mempercepatkan langkahnya. Dia telah berada jauh beberapa kedai di hadapan. Dia memaling wajahnya seketika padaku, terasa kudapat melihat cahaya senyuman nakal wanita itu dibalik purdah hitamnya. "Adakah ini khayalanku sahaja?" bisik hatiku. Akalku seolah-olah tidak berfungsi pada waktu itu.
"Siapakah wanita itu?"
Aku memantaskan langkahku dan memasuki lorong dimana wanita itu dilihatku masuk. Dan seterusnya wanita itu mengimbau aku, sentiasa dihadapan, masih tidak dapat dikejar, semakin jauh dan jauh dari mana kami mula-mula bersua. Perasaanku tambah membuak.
"Adakah wanita itu orang gila?"
Semakin jauh nampaknya wanita itu berjalan hingga ke penghujung bandar. Mentari turun dan tenggelam, dan wanita tersebut masih berada jauh di hadapanku. Sekarang, kami berada di tempat yang tidak disangka, sebuah perkuburan lama.
Kalaulah aku siuman seperti biasa, pasti aku akan merasa gementar, tapi aku terfikir, tempat yang lebih ganjil dari ini biasa dijadikan tempat pasangan kekasih memadu asmara. Dalam 60 langkah di antara kami aku melihat wanita itu memandang ke arahku, menunjuk arah, kemudian turun ke tangga dan melalui pintu bangunan sebuah kubur tua.
Kalaulah aku tidak diamuk senyuman wanita itu tadi, pasti aku berhenti sebentar dan memegun masa, tapi sekarang tiada guna berpaling arah, aku menuruni tangga tersebut dan mengekori wanita itu ke dalam bangunan kubur itu. Di dalam bilik bangunan kubur itu, kudapati wanita itu duduk di atas ranjang yang mewah, berpakaian serba hitam masih berpurdah, bersandar pada bantal yang diletak pada dinding, diterangi cahaya lilin pada dinding bilik itu. Di sebelah ranjang itu, aku terpandang sebuah lubang perigi. "Kuncikan pintu itu," kata wanita itu, dengan suara yang halus gemersik seumpama berbisik, "dan bawakan kuncinya. " Aku akur.
"Buangkan kunci tersebut ke dalam perigi itu," kata wanita itu. Aku tergamam sebentar, kalaulah ada saksi di situ, pasti saksi itu dapat melihat gamamku. "Buang-lah," ujar wanita itu sambil ketawa, "tadi kau tidak berfikir panjang untuk meninggalkan solatmu untuk mengekoriku kemari?" Tempelak wanita itu lagi. Aku diam.
"Waktu maghrib sudah hampir selesai," kata wanita itu bernada sedikit menyindir . "Apa kau risaukan? Pergilah buangkan kunci itu, kau mahu aku memuaskan nafsumu, bukan?" Aku terus membuang kunci pintu tersebut ke dalam perigi, dan memerhatikan kunci itu jatuh. Perutku terasa bersimpul tatkala tiada bunyi kedengaran ketika kunci itu jatuh ke dalam lantai perigi. Aku berasa kagum, kemudian takut.
"Tiba masanya untuk melihat aku," kata wanita tersebut, dan dia mengangkat purdahnya untuk mendedahkan wajah sebenarnya. Bukan wajah segar seorang gadis remaja, tapi kehodohan wajah yang mengerikan, jijik, hitam dan keji, tanpa satu zarah cahaya kelihatan pada alur kedut ketuaannya. " Pandang aku sungguh-sungguh," kata wanita itu lagi.
"Namaku Dunia. Aku kekasihmu. Kau habiskan masamu mengejarku , sekarang kau telah memiliki diriku . Didalam kuburmu. Mari. Mari." Kemudian wanita itu ketawa dan ketawa, sehingga dia hancur menjadi debu, dan lilin itu padam satu demi satu, dan kegelapan menyelubungi suasana.
Sumber: WSTMTD
Dibalik Ujian
di sebalik dugaan ALLAH...ada hikmah terselindung.
KENAPA AKU DIUJI??
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
saja mengatakan; "Kami telah beriman,"sedangkan
mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah
menguji org2 yg sebelum mereka maka
sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan
sesungguhnya Diamengetahui org2 yg dusta." (Surah Al-Ankabut ayat 2-3)
KENAPA AKU x DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui." (Surah Al-Baqarah ayat 216)
KENAPA UJIAN SEBERAT INI??
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. " (Surah Al-Baqarah ayat 286)
RASA FRUST??
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula
kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling
tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yg beriman."
(Surah Al-Imran ayat 139)
BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA? ?
"Wahai orang-orang yang beriman!Bersabarlah kamu(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan) ,
dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada
kesabaran musuh, dimedan perjuangan), dan bersedialah
(dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan)
serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya,
kamu berjaya (mencapai kemenangan). " (Surah Al-Imran ayat 200)
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan
sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya
sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk" (Surah Al-Baqarah ayat 45)
APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI??
"Sesungguhnya Allah telah membeli drpd org2 mu'min,
diri, harta mereka dengan memberikansyurga utk
mereka... (Surah At-Taubah ayat 111)
KEPADA SIAPA AKU BERHARAP??
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain drNya.
Hanya kepadaNya aku bertawakkal. " -
(Surah At-Taubah ayat 129)
AKU DAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!
"...dan jgnlah kamu berputus asa drp rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah"
Sumber: WSTMT (FB)
KENAPA AKU DIUJI??
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
saja mengatakan; "Kami telah beriman,"sedangkan
mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya kami telah
menguji org2 yg sebelum mereka maka
sesungguhnya Allah mengetahui org2 yg benar dan
sesungguhnya Diamengetahui org2 yg dusta." (Surah Al-Ankabut ayat 2-3)
KENAPA AKU x DAPAT APA YG AKU IDAM-IDAMKAN?
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui." (Surah Al-Baqarah ayat 216)
KENAPA UJIAN SEBERAT INI??
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai
dengan kesanggupannya. " (Surah Al-Baqarah ayat 286)
RASA FRUST??
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula
kamu bersedih hati, padahal kamulah org2 yg paling
tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yg beriman."
(Surah Al-Imran ayat 139)
BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA? ?
"Wahai orang-orang yang beriman!Bersabarlah kamu(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan) ,
dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada
kesabaran musuh, dimedan perjuangan), dan bersedialah
(dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan)
serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya,
kamu berjaya (mencapai kemenangan). " (Surah Al-Imran ayat 200)
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan
sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya
sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk" (Surah Al-Baqarah ayat 45)
APA YANG AKU DAPAT DRPD SEMUA INI??
"Sesungguhnya Allah telah membeli drpd org2 mu'min,
diri, harta mereka dengan memberikansyurga utk
mereka... (Surah At-Taubah ayat 111)
KEPADA SIAPA AKU BERHARAP??
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain drNya.
Hanya kepadaNya aku bertawakkal. " -
(Surah At-Taubah ayat 129)
AKU DAH TAK DAPAT BERTAHAN LAGI!!
"...dan jgnlah kamu berputus asa drp rahmat Allah.
Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah"
Sumber: WSTMT (FB)
Tuesday, 26 October 2010
MEREKA MENGAJARKAN KITA
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya. Hal yang sangat mengecewakan adalah kau dibutuhkan hanya pada saat dia dalam kesulitan.
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu! Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan, sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berperilaku seperti dia.
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan.
Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajarimu untuk RIDHA menerima takdir-Nya.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajarimu uuntuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.
Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana erterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.
Sumber: http://www.facebook.com/notes/razita-sabrina-filzah/mereka-mengajarkan-kita/467782129728
Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu! Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan, sebenarnya dia telah mengajarimu agar kau tidak berperilaku seperti dia.
Bila kau dibutuhkan hanya pada saat dia sedang kesulitan sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif dan santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan.
Hal yang menyakitkan adalah saat kau mencintai seseorang dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba-tiba mengirimkan kartu undangan pernikahannya, sebenarnya hal ini sedang mengajarimu untuk RIDHA menerima takdir-Nya.
Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang-orang yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak mengenakkan. Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak diperdulikan/dicuekin, atau bahkan dicaci dan dihina. Sebenarnya orang-orang tersebut sedang mengajarimu uuntuk melatih membersihkan hati dan jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.
Mungkin ALLAH menginginkan kau bertemu orang dalam berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana erterimakasih atas karunia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.
Sumber: http://www.facebook.com/notes/razita-sabrina-filzah/mereka-mengajarkan-kita/467782129728
Monday, 25 October 2010
Caramu Melihat Masalah – Itulah Masalahnya…
Tak ada orang di muka bumi ini tidak pernah merasakan kesedihan, entah itu disebabkan oleh hal yang sepele, seperti kehilangan sandal ketika sholat di masjid, sampai yang terbilang serius, seperti ditinggal orang yang dicintai untuk selama-lamanya.
Tapi taukah wahai sahabat bahwa kesedihan merupakan perasaan yang akan menjadi positif bila kita bisa menempatkanya pada proporsi yang tepat. Maksudnya, kita terkadang hanya terpusat pada masalah yang kita hadapi daripada mempelajari cara kita memandang, menilai dan merasakan masalah yang kita hadapi. Mungkin bahasa sederhananya kita sering menjadi “sebagian dari masalah” bukan “sebagai solusi dari masalah”, sehingga semakin kita berpikir keras mencari pemecahan masalah tersebut kita akan semakin merasa buntu dengan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Itu karena kita tidak pada posisi menilai dari luar masalah tersebut, tetapi masuk kedalam masalah tersebut dan merasakan pikiran-pikiran negatif yang menghantui dan menghilangkan jalan keluar yang mungkin bisa muncul sebagai anugrah dari Tuhan.
Bagaimana kita menempatkan diri kita di luar masalah dan dapat memiliki kemampuan untuk menilai secara objektif dari masalah tersebut, padahal kita ada didalam masalah itu sendiri. Kuncinya adalah dengan mencoba bersikap “Jujur pada diri sendiri” ya cukup itu dulu. Karena pikiran dan hati kita seringkali selalu bersikap egois dan merasa bisa menyelesaikan masalah tersebut, padahal tidak. Kita hanya berusaha keras memikirkanya padahal tidak. Sahabat harus terlebih mengawali dengan sebuah kesadaran bahwa Cara kita memandang masalah itulah masalah itu sendiri, sehingga kalau kita tidak mencoba mengoreksi diri kita sendiri maka masalah yang kita hadapi tidak akan menemukan jalan keluar yang tepat dan sesuai untuk diri kita, bila pun tidak dengan cara mengoreksi diri kita, kita menemukan pemecahan masalah, penulis menilai itu hanya pemecahan masalah yang terlalu emosional dan menyentuh akar masalah itu sendiri.
Jadi sadarlah wahai sahabat, cobalah dengan jujur pada diri sendiri dalam setiap masalah untuk membuka pintu solusi yang selalu ditawarkan oleh hati nurani kita. Dan hindari perasaan super no problem. Karena sekali lagi kata kuncinya. “Cara kita menyelesaikan masalah itulah masalahnya” bukan masalah itu sendiri.
Sumber: Majlis Ta'lim Al Husaini (FB)
Tapi taukah wahai sahabat bahwa kesedihan merupakan perasaan yang akan menjadi positif bila kita bisa menempatkanya pada proporsi yang tepat. Maksudnya, kita terkadang hanya terpusat pada masalah yang kita hadapi daripada mempelajari cara kita memandang, menilai dan merasakan masalah yang kita hadapi. Mungkin bahasa sederhananya kita sering menjadi “sebagian dari masalah” bukan “sebagai solusi dari masalah”, sehingga semakin kita berpikir keras mencari pemecahan masalah tersebut kita akan semakin merasa buntu dengan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Itu karena kita tidak pada posisi menilai dari luar masalah tersebut, tetapi masuk kedalam masalah tersebut dan merasakan pikiran-pikiran negatif yang menghantui dan menghilangkan jalan keluar yang mungkin bisa muncul sebagai anugrah dari Tuhan.
Bagaimana kita menempatkan diri kita di luar masalah dan dapat memiliki kemampuan untuk menilai secara objektif dari masalah tersebut, padahal kita ada didalam masalah itu sendiri. Kuncinya adalah dengan mencoba bersikap “Jujur pada diri sendiri” ya cukup itu dulu. Karena pikiran dan hati kita seringkali selalu bersikap egois dan merasa bisa menyelesaikan masalah tersebut, padahal tidak. Kita hanya berusaha keras memikirkanya padahal tidak. Sahabat harus terlebih mengawali dengan sebuah kesadaran bahwa Cara kita memandang masalah itulah masalah itu sendiri, sehingga kalau kita tidak mencoba mengoreksi diri kita sendiri maka masalah yang kita hadapi tidak akan menemukan jalan keluar yang tepat dan sesuai untuk diri kita, bila pun tidak dengan cara mengoreksi diri kita, kita menemukan pemecahan masalah, penulis menilai itu hanya pemecahan masalah yang terlalu emosional dan menyentuh akar masalah itu sendiri.
Jadi sadarlah wahai sahabat, cobalah dengan jujur pada diri sendiri dalam setiap masalah untuk membuka pintu solusi yang selalu ditawarkan oleh hati nurani kita. Dan hindari perasaan super no problem. Karena sekali lagi kata kuncinya. “Cara kita menyelesaikan masalah itulah masalahnya” bukan masalah itu sendiri.
Sumber: Majlis Ta'lim Al Husaini (FB)
JANGAN EMOSI !
" Orang yang kuat itu bukanlah orang yang kuat dalam berkelahi, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat menguasai emosinya tatkala marah " (Muttafaqun Alaih)
Sahabat Sukses Rumah Yatim Indonesia yang diridhoi Allah SWT, ada banyak hal yang kadang sangat-sangat sepele tetapi karena sikapi dengan sangat reaktif dan emosional, tiba-tiba hal yang sepele itu menjadi sebuah masalah yang besar dan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang bijak.
