Assalamu'alaikum.

Assalamu'alaikum
Selamat datang di blog ini. Terimaksih atas kunjungannya sahabat

Semoga dapat bermanfaat untuk membuat kita lebih baik lagi, amin....
(bagi yang ingin copy and share artikel yang ada dblog ini, silahkan saja, asal cantumkan sumbernya... :)

Friday, 9 April 2010

Menjaga Lidah

“Diam” adalah suatu kata yang sulit dilakukan pada saat ini. Sebab manusia selalu cenderung untuk menanggapi setiap masalah yang dilakukan atau diungkapkan oleh orang lain. Padahal sibuk dengan permasalahan orang lain adalah tanda bahwa kualitas iman kita masih perlu dipertanyakan. Karena diam pada saat yang tepat termasuk sifat para tokoh. Begitu pula berbicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.

Dari Abu Umamah, bahwasanya Uqbah bin Amir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau menjawab, “Jagalah lidahmu, puaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa dosamu.” (HR Tirmidzi).

Ada sementara orang yang memiliki nafsu berbicara melebihi selera makannya. Ia berbicara apa saja, seakan akan mengetahui segala sesuatu atau hidupnya hanya digunakan untuk berbicara. Dalam tuntunan agama, jangankan berbicara dalam bentuk menguraikan pendapat, berbicara dalam bentuk bertanya sekalipun, diingatkan agar tidak sembarangan.

“Hai orang orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal hal yang jika diterangkan kepada kamu, maka hal itu akan menyusahkanmu.” (QS. Al Maidah 101).

Pembicaraan dalam bahasa Al Quran dinamai kalam. Dari akar kata yang sama dibentuk kata yang berarti “luka”. Artinya kalam juga bisa melukai. Bahkan luka yang diakibatkan lidah bisa lebih parah daripada oleh pisau. Anda menawan yang akan diucapkan, tetapi begitu terucapkan, maka andalah yang menjadi “tawanan”Nya.

Syaikh Abdul Qasim Al-Qusyairi menuturkan, “Ada dua jenis diam. Diam lahir dan diam bathin. Hati orang yang tawakkal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan, Sedang orang arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui saat keselarasan.”

Seorang ahli sufi berkata, “Diam adalah bahasa ketabahan. Belajarlah diam sebagaimana kamu belajar berbicara. Jika bicara menjadi pembimbingmu, maka diam menguatkanmu.”

Muadz bin Jabal berkata, “Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah mudahan hatimu akan dapat melihatNya.”

Sumber: Catatan RENUNGAN N KISAH INSPIRATIF
http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/menjaga-lidah/404703116041

No comments:

Post a Comment