Suatu hari seorang bapak makan disebuah restoran bersama dengan keluarganya. Ketika sedang asik menyantap makanan, bapak tersebut melihat disampingnya ada seorang anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan gelas dari mejanya. Airnya tumpah membasahi taplak meja dan baju si anak. Spontan ayah anak itu marah, “Mengapa kamu tidak hati-hati?” bentak si ayah. Si anak menangis. Si ayah makin memarahinya saja. Bapak yang lain menyaksikan kejadian itu hanya geleng-geleng saja. Menurutnya suasana makan keluarga tersebut seketika berubah menjadi kacau. Tentu saja keadaan tersebut tidak akan terjadi jika sang ayah mampu bersikap lebih bijak, sabar, dan tidak emosional.
Jika kita renungkan, dalam hidup ini ada banyak masalah yang muncul karena kita terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sederhana saja. Keadaan akan menjadi lain, keluarga tersebut akan makan dengan tenang dan bersuka-cita, jika si ayah berkata sambil tersenyum, “Lain kali hati-hati ya, nak.” Masalah pun selesai ! Si anak dan keluarga yang lain pun senang. Namun, yang sering terjadi adalah kita lebih mengutamakan amarah, menyalahkan orang lain, keadaan, dan dunia sekitar jika sedang ditimpa persoalan. Akibatnya kita kehilangan dua hal yang sangat penting dalam hidup ini, yaitu :
Pertama : Rasa Syukur
Jika terlalu sibuk menggerutu dan mengeluh, kita akan kehabisan waktu untuk bersyukur atas segala rahmat yang Allah berikan. Hari ini sebelum kita protes tentang menu dan rasa makanan dihadapan kita, pikirkanlah seseorang yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Sebelum kita mengeluh karena tidak memiliki banyak materi, pikirkanlah seseorang yang mengemis dijalanan hanya untuk mendapatkan sedikit belas kasihan dari orang lain.
Sebelum kita mengeluh karena wajah kita tidak secantik atau setampan yang kita inginkan, pikirkanlah seseorang yang memiliki wajah lebih buruk.
Sebelum kita mengeluh tentang kekurangan pasangan kita, pikirkanlah banyaknya orang yang bergumul meminta pasangan hidup.
Sebelum kita mengeluh tentang sulitnya hidup ini, pikirkanlah seseorang yang terbaring koma di rumah sakit, bahkan untuk memikirkan masa depanpun ia sudah tidak mampu lagi.
Sebelum kita mengeluh mengenai jarak yang harus kita tempuh ketika mengemudi, pikirkanlah seseorang yang juga menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki.
Ketika kita merasa lelah dan mengeluh tentang pekerjaan, pikirkanlah seseorang yang tidak mempunyai pekerjaankarena tidak memiliki kemampuan dan kesempatan seperti kita.
Kedua : Rasa Ikhlas
Kehidupan ini harus diterima dengan penuh Kebahagiaan tanpa suatu keharusan memiliki segalanya dengan berlebihan.
Jalan kebahagiaan adalah merasa senang pada diri kita, apa yang kita kerjakan dan apa yang kita miliki merupakan rahasia kekuatan, kepuasan, dan kehidupan pribadi yang berenergi tinggi.
Kebahagiaan menghubungkan kita dengan keindahan dan kekuatan semesta alam, dengan kekuatan tertinggi kita, dengan Sang Illahi.
Kebahagiaan berarti merasakan dan mengungkapkan kebahagiaan hidup, bergembira karena keindahan dan kekayaan sebagai makhluk.
Kebahagiaan merupakan daya pembebas ampuh yang melepaskan kreativitas, bakat, kemampuan, dan kecakapan kita.
Kebahagiaan mengilhami harapan. Kebahagiaan memberi makan hati dan jiwa. Kebahagiaan membawa semangat ke dalam hidup kita.
Kebahagiaan menular dan merupakan pemberian teerbesar yang dapat kita berikan kepada diri sendiri dan orang lain.Jalan kebahagiaan telah ada. Jalur itu senantiasa sudah ada menantikan kita…..
Kebahagiaan membuat tekanan darah kita yang tinggi menjadi normal, pernafasan menjadi lebih dalam dan teratur sehingga membawa lebih banyak oksigen kesel-sel tubuh kita.
Kebahagiaan meningkatkan vitalitas dan semangat sehingga kita akan merasa sehat. Kebahagiaan selalu memancar membasahi jiwa-jiwa yang kering dan tandus.
Kebahagiaan merupakan peristiwa dari dalam keluar. Kebahagiaan berasal dari dalam bathin kita untuk memberkahi dunia kita dan sekitar kita. Riak-riak gelombang Kebahagiaan itu melebar sambil membuat dunia menjadi lebih baik bagi kita semua.
" HANYA ORANG YANG SABAR YANG MAMPU SENANTIASA BERBHAGIA "
Ingin senantiasa berbahagia ? mari kita bahagiakan orang-orang terdekat kita dan orang-orang yang membutuhkan kebahagiaan. Bersama Rumah Yatim Indonesia kita wujudkan impian kebahagiaan mereka yang ingin menjadi manusia-manusia malaikat.
Sumber: http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Sahabat Sukses Rumah Yatim Indonesia yang diridhoi Allah SWT, ada banyak hal yang kadang sangat-sangat sepele tetapi karena sikapi dengan sangat reaktif dan emosional, tiba-tiba hal yang sepele itu menjadi sebuah masalah yang besar dan berlarut-larut tanpa ada penyelesaian yang bijak.
Suatu hari seorang bapak makan disebuah restoran bersama dengan keluarganya. Ketika sedang asik menyantap makanan, bapak tersebut melihat disampingnya ada seorang anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan gelas dari mejanya. Airnya tumpah membasahi taplak meja dan baju si anak. Spontan ayah anak itu marah, “Mengapa kamu tidak hati-hati?” bentak si ayah. Si anak menangis. Si ayah makin memarahinya saja. Bapak yang lain menyaksikan kejadian itu hanya geleng-geleng saja. Menurutnya suasana makan keluarga tersebut seketika berubah menjadi kacau. Tentu saja keadaan tersebut tidak akan terjadi jika sang ayah mampu bersikap lebih bijak, sabar, dan tidak emosional.
Jika kita renungkan, dalam hidup ini ada banyak masalah yang muncul karena kita terlalu membesar-besarkan masalah yang sebenarnya sederhana saja. Keadaan akan menjadi lain, keluarga tersebut akan makan dengan tenang dan bersuka-cita, jika si ayah berkata sambil tersenyum, “Lain kali hati-hati ya, nak.” Masalah pun selesai ! Si anak dan keluarga yang lain pun senang. Namun, yang sering terjadi adalah kita lebih mengutamakan amarah, menyalahkan orang lain, keadaan, dan dunia sekitar jika sedang ditimpa persoalan. Akibatnya kita kehilangan dua hal yang sangat penting dalam hidup ini, yaitu :
Pertama : Rasa Syukur
Jika terlalu sibuk menggerutu dan mengeluh, kita akan kehabisan waktu untuk bersyukur atas segala rahmat yang Allah berikan. Hari ini sebelum kita protes tentang menu dan rasa makanan dihadapan kita, pikirkanlah seseorang yang tidak memiliki sesuatu untuk dimakan.
Sebelum kita mengeluh karena tidak memiliki banyak materi, pikirkanlah seseorang yang mengemis dijalanan hanya untuk mendapatkan sedikit belas kasihan dari orang lain.
Sebelum kita mengeluh karena wajah kita tidak secantik atau setampan yang kita inginkan, pikirkanlah seseorang yang memiliki wajah lebih buruk.
Sebelum kita mengeluh tentang kekurangan pasangan kita, pikirkanlah banyaknya orang yang bergumul meminta pasangan hidup.
Sebelum kita mengeluh tentang sulitnya hidup ini, pikirkanlah seseorang yang terbaring koma di rumah sakit, bahkan untuk memikirkan masa depanpun ia sudah tidak mampu lagi.
Sebelum kita mengeluh mengenai jarak yang harus kita tempuh ketika mengemudi, pikirkanlah seseorang yang juga menempuh jarak yang sama dengan berjalan kaki.
Ketika kita merasa lelah dan mengeluh tentang pekerjaan, pikirkanlah seseorang yang tidak mempunyai pekerjaankarena tidak memiliki kemampuan dan kesempatan seperti kita.
Kedua : Rasa Ikhlas
Kehidupan ini harus diterima dengan penuh Kebahagiaan tanpa suatu keharusan memiliki segalanya dengan berlebihan.
Jalan kebahagiaan adalah merasa senang pada diri kita, apa yang kita kerjakan dan apa yang kita miliki merupakan rahasia kekuatan, kepuasan, dan kehidupan pribadi yang berenergi tinggi.
Kebahagiaan menghubungkan kita dengan keindahan dan kekuatan semesta alam, dengan kekuatan tertinggi kita, dengan Sang Illahi.
Kebahagiaan berarti merasakan dan mengungkapkan kebahagiaan hidup, bergembira karena keindahan dan kekayaan sebagai makhluk.
Kebahagiaan merupakan daya pembebas ampuh yang melepaskan kreativitas, bakat, kemampuan, dan kecakapan kita.
Kebahagiaan mengilhami harapan. Kebahagiaan memberi makan hati dan jiwa. Kebahagiaan membawa semangat ke dalam hidup kita.
Kebahagiaan menular dan merupakan pemberian teerbesar yang dapat kita berikan kepada diri sendiri dan orang lain.Jalan kebahagiaan telah ada. Jalur itu senantiasa sudah ada menantikan kita…..
Kebahagiaan membuat tekanan darah kita yang tinggi menjadi normal, pernafasan menjadi lebih dalam dan teratur sehingga membawa lebih banyak oksigen kesel-sel tubuh kita.
Kebahagiaan meningkatkan vitalitas dan semangat sehingga kita akan merasa sehat. Kebahagiaan selalu memancar membasahi jiwa-jiwa yang kering dan tandus.
Kebahagiaan merupakan peristiwa dari dalam keluar. Kebahagiaan berasal dari dalam bathin kita untuk memberkahi dunia kita dan sekitar kita. Riak-riak gelombang Kebahagiaan itu melebar sambil membuat dunia menjadi lebih baik bagi kita semua.
" HANYA ORANG YANG SABAR YANG MAMPU SENANTIASA BERBHAGIA "
Ingin senantiasa berbahagia ? mari kita bahagiakan orang-orang terdekat kita dan orang-orang yang membutuhkan kebahagiaan. Bersama Rumah Yatim Indonesia kita wujudkan impian kebahagiaan mereka yang ingin menjadi manusia-manusia malaikat.
Sumber: http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Saturday, 23 October 2010
Lampu Merah dan Kesedihan
Dari kejauhan, lampu lalu-lintas di perempatan itu masih menyala hijau. Jack
segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup
lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati
Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter
menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia
berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia
melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jack.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh
terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta
sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”
Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan
penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup
untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.
Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa
ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru
Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.
“Halo Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia
sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu
dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu
juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.
Bob”
Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob
sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia
mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya
dimaafkan.
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati. – Penulis tanpa nama. (Posting dari
seorang rekan yang tak mau disebut namanya.)
SUMBER: http://www.resensi.net/lampu-merah-dan-kesedihan/2008/11/21/
segera menekan pedal gas kendaraannya. Ia tak mau terlambat. Apalagi ia tahu
perempatan di situ cukup padat sehingga lampu merah biasanya menyala cukup
lama. Kebetulan jalan di depannya agak lenggang. Lampu berganti kuning. Hati
Jack berdebar berharap semoga ia bisa melewatinya segera. Tiga meter
menjelang garis jalan, lampu merah menyala. Jack bimbang, haruskah ia
berhenti atau terus saja. “Ah, aku tak punya kesempatan untuk menginjak rem
mendadak,” pikirnya sambil terus melaju.
Prit! Di seberang jalan seorang polisi melambaikan tangan memintanya
berhenti. Jack menepikan kendaraan agak menjauh sambil mengumpat dalam hati.
Dari kaca spion ia melihat siapa polisi itu. Wajahnya tak terlalu asing.
Hey, itu khan Bob, teman mainnya semasa SMA dulu. Hati Jack agak lega. Ia
melompat keluar sambil membuka kedua lengannya.
“Hai, Bob. Senang sekali ketemu kamu lagi!”
“Hai, Jack.” Tanpa senyum.
“Duh, sepertinya saya kena tilang nih? Saya memang agak buru-buru. Istri
saya sedang menunggu di rumah.”
“Oh ya?” Tampaknya Bob agak ragu.
Nah, bagus kalau begitu. “Bob, hari ini istriku ulang tahun. Ia dan
anak-anak sudah menyiapkan segala sesuatunya. Tentu aku tidak boleh
terlambat, dong.”
“Saya mengerti. Tapi, sebenarnya kami sering memperhatikanmu melintasi lampu
merah di persimpangan ini.”
O-o, sepertinya tidak sesuai dengan harapan. Jack harus ganti strategi.
“Jadi, kamu hendak menilangku? Sungguh, tadi aku tidak melewati lampu merah.
Sewaktu aku lewat lampu kuning masih menyala.” Aha, terkadang berdusta
sedikit bisa memperlancar keadaan.
“Ayo dong Jack. Kami melihatnya dengan jelas. Tolong keluarkan SIMmu.”
Dengan ketus Jack menyerahkan SIM lalu masuk ke dalam kendaraan dan menutup
kaca jendelanya. Sementara Bob menulis sesuatu di buku tilangnya. Beberapa
saat kemudian Bob mengetuk kaca jendela. Jack memandangi wajah Bob dengan
penuh kecewa. Dibukanya kaca jendela itu sedikit. Ah, lima centi sudah cukup
untuk memasukkan surat tilang. Tanpa berkata-kata Bob kembali ke posnya.
Jack mengambil surat tilang yang diselipkan Bob di sela-sela kaca jendela.
Tapi, hei apa ini. Ternyata SIMnya dikembalikan bersama sebuah nota. Kenapa
ia tidak menilangku. Lalu nota ini apa? Semacam guyonan atau apa? Buru-buru
Jack membuka dan membaca nota yang berisi tulisan tangan Bob.
“Halo Jack,
Tahukah kamu Jack, aku dulu mempunyai seorang anak perempuan. Sayang, Ia
sudah meninggal tertabrak pengemudi yang ngebut menerobos lampu merah.
Pengemudi itu dihukum penjara selama 3 bulan. Begitu bebas ia bisa bertemu
dan memeluk ketiga anaknya lagi. Sedangkan anak kami satu-satunya sudah
tiada. Kami masih terus berusaha dan berharap agar Tuhan berkenan
mengkaruniai seorang anak agar dapat kami peluk.
Ribuan kali kami mencoba memaafkan pengemudi itu. Betapa sulitnya. Begitu
juga kali ini. Maafkan aku Jack. Doakan agar permohonan kami terkabulkan.
Berhati-hatilah.
Bob”
Jack terhenyak. Ia segera keluar dari kendaraan mencari Bob. Namun, Bob
sudah meninggalkan pos jaganya entah kemana. Sepanjang jalan pulang ia
mengemudi perlahan dengan hati tak tentu sambil berharap kesalahannya
dimaafkan.
Tak selamanya pengertian kita harus sama dengan pengertian orang lain. Bisa
jadi suka kita tak lebih dari duka rekan kita. Hidup ini sangat berharga,
jalanilah dengan penuh hati-hati. – Penulis tanpa nama. (Posting dari
seorang rekan yang tak mau disebut namanya.)
SUMBER: http://www.resensi.net/lampu-merah-dan-kesedihan/2008/11/21/
Wednesday, 20 October 2010
Memahami Rancangan Alloh SWT
Seorang wanita yg baru saja menikah datang pd ibunya & mengeluh soal tingkah laku suaminya.
Setelah pesta pernikahan yg gegap gempita beberapa waktu lalu,baru ia tahu karakter asli sang suami. Keras kepala,suka bermalas malasan,boros dsb...
Ibu muda itu berharap orang tuanya ikut menyalahkan suaminya.Namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja.Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur,sementara putrinya trus bercerita & mengikutinya.
Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama,air mendidih.Sang ibu menuangkan air panas itu kedalam 3 gelas yg telah disiapkan.
Di gelas pertama ia masukkan Telur.
Digelas kedua, ia taruh Wortel & digelas ketiga,ia bubuhkan Kopi.
Setelah menunggu beberapa saat ,ia mengangkat isi ke 3 gelas tadi.
Wortel yg keras menjadi
Lembut,
Telur yg mudah pecah menjadi Keras &
Kopi yg panas memancarkan aroma yg harum.
Lalu sang ibu menjelaskan,
"Nak masalah itu bagaikan air mendidih,namun, bagaimana sikap kitalah yg akan menentukan hasilnya.
Kita bisa menjadi :
Lembek seperti Wortel.
Mengeras seperti Telur.
Atau menjadi harum seperti Kopi yg panas.
Dalam setiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara iman yg berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik2 saja,tapi apakah kita dapat tetap percaya pada saat pertolongan Tuhan seolah-olah tdk kunjung datang?
Ingatlah dalam setiap masalah TUHAN punya rencana buat kita krn Rancangan-NYA yg damai sejahtera untuk memberikan kpd kita hari depan yg penuh harapan
Hari ini kita belajar dari 3 reaksi orang saat menghadapi masalah yg datang.
Ada yg jadi lembek,suka mengeluh & mengasihi diri. Ada yg mengeras marah & berontak pd Tuhan,tapi Ada jg justru semakin harum,semakin taat & mau berserah percaya pada-Nya.
Adakalanya Tuhan sengaja menunda pertolongan-Nya Dgn tujuan,agar kita belajar percaya,bahwa tdk pernah ada masalah yg tidak dpt diselesaikan oleh-NYA
Sumber artikel oleh :Yeny Herliana (Civitas Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar Jakarta, Nafta)
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-memahami-rancangan-alloh-swt-/482634256041
Setelah pesta pernikahan yg gegap gempita beberapa waktu lalu,baru ia tahu karakter asli sang suami. Keras kepala,suka bermalas malasan,boros dsb...
Ibu muda itu berharap orang tuanya ikut menyalahkan suaminya.Namun betapa kagetnya ternyata ibunya diam saja.Bahkan sang ibu kemudian malah masuk ke dapur,sementara putrinya trus bercerita & mengikutinya.
Sang ibu lalu memasak air. Setelah sekian lama,air mendidih.Sang ibu menuangkan air panas itu kedalam 3 gelas yg telah disiapkan.
Di gelas pertama ia masukkan Telur.
Digelas kedua, ia taruh Wortel & digelas ketiga,ia bubuhkan Kopi.
Setelah menunggu beberapa saat ,ia mengangkat isi ke 3 gelas tadi.
Wortel yg keras menjadi
Lembut,
Telur yg mudah pecah menjadi Keras &
Kopi yg panas memancarkan aroma yg harum.
Lalu sang ibu menjelaskan,
"Nak masalah itu bagaikan air mendidih,namun, bagaimana sikap kitalah yg akan menentukan hasilnya.
Kita bisa menjadi :
Lembek seperti Wortel.
Mengeras seperti Telur.
Atau menjadi harum seperti Kopi yg panas.
Dalam setiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara iman yg berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik2 saja,tapi apakah kita dapat tetap percaya pada saat pertolongan Tuhan seolah-olah tdk kunjung datang?
Ingatlah dalam setiap masalah TUHAN punya rencana buat kita krn Rancangan-NYA yg damai sejahtera untuk memberikan kpd kita hari depan yg penuh harapan
Hari ini kita belajar dari 3 reaksi orang saat menghadapi masalah yg datang.
Ada yg jadi lembek,suka mengeluh & mengasihi diri. Ada yg mengeras marah & berontak pd Tuhan,tapi Ada jg justru semakin harum,semakin taat & mau berserah percaya pada-Nya.
Adakalanya Tuhan sengaja menunda pertolongan-Nya Dgn tujuan,agar kita belajar percaya,bahwa tdk pernah ada masalah yg tidak dpt diselesaikan oleh-NYA
Sumber artikel oleh :Yeny Herliana (Civitas Youth Islamic Study Club (YISC) Al-Azhar Jakarta, Nafta)
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/-memahami-rancangan-alloh-swt-/482634256041
Monday, 18 October 2010
Sedikit renungan disela kesibukan
Dalam suatu Konferensi iblis, syaitan dan jin, dikatakan: “Kita tidak dapat melarang kaum muslim ke Mesjid”, “Kita tidak dapat melarang mereka membaca Al-Qur’an dan mencari kebenaran”, “Bahkan kita tidak dapat melarang mereka mendekatkan diri dengan Tuhan mereka Allah dan Pembawa risalahNya Muhammad”, “Pada saat mereka melakukan hubungan dengan Allah, maka kekuatan kita akan lumpuh.”
“Oleh sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan kesukaan mereka, TETAPI CURI WAKTU MEREKA, sehingga Mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah”.
“Inilah yang akan kita lakukan,” kata iblis. ”Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!”. “Bagaimana kami melakukannya?” tanya para hadirin yaitu iblis, syaitan, dan jin. Sibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,”
Jawab sang iblis “Rayu mereka agar suka BELANJA, BELANJA DAN BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG”.
“Bujuk para istri untuk bekerja di luar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja 6 sampai 7 hari dalam seminggu, 10 – 12 jam seminggu, sehingga mereka merasa bahwa hidup ini sangat kosong.” “Jangan biarkan mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.”
“Jika keluarga mereka mulai tidak harmonis, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan lelah sepulang dari bekerja”. “Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa ada ketenangan di rumah.”
“Pikat mereka untuk membunyikan radio atau kaset selama mereka berkendaraan”. “Dorong mereka untuk menyetel TV, VCD, CD dan PC di rumah. Sepanjang hari. Bunyikan musik terus menerus di semua restoran maupun toko2 di dunia ini.”
“Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merusak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya”
“Penuhi meja-meja rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid”. “Cekoki mereka dengan berbagai berita dan gosip serta infotainment selama 24 jam sehari”.
“Serang mereka dengan berbagai iklan-iklan di jalanan”. “Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari berbagai macam iklan.
“Muat gambaran wanita yang cantik itu adalah yang langsing dan berkulit mulus di majalah dan TV, untuk menggiring para suami berfikir bahwa PENAMPILAN itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada istri-istri mereka”
“Buatlah para istri menjadi sangat letih pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala”.
“Jika para istri tidak memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari di luaran”. “Hal inilah yang akan mempercepat retaknya sebuah keluarga”
“Terbitkan buku-buku cerita untuk mengalihkan kesempatan mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka akan makna shalat.”
“Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Arahkan mereka ke tempat-tempat hiburan, dugem , fitness, mall , pertandingan-pertandingan, konser musik dan bioskop.”
“Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK.” “Perhatikan, jika mereka jumpa dengan orang shaleh, bisikkan gosip-gosip dan percakapan tidak berarti, sehingga percakapan mereka tidak berdampak apa-apa.
“Isi kehidupan mereka dengan keindahan-keindahan semu yang akan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengkaji kebesaran Allah.” “Dan Dengan segera mereka akan merasa bahwa keberhasilan, kebaikan/kesehatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah).”
“PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL.” “RENCANA YANG BAGUS.” Iblis, syaitan dan jin kemudian pergi dengan penuh semangat melakukan tugas MEMBUAT MUSLIMS MENJADI LEBIH SIBUK, LEBIH KALANG KABUT, DAN SENANG HURA-HURA”. “Dan hanya menyisakan sedikit saja waktu buat Allah sang Pencipta.”
“Tidak lagi punya waktu untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan akan Allah dan RasulNya”.
Sekarang pertanyaan saya adalah, “APAKAH RENCANA IBLIS INI AKAN BERHASIL???”
ANDALAH YANG MENENTUKAN!!!
“ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum , kecuali kaum itu sendiri yang menentukan “
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/sedikit-renungan-disela-kesibukan-/481071551041
“Oleh sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan kesukaan mereka, TETAPI CURI WAKTU MEREKA, sehingga Mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah”.
“Inilah yang akan kita lakukan,” kata iblis. ”Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!”. “Bagaimana kami melakukannya?” tanya para hadirin yaitu iblis, syaitan, dan jin. Sibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,”
Jawab sang iblis “Rayu mereka agar suka BELANJA, BELANJA DAN BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG”.
“Bujuk para istri untuk bekerja di luar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja 6 sampai 7 hari dalam seminggu, 10 – 12 jam seminggu, sehingga mereka merasa bahwa hidup ini sangat kosong.” “Jangan biarkan mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka.”
“Jika keluarga mereka mulai tidak harmonis, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan lelah sepulang dari bekerja”. “Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa ada ketenangan di rumah.”
“Pikat mereka untuk membunyikan radio atau kaset selama mereka berkendaraan”. “Dorong mereka untuk menyetel TV, VCD, CD dan PC di rumah. Sepanjang hari. Bunyikan musik terus menerus di semua restoran maupun toko2 di dunia ini.”
“Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merusak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya”
“Penuhi meja-meja rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid”. “Cekoki mereka dengan berbagai berita dan gosip serta infotainment selama 24 jam sehari”.
“Serang mereka dengan berbagai iklan-iklan di jalanan”. “Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari berbagai macam iklan.
“Muat gambaran wanita yang cantik itu adalah yang langsing dan berkulit mulus di majalah dan TV, untuk menggiring para suami berfikir bahwa PENAMPILAN itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada istri-istri mereka”
“Buatlah para istri menjadi sangat letih pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala”.
“Jika para istri tidak memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari di luaran”. “Hal inilah yang akan mempercepat retaknya sebuah keluarga”
“Terbitkan buku-buku cerita untuk mengalihkan kesempatan mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka akan makna shalat.”
“Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Arahkan mereka ke tempat-tempat hiburan, dugem , fitness, mall , pertandingan-pertandingan, konser musik dan bioskop.”
“Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK.” “Perhatikan, jika mereka jumpa dengan orang shaleh, bisikkan gosip-gosip dan percakapan tidak berarti, sehingga percakapan mereka tidak berdampak apa-apa.
“Isi kehidupan mereka dengan keindahan-keindahan semu yang akan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengkaji kebesaran Allah.” “Dan Dengan segera mereka akan merasa bahwa keberhasilan, kebaikan/kesehatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah).”
“PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL.” “RENCANA YANG BAGUS.” Iblis, syaitan dan jin kemudian pergi dengan penuh semangat melakukan tugas MEMBUAT MUSLIMS MENJADI LEBIH SIBUK, LEBIH KALANG KABUT, DAN SENANG HURA-HURA”. “Dan hanya menyisakan sedikit saja waktu buat Allah sang Pencipta.”
“Tidak lagi punya waktu untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan akan Allah dan RasulNya”.
Sekarang pertanyaan saya adalah, “APAKAH RENCANA IBLIS INI AKAN BERHASIL???”
ANDALAH YANG MENENTUKAN!!!
“ Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum , kecuali kaum itu sendiri yang menentukan “
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/sedikit-renungan-disela-kesibukan-/481071551041
Thursday, 30 September 2010
9 Alasan Mengapa Tak Boleh Sombong
1. Sedikit cahaya dari Allah SWT lebih berarti dari cahaya manapun. Sedikit hidayah Allah SWT yang masuk ke dalam hatimu, lebih berarti dari petunjuk manusia yang mananpun. Sedikit ilmu dari Allah yang kamu terima, lebih berarti dari ilmu manusia manapun. Sedikit harta yang kamu terima dari Allah, lebih berarti dari harta manusia yang manapun. Yang ada padamu semua serba sedikit, terutama ilmu, lalu apa yang mau kau sombongkan ?
2. Ketajaman mata rohani, lebih tajam dari benda tajam yang manapun. Sedikit kata-kata yang penuh keikhlasan, kejujuran, kebenaran, lebih tajam dan lebih bermakna dari ribuan kata-kata yang penuh kebohongan, apa lagi kesombongan ! Bila mata hatimu masih tumpul, karena penuh dengan penyakit hati, maka banyak-banyaklah istigfar, mohon ampun kepadaNya, jauhkan hatimu dari kesombongan sekecil apapun. Apa itu kesombongan ? Meremehkan orang lain dan tak mau menerima kebenaran !
3. Kebenaran apapun yang kamu sampaikan pada orang lain yang membencimu, akan sia-sia. Ibarat angin lalu di tengah padang pasir yang tandas, tak berbekas apapun. Dan jangan sombong dengan kebenaran atau kepinteran yang kau miliki, apa lagi sampai membodoh-bodohi orang lain, seakan kau penjadi orang yang sangat pinter dengan membodohi orang lain, padahal tidak ! Seandainya kau pinterpun tetap tak boleh membodoh-bodohi orang lain, apa hakmu membodohi orang lain ? Orang yang pinter bahkan biasanya lebih rendah hati, lebih menghormati orang lain dan lebih tawadu, seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk ! Lalu mengapa kamu sombong ?
4. Kebenaran manusia bersipat relatif dan orang bisa membantahnya dengan kebenaran yang lain yang sipatnya relatif pula. Selama kebenaran yang datang dari manusia sipatnya tidak ada yang absolut, kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Jadi kalau ada manusia merasa diri paling benar, paling pinter tanda-tanda kesombongan ada pada dirinya. Yang repot, sudah kapir, sombong lagi, dengan menyatakan dirinya : ” Saya kapir ! ” dengan bangganya, seakan berkata : ” Kalau saya kapir, kau mau apa ? ” Ini orang kok sombong amat yakh ? Padahal akhir perjalanannya hanya menjadi bangkai dan di akherat termasuk orang yang merugi. Masih mau sombong ?
5. Telah banyak kesalahan dan dosa yang kamu perbuat, saat inilah perlunya kerendahan hati/tidak sombong dan memohon petunjukNya dan beristigfar/mohon ampunanNya. Kesalahan sangat manusiawi, jangan takut salah, tapi jangan sengaja berbuat salah. Dan jangan sombong dengan kesalahan dan kekapiran ! Jangan seperti Iblis, hanya karena diciptakan dari api, sudah sombong ! Iblis merasa lebih mulia dari Adam As yang diciptakan dari tanah, sehingga Iblis membantah/menolak perintah Tuhan untuk sujud pada Adam !
6. Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna/insan kamil saja di musuhi ummatnya yang kapir, apa lagi kamu manusia biasa yang seringkali disengaja atau tidak disengaja menyakiti orang lain, pasti banyak yang tak suka padamu. Dan sampai saat ini betapa banyak manusia yang tak beriman kepada beliau, bukan hanya tak beriman, tapi juga melecehkan, menghinanya, menghujatnya, mencaci makinya. Jadi kalau kamu dihina atau dicaci maki orang itu belum apa-apa. Jangan-jangan kamu dinina, memang hina beneran. Siapa sih manusia hina ? Ya manusia yang merasa dirinya mulia, merasa suci. Padahal orang yang mulai dan suci adalah orang yang rendah hati, bukan orang orang yang sombong !
7. Kamu bukan Muhammad SAW yang bertemu Allah dalam malam Isra’ mi’raj. Kamu bukan Musa AS yang diajak berbicara oleh Allah SWT. Kamu bukan Ibrohim AS yang mencari dan diselamatkan Allah ketika di bakar oleh Namrudz. Kamu bukan Nuh AS yang penuh kesabaran menjalankan agama Allah dan tetap mensyiarkan agamaNya, walaupun yang beriman sedikit. Kamu bukan Ayub AS yang mendapat ujian begitu berat dengan penyakit yang bertahun tahun, namun tetap sabar dan iklas kepadaNya. Kamu bukan Adam AS yang di usir oleh Allah dan segera mohon ampun kepadaNya dan diampuni olehNya. Kamu bukan wali yang dimuliakan Allah, karena ketaatan ibadahnaya yang begitu banyak mereka lakukan. Kamu bukan sufi yang menyintai Allah dengan ketulusan hati dan kesabaran jiwa. Kamu bukan Malaikat yang sangat patuh atas semua perintah Allah sejak diciptakan sampai ditiadakan. Kamu hanya hamba Allah yang amat kecil dan hina dihadapanNya, tak lebih dari itu. Nah apa yang mau kau sombongkan ?
8. Para Auliya dan orang orang yang sholeh mendekati Allah SWT dengan caranya masing-masing, kamu tak mesti mengikuti cara-cara mereka. maka untukmu adalah : Dekati Allah SWT dengan caramu sendiri dan kebiasaanmu sendiri dan itu tak perlu mengasingkan diri ke gunung-gunung atau masuk ke goa-goa dan bertapa di sana ! Allah bisa di dekati di mana-mana, karena memang Dia ada di mana-mana dan jangan lupa, Allah SWT lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Dan jangan katakan : ” Saya sudah dekat kepada Allah SWT ! ” Itu kesombongan ! Mengapa ? Karena yang mengatahui kedekatanmu pada Allah, ya Allah sendiri, bukan karena kata-kata-katamu dan perbuatanmu. Nah masih mau sombong juga ?
9. Di sini dan sekarang inilah saatnya kamu berusaha mendekati Allah SWT. Jika tidak, kapan lagi ? Hari - harimu adalah hari- hari. menuju ke kuburan, waktu-waktumu yang tersisa akan menuju ke kuburan, usiamu semakin lama semakin menjelang kematian, rohmu semakin dekat untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah SWT. Sudahkah kamu simpan amalan-amalanmu ? Sudahkan kamu menyiapkan bekal -bekalmu ? Sudahkah kamu siap menjelang mautmu ? Sudahkah kamu mengerjakan kewajiban-kewajibanmu ? Sudahkah kamu menghitung amalmu yang sangat sedikit itu ? Sudahkah kamu menghitung dosa-dosamu yang sangat banyak itu ? Di sini dan sekarang inilah saatnya kamu lakukan itu semua ! Nah masihkah kau mau sombong dengan kematianmu yang semakin dekat ?
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/9-alasan-mengapa-tak-boleh-sombong/473302261041
2. Ketajaman mata rohani, lebih tajam dari benda tajam yang manapun. Sedikit kata-kata yang penuh keikhlasan, kejujuran, kebenaran, lebih tajam dan lebih bermakna dari ribuan kata-kata yang penuh kebohongan, apa lagi kesombongan ! Bila mata hatimu masih tumpul, karena penuh dengan penyakit hati, maka banyak-banyaklah istigfar, mohon ampun kepadaNya, jauhkan hatimu dari kesombongan sekecil apapun. Apa itu kesombongan ? Meremehkan orang lain dan tak mau menerima kebenaran !
3. Kebenaran apapun yang kamu sampaikan pada orang lain yang membencimu, akan sia-sia. Ibarat angin lalu di tengah padang pasir yang tandas, tak berbekas apapun. Dan jangan sombong dengan kebenaran atau kepinteran yang kau miliki, apa lagi sampai membodoh-bodohi orang lain, seakan kau penjadi orang yang sangat pinter dengan membodohi orang lain, padahal tidak ! Seandainya kau pinterpun tetap tak boleh membodoh-bodohi orang lain, apa hakmu membodohi orang lain ? Orang yang pinter bahkan biasanya lebih rendah hati, lebih menghormati orang lain dan lebih tawadu, seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk ! Lalu mengapa kamu sombong ?
4. Kebenaran manusia bersipat relatif dan orang bisa membantahnya dengan kebenaran yang lain yang sipatnya relatif pula. Selama kebenaran yang datang dari manusia sipatnya tidak ada yang absolut, kebenaran mutlak hanya milik Allah SWT. Jadi kalau ada manusia merasa diri paling benar, paling pinter tanda-tanda kesombongan ada pada dirinya. Yang repot, sudah kapir, sombong lagi, dengan menyatakan dirinya : ” Saya kapir ! ” dengan bangganya, seakan berkata : ” Kalau saya kapir, kau mau apa ? ” Ini orang kok sombong amat yakh ? Padahal akhir perjalanannya hanya menjadi bangkai dan di akherat termasuk orang yang merugi. Masih mau sombong ?
5. Telah banyak kesalahan dan dosa yang kamu perbuat, saat inilah perlunya kerendahan hati/tidak sombong dan memohon petunjukNya dan beristigfar/mohon ampunanNya. Kesalahan sangat manusiawi, jangan takut salah, tapi jangan sengaja berbuat salah. Dan jangan sombong dengan kesalahan dan kekapiran ! Jangan seperti Iblis, hanya karena diciptakan dari api, sudah sombong ! Iblis merasa lebih mulia dari Adam As yang diciptakan dari tanah, sehingga Iblis membantah/menolak perintah Tuhan untuk sujud pada Adam !
6. Nabi Muhammad SAW sebagai manusia sempurna/insan kamil saja di musuhi ummatnya yang kapir, apa lagi kamu manusia biasa yang seringkali disengaja atau tidak disengaja menyakiti orang lain, pasti banyak yang tak suka padamu. Dan sampai saat ini betapa banyak manusia yang tak beriman kepada beliau, bukan hanya tak beriman, tapi juga melecehkan, menghinanya, menghujatnya, mencaci makinya. Jadi kalau kamu dihina atau dicaci maki orang itu belum apa-apa. Jangan-jangan kamu dinina, memang hina beneran. Siapa sih manusia hina ? Ya manusia yang merasa dirinya mulia, merasa suci. Padahal orang yang mulai dan suci adalah orang yang rendah hati, bukan orang orang yang sombong !
7. Kamu bukan Muhammad SAW yang bertemu Allah dalam malam Isra’ mi’raj. Kamu bukan Musa AS yang diajak berbicara oleh Allah SWT. Kamu bukan Ibrohim AS yang mencari dan diselamatkan Allah ketika di bakar oleh Namrudz. Kamu bukan Nuh AS yang penuh kesabaran menjalankan agama Allah dan tetap mensyiarkan agamaNya, walaupun yang beriman sedikit. Kamu bukan Ayub AS yang mendapat ujian begitu berat dengan penyakit yang bertahun tahun, namun tetap sabar dan iklas kepadaNya. Kamu bukan Adam AS yang di usir oleh Allah dan segera mohon ampun kepadaNya dan diampuni olehNya. Kamu bukan wali yang dimuliakan Allah, karena ketaatan ibadahnaya yang begitu banyak mereka lakukan. Kamu bukan sufi yang menyintai Allah dengan ketulusan hati dan kesabaran jiwa. Kamu bukan Malaikat yang sangat patuh atas semua perintah Allah sejak diciptakan sampai ditiadakan. Kamu hanya hamba Allah yang amat kecil dan hina dihadapanNya, tak lebih dari itu. Nah apa yang mau kau sombongkan ?
8. Para Auliya dan orang orang yang sholeh mendekati Allah SWT dengan caranya masing-masing, kamu tak mesti mengikuti cara-cara mereka. maka untukmu adalah : Dekati Allah SWT dengan caramu sendiri dan kebiasaanmu sendiri dan itu tak perlu mengasingkan diri ke gunung-gunung atau masuk ke goa-goa dan bertapa di sana ! Allah bisa di dekati di mana-mana, karena memang Dia ada di mana-mana dan jangan lupa, Allah SWT lebih dekat dari urat nadimu sendiri. Dan jangan katakan : ” Saya sudah dekat kepada Allah SWT ! ” Itu kesombongan ! Mengapa ? Karena yang mengatahui kedekatanmu pada Allah, ya Allah sendiri, bukan karena kata-kata-katamu dan perbuatanmu. Nah masih mau sombong juga ?
9. Di sini dan sekarang inilah saatnya kamu berusaha mendekati Allah SWT. Jika tidak, kapan lagi ? Hari - harimu adalah hari- hari. menuju ke kuburan, waktu-waktumu yang tersisa akan menuju ke kuburan, usiamu semakin lama semakin menjelang kematian, rohmu semakin dekat untuk kembali kepada asalnya yaitu Allah SWT. Sudahkah kamu simpan amalan-amalanmu ? Sudahkan kamu menyiapkan bekal -bekalmu ? Sudahkah kamu siap menjelang mautmu ? Sudahkah kamu mengerjakan kewajiban-kewajibanmu ? Sudahkah kamu menghitung amalmu yang sangat sedikit itu ? Sudahkah kamu menghitung dosa-dosamu yang sangat banyak itu ? Di sini dan sekarang inilah saatnya kamu lakukan itu semua ! Nah masihkah kau mau sombong dengan kematianmu yang semakin dekat ?
Sumber: http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/9-alasan-mengapa-tak-boleh-sombong/473302261041
Wednesday, 29 September 2010
Syair Tukang Bakso
Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar,
malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso
yang membunyikan piring dengan sendoknya.
Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi
ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu
konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
"Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso!" gerutu seseorang.
"Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!" tambah lainnya, dan disambung - "Ya, ya, betul!"
"Jangan marah, ikhwan," seseorang berusaha meredakan kegelisahan, "ia sekedar mencari makan ..."
"Ia tak punya imajinasi terhadap apa yang kita lakukan!" potong seseorang yang lain lagi.
"Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan-jangan ia minan-nashara!" sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga mengeras:
"Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya.
Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut
kepada hal-hal kecil dalam hidupnya.
Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya,
yang lain-lain menjadi kecil adanya."
"Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan
sebuah rezim atau peluru militerisme politik.
Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso.
Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi
derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso?
Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar,
memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi:
tapi tidak takutkah Anda untukmenjadi tukang bakso?
Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain
dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso?
Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?"
"Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso.
Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso?
Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga
untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua."
Suasana menjadi senyap.
Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid
menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
"Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,"
Pak Ustadz melanjutkan, "karena kita masih tergolong orang-orang
yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah,
takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin,
takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua,
dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... masya allah,
sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomor satukan Allah!"
Sumber: http://www.facebook.com/notes/hrysto-stoyckov/syair-tukang-bakso/162430893767937
malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso
yang membunyikan piring dengan sendoknya.
Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi
ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu
konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.
"Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso!" gerutu seseorang.
"Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!" tambah lainnya, dan disambung - "Ya, ya, betul!"
"Jangan marah, ikhwan," seseorang berusaha meredakan kegelisahan, "ia sekedar mencari makan ..."
"Ia tak punya imajinasi terhadap apa yang kita lakukan!" potong seseorang yang lain lagi.
"Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan-jangan ia minan-nashara!" sebuah suara keras.
Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga mengeras:
"Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya.
Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut
kepada hal-hal kecil dalam hidupnya.
Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya,
yang lain-lain menjadi kecil adanya."
"Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan
sebuah rezim atau peluru militerisme politik.
Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso.
Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi
derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso?
Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar,
memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi:
tapi tidak takutkah Anda untukmenjadi tukang bakso?
Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain
dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso?
Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?"
"Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso.
Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso?
Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga
untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua."
Suasana menjadi senyap.
Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid
menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.
"Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari,"
Pak Ustadz melanjutkan, "karena kita masih tergolong orang-orang
yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah,
takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin,
takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur istri dan mertua,
dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... masya allah,
sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomor satukan Allah!"
Sumber: http://www.facebook.com/notes/hrysto-stoyckov/syair-tukang-bakso/162430893767937
Friday, 3 September 2010
Kata Kata Mutiara dari Para Sahabat
Ini mutiara - mutiara dari perkataan para ulama salaful ummah, dari kalangan Sahabat Nabi Shallallahu'alaihi wa sallam.
Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib:
"Sifatkan dunia kepada kami".
Beliau berkata:
"Apa yang akan aku sifatkan dari negeri yang awalnya kelelahan dan
akhirnya fana (kehancuran),
halalnya adalah hisab dan
haramnya adalah adzab,
orang yang merasa cukup dengannya akan terfitnah, dan
orang yang mengejarnya akan sedih".
(Jami' bayanil 'Ilmi wa Fadllihi 1/176).
Abdullah bin Mas'ud berkata:
"Sesungguhnya kamu melihat orang kafir itu paling sehat badannya dan
paling sakit hatinya, dan
kamu menemui orang mukmin yang paling sehat hatinya walaupun
badannya paling sakit.
Demi Allah, jika hati kamu sakit dan badan kamu sehat, maka
kamu lebih rendah di sisi Allah dari binatang ju'lan (binatang kecil
yang suka berada di kotoran)".
(Sifatus shofwah 1/128).
Hudzaifah bin Al Yamaan berkata:
"Sesungguhnya fitnah itu akan ditampakkan kepada hati;
siapa yang merasa senang padanya, akan diberikan titik hitam di
hatinya, dan
siapa yang mengingkarinya, akan diberi titik putih dihatinya.
Barang siapa yang ingin mengetahui apakah hatinya terkena fitnah
atau tidak, hendaklah ia melihat:
jika ia memandang yang haram ternyata ia melihatnya halal, atau
memandang yang halal ternyata ia melihatnya haram, maka
ia telah terkena fitnah".
(Sifatus shofwah 1/310).
Ubay bin Ka'ab berkata:
"Seorang mukmin itu berada diantara empat perangai:
jika ditimpa musibah ia bersabar,
jika diberi kesenangan ia bersyukur,
jika berkata ia jujur, dan
jika menghukumi ia berbuat adil.
Ia selalu berada dalam lima cahaya:
ucapannya adalah cahaya,
ilmunya adalah cahaya,
tempat masuknya adalah cahaya,
tempat keluarnya adalah cahaya, dan
tempat kembalinya kepada cahaya pada hari kiamat.
Sedangkan orang kafir itu berada di dalam lima kegelapan:
ucapannya adalah kegelapan,
ilmunya adalah kegelapan,
tempat masuknya adalah kegelapan,
tempat keluarnya adalah kegelapan, dan
tempat kembalinya kepada kegelapan pada hari kiamat".
(Hilyatul Auliyaa 1/255).
Umar bin Al Khathab berkata:
"Siapa yang banyak tertawa, akan jatuh wibawanya.
Siapa yang banyak bercanda, akan dipandang hina.
Siapa yang banyak melakukan sesuatu, akan dikenal dengannya.
Siapa yang banyak berbicara, akan banyak kesalahannya,
Siapa yang banyak kesalahannya, akan sedikit rasa malunya,
Siapa yang sedikit rasa malunya, akan sedikit wara'nya,
dan siapa yang sedikit wara'nya, hatinya akan mati".
(Sifatush shafwah 1/149).
Abu Darda berkata:
"Hendaklah seseorang waspada untuk menjadikan hati kaum mukminin
marah kepadanya sementara ia tidak merasa !"
Dikatakan kepadanya: "Bagaimana itu akan terjadi ?"
Beliau berkata: "Seorang hamba melakukan maksiat secara tersembunyi,
lalu Allah melemparkan kebencian kepada hati kaum mukminin kepadanya
sementara ia tidak merasa".
(Sifatus Shafwah 1/325).
Salman Al Farisi berkata:
"Ilmu itu banyak, sementara umur kita pendek, maka
ambillah ilmu yang engkau butuhkan dalam urusan agamamu, dan
tinggalkan selainnya, jangan disibukkan dengannya".
(Tahdzib Hilyatul Auliyaa 1/161).
Sumber: Akhmad Tuliran Maulana (FB)
Dikatakan kepada Ali bin Abi Thalib:
"Sifatkan dunia kepada kami".
Beliau berkata:
"Apa yang akan aku sifatkan dari negeri yang awalnya kelelahan dan
akhirnya fana (kehancuran),
halalnya adalah hisab dan
haramnya adalah adzab,
orang yang merasa cukup dengannya akan terfitnah, dan
orang yang mengejarnya akan sedih".
(Jami' bayanil 'Ilmi wa Fadllihi 1/176).
Abdullah bin Mas'ud berkata:
"Sesungguhnya kamu melihat orang kafir itu paling sehat badannya dan
paling sakit hatinya, dan
kamu menemui orang mukmin yang paling sehat hatinya walaupun
badannya paling sakit.
Demi Allah, jika hati kamu sakit dan badan kamu sehat, maka
kamu lebih rendah di sisi Allah dari binatang ju'lan (binatang kecil
yang suka berada di kotoran)".
(Sifatus shofwah 1/128).
Hudzaifah bin Al Yamaan berkata:
"Sesungguhnya fitnah itu akan ditampakkan kepada hati;
siapa yang merasa senang padanya, akan diberikan titik hitam di
hatinya, dan
siapa yang mengingkarinya, akan diberi titik putih dihatinya.
Barang siapa yang ingin mengetahui apakah hatinya terkena fitnah
atau tidak, hendaklah ia melihat:
jika ia memandang yang haram ternyata ia melihatnya halal, atau
memandang yang halal ternyata ia melihatnya haram, maka
ia telah terkena fitnah".
(Sifatus shofwah 1/310).
Ubay bin Ka'ab berkata:
"Seorang mukmin itu berada diantara empat perangai:
jika ditimpa musibah ia bersabar,
jika diberi kesenangan ia bersyukur,
jika berkata ia jujur, dan
jika menghukumi ia berbuat adil.
Ia selalu berada dalam lima cahaya:
ucapannya adalah cahaya,
ilmunya adalah cahaya,
tempat masuknya adalah cahaya,
tempat keluarnya adalah cahaya, dan
tempat kembalinya kepada cahaya pada hari kiamat.
Sedangkan orang kafir itu berada di dalam lima kegelapan:
ucapannya adalah kegelapan,
ilmunya adalah kegelapan,
tempat masuknya adalah kegelapan,
tempat keluarnya adalah kegelapan, dan
tempat kembalinya kepada kegelapan pada hari kiamat".
(Hilyatul Auliyaa 1/255).
Umar bin Al Khathab berkata:
"Siapa yang banyak tertawa, akan jatuh wibawanya.
Siapa yang banyak bercanda, akan dipandang hina.
Siapa yang banyak melakukan sesuatu, akan dikenal dengannya.
Siapa yang banyak berbicara, akan banyak kesalahannya,
Siapa yang banyak kesalahannya, akan sedikit rasa malunya,
Siapa yang sedikit rasa malunya, akan sedikit wara'nya,
dan siapa yang sedikit wara'nya, hatinya akan mati".
(Sifatush shafwah 1/149).
Abu Darda berkata:
"Hendaklah seseorang waspada untuk menjadikan hati kaum mukminin
marah kepadanya sementara ia tidak merasa !"
Dikatakan kepadanya: "Bagaimana itu akan terjadi ?"
Beliau berkata: "Seorang hamba melakukan maksiat secara tersembunyi,
lalu Allah melemparkan kebencian kepada hati kaum mukminin kepadanya
sementara ia tidak merasa".
(Sifatus Shafwah 1/325).
Salman Al Farisi berkata:
"Ilmu itu banyak, sementara umur kita pendek, maka
ambillah ilmu yang engkau butuhkan dalam urusan agamamu, dan
tinggalkan selainnya, jangan disibukkan dengannya".
(Tahdzib Hilyatul Auliyaa 1/161).
Sumber: Akhmad Tuliran Maulana (FB)
Thursday, 2 September 2010
LUPAKAN DENDAM, JADILAH PEMAAF
Dendam nyaris selalu disertai sakit hati. Dan itu sering menjadi dasar untuk melakukan sebuah pembalasan. Saat orang lain melakukan sesuatu yang tidak kita sukai, tiba-tiba saja kita merasa mendapatkan ijin khusus dari Tuhan untuk melakukan pembalasan. Bahkan, tidak jarang kita memberikan `bonus’ nya sekalian. Jika anda menampar saya perlahan, maka sebagai bonusnya, tamparan balasan dari saya bisa sangat keras sekali. Kalau perlu, hingga membuat anda pingsan. Jika hari ini saya belum bisa membalas anda, maka semuanya itu akan berubah menjadi utang yang wajib untuk dibayarkan kepada anda dimasa depan. Jika tangan saya sendiri tidak mampu melakukannya, maka saya mengutus orang lain untuk mewakili terlunasinya utang-utang itu. Berikut bunganya sekalian. Bukan begitukah kita mendefinisikan sebuah dendam?
Secara garis besar, ada tiga komponen yang menghidupi dendam, yaitu: perbuatan orang lain kepada kita, rasa sakit hati, dan pembalasan. Mari kita bahas, satu demi satu. Pertama, perbuatan orang lain kepada kita. Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mengendalikan perbuatan orang lain. Kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang orang lain untuk melakukan atau menghindari sebuah perbuatan. Paling banter, anda hanya bisa menghimbau. Misalnya dengan mengatakan; “Maaf Mas, kalau mau merokok jangan diruangan ber-AC seperti ini dong….” Apakah orang itu akan berhenti, atau pindah ketempat terbuka, atau memasabodohkan perkataan anda; itu diluar kuasa anda.
Bahkan, sekalipun anda seorang atasan; anda hanya bisa mengatakan; “Optimalkan jam kerjamu.” Atau “Lakukan kegiatan ekstra untuk perusahaan.” Atau “Jangan terlambat masuk kerja.” Anda bisa melakukannya sebatas itu. Sekalipun anda melakukan semuanya itu atas kewenangan anda dan demi kebaikan organisasi dan diri mereka sendiri, tetapi dimata mereka anda tidak lebih dari seorang atasan yang bawel. Anda tak perlu heran. Sebab, anda sama sekali tidak bisa mengontrol tindakan atau perbuatan orang lain. Dengan kata lain; anda sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi ‘will’ seseorang. Mengapa? Karena, ‘kehendak’ adalah hak setiap manusia. Dan seperti yang kita tahu; ada orang yang mampu mengarahkan kehendaknya kepada hal-hal postif dan produktif, dan ada pula yang sebaliknya.
Kedua, rasa sakit hati. Mungkin anda bisa mengatakan ’sakit sekali hati ini’. Namun, bisakah anda menemukan dimanakah letaknya rasa sakit hati itu? Dibawa kerumahsakit pun tidak akan membantu anda menemukan letak rasa sakit itu. Mengapa? Karena sakit hati adanya diawang-awang. Yang bisa menjangkaunya hanyalah perasaan. Liver kita sehat walafiat. Tetapi, mengapa kita merasakan sakit begitu rupa? Karena kita membiarkan perasaan merengkuh rasa sakit itu. Dan membawanya masuk kedalam hati kita. Seandainya kita tidak mengijinkan perasaan menggapainya, maka kita tidak akan merasakannya.
Oleh karena itu, sakit hati sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan orang lain; melainkan dengan diri kita sendiri. Jika kita tidak menginginkan rasa sakit hati itu, maka tindakan apapun yang dilakukan oleh orang lain tidak akan berhasil menjadikan kita sakit hati. Ada orang yang menghina anda sebegitu rupa; namun, anda tidak mengijinkan perasaan membawa sakit hati. Maka anda akan tenang- tenang saja. Ada orang yang menggosipkan tentang kekurangan- kekurangan anda. Dan tentu saja, gosip baru enak kalau ditambah dengan bumbu-bumbu, bukan? Sehingga, dilingkungan anda terbentuk opini yang sedemikian buruknya tentang anda. Anda sakit hati? Tidak, jika anda tidak mengijinkan sang perasaan melakukannya. Sekalipun tidak semua yang mereka katakan tentang anda itu benar. Artinya, ada bumbu tambahan yang dilebih-lebihkan. Jika anda benar-benar tidak seperti yang mereka katakan; maka itu tidak akan terlalu berpengaruh kepada baik atau buruknya diri anda. So what?
Ketiga, pembalasan. Anda boleh melakukan pembalasan dengan 3 syarat; kalau anda lebih kuat, kalau ingin membuat dendam baru, dan kalau anda kurang kerjaan. Kalau mereka lebih kuat dari anda, dan anda ngotot untuk melakukan pembalasan itu berarti anda bunuh diri. Jadi, melakukan pembalasan kepada pihak yang lebih kuat itu sama sekali bukanlah tindakan yang cerdas. Jika anda benar-benar cerdas, lebih baik lupakan saja itu yang namanya balas dendam. Buang jauh-jauh sifat dendam, dan anda akan hidup dengan tentram.
Mungkin anda bisa membalas dendam. Sehingga ketika dendam itu terbalaskan, hati anda sembuh dari sakit. Hey, harap diingat; pembalasan anda bisa menumbuhkan dendam lain dihati mereka. Kemudian mereka membalas lagi kepada anda, lalu anda kembali membalasnya. Maka jadilah dendam itu berputar-putar sampai tidak tahu kapan saatnya untuk berhenti. Sehingga, anak keturunan kita harus ikut menanggung dendam yang sama; meskipun mereka tidak tahu menahu apa penyebabnya. Maukah anda mengorbankan anak cucu untuk sebuah dendam yang anda buat dengan orang lain? Tidak. Baguslah itu. Jadi, mari kita lupakan dendam kesumat itu. Cukup sampai disitu saja.
Lagipula, anda bukanlah orang yang kekurangan pekerjaan. Ada seribu satu hal penting yang membutuhkan curahan perhatian kita. Dengan melakukan semuanya itu, hidup kita menjadi lebih berarti. Jika kita membuang-buang waktu, tenaga, dan perhatian hanya untuk mengurusi dendam; maka semua hal positif yang menanti kita untuk bertindak akan terbengkalai begitu rupa. Sehingga, hidup kita menjadi kurang bermakna. Jadi, bisakah kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa; ‘kita tidak memiliki waktu untuk membalas dendam’. Oleh karena itu, setiap perbuatan buruk orang lain kepada kita, tidak perlu dibalas dengan perbuatan buruk yang sama. Dengan begitu, selain kita bisa menjadi manusia yang pemaaf; kita akan terbebas dari sesuatu yang kita sebut sebagai ’sakit hati’ itu. Kita juga bisa melakukan banyak hal lain yang lebih berguna dalam hidup ini. Jadi, perlukan membawa-bawa dendam ini disepanjang hidup kita?
Sahabat, “Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu jauh lebih baik..”
Suatu hari ‘Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah saw, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan Assamu’alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapan Assamu’alaikum kepada Rasulullah.
Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkan Assamu’alaikum. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah. Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah yang celaka!
Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, Hai ˜Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang?”
“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”
“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”
Manusia agung, Muhammad saw ini lagi-lagi memberikan pelajaran yag sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan. Begitu kokoh pemahaman dirinya, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa.
Sebagai istri, ‘Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya menerima ucapan keji dan busuk, sebagaimana yang diucapkan oleh orang Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.
Apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan. Rasulullah berkata, Wa’alaikum, itu sudah cukup.’
Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).
Maaf, Yang Belum Zakat ditunggu di http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Secara garis besar, ada tiga komponen yang menghidupi dendam, yaitu: perbuatan orang lain kepada kita, rasa sakit hati, dan pembalasan. Mari kita bahas, satu demi satu. Pertama, perbuatan orang lain kepada kita. Dalam banyak situasi, kita tidak bisa mengendalikan perbuatan orang lain. Kita sama sekali tidak memiliki hak untuk menyuruh atau melarang orang lain untuk melakukan atau menghindari sebuah perbuatan. Paling banter, anda hanya bisa menghimbau. Misalnya dengan mengatakan; “Maaf Mas, kalau mau merokok jangan diruangan ber-AC seperti ini dong….” Apakah orang itu akan berhenti, atau pindah ketempat terbuka, atau memasabodohkan perkataan anda; itu diluar kuasa anda.
Bahkan, sekalipun anda seorang atasan; anda hanya bisa mengatakan; “Optimalkan jam kerjamu.” Atau “Lakukan kegiatan ekstra untuk perusahaan.” Atau “Jangan terlambat masuk kerja.” Anda bisa melakukannya sebatas itu. Sekalipun anda melakukan semuanya itu atas kewenangan anda dan demi kebaikan organisasi dan diri mereka sendiri, tetapi dimata mereka anda tidak lebih dari seorang atasan yang bawel. Anda tak perlu heran. Sebab, anda sama sekali tidak bisa mengontrol tindakan atau perbuatan orang lain. Dengan kata lain; anda sama sekali tidak memiliki kuasa untuk mempengaruhi ‘will’ seseorang. Mengapa? Karena, ‘kehendak’ adalah hak setiap manusia. Dan seperti yang kita tahu; ada orang yang mampu mengarahkan kehendaknya kepada hal-hal postif dan produktif, dan ada pula yang sebaliknya.
Kedua, rasa sakit hati. Mungkin anda bisa mengatakan ’sakit sekali hati ini’. Namun, bisakah anda menemukan dimanakah letaknya rasa sakit hati itu? Dibawa kerumahsakit pun tidak akan membantu anda menemukan letak rasa sakit itu. Mengapa? Karena sakit hati adanya diawang-awang. Yang bisa menjangkaunya hanyalah perasaan. Liver kita sehat walafiat. Tetapi, mengapa kita merasakan sakit begitu rupa? Karena kita membiarkan perasaan merengkuh rasa sakit itu. Dan membawanya masuk kedalam hati kita. Seandainya kita tidak mengijinkan perasaan menggapainya, maka kita tidak akan merasakannya.
Oleh karena itu, sakit hati sama sekali tidak berhubungan dengan tindakan orang lain; melainkan dengan diri kita sendiri. Jika kita tidak menginginkan rasa sakit hati itu, maka tindakan apapun yang dilakukan oleh orang lain tidak akan berhasil menjadikan kita sakit hati. Ada orang yang menghina anda sebegitu rupa; namun, anda tidak mengijinkan perasaan membawa sakit hati. Maka anda akan tenang- tenang saja. Ada orang yang menggosipkan tentang kekurangan- kekurangan anda. Dan tentu saja, gosip baru enak kalau ditambah dengan bumbu-bumbu, bukan? Sehingga, dilingkungan anda terbentuk opini yang sedemikian buruknya tentang anda. Anda sakit hati? Tidak, jika anda tidak mengijinkan sang perasaan melakukannya. Sekalipun tidak semua yang mereka katakan tentang anda itu benar. Artinya, ada bumbu tambahan yang dilebih-lebihkan. Jika anda benar-benar tidak seperti yang mereka katakan; maka itu tidak akan terlalu berpengaruh kepada baik atau buruknya diri anda. So what?
Ketiga, pembalasan. Anda boleh melakukan pembalasan dengan 3 syarat; kalau anda lebih kuat, kalau ingin membuat dendam baru, dan kalau anda kurang kerjaan. Kalau mereka lebih kuat dari anda, dan anda ngotot untuk melakukan pembalasan itu berarti anda bunuh diri. Jadi, melakukan pembalasan kepada pihak yang lebih kuat itu sama sekali bukanlah tindakan yang cerdas. Jika anda benar-benar cerdas, lebih baik lupakan saja itu yang namanya balas dendam. Buang jauh-jauh sifat dendam, dan anda akan hidup dengan tentram.
Mungkin anda bisa membalas dendam. Sehingga ketika dendam itu terbalaskan, hati anda sembuh dari sakit. Hey, harap diingat; pembalasan anda bisa menumbuhkan dendam lain dihati mereka. Kemudian mereka membalas lagi kepada anda, lalu anda kembali membalasnya. Maka jadilah dendam itu berputar-putar sampai tidak tahu kapan saatnya untuk berhenti. Sehingga, anak keturunan kita harus ikut menanggung dendam yang sama; meskipun mereka tidak tahu menahu apa penyebabnya. Maukah anda mengorbankan anak cucu untuk sebuah dendam yang anda buat dengan orang lain? Tidak. Baguslah itu. Jadi, mari kita lupakan dendam kesumat itu. Cukup sampai disitu saja.
Lagipula, anda bukanlah orang yang kekurangan pekerjaan. Ada seribu satu hal penting yang membutuhkan curahan perhatian kita. Dengan melakukan semuanya itu, hidup kita menjadi lebih berarti. Jika kita membuang-buang waktu, tenaga, dan perhatian hanya untuk mengurusi dendam; maka semua hal positif yang menanti kita untuk bertindak akan terbengkalai begitu rupa. Sehingga, hidup kita menjadi kurang bermakna. Jadi, bisakah kita mengatakan kepada diri kita sendiri bahwa; ‘kita tidak memiliki waktu untuk membalas dendam’. Oleh karena itu, setiap perbuatan buruk orang lain kepada kita, tidak perlu dibalas dengan perbuatan buruk yang sama. Dengan begitu, selain kita bisa menjadi manusia yang pemaaf; kita akan terbebas dari sesuatu yang kita sebut sebagai ’sakit hati’ itu. Kita juga bisa melakukan banyak hal lain yang lebih berguna dalam hidup ini. Jadi, perlukan membawa-bawa dendam ini disepanjang hidup kita?
Sahabat, “Dalam ajaran Islam membalas itu tidak terlarang, akan tetapi memaafkan itu jauh lebih baik..”
Suatu hari ‘Aisyah yang tengah duduk santai bersama suaminya, Rasulullah saw, dikagetkan oleh kedatangan seorang Yahudi yang minta izin masuk ke rumahnya dengan ucapan Assamu’alaikum (kecelakaan bagimu) sebagai ganti ucapan Assamu’alaikum kepada Rasulullah.
Tak lama kemudian datang lagi Yahudi yang lain dengan perbuatan yang sama. Ia masuk dan mengucapkan Assamu’alaikum. Jelas sekali bahwa mereka datang dengan sengaja untuk mengganggu ketenangan Rasulullah. Menyaksikan pola tingkah mereka, Aisyah gemas dan berteriak: Kalianlah yang celaka!
Rasulullah tidak menyukai reaksi keras istrinya. Beliau menegur, Hai ˜Aisyah, jangan kau ucapkan sesuatu yang keji. Seandainya Allah menampakkan gambaran yang keji secara nyata, niscaya dia akan berbentuk sesuatu yang paling buruk dan jahat. Berlemah lembut atas semua yang telah terjadi akan menghias dan memperindah perbuatan itu, dan atas segala sesuatu yang bakal terjadi akan menanamkan keindahannya. Kenapa engkau harus marah dan berang?”
“Ya Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka ucapkan secara keji sebagai pengganti dari ucapan salam?”
“Ya, aku telah mendengarnya. Aku pun telah menjawabnya wa’alaikum (juga atas kalian), dan itu sudah cukup.”
Manusia agung, Muhammad saw ini lagi-lagi memberikan pelajaran yag sangat berharga kepada istrinya, yang tentu saja berlaku pula bagi segenap kaum muslimin. Betapa beliau telah menunjukkan suatu kepribadian yang amat matang dan sangat dewasa dalam menghadapi berbagai keadaan. Begitu kokoh pemahaman dirinya, sehingga tidak mudah terpancing amarahnya. Suatu pengendalian emosi yang luar biasa.
Sebagai istri, ‘Aisyah tentu tidak rela manakala suami tercintanya menerima ucapan keji dan busuk, sebagaimana yang diucapkan oleh orang Yahudi. Darahnya segera mendidih, dan tanpa kendali keluarlah dari kedua bibirnya kata-kata keji pula sebagai balasan atas mereka.
Apa yang dikatakan oleh ‘Aisyah sebenarnya dalam batas kewajaran. Ia tidak berlebihan dalam mengumpat dan mengata-katai mereka. Ia hanya membalas secara setimpal apa yang mereka ucapkan. Akan tetapi Rasulullah belum berkenan terhadap ucapan istrinya. Beliau ingin agar ‘Aisyah mengganti ucapannya dengan satu kata yang lugas tapi tetap sopan. Rasulullah berkata, Wa’alaikum, itu sudah cukup.’
Keperkasaan seseorang tidak bisa diukur dari kekuatan fisiknya. Orang yang jantan, bukan mereka yang ahli bertinju, bukan mereka yang di setiap pertandingan tak terkalahkan. Menurut determinasi Islam orang yang kuat adalah mereka yang dikala marah bisa menahan dirinya. Rasulullah bersabda, “Bukan dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah mereka yang dapat menguasai diri (nafsu)-nya sewaktu marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan dari Allah, akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya dalam lingkungan hamba yang mendapatkan cinta-Nya, yaitu (1) seseorang yang selalu bersyukur manakala mendapat nikmat dari-Nya, (2) seseorang yang mampu meluapkan amarahnya tetapi mampu memberi maaf atas kesalahan orang, (3) seseorang yang apabila sedang marah, dia menghentikan marahnya.” (HR. Hakim).
Maaf, Yang Belum Zakat ditunggu di http://www.rumah-yatim-indonesia.org/
Nasehat Ketaqwaan
" Wahai Rabbku, malam tak akan terasa indah tanpa bermunajat kepada-Mu.
Dan Siang tak kan terasa indah tanpa ketaatan Kepada-Mu
Dan Dunia tak kan terasa indah kecuali berdzikir kepada-Mu
Dan Akhirat tak kan terasa nikmat kecuali dengan ampunan-Mu
Dan Syurga tak kan nikmat kecuali dengan memandang Wajah-Mu"
Dari Abu Hurairah dan Abu Said radhiallahuanhumma, keduanya bersaksi bahwa Rasulullah saw bersabda, " Tidak ada suatu kaum yang duduk berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengerumuninya dan mereka akan di naungi rahmat, dan diturunkannya sakinah, ketenangan jiwa kepada mereka, dan Allah akan membanggakan mereka di depan majelis-Nya"( Ahroja Abu Syaibah, Ahmad )
Abu Dzar radhiallahuan berkata, Rasulullah saw bersabda, " Aku Wasiatkan kepadamu, Bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah induk segala urusan
Dan Selalulah membaca Al-Qur'an dan berdzikir kepada Allah, karena dengannya namamu akan di ingat di langit dan akan menyebabkan Cahaya terpancar bagimu di Bumi," (Thabrani )
Perbanyaklah waktu diam, Janganlah berbicara kecuali kebaikan, sebab itu akan melindungimu dari godaan syaitan dan akan memudahkanmu mengamalkan Agama.
Jangan terlalu banyak tertawa, Karena Akan mematikan hati dan memudarkan Cahaya Wajahmu,
Teruslah ber BerDakwah & Berperang, sebab itu kebanggan Umatku.
Cintailah orang miskin, perbanyaklah duduk bersam mereka. Perhatikanlah kaum Dhu'afa, Dan jangan sering memandang orang yang lebih tinggi derajatnya darimu. sebab dapat membuatmu tidak mensyukuri nikmat Allah terhadapmu.
Sambunglah tali Persaudaraan, Silaturohmi, kekeluargaan, walaupun mereka memutuskannya,
Katakanlah yang benar meskipun terasa pahit,
Jangan hiraukan hinaan dalam bermuamalh hubungan dengan Allah,
Pandanglah Aib kejelekan sendiri, jangan memandang aib orang lain.
Jangan marah atas kesalahan orang lain, sedangkan kita juga melakukannya, Hai Abu Dzar, Tidak ada kecerdasan yang melebihi planing perencanaan yang baik. Dan menghindari perkara yang di larang adalah ketakwaan yang paling baik, Selain Akhlak yang Mulia, Tidak ada kemuliaan yang bisa Melebihinya..
" Wama taufiqi ilabillahi 'alaihi tawakaltu wailaihi uniib"
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=442333538536&ref=notif¬if_t=note_tag
Dan Siang tak kan terasa indah tanpa ketaatan Kepada-Mu
Dan Dunia tak kan terasa indah kecuali berdzikir kepada-Mu
Dan Akhirat tak kan terasa nikmat kecuali dengan ampunan-Mu
Dan Syurga tak kan nikmat kecuali dengan memandang Wajah-Mu"
Dari Abu Hurairah dan Abu Said radhiallahuanhumma, keduanya bersaksi bahwa Rasulullah saw bersabda, " Tidak ada suatu kaum yang duduk berdzikir kepada Allah, kecuali para malaikat akan mengerumuninya dan mereka akan di naungi rahmat, dan diturunkannya sakinah, ketenangan jiwa kepada mereka, dan Allah akan membanggakan mereka di depan majelis-Nya"( Ahroja Abu Syaibah, Ahmad )
Abu Dzar radhiallahuan berkata, Rasulullah saw bersabda, " Aku Wasiatkan kepadamu, Bertakwalah kepada Allah, karena ia adalah induk segala urusan
Dan Selalulah membaca Al-Qur'an dan berdzikir kepada Allah, karena dengannya namamu akan di ingat di langit dan akan menyebabkan Cahaya terpancar bagimu di Bumi," (Thabrani )
Perbanyaklah waktu diam, Janganlah berbicara kecuali kebaikan, sebab itu akan melindungimu dari godaan syaitan dan akan memudahkanmu mengamalkan Agama.
Jangan terlalu banyak tertawa, Karena Akan mematikan hati dan memudarkan Cahaya Wajahmu,
Teruslah ber BerDakwah & Berperang, sebab itu kebanggan Umatku.
Cintailah orang miskin, perbanyaklah duduk bersam mereka. Perhatikanlah kaum Dhu'afa, Dan jangan sering memandang orang yang lebih tinggi derajatnya darimu. sebab dapat membuatmu tidak mensyukuri nikmat Allah terhadapmu.
Sambunglah tali Persaudaraan, Silaturohmi, kekeluargaan, walaupun mereka memutuskannya,
Katakanlah yang benar meskipun terasa pahit,
Jangan hiraukan hinaan dalam bermuamalh hubungan dengan Allah,
Pandanglah Aib kejelekan sendiri, jangan memandang aib orang lain.
Jangan marah atas kesalahan orang lain, sedangkan kita juga melakukannya, Hai Abu Dzar, Tidak ada kecerdasan yang melebihi planing perencanaan yang baik. Dan menghindari perkara yang di larang adalah ketakwaan yang paling baik, Selain Akhlak yang Mulia, Tidak ada kemuliaan yang bisa Melebihinya..
" Wama taufiqi ilabillahi 'alaihi tawakaltu wailaihi uniib"
Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=442333538536&ref=notif¬if_t=note_tag
Saturday, 28 August 2010
KERENDAHAN HATI
** KERENDAHAN HATI **
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar, Tetapi . . . .
Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.
Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput, Tetapi . . . .
Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil, Tetapi . . . .
Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.
Tidak semua menjadi Kapten,
tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang
menjadikan rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri.
Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?pid=514950&fbid=155100801173118&id=118924971457368
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar, Tetapi . . . .
Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.
Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput, Tetapi . . . .
Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil, Tetapi . . . .
Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.
Tidak semua menjadi Kapten,
tentu harus ada awak kapalnya.
Bukan besar kecilnya tugas yang
menjadikan rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri.
Sumber: http://www.facebook.com/photo.php?pid=514950&fbid=155100801173118&id=118924971457368
Wednesday, 25 August 2010
~ SENI HIDUP ~
SENI tidak lebih penting daripada HIDUP
Namun HIDUP terasa MENYEDIHKAN bila TANPA SENI
Orang yang tidak tahu cara HIDUP YANG BAIK
Harus bisa MENINGGAL dengan BAIK
Jika orang membungkus dirinya SENDIRI
Ia akan membuat BUNGKUSAN YANG CANTIK
Senyum adalah KUNCI pembuka RUMAH KEBAHAGIAAN
KASIH SAYANG adalah PINTUNYA
Sikap SELALU GEMBIRA adalah TAMANNYA
IMAN adalah CAHAYANYA
RASA AMAN adalah DINDINGNYA
KEBAHAGIAAN adalah ketika seseorang memiliki WAJAH YANG CERAH,
kebun yang HIJAU, Air minum yang SEJUK, Buku (bacaan) YANG BERMANFAAT, Hati yang BERSYUKUR, Terjauh dari MAKSIAT, serta MENCINTAI KEBAIKAN
KENIKMATAN DUNIA adalah FATAMORGANA
PENDERITAAN atau MUSIBAH adalah PENGHAPUS DOSA
KEMARAHAN adalah API YANG MENGHANGUSKAN
WAKTU KOSONG adalah KERUGIAN
IBADAH adalah PERNIAGAAN
KENIKMATAN DUNIA berada dalam KESEHATAN
Kenikmatan MASA MUDA berada dalam SEMANGAT dan KREATIVITAS
KEMULIAAN ada dalam TAKWA
KEHORMATAN ada dalam HARTA
KEPRIBADIAN YANG BAIK ada dalam KESABARAN
Jangan TERLALU BERAMBISI untuk mengerjakan seluruh yang di dengar
Jangan terlalu BERHARAP kepada Teman
Jangan mengerjakan SELURUH KEINGINAN
KEUNGGULAN dalam BERKATA-KATA menciptakan KEPERCAYAAN DIRI
KEUNGGULAN dalam BERPIKIR menciptakan SESUATU YANG SANGAT BESAR
KEUNGGULAN dalam MEMBERI menciptakan CINTA
Orang yang SABAR dan TOLERAN akan DIHORMATI
Orang yang PELIT DAN SERAKAH akan DIBENCI
Orang yang GEMAR berbuat KEBAIKAN akan DICINTAI
Orang yang sering MEMINTA-MINTA akan DIJAUHI
Mereka yang ORIENTASI hidupnya untuk DUNIA
Maka ia hanya akan mendapatkan DUNIA
( bisa juga tidak mendapatkan apa-apa)
Mereka yang ORIENTASI hidupnya untuk AKHIRAT
Ia akan mendapatkan KEDUANYA... DUNIA dan AKHIRAT.
TINDAKAN MANUSIA BISA DI MODIFIKASI
Tetapi SIFAT MANUSIAWI tidak bisa di ubah
CINTA...
KEBAHAGIAAN...
KASIH SAYANG...
PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN...
Tumbuh dari HATI YANG TULUS...
Ada SATU KATA yang membebaskan kita dari BEBAN HIDUP dan PENDERITAAN
SATU KATA itu adalah KASIH...
Hiduplah seperti BURUNG ...
Yang selalu AKTIF MENCARI REZEKI pagi dan petang ...
Dia tidak menghiraukan apa yang akan terjadi ESOK HARI ...
Dia tidak pernah KHAWATIR akan HARI ESOK...
Dia juga TIDAK BERHARAP pada siapapun...
TIDAK BERGANTUNG pada siapapun...
Kecuali pada Tuhannya
TIDAK MENYAKITI siapapun...
Serta terbang kian kemari dengan RIANG dan PENUH KELEMBUTAN
Bila KELEMBUTAN MELEKAT pada sesuatu pastilah ia akan MENGHIASINYA
Apabila TERLEPAS ia juga akan MEMPERBURUKNYA
Selamat menjalani hidup dengan indah...
*EZ09*
~ Bulan Cahaya ~
http://bulancahaya9.blogspot.com/
Namun HIDUP terasa MENYEDIHKAN bila TANPA SENI
Orang yang tidak tahu cara HIDUP YANG BAIK
Harus bisa MENINGGAL dengan BAIK
Jika orang membungkus dirinya SENDIRI
Ia akan membuat BUNGKUSAN YANG CANTIK
Senyum adalah KUNCI pembuka RUMAH KEBAHAGIAAN
KASIH SAYANG adalah PINTUNYA
Sikap SELALU GEMBIRA adalah TAMANNYA
IMAN adalah CAHAYANYA
RASA AMAN adalah DINDINGNYA
KEBAHAGIAAN adalah ketika seseorang memiliki WAJAH YANG CERAH,
kebun yang HIJAU, Air minum yang SEJUK, Buku (bacaan) YANG BERMANFAAT, Hati yang BERSYUKUR, Terjauh dari MAKSIAT, serta MENCINTAI KEBAIKAN
KENIKMATAN DUNIA adalah FATAMORGANA
PENDERITAAN atau MUSIBAH adalah PENGHAPUS DOSA
KEMARAHAN adalah API YANG MENGHANGUSKAN
WAKTU KOSONG adalah KERUGIAN
IBADAH adalah PERNIAGAAN
KENIKMATAN DUNIA berada dalam KESEHATAN
Kenikmatan MASA MUDA berada dalam SEMANGAT dan KREATIVITAS
KEMULIAAN ada dalam TAKWA
KEHORMATAN ada dalam HARTA
KEPRIBADIAN YANG BAIK ada dalam KESABARAN
Jangan TERLALU BERAMBISI untuk mengerjakan seluruh yang di dengar
Jangan terlalu BERHARAP kepada Teman
Jangan mengerjakan SELURUH KEINGINAN
KEUNGGULAN dalam BERKATA-KATA menciptakan KEPERCAYAAN DIRI
KEUNGGULAN dalam BERPIKIR menciptakan SESUATU YANG SANGAT BESAR
KEUNGGULAN dalam MEMBERI menciptakan CINTA
Orang yang SABAR dan TOLERAN akan DIHORMATI
Orang yang PELIT DAN SERAKAH akan DIBENCI
Orang yang GEMAR berbuat KEBAIKAN akan DICINTAI
Orang yang sering MEMINTA-MINTA akan DIJAUHI
Mereka yang ORIENTASI hidupnya untuk DUNIA
Maka ia hanya akan mendapatkan DUNIA
( bisa juga tidak mendapatkan apa-apa)
Mereka yang ORIENTASI hidupnya untuk AKHIRAT
Ia akan mendapatkan KEDUANYA... DUNIA dan AKHIRAT.
TINDAKAN MANUSIA BISA DI MODIFIKASI
Tetapi SIFAT MANUSIAWI tidak bisa di ubah
CINTA...
KEBAHAGIAAN...
KASIH SAYANG...
PERSAUDARAAN DAN PERSAHABATAN...
Tumbuh dari HATI YANG TULUS...
Ada SATU KATA yang membebaskan kita dari BEBAN HIDUP dan PENDERITAAN
SATU KATA itu adalah KASIH...
Hiduplah seperti BURUNG ...
Yang selalu AKTIF MENCARI REZEKI pagi dan petang ...
Dia tidak menghiraukan apa yang akan terjadi ESOK HARI ...
Dia tidak pernah KHAWATIR akan HARI ESOK...
Dia juga TIDAK BERHARAP pada siapapun...
TIDAK BERGANTUNG pada siapapun...
Kecuali pada Tuhannya
TIDAK MENYAKITI siapapun...
Serta terbang kian kemari dengan RIANG dan PENUH KELEMBUTAN
Bila KELEMBUTAN MELEKAT pada sesuatu pastilah ia akan MENGHIASINYA
Apabila TERLEPAS ia juga akan MEMPERBURUKNYA
Selamat menjalani hidup dengan indah...
*EZ09*
~ Bulan Cahaya ~
http://bulancahaya9.blogspot.com/
Monday, 23 August 2010
Jadilah Seperti Lebah
Rasulullah saw. bersabda, "Perumpamaan orang beriman itubagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih,hinggap di tempat yang bersih dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)." (Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar)
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul.Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan denganmanusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi,apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akanselalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah diaorang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain."
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahteramembutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akanmenjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ialakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadibahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah.Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkanagar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentusaja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt.seperti yang Dia firmankan, "Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan)kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohonkayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah daritiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telahdimudahkan (bagimu).' Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yangbermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkanbagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapattanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
<=> Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih <=>
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbedadengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempatsampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, iahanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempatbersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapatdi bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karenasesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarangmereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi merekasegala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk danmembuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada padamereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya,menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya(Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A'raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengansebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian,penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segalakekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits(kebusukan).
<=> Mengeluarkan yang bersih <=>
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madumempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuhmanakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Diaproduktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatanglain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukanpula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiattertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. "Haiorang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlahRabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapial-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentukibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakilidengan kalimat "rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu" (irka'u, wasjudu, wa'budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dariprasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-katakecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lainmelainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyakmanusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu,dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
<=> Tidak pernah merusak <=>
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebahtidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi.Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalamhal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalumelakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengancara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, danibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknyadengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadiakibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itudan mengajukan koruptor ke pengadilan.
<=> Bekerja keras <=>
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya(saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuktelur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, denganmembawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangatberkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukminuntuk bekerja keras? "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagidalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yangcinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmatAllah– tidak suka jika dirinya "dirugikan" dalam upaya penegakkan keadilan.
<=> Bekerja secara Jama'i dan tunduk pada satu pimpinan <=>
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Merekapun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugassendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, merekaakan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketikaada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimiayang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu)untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnyasikap orang-orang beriman. "Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teraturseakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)
<=> Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu <=>
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanyamanakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan"kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnyadi tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari.Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orangberiman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikanbinatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah:An-Nahl. Allahu a'lam.
Tim Dakwatuna
URL Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/jadilah-seperti-lebah/
Seorang mukmin adalah manusia yang memiliki sifat-sifat unggul.Sifat-sifat itu membuatnya memiliki keistimewaan dibandingkan denganmanusia lain. Sehingga di mana pun dia berada, kemana pun dia pergi,apa yang dia lakukan, peran dan tugas apa pun yang dia emban akanselalu membawa manfaat dan maslahat bagi manusia lain. Maka jadilah diaorang yang seperti dijelaskan Rasulullah saw., "Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain."
Kehidupan ini agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahteramembutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, ia akanmenjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang ialakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadibahagia dan sejahtera.
Nah, sifat-sifat yang baik itu antara lain terdapat pada lebah.Rasulullah saw. dengan pernyataanya dalam hadits di atas mengisyaratkanagar kita meniru sifat-sifat positif yang dimiliki oleh lebah. Tentusaja, sifat-sifat itu sendiri memang merupakan ilham dari Allah swt.seperti yang Dia firmankan, "Dan Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan)kepada lebah: 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohonkayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah daritiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telahdimudahkan (bagimu).' Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yangbermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkanbagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapattanda (kebesaran Rabb) bagi orang-orang yang memikirkan." (An-Nahl: 68-69)
Sekarang, bandingkanlah apa yang dilakukan lebah dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang mukmin, seperti berikut ini:
<=> Hinggap di tempat yang bersih dan menyerap hanya yang bersih <=>
Lebah hanya hinggap di tempat-tempat pilihan. Dia sangat jauh berbedadengan lalat. Serangga yang terakhir amat mudah ditemui di tempatsampah, kotoran, dan tempat-tempat yang berbau busuk. Tapi lebah, iahanya akan mendatangi bunga-bunga atau buah-buahan atau tempat-tempatbersih lainnya yang mengandung bahan madu atau nektar.
Begitulah pula sifat seorang mukmin. Allah swt. berfirman:
Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapatdi bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karenasesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah: 168)
Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang(namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada disisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarangmereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi merekasegala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk danmembuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada padamereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya,menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya(Al-Qur'an), mereka itulah orang-orang yang beruntung. (Al-A'raf: 157)
Karenanya, jika ia mendapatkan amanah dia akan menjaganya dengansebaik-baiknya. Ia tidak akan melakukan korupsi, pencurian,penyalahgunaan wewenang, manipulasi, penipuan, dan dusta. Sebab, segalakekayaan hasil perbuatan-perbuatan tadi adalah merupakan khabaits(kebusukan).
<=> Mengeluarkan yang bersih <=>
Siapa yang tidak kenal madu lebah. Semuanya tahu bahwa madumempunyai khasiat untuk kesehatan manusia. Tapi dari organ tubuhmanakah keluarnya madu itu? Itulah salah satu keistimewaan lebah. Diaproduktif dengan kebaikan, bahkan dari organ tubuh yang pada binatanglain hanya melahirkan sesuatu yang menjijikan. Belakangan, ditemukanpula produk lebah selain madu yang juga diyakini mempunyai khasiattertentu untuk kesehatan: liurnya!
Seorang mukmin adalah orang yang produktif dengan kebajikan. "Haiorang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlahRabbmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan." (Al-Hajj: 77)
Al-khair adalah kebaikan atau kebajikan. Akan tetapial-khair dalam ayat di atas bukan merujuk pada kebaikan dalam bentukibadah ritual. Sebab, perintah ke arah ibadah ritual sudah terwakilidengan kalimat "rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu" (irka'u, wasjudu, wa'budu rabbakum). Al-khair di dalam ayat itu justru bermakna kebaikan atau kebajikan yang buahnya dirasakan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Segala yang keluar dari dirinya adalah kebaikan. Hatinya jauh dariprasangka buruk, iri, dengki; lidahnya tidak mengeluarkan kata-katakecuali yang baik; perilakunya tidak menyengsarakan orang lainmelainkan justru membahagiakan; hartanya bermanfaat bagi banyakmanusia; kalau dia berkuasa atau memegang amanah tertentu,dimanfaatkannya untuk sebesar-besar kemanfaat manusia.
<=> Tidak pernah merusak <=>
Seperti yang disebutkan dalam hadits yang sedang kita bahas ini, lebahtidak pernah merusak atau mematahkan ranting yang dia hinggapi.Begitulah seorang mukmin. Dia tidak pernah melakukan perusakan dalamhal apa pun: baik material maupun nonmaterial. Bahkan dia selalumelakukan perbaikan-perbaikan terhadap yang dilakukan orang lain dengancara-cara yang tepat. Dia melakukan perbaikan akidah, akhlak, danibadah dengan cara berdakwah. Mengubah kezaliman apa pun bentuknyadengan cara berusaha menghentikan kezaliman itu. Jika kerusakan terjadiakibat korupsi, ia memberantasnya dengan menjauhi perilaku buruk itudan mengajukan koruptor ke pengadilan.
<=> Bekerja keras <=>
Lebah adalah pekerja keras. Ketika muncul pertama kali dari biliknya(saat "menetas"), lebah pekerja membersihkan bilik sarangnya untuktelur baru dan setelah berumur tiga hari ia memberi makan larva, denganmembawakan serbuk sari madu. Dan begitulah, hari-harinya penuh semangatberkarya dan beramal. Bukankah Allah pun memerintahkan umat mukminuntuk bekerja keras? "Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Alam Nasyrah: 7)
Kerja keras dan semangat pantang kendur itu lebih dituntut lagidalam upaya menegakkan keadilan. Karena, meskipun memang banyak yangcinta keadilan, namun kebanyakan manusia –kecuali yang mendapat rahmatAllah– tidak suka jika dirinya "dirugikan" dalam upaya penegakkan keadilan.
<=> Bekerja secara Jama'i dan tunduk pada satu pimpinan <=>
Lebah selalu hidup dalam koloni besar, tidak pernah menyendiri. Merekapun bekerja secara kolektif, dan masing-masing mempunyai tugassendiri-sendiri. Ketika mereka mendapatkan sumber sari madu, merekaakan memanggil teman-temannya untuk menghisapnya. Demikian pula ketikaada bahaya, seekor lebah akan mengeluarkan feromon (suatu zat kimiayang dikeluarkan oleh binatang tertentu untuk memberi isyarat tertentu)untuk mengudang teman-temannya agar membantu dirinya. Itulah seharusnyasikap orang-orang beriman. "Sesungguhnya Allah menyukaiorang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teraturseakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Ash-Shaff: 4)
<=> Tidak pernah melukai kecuali kalau diganggu <=>
Lebah tidak pernah memulai menyerang. Ia akan menyerang hanyamanakala merasa terganggu atau terancam. Dan untuk mempertahankan"kehormatan" umat lebah itu, mereka rela mati dengan melepas sengatnyadi tubuh pihak yang diserang. Sikap seorang mukmin: musuh tidak dicari.Tapi jika ada, tidak lari.
Itulah beberapa karakter lebah yang patut ditiru oleh orang-orangberiman. Bukanlah sia-sia Allah menyebut-nyebut dan mengabadikanbinatang kecil itu dalam Al-Quran sebagai salah satu nama surah:An-Nahl. Allahu a'lam.
Tim Dakwatuna
URL Sumber : http://www.dakwatuna.com/2007/jadilah-seperti-lebah/
Thursday, 19 August 2010
Pantaskah Kita Masuk Syurga?
Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk.
Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?
Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan.!!!!
Astaghfirullaah ...
Copas dari kiriman Sang Pemburu untuk Anggota Artikel Dan Cerpen
Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu.
Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: "Kalau tidak terlambat" atau "Asal nggak bangun kesiangan". Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?
Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya.
Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Baca Qur'an sesempatnya, itu pun tanpa memahami arti dan maknanya, apalagi meresapi hikmah yang terkandung di dalamnya. Ayat-ayat yang mengalir dari lidah ini tak sedikit pun membuat dada ini bergetar, padahal tanda-tanda orang beriman itu adalah ketika dibacakan ayat-ayat Allah maka tergetarlah hatinya. Hanya satu dua lembar ayat yang sempat dibaca sehari, itu pun tidak rutin. Kadang lupa, kadang sibuk, kadang malas. Yang begini ngaku beriman?
Tidak sedikit dari sahabat Rasulullah yang menahan nafas mereka untuk meredam getar yang menderu saat membaca ayat-ayat Allah. Sesekali mereka terhenti, tak melanjutkan bacaannya ketika mencoba menggali makna terdalam dari sebaris kalimat Allah yang baru saja dibacanya. Tak jarang mereka hiasi mushaf di tangan mereka dengan tetes air mata. Setiap tetes yang akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa mereka jatuh karena lidah-lidah indah yang melafazkan ayat-ayat Allah dengan pemahaman dan pengamalan tertinggi.
Bersedekah jarang, begitu juga infak. Kalau pun ada, dipilih mata uang terkecil yang ada di dompet. Syukur-syukur kalau ada receh. Berbuat baik terhadap sesama juga jarang, paling-paling kalau sedang ada kegiatan bakti sosial, yah hitung-hitung ikut meramaikan. Sudah lah jarang beramal, amal yang paling mudah pun masih pelit, senyum. Apa sih susahnya senyum? Kalau sudah seperti ini, apa pantas berharap Kebaikan dan Kasih Allah?
Rasulullah adalah manusia yang paling dirindui, senyum indahnya, tutur lembutnya, belai kasih dan perhatiannya, juga pembelaannya bukan semata milik Khadijah, Aisyah, dan istri-istri beliau yang lain. Juga bukan semata teruntuk Fatimah dan anak-anak Rasulullah lainnya. Ia senantiasa penuh kasih dan tulus terhadap semua yang dijumpainya, bahkan kepada musuhnya sekali pun. Ia juga mengajarkan para sahabat untuk berlomba beramal shaleh, berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya.
Setiap hari ribut dengan tetangga. Kalau bukan sebelah kanan, ya tetangga sebelah kiri. Seringkali masalahnya cuma soal sepele dan remeh temeh, tapi permusuhan bisa berlangsung berhari-hari, kalau perlu ditambah sumpah tujuh turunan. Waktu demi waktu dihabiskan untuk menggunjingkan aib dan kejelekan saudara sendiri. Detik demi detik dada ini terus jengkel setiap kali melihat keberhasilan orang dan berharap orang lain celaka atau mendapatkan bencana. Sudah sedemikian pekatkah hati yang tertanam dalam dada ini? Adakah pantas hati yang seperti ini bertemu dengan Allah dan Rasulullah kelak?
Wajah indah Allah dijanjikan akan diperlihatkan hanya kepada orang-orang beriman yang masuk ke dalam surga Allah kelak. Tentu saja mereka yang berkesempatan hanyalah para pemilik wajah indah pula. Tak inginkah kita menjadi bagian kelompok yang dicintai Allah itu? Lalu kenapa masih terus bermuka masam terhadap saudara sendiri?
Dengan adik tidak akur, kepada kakak tidak hormat. Terhadap orang tua kurang ajar, sering membantah, sering membuat kesal hati mereka, apalah lagi mendoakan mereka, mungkin tidak pernah. Padahal mereka tak butuh apa pun selain sikap ramah penuh kasih dari anak-anak yang telah mereka besarkan dengan segenap cinta. Cinta yang berhias peluh, air mata, juga darah. Orang-orang seperti kita ini, apa pantas berharap surga Allah?
Dari ridha orang tua lah, ridha Allah diraih. Kaki mulia ibu lah yang disebut-sebut tempat kita merengkuh surga. Bukankah Rasulullah yang sejak kecil tak beribu memerintahkan untuk berbakti kepada ibu, bahkan tiga kali beliau menyebut nama ibu sebelum kemudian nama Ayah?
Bukankah seharusnya kita lebih bersyukur saat masih bisa mendapati tangan lembut untuk dikecup, kaki mulia tempat bersimpuh, dan wajah teduh yang teramat hangat dan menyejukkan? Karena begitu banyak orang-orang yang tak lagi mendapatkan kesempatan itu. Ataukah harus menunggu Allah memanggil orang-orang terkasih itu hingga kita baru merasa benar-benar membutuhkan kehadiran mereka?
Jangan tunggu penyesalan.!!!!
Astaghfirullaah ...
Copas dari kiriman Sang Pemburu untuk Anggota Artikel Dan Cerpen
Subscribe to:
Posts (Atom